
Ilham turun dari mobil, baru lima langkah ia berjalan, putrinya sudah berlari ke arahnya.
" Eh.. berbahaya, biar papa saja yang masuk ke dalam menjemput adek.." Ilham khawatir karena Ami tiba tiba saja berlari, untungnya jalanan sepi.
" Ami tidak sendiri, itu ada bu guru yang mengawasi.." Ami menunjuk ibu guru yang berdiri di depan pagar sekolah.
" Hemm.. tapi tetap itu berbahaya, papa tidak mau Ami seperti itu lagi.."
" siap pak Ilham!" jawab Ami sembari hormat, sontak saja itu membuat Ilham tertawa geli.
" Huss.. siapa yang mengajari begitu.. ?" Ilham mencubit ujung hidung Ami,
" Ayo pulang, soalnya papa harus kembali bekerja.. " Ilham dan Ami berjalan ke arah mobil.
" Papa.."
" iya ada apa sayang.."
" Ami seperti melihat mama tadi.. "
Ilham terdiam,
" kasihan sekali.. saking kangennya sampai sampai mengkhayal melihat mamanya.." keluh Ilham dalam hati.
" Ami salah lihat mungkin.. mama kan dinas luar.." jawab Ilham sembari tersenyum pada anaknya,
" itu mama.." Amin bersikeras,
" emhh.. bagaimana kalau sebelum pulang beli pizza dulu.. " Ilham mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Iya iya..?!" jawab Amin tiba tiba bersemangat.
" Lho?? mamanya Ami..?" sapa ibu guru Ami yang sejak tadi berdiri di depan pagar,
ia merasa sedikit risih dengan seorang perempuan yang sejak tadi mengawasi dari balik mobil.
Tapi setelah ibu guru mendekat untuk memeriksa ternyata perempuan itu adalah mama Ami.
" Aminya sudah di jemput papanya.." beritahu si ibu guru,
" iya bu.. " jawab Wulan mengulas senyum kikuk, ia ketahuan..
" kalau begitu saya undur diri dulu.." pamit Wulan,
" oh.. iya ma.. silahkan,"
Wulan buru buru masuk ke dalam mobilnya,
Ia menghela nafas berat sembari menyandarkan kepalanya.
" Apa yang harus ku lakukan.." gumam Wulan di liputi perasaan yang kacau dan penuh kebingungan.
Rania sedang tidur pulas sehingga ia tidak sadar bahwa Aksara sudah pulang.
" Hemm.. persis bayi.." gumam Aksara melihat Rania tidur dengan posisi baju yang tersingkap, sehingga perutnya yang belum terlihat berisi itu terlihat oleh mata Aksara.
" Sayangnya Ayah.." Aksara mengelus elus perut Rania yang belum terlihat buncit itu,
" tolonglah nak... jangan buat ibumu muntah lagi kalau bau tubuh ayah..
ayah kan jadi susah..
ayah kan jadi mandi mandi terus..
ibumu juga jadi lebih sering ngomel, apa ini ujian mu pada ayah? jangan terlalu frontal nak klo menguji ayah.." ujar Aksara curhat pada anaknya yang masih di dalam perut sembari mengelus perut Rania.
Aksara gemas sekali, setelah mencuci kaki dan mengganti pakaiannya ia menyusul Rania di atas tempat tidur, meringkuk di samping tubuh istrinya sambil memegangi perut Rania.
Mumpung belum bangun pikir Aksara, jika sudah bangun jangan harap pulang kerja begini bisa langsung berdekatan bahkan memeluk semacam ini.
Aksara masuk sembari membawa paketan,
kemudian ia duduk disamping istrinya yang sedang menonton TV.
" Siapa Mas?" tanya Rania sambil mengunyah keripik tempe.
__ADS_1
" Paketan, memangnya pesan apa?" tanya Aksara,
" ah.. tidak" jawab Rania
" Dimas.. " gumam Aksara membaca sang pengirim,
" owalah, minggu kemarin dia kirim keripik tempe sama keripik buah,
coba sekarang dia kirim apa?" Rania antusias.
Aksara membuka kardus itu pelan pelan,
mata Rania berbinar ketika Aksara mulai mengeluarkan satu persatu isi di dalamnya.
" Wah...??!" suara Rania senang,
ada beberapa daster batik dan bakpao telo, juga olahan telo unggu seperti stick telo dan lainnya.
" Wah.. cecunguk ini.." gumam Aksara menaruh semua barang kiriman Dimas di atas meja.
" Kok malah ngomong cecunguk.. trimakasih dong sama Dimas mas..?" Rania membolak balik daster kiriman Dimas.
" Habisnya.."
" habisnya kenapa?"
" aku cemburu.." Aksara manyun,
" cemburu? cemburu kenapa?" Rania heran,
" Dia hanya ingat denganmu, tidak denganku.. coba lihat, mana ada buatku?basa basi kek.. "
Rania tertawa kecil mendengar itu,
" Mas mau? nih daster.. "
" ihh.. masa aku disuruh pakai daster?!"
" habisnya kayak anak kecil.. Dimas kan kirim makanan, itu berarti buat Mas juga.."
Rania mengambil beberapa bakpao,
Aksara membuka salah satu bakpao itu dan memakannya.
" Jadi kangen rumah.." ujarnya pelan sambil menikmati apa yang ada di dalam mulutnya.
" sama mas.. kapan kita pulang..?"
" sekalian 3 bulanan saja.. tante Irma ngomel ngomel nanti kalau tidak selamatan, sepuluh hari lagi kan? eh.. 3 bulan apa 4 bulan sih sayang??"
" 3 jalan 4 biasanya Mas.. tapi tidak tau lagi, nanti saja ku telfon tante Irma.. " jawab Rania,
" doakan ada kabar baik.. "
" soal apa Mas?"
" pindah.."
keduanya saling bertatapan dan tersenyum,
" amin.. biar dekat kalau jenguk Bapak.. " ujar Rania,
" iya.. aku juga ingin anak kita di besarkan di rumah peninggalan Bapak.. " balas Aksara,
" tinggal di kota kecil yang di kelilingi perbukitan..
aku benar benar rindu kampung halaman kita, kita akan membesarkannya dengan baik kan Mas..?"
" tentu saja.. aku berharap kita selalu sama, baik aku.. dirimu.. sepuluh atau dua puluh tahun lagi.. " ujar Aksara menggenggam tangan istrinya,
" aku tidak tau bagaimana kita ke depannya,
tapi aku berharap doa doa dan harapan harapan baik kita di dengar olah sang pencipta.. " imbuh Aksara menatap Rania lekat.
Wulan berjalan dengan tenang ke arah parkiran bandara. Ia tak membawa apapun selain tas slempang kecil dan baju yang ia kenakan, yaitu jeans dan hoodie berwarna hitam juga sepatu slip on bewarna senada.
__ADS_1
Ia menguncir sedikit rambut pendeknya sembari menelusuri parkiran bandara.
" Niat jemput orang apa tidur?!" protes Wulan mengetuk kaca mobil berwana hitam itu.
" Ketiduran Mbak.. " seorang laki laki berusia sekitar 22 tahunan membuka pintu mobil.
" Masih siang begini.. memangnya kau tidak tidur semalam?" omel Wulan segera naik ke dalam mobil.
" Tugasku banyak.. aku tidur tengah malam terus.. " jawab laki laki itu mengusap wajahnya yang masih ngantuk dengan tissue basah.
" Kok pulang sendiri? Mas Ilham sama Ami mana?" tanya laki laki itu heran,
" sudah jangan banyak tanya, cepat jalan.." tegas Wulan.
" Ada apa?" tanya laki laki yang memiliki mata dan garis hidung yang mirip dengan Wulan itu sambil mengemudi dengan hati hati.
" Mbak?!" panggil laki laki muda itu lebih keras, karena ia menemukan kakaknya sedang melamun.
" Kita langsung ke makam mama dan anakku.." ucap Wulan setelah sadar dari lamunannya.
" Nggak pulang dulu? Papa menunggumu.. "
" tidak.. ke makam dulu, tujuanku pulang Ingin menjenguk kakak Ami dan mama.." jawab Wulan.
Mendengar itu adiknya hanya bisa menghela nafas,
" mbak sudah makan? kita makan dulu ya.. ini sudah siang.."
" ke makam dulu, setelahnya kita makan.."
" okee.. "jawab adik Wulan itu mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di makam Wulan menabur bunga dan mengirim doa untuk almarhumah ibu dan anak pertamanya.
" Maafkan Wulan ya ma.. " ucapnya lirih sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Seperti ada beban perasaan yang berat sekali, namun ia menahannya.
Rasanya ia juga ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang mau keluar dari sudut matanya.
Hatinya seperti mati, ia bahkan hanya bisa menatap kosong makam putranya.
" Haaahh..." ia membuang nafas berat karena dirasa dadanya mulai sesak.
" Sudah.. mereka sudah tenang mbak, jangan menambah beban mu sendiri dengan meratapinya.." suara Fahim tenang, ia menasehati kakaknya yang tidak henti hentinya bersikap seperti itu meski kematian ibu dan keponakannya itu sudah lama terjadi.
Fahim selalu khawatir, karena setelah mengunjungi makam Wulan selalu bersikap aneh, ia akan mengurung dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain.
Bahkan Fahim pernah mendengar suara Wulan sedang merusak barang di kamar yang ia tutup rapat rapat.
Papa tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menenangkan kakaknya itu, termasuk Ilham yang nota bene adalah suaminya dan sebenarnya berhak untuk mengetahui segala tekanan yang di alami istrinya.
Ilham terlalu takut pada mertuanya, jadi se histeris apapun Wulan, papa membiarkan Wulan mengatasinya sendiri hingga ia tenang kembali.
Yang lebih menakutkan lagi adalah ia bersikap biasa saja dan tenang kembali setelah merusak barang dan berteriak.
" Wis mbak.. ayo mulih.." Fahim menyentuh pundak kakaknya.
Ia tau dengan benar, bahwa kakaknya itu menyimpan banyak tekanan, Fahim tidak pernah menyalahkan..
karena Fahim tau, tidak semua orang mampu menerima kenyataan dengan mudah,
tidak semua orang yang tubuhnya kuat mentalnya juga kuat,
Mungkin hal itu adalah satu satunya hal yang bisa di lakukan Wulan dan bisa membuatnya tenang.
Yang jelas Fahim amat mencintai kakak satu satunya ini.
Jika bukan karena Wulan yang mengambil alih semuanya setelah papanya pensiun dan sakit, mungkin Fahim tidak akan bisa merasakan bangku kuliah,
dan Wulan pula yang menyelamatkan Fahim dari paksaan papanya untuk menjadi orang yang sama seperti Wulan,
seorang yang berseragam dan gagah.
Wulan mendukung apapun keinginan Fahim, bahkan ketika ia berkata ingin masuk jurusan Teknik.
__ADS_1
Wulan justru senang Fahim mempunyai pilihan terhadap dirinya dan masa depannya sendiri.
" Mbak..??" panggil Fahim lagi membuat Wulan yang duduk mulai berdiri perlahan.