Aksara Rania

Aksara Rania
tentu saja belum


__ADS_3

Aksara membasuh wajahnya, menatap dirinya sendiri cukup lama di cermin, ia hanya diam dan menghela nafas beberapa kali seperti menenangkan diri. Dengan langkah tenang ia keluar dari kamar kecil yang terletak di sebelah ruangannya persis lalu kembali ke ruangan nya dan duduk.


" Renungkan kesalahanmu.. " suara Aksara tenang pada anggotanya yang berdirinya sudah oleng itu,


bagaimana tidak.. berkali kali sepatu Aksara menyapa tulang kering anggotanya yang entah sudah berbuat apa sehingga membuat Aksara naik pitam.


" wisnu?! " panggil Aksara pada seseorang di luar ruangan, tak lama seorang laki laki berumur sekitar 27 tahunan masuk, tak lama Marlin menyusul masuk.


" Ijin arahan?" tanya si wisnu,


" masukkan sel, lalu panggil Danru nya" perintah Aksara,


" siap!" wisnu membantu letting nya itu berjalan keluar, tampak sekali ia menahan kesakitan di area kakinya.


" Tumben kau baik hati? " Marlin duduk,


" aku tidak berbuat lebih karna aku kasihan terhadap istrinya," jawab Aksara membersihkan sisa sisa air di wajahnya dengan tissue.


" Yah benar ki'.. istrinya sedang hamil, tapi tumben saja.. " komentar Marlin


" dari yang aku lihat, kesadaran hati lebih penting.."


" kau takut dia akan semakin keras pada istrinya kalau kau mengingatkan nya dengan kekerasan?"


" iya.. kita tidak bisa mengawasinya setiap saat, mungkin dia takut kalau di kantor.. setelah dirumah tidak ada jaminan dia tidak menyerang istrinya.."


" benar juga sih.. tapi perintah komandan bagaimana?"


" Masukkan sel dulu saja, komandan sedang tidak di tempat.. "


" lalu sekarang istrinya?"


" dia sedang visum.."


" ku dengar sempat pendarahan ?"


Aksara tak menjawab, pandangan matanya menjelaskan kalau sebenarnya ia kesal sekali, sayangnya ia tak mau terlalu menindak berlebihan, ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya seperti dulu kala.


Saat itu usianya masih sangat muda, entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Rania membuat emosinya meletup letup.


Ia hampir saja membunuh seseorang saat itu, dan itu adalah sebab utama Bapak mengusirnya dari rumah.


" Aku punya kabar buruk lagi untukmu.. " suara Marlin hati hati,


" apa?" jawab Aksara menatap Marlin serius,


" aku melihat Wulan.. "


"Wulan?" Aksara mencoba mengingat,


" astagaa.. bisa bisanya kau lupa??"


Aksara berfikir sejenak, dan tiba tiba ia ingat siapa wanita itu.

__ADS_1


" biarkan saja, yang penting tidak menganggu ku" jawab Aksara dengan ekspresi yang sebenarnya sangat tidak nyaman, ia berusaha menekan perasaannya agar tidak tampak di mata Marlin.


" Lalu kapan kau pulang ke istrimu?" tanya marlin masih hati hati,


" 3 hari lagi, sehari sebelum acara 40 hari Bapak ku.."


" apa kau akan terus berjauhan seperti ini?"


" aku tidak tau.. " jawab Aksara sedikit berfikir, ia menyandarkan punggungnya di bahu kursi.


" Apa tidak apa apa menurutmu memaksanya keluar dari pekerjaan nya?" tanya Aksara kemudian dengan wajah bimbang,


" apa istrimu sudah PNS?"


" belum, ku dengar dia baru 2 tahunan mengajar.."


" apa kau berencana seterusnya disini? tidak kan?, bagaimana kalau bersabar sambil ajukan pindah..


tapi kalau kau sangat menginginkan dia mengikutimu.., tentu saja kau harus membuatnya ingin mengikutimu..


bicaralah dari hati ke hati,


usia mu jg sdh tidak muda, kau harus berfikir tentang anak.."


Mendengar kalimat Marlin yang terakhir Aksara sedikit kurang nyaman,


" kau mengejek ku karena anak mu sudah dua dan aku belum punya anak begitu?" wajah Aksara masam.


" Yah bukan mengejek, sebagai teman yang baik dan berbudi luhur aku harus mengingatkanmu..


sebentar lagi kan ada libur semester.. ajak saja dia kesini sementara..


rencanamu sekarang adalah menghamili istrimu.. jelas tidak.."


Marlin tertawa, karena wajah Aksara selalu memerah ketika membahas soal kehamilan dan anak,


" eh.. malu malu.. seperti belum saja.. " gerutu Marlin,


" memang belum.." jawab Aksara lirih,


" belum?!" Marlin melotot,


" kenapa belum??" tanya nya lagi tidak percaya,


" aku merasa tidak pantas melakukan hal itu karena suasana masih berduka,


lagi pula kau tau sendiri istriku masih canggung terhadapku.."


" dia masih takut? karena melihatmu menghajar orang sampai hampir mati dulu?"


Aksara mengangguk,


" oi astaga.. kalau begitu jangan terlalu lama lama kau jauh, bertemulah setiap hari..

__ADS_1


kalau kau terus begini, aku takut kau tidak akan pernah punya anak..?!"


komentar Marlin membuat Aksara makin berfikir.


Tiba tiba ponsel Aksara berbunyi,


" hallo Mas.." terdengar suara Rania,


" iya Ran?" jawab Aksara tenang


" emh.. itu mas.." nada Rania seperti ragu ragu,


" kenapa, bicaralah "


Cukup lama tak terdengar suara Rania, sepertinya sedang bimbang antar berkata atau tidak.


" Apa.. apa aku boleh meminta antar Dimas untuk berangkat dan pulang mengajar sementara??" suara Rania takut,


mendengar itu dahi Aksara berkerut.


" Kenapa harus minta antar Dimas?" suara Aksara menajam,


" Aku.. habis jatuh dari motor.., tapi cuma lecet kok Mas, karena lecetnya di bagian lutut dan siku aku jadi sedikit sulit menekuk kakiku.. " suara Rania lirih,


" Kapan jatuhnya?" suara Aksara terkendali meski wajahnya merah padam,


" sudah beberapa hari yang lalu mas.. "


Aksara diam sejenak sambil menatap Marlin yang duduk di hadapannya,


" apa benar tidak apa apa?" tanyanya kemudian,


" iya mas.. , aku harus membagikan raport anak anak mas.. "


lagi lagi Aksara diam sejenak,


" Naik taksi online saja, selain tidak pantas apa kata orang orang nanti kalau kau kemana mana dengan dimas terus?


sementara suamimu jauh.. " tegas Aksara dengan suara terjaga,


"iya mas.." jawab Rania pelan.


" ya sudah.. Mas pulang lusa, jangan memaksakan dirimu kalau memang masih sakit,


naik taksi online saja dulu"


pembicaraan itu berakhir, Aksara menaruh ponselnya kembali ke atas meja.


" Kenapa?" tanya marlin penasaran melihat perubahan perubahan ekspresi di wajah Aksara.


" Istriku jatuh dari motor.. tapi katanya baik baik saja.."


" lalu apa yang membuatmu kesal?"

__ADS_1


" Dia minta ijin untuk berangkat dan pulang bersama dengan temannya, kau ingat si pak guru kesayangan Bapak waktu itu..


yang ikut sibuk membantu di acara pernikahanku.."


__ADS_2