Aksara Rania

Aksara Rania
adik dadakan


__ADS_3

Aksara menjadi orang yang sedikit berbeda ketika sampai di tempat kerjanya,


Marlin dan Farhan sangat menyadari hal itu,


baru saja Bapaknya meninggal sekarang dia harus meninggalkan istrinya.


Hal itu pernah di hadapi Farhan selama 3 tahun..


Istrinya adalah seorang perawat yang bekerja di pulau sebrang,


sedangkan Farhan harus selalu berpindah tempat dalam beberapa tahun sekali.


Dalam kondisi itu mereka sering sekali ribut sampai hampir bercerai,


semua menjadi normal kembali ketika istri farhan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan nya dan mengikuti farhan pindah kemana pun.


Sebenarnya tidak semua pasangan jarak jauh seperti itu..


tapi kepercayaan dan tanggung jawab benar benar di uji ketika dua orang yang saling mencintai berjauhan dalam waktu yang lama,


dan Farhan berharap Aksara tidak mengalami hal seperti itu.


" Kau sudah makan ?" tanya marlin,


" nanti saja.." jawab Aksara sibuk membaca satu bendel kertas.


" Kau harus makan tepat waktu, biar ku pesankan makanan di kantin.." ujar Marlin berjalan keluar ruangan dan menuju kantin.


" Istrimu tidak kau boyong kesini?" tanya Farhan hati hati,


" dia sibuk dengan ujian kenaikan kelas dan persiapan 40 hari Bapak.." jawab Aksara tenang,


" lalu dengan siapa istrimu di rumah sebesar itu?"


" Dengan asisten rumah tangga.."


" dua orang perempuan di rumah yang sebesar itu?, kenapa tidak kau pekerjakan laki laki, misal untuk merawat halaman depan dan belakang..


setidaknya ada laki laki di rumahmu.."


komentar farhan.


mendengar itu Aksara diam dan tak menjawab untuk waktu yang lama,


Ia tetap sibuk dengan pekerjaannya.


" Ajak saja.. carikan pekerjaan disini.. sambil urus pindah.. " tambah Farhan.


" Aku tidak mau memaksakan ke hendak ku padanya..


akan ku biarkan dia mengambil keputusan..


jika memang aku penting untuknya.. " ujar Aksara tenang, meski sesungguhnya hatinya tidak setenang itu..


mendengar itu Farhan terdiam, ia tidak berani lagi berkomentar.

__ADS_1


Dimas baru saja masuk kerumahnya,


Wajah nya tampak lesu karena banyak kegiatan di sekolah hari ini,


belum lagi kepala sekolah yang rajin sekali menyuruhnya kesana kesini.


Ia melepas sepatu dan menganti bajunya,


lalu duduk duduk sebentar di teras rumah sambil merokok dengan santai..


" tuing! " ponselnya berbunyi,


ada sebuah chat dari nomor tidak di kenal.


" Karena Bapak menganggap mu anak sendiri,


jadi aku terpaksa menerimamu sebagai adikku.


Kau pasti tau tugas adik ketika seorang kakak tidak ada dirumah..


jaga semua milik kakakmu dengan hati hati tanpa menyentuhnya.. "


Membaca itu Dimas tertawa cukup lama, tapi setelahnya ia tampak cukup kesal..


" astagaa... !! ada manusia begini ya.. ?!" gerutu Dimas, saking kesalnya di buang rokoknya yang masih panjang.


" Mas, kalau mau nitip nitip aja.


bisa nggak sih tiap ngomong nggak nakutin orang?


soalnya aku juga sibuk, mana ada waktu aku mengawasi Istri nya Mas. "


Dimas membalas chat itu, tak ada jawaban, namun sekitar 5 menit kemudian chat Dimas di balas.


" Jangan banyak bicara, tolong jaga istriku..!"


jawaban dari chat itu membuat Dimas lebih kesal,


" Dasar, mana ada orang minta tolong begitu..! kalau ada perlu saja dia menganggap ku adik nya , dasar tembok beton.. " Dimas tidak puas menggerutu,


ia tidak membalas chat itu lagi, ia mengambil rokok yang baru dan membakarnya, menghisapnya dengan tenang dan sesekali menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


Rania mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang,


ia tak berani terlalu kencang karena motornya penuh dengan belanjaan.


Rania dari pasar untuk berbelanja keperluan selamatan 40 hari Bapak, meskipun acaranya masih kurang seminggu lagi namun Rania adalah tipe yang suka menyicil bahan bahan, agar ketika mendekati hari H ia sudah tak perlu wira wiri ke pasar lagi.


Kebetulan siang ini sedikit mendung,


jalanan juga sedikit ramai karena weekend.


Rania terus saja melaju dengan tenang, namun ia tak sadar ada motor yang melaju dengan kencang di sampingnya dan entah sengaja atau tidak tau aturan motor itu menyenggol motor Rania dan terus melaju kencang begitu saja.


Rania yang terlalu banyak membawa belanjaan tidak mampu menguasai motornya dan jatuh ke arah kiri.

__ADS_1


" Mbak?! nggak apa apa mbak??! " banyak orang yang mendatanginya dan membantu meminggirkan motornya lalu mengangkat Rania ke pinggir jalan.


" nggak apa apa pak, cuma kaget saja.." jawab Rania memaksakan senyumnya dengan wajah pucat.


" Saya antar ke dokter saja, soalnya njenengan kelihatan pucat?" Laki laki yang meminggirkan motor dan membereskan belanjaan Rania yang jatuh tadi mendekat ke Rania yang sedang duduk di trotoar, matanya meneliti Rania, dan ia berhasil menemukan beberapa luka lecet di kaki dan siku Rania.


" Tidak apa apa, njenengan saya antar ke dokter.. motor biar di titipkan di pos polisi terdekat, takutnya ada tulang yang retak..


kalau takut sm saya saja, biar ada satu ibu atau dua ibu yang menemani.. " katanya mengajak ibu ibu yang ada disamping Rania,


" ayo nak.. biar Ibuk temani ke dokter, benar kata Mas ee.. takutnya ada luka selain lecet.. " ibu ibu yang tadi juga ikut menolong Rania itu bersedia ikut,


Rania yang merasa itu baik akhirnya mengangguk,


" permisi ya mbak, untuk mempersingkat waktu saya ijin dulu memindahkan mbak nya ke mobil.." kata laki laki itu langsung mengendong Rania dan memindahkannya ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Rania.


" Syukurlah tidak ada luka yang serius, mungkin agak lama lukanya mengering karena letaknya persis di lutut dan siku.." suara laki laki itu tenang sambil membantu Rania duduk di kursi tunggu.


" Ada yang mau menjemput?" tanya laki laki itu kemudian,


" ada, saudara saya.. mungkin masih di perjalanan.. " jawab Rania, karena ia sempat mengabari tante Irma tadi.


" Apa rumah njenengan jauh dari sini?"


" ah, tidak begitu jauh.. " jawab Rania tersenyum seadanya, ia sebenarnya risih sekali, tapi apa boleh buat.. laki laki di hadapannya ini yang menolongnya.


" Apa langsung saya antar saja? kalau memang tidak begitu jauh..?"


" Maaf, lebih baik saya menunggu keluarga saya saja.. terimakasih sekali atas pertolongan Bapak.." tolak Rania dengan sopan.


Namu laki laki itu tiba tiba tertawa kecil,


" Bapak..? apa saya sudah terlihat setua itu..? " ekspresi laki laki itu santai,


" ti tidak, bukan begitu.. karena saya seorang guru jadi saya terbiasa dengan panggilan itu.. maafkan saya.." Rania merasa canggung, sepertinya ia sudah salah bicara.


" Jadi anda guru? guru apa?" tanya laki laki itu,


" sejarah.."


" wahh.. pastinya seru punya ibu guru secantik njenengan ini.. " lagi lagi laki laki itu tertawa,


" Anda sudah berkeluarga? "


" Alhamdulillah sudah.. " jawab Rania lagi lagi memaksakan senyumnya, ia berharap tante Irma segera datang agar ia tidak terlalu banyak di tanya.


Rania juga heran kemana perginya tadi ibu ibu yang ikut dengannya, kenapa tiba tiba tidak ada saja.


" Kalau begitu yang jemput suami?"


" tidak, tante saya, karena suami saya sedang bekerja,"


" oh.. ya sudah, ini nomor saya ya, kalau mau ambil motor hubungi saya saja biar saya yang ambil dari pos polisi.. " laki laki itu memberikan sebuah kertas berisi nama dan nomor telfon.


" Ran??! " terdengar suara tante Irma dari jauh, ia berjalan dengan khawatir ke arah Rania.

__ADS_1


__ADS_2