
" Sudah puriknya?" tanya Aksara mendekat, lalu memijit kaki Rania perlahan.
Rania diam saja tidak menjawab, ia terus saja rebahan sambil bermain HP.
" Ran..?" panggil Aksara,
" hemm.." jawab Rania sekenanya, ia masih kesal pada suaminya yang sikapnya semakin aneh itu.
" Kok hemm.. ?"
" iya mas.. inggih mas..?"
" kenapa, cemberut saja.. kata si ibu tadi siang sampai sore juga tidak makan.. kenapa? rewel lagi?"
Rania diam lagi,
" Di suapin ya sama mas?" Aksara khawatir,
" tidak lapar mas," jawab Rania pendek.
Aksara diam, di pandanginya istrinya baik baik.
" Mas minta maaf.. mas tidak akan bersikap posesif lagi.. " ujar Aksara kemudian.
Rania memandang suaminya itu sekilas lalu kembali lagi ke layar HPnya.
" Ran?"
" hemm.."
" kok hemm?"
" terus harus ngomong apa mas?, mas itu kan asal ngomong.. besok besok mas juga begitu lagi.." jawab Rania,
" begitu lagi gimana?"
" ya begitu lagi.. mencurigaiku tanpa henti.."
Aksara diam,
" hari ini minta maaf, besok kalau tetangga itu lewat ya curiga lagi.. " ujar Rania.
" Tidak.. aku tidak akan curiga lagi, asal kau jangan bicara dengannya.."
" ealah.. itu namanya sama saja mas.."
Rania tiba tiba saja duduk dari posisi rebahannya.
Ia memandangi HPnya dengan seksama.
" Ada apa?" tanya Aksara heran dengan ekspresi istrinya.
" Aku mau pulang?!" ujar Rania tiba tiba,
" kan belum waktunya, seminggu lagi Ran sabar??"
" pokoknya pulang?"
" kenapa sih tiba tiba mau pulang?" Aksara mengambil HP Rania,
" Astagaaa...?" komentar Aksara,
" pokoknya aku mau pulang, aku mau makan bakso pak Ri..??" Rania merengek,
" Kelakuannya Dimas ini?!" Aksara kesal, gara gara melihat status Dimas yang sedang pamer makan bakso di tempat favorit mereka Rania tiba tiba minta pulang.
Ilham seperti bebek, ia terus saja berada disamping Wulan.
" Umurmu sudah tidak muda, jangan bertingkah seperti remaja" Wulan mengomel sembari merapikan baju Ami dan memasukkannya ke dalam koper.
" Tadi itu siapa?" Akhirnya Ilham bertanya.
" Ahmad, temanku naik gunung dulu.." jawab Wulan datar.
" Naik gunung? tidur satu tenda dong?"
" tidaklah, di kelompok kami laki laki dan perempuan tidur terpisah, kenapa?"
" tidak.." jawab Ilham pelan.
" Dia mantan pacarmu??" tanya Ilham lagi masih belum puas,
" kalau iya kenapa, kalau bukan kenapa?" Wulan lama lama kesal,
" Habisnya kau gembira sekali berbincang dengannya,
sementara denganku kau tidak begitu.."
Wulan terdiam sejenak, ia sesungguhnya ingin marah, tapi di tahannya rasa kesal di hatinya karena pertanyaan pertanyaan aneh Ilham.
" Dengarkan.. aku ramah dan tertawa bersama Ahmad, tapi aku tidak tidur dengannya,
sedangkan aku tidak ramah dan tertawa denganmu, tapi aku tidur denganmu dan melahirkan anakmu,
bagaimana? pilih mana?"
Wulan menatap Ilham, menunggu jawaban.
" Aku pilih kau ramah dan tertawa bersamaku, tidur bersamaku dan melahirkan anak lagi untukku.." jawab Ilham bali menatap Wulan.
__ADS_1
" Bagaimana?" Ilham balik bertanya.
" Tidak ada yang begitu.." jawab Wulan membuang pandangannya,
" Ada.. banyak yang begitu, kau saja yang tidak mau begitu denganku..
masa kau tidur denganku, tapi tawa dan keramahanmu untuk orang lain?"
" jangan mulai serakah.. sudah sejak lama kita tidak seperti itu..!" jawan Wulan tegas.
" Kalau begitu ayo mulai sekarang begitu.."
keduanya berpandangan,
Ilham menarik Wulan ke dalam pelukannya.
" Berbisa.. sebelum kesini kau kursus merayu dulu ya?" gerutu Wulan,
" aku ikut kursus khusus untuk menggoda istri yang dingin dan galak..".
Saat Ilham sedang gencar menggoda istrinya,
tiba tiba saja HPnya berdering.
" Halo sa.." jawab Ilham,
" apa? bakso pak Ri?" tanya Ilham lagi memastikan.
Keduanya berbincang di telfon sedikit lama, yang jelas Aksara memesan Bakso untuk istrinya.
" Mumpung masih jam segini, ke pak Ri sana.." Wulan menarik diri,
" Waktu kita masih panjang.. ayo berbincang lagi.." , Ilham masih saja menggoda istrinya.
" Jangan harap.. aku tau akhir dari perbincangan ini.."
Ilham tersenyum, ia gemas sekali melihat Wulan yang cemberut.
" Cepat sana carikan bakso, pisahkan air dan isinya, supaya tidak basi sampai sana.."
Mendengar itu Ilham menatap Wulan lekat.
" Kau tau bakso itu untuk siapa?"
" tentu saja, Rania.." jawab Wulan tenang,
" lalu kau tidak kesal?"
" untuk apa aku kesal.. dari awal aku tidak pernah kesal,"
" lalu?"
" misalnya? membuatku kesal dan cemburu?"
" ku kira kau tidak pernah cemburu?"
" benarkan? kau tidak tau saja, bagaimana aku menahannya setengah mati..
setiap kali kau mendekati Aksara aku selalu ingin menyeretmu pergi.."
" lalu kenapa tidak kau lakukan?"
" aku takut menyakitimu dan membuatmu semakin membenciku..
apa kau masih membenciku?"
Wulan terdiam,
" benar kau masih membenciku dan belum bisa memaafkan ku?"
Wulan menghela nafas berat,
" kau mau jawaban seperti apa, kenyataannya tidak mudah memaafkan mu.." jawab Wulan membuat pandangan Ilham sayu,
" Aku tidak akan menyerah.. Aku yang melukaimu, maka aku juga yang akan mengobatimu..
aku akan bertanggung jawab atas semua yang kau rasakan selama ini.." ujar Ilham menyandarkan dirinya kepada Wulan.
Benar saja..
ketika Wulan mulai sedikit lunak, laki laki itu terus saja menempel dan membuat dirinya tak berjarak dengan Wulan.
Wulan yang mulai terbuka sedikit hatinya hanya bisa diam menerima perlakuan perlakuan manis Ilham, hanya saja ia masih mempunyai kekhawatiran..
sehingga ia tidak mudah untuk membalas perlakuan manis Ilham, apalagi untuk berkata kata manis dan penuh perhatian seperti istri istri lainnya.
Wulan tidak tau benar apa yang merubahnya, tapi melihat Ilham menyusulnya kesini..
itu yang paling membuat hatinya bergetar.
Setidaknya ia merasa di cari dan di harapkan.
" Wes wes.. jangan ngambek, aku sudah pesan pada Mas Ilham, nanti malam dia sampai.. " Aksara membujuk istrinya yang merengek tidak jelas.
" Untung mas Ilham sedang di kampung kita.. kalau tidak masa mau pulang gara gara bakso?" Aksara mengomel.
" Pengennya makan disana.." Rania masih merengek,
" ayolah Ran.. minta yang lain yang tersedia disini, ayo ayo.. kita jalan jalan, siapa tau ada yang mau kau makan.. ayo.." Aksara menarik tangan Rania agar bangkit.
__ADS_1
" Tidak mau.."
" ayolah sayang.. kita beli sesuatu untuk menenangkan hatimu..
ayo pakai jaket.." Aksara mengambil sebuah jaket dan memakaikannya pada istrinya.
" Kalau tidak bangun aku akan menemanimu di tempat tidur lhoo?"
sontak Rania bangun,
" nah.. begitu.. pintar, ayoo.." Aksara menarik Rania berjalan keluar kamar,
" mau di gendong?" tanya Aksara melihat Rania yang seperti malas berjalan.
" tidak.." jawab Rania terus saja berjalan ke garasi, sementara Aksara masih mengambil dompet dan kunci mobil.
Keduanya berkeliling sudah sekitar 30 menit,
Aksara menawarkan berbagai makanan tapi Rania tidak berminat sama sekali.
Tapi sekitar 15 menit kemudian Rania menunjuk sesuatu di pinggir jalan.
" Yang mana?" tanya Aksara menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
" Yang itu.." Rania menunjuk seorang bapak bapak yang berjualan menggunakan gerobak di pinggir jalan.
" Jual apa itu?" tanya Aksara kurang begitu jelas,
" Jangan makan sembarangan Ah.. kau sedang hamil.." ujar Aksara,
Rania diam sembari menambahkan ketebalan bibirnya.
" Eh.. ya sudah ya sudah.. ayo turun.." Aksara turun duluan, lalu membantu Rania turun dari mobil.
Keduanya berjalan ke arah gerobak yang berlampu petromax itu.
Ada tulisan " Ketan bubuk dan wedang jahe" di depan gerobaknya.
Beberapa tempat duduk berbentuk kursi panjang dan satu meja kayu besar beralaskan plastik di letak kan tak jauh dari gerobak.
" Pak..?" Aksara memecah keheningan,
sang penjual yang tampak sedang duduk tenang dengan istrinya itu berdiri dan tersenyum pada Aksara.
" iyee?" jawab si bapak,
" Ketannya..dua, di makan disini ya pak.. sama wedang jahenya.." ujar Aksara sopan, di karenakan si penjual terlihat jauh lebih tua darinya.
" Iya.. silahkan duduk.." jawab si penjual,
Aksara mengangguk, ia menoleh ke belakang mencari istrinya karena ingin mengajaknya duduk, tapi ternyata istrinya sudah duduk terlebih dahulu.
" Sudah duduk ternyata.." Aksara tersenyum menggoda Rania.
" Sudah.. jangan cemberut.. " Aksara mencubit pipi Rania.
Tak lama si ketan dan si wedang jahe datang.
Mata Rania berbinar, ia seperti di ingatkan dengan ketan bubuk di pinggir gang rumahnya.
Aksara tersenyum melihat istrinya yang terlihat senang sembari menyeruput wedang jahenya.
" Orang jawa Mas?" tanya si bapak penasaran dengan logat Aksara yang halus.
" inggih pak.. njenengan?" tanya Aksara balik,
" sami mas.. tapi saya orang kediri.."
" owalah.. kediri tho pak.. sudah lama disini?"
" sampun mas.. tapi sebelumnya jualan di daerah maros.. "
" owalah.. pantas saja saya baru lihat, padahal kemarin kemarin lewat sini tidak ada yang jualan.. "
" inggih.. istri orang sudiang, payah setiap hari bolak balik maros, jadi jualan disini saja lebih dekat..
faktor usia mungkin nggih mas, jadi cepat capek.." si bapak penjual tersenyum, Aksara juga ikut tersenyum.
" Ngidam tho mbak e.. " tanya di bapak kemudian,
" lho kok tau pak??" Aksara dan Rania langsung menatap si bapak heran.
" ya kelihatan saja mas.." jawab si bapak sambil tersenyum.
" padahal belum kelihatan besar lho perut istri saya.."
" orang hamil sama tidak hamil itu kelihatan mas.."
" nggih tho pak?"
" kelihatan dari mananya pak?" tanya Rania penasaran,
" kelihatan dari ngambeknya mungkin ya pak?" sahut Aksara tertawa membuat si bapak dan si ibu juga tertawa.
" Mbak.. sampean sama mas e itu cocok, mbak e harus sabar sabar..
mas e ini sayang sekali lhoo sama sampean.." ujar si bapak tiba tiba, ia seakan tau..
Rania terhenyak, sementara Aksara tertawa.
__ADS_1
" Wah.. terimakasih lho pak mendukung saya.." Aksara yang tidak peka terus saja tertawa.