Aksara Rania

Aksara Rania
kabut cinta


__ADS_3

Aksara melihat jam tangannya.


Jam sepuluh malam, waktu indonesia tengah.


Ia mengendarai mobilnya ke arah kompleks perumahan yang di tinggali Ilham.


Sementara Rania sudah tertidur lelap karena kekenyangan, Aksara berkendara setenang mungkin agar tidak membangunkan istrinya.


Aksara turun dari mobil di sambut oleh Ilham dengan wajah yang menyiratkan pertanda baik.


" Kenapa istrimu tidak turun?"


" dia tidur mas.." jawab Aksara duduk di kursi yang berjajar di teras rumah Ilham.


" Masuk dulu.."


" sudah mas, disini saja.. toh sudah malam, mas juga baru pulang.."


" bisa saja.. aku tidak lelah kok, ku ambilkan pesanan istrimu dulu.." Ilham buru buru masuk ke dalam, tak lama dia keluar dengan beberapa kotak makanan dan satu kantong entah apa itu isinya.


" Lho..? kok banyak sekali?" Aksara kaget melihat bakso yang di letakkan di dalam dua kotak wadah makanan yang lumayan besar.


" Ini terlalu banyak mas, aku bawa satu saja.." Aksara mengambil satu kotak,


" Eh... ini istriku yang membelinya, nanti dia marah kalau ku tidak membawa semuanya..


dia bilang ini juga untuk Rania.." Ilham menyerahkan beberapa kue khas daerah mereka.


" Wah.. ngrepoti ini namanya mas..?" Aksara merasa sungkan.


" Wes tho.. nanti kalau kau tidak menerimanya Wulan akan merasa tidak nyaman,


anggap saja itu bentuk perhatiannya pada istrimu..


bukankan itu pertanda yang baik.."


Ilham tersenyum.


" Wah.. sudah berapa ronde mas.." tanya Aksara spontan,


" husshh..!" Ilham sontak memukul lengan Aksara,


" jangan keras keras.." ujarnya setengah melotot membuat Aksara tertawa.


" Oh iya.. kami tidak bisa membawakan kuahnya, maaf ya.. ?"


" tidak apa mas.. toh tidak mungkin juga.."


" semoga saja istrimu tidak kecewa.."


" aduh.. purik tok mas, tadi ini ku ajak keliling keliling.. ujung ujungnya yang di minta ketan bubuk.."


" Bawaan bayi.. bersabarlah.. "


" iya.. toh sebentar lagi mas menyusul.." goda Aksara membuat Ilham tersenyum sedikit malu.


" Doa kan saja.. aku akan berusaha yang terbaik demi keutuhan rumah tanggaku.." ujarnya di penuhi rasa syukur dalam hati.


" Ya sudah.. mas istirahat.. makasih lho mas.." Aksara bangkit,


" iya sa.. salam dengan Rania.. sehat sehat kalian berdua.." Ilham menepuk punggung Aksara pelan.


Aksara berjalan ke arah mobil dengan membawa bawaannya dari Ilham.


Keesokan harinya, Rania membuka kotak berisi bakso itu satu persatu.


" Banyak sekali?" tanya Rania pada suaminya yang sudah siap siap berangkat kerja itu.


" Nggak tau tuh mas Ilham, mungkin biar kau puas makan bakso.." Aksara tersenyum,


" Bikin kuah sendiri bisa?" tanya Aksara menusuk satu bakso dan memakannya.


" Bisa.. tapi rasanya tidak akan sama.."

__ADS_1


" ya.. sementara.. minggu depan kita kan bisa makan disana langsung sayang.." ujar Aksara sembari mengambil segelas air putih.


" Mas berangkat dulu ya.. baik baik dirumah, gausah keluar keluar kalau tidak penting,


kalau ada yang mau di beli telfon mas.. biar mas yang belanja.."


" tapi aku ingin ikut ke pasar, melihat sayuran sayuran hijau dan tumpukan tumpukan ikan yang baru datang.. "


Aksara diam sejenak,


" sama mas saja ya nanti malam.. " ujarnya kemudian,


" kok nanti malam.. si ibu kan mau belanja pagi ini..?"


lagi lagi Aksara diam sejenak.


" Berbahaya.. kalau kau hilang dalam keramaian bagaimana?


atau kalau ada orang yang membawamu bagaimana?"


Rania terhenyak, bisa bisanya kalimat seperti itu muncul dari mulut suaminya yang usianya sudah 30 tahun lebih.


" Mas kira istrimu ini anak SD atau SMP? pakai acara menakutiku.." tanya Rania tidak habis pikir.


" aku khawatir Ran.. sudahlah, pokoknya tidak boleh, nanti malam saja ku antar ke pasar.. " tegas Aksara mengecup kening Rania dan berlalu begitu saja.


Ilham dan Wulan terlihat jalan bersama keluar dari ruangan komandan.


Wulan yang berpapasan dengan Aksara hanya melirik, begitu juga dengan Ilham, ia hanya melempar senyum sembari menepuk pundak Aksara.


Aksara duduk tenang, diam diam ia mengelus dadanya.


" Akhirnya.." ucapnya pelan,


penderitaannya di ganggu Wulan berakhir.


Hubungan Ilham dan Wulan sudah mulai normal kembali sekarang.


" Apakah aku perlu mengadakan pesta? selamatan mungkin? atas rasa syukurku ini.. ?" imbuh Aksara dalam hati.


" Sudah mulai tidak waras kau..?" suara Marlin masuk ke dalam ruangan,


" senyum senyum begitu.." imbuh Marlin menyerahkan sekotak nasi.


" Ada acara apa?" tanya Aksara sambil membuka isi kotak,


" itu, anggota yang baru pindah kesini..


syukuran katanya.." jelas Marlin,


" kau sudah makan?"


" eh.. sudah ku habiskan di tempat.. " jawab Marlin duduk tak jauh dari Aksara.


" Kau lihat bang Ilham? aku bertemu tadi di parkiran.."


" Iya.. alhamdulillah.. sudah damai mereka.."


" berdamai?" Marlin tak percaya,


" iya.. damai.. wajah bang Ilham juga sudah tampak segar.. kau lihat tidak?"


" iya sih.." jawab Marlin,


" si Wulan juga.. " imbuh Marlin,


" kenapa Wulan?"


" auranya berubah.. tidak se suram biasanya.." komentar Marlin,


" ah masa.. berarti biasanya kau memperhatikan dong??" goda Aksara,


" eh! ku lempar dengan kursi kau nanti.. semua orang di kantor mengerti itu, kenapa jadi aku yang kau tuduh memperhatikan?!

__ADS_1


lagi pula dari dulu kau sasarannya, mana ada laki laki di kantor ini yang ia gubris.."


" jadi kau kecewa...?" Aksara tertawa kecil,


" Eh, dasar kau.. mana ada yang seperti itu.." Marlin manyun.


" Ada anggota baru di tempatmu..?"


" iya.. "


" ganteng lho..." gumam Ilham,


Wulan menatap Ilham,


" sana berkacalah.. apa ada yang kurang di wajahmu sehingga kau selalu menyebut laki laki lain ganteng.. ganteng.. ganteng.." omel Wulan kesal.


" Tidak usah berkaca aku tau wajahku ini menawan..


tapi sayangnya.. semenawan apapun wajahku,


istriku tetap saja dingin dan acuh padaku.." Ilham mulai lagi.


" Jangan merengek.. atau aku akan bersikap seperti kemarin kemarin.."


" lho? kok begitu.. " Ilham memeluk Wulan dari samping.


" Ayo pulang.. kan komandan sudah memberimu ijin setengah hari.."


Ilham membantu membereskan meja kerja istrinya.


" Mencurigakan.. " komentar Wulan,


" mencurigakan apalagi... kau sudah sebulan lebih meninggalkanku..


wajar saja aku amat merindukanmu..


apa salah jika aku ingin mendekapmu setiap saat dalam pelukanku?"


Wulan terdiam.


" kau menebarkan racun padaku setiap hari.." keluh Wulan memegangi kepalanya yang tidak pusing.


" Itu cintaku.. bukan racun.."


" itu racun.. bagaimana kalau nanti kau memberiku terlalu banyak dan akhirnya aku mati keracunan..?"


Ilham terdiam,


" Tidak.. " suaranya serius,


" kalau kau memang menganggapnya racun, aku akan meminumnya bersamamu.. bahkan lebih banyak.." imbuh Ilham dengan wajah serius.


Melihat itu Wulan tertawa ringan.


" Semakin tua kau semakin lucu.." Wulan menyentuh pipi Ilham.


Mendapatkan respon yang seperti itu Ilham sontak memegang tangan istrinya yang sedang berada di pipinya.


Keduanya beradu pandang,


" Ayo pulang.." suara Ilham setengah berbisik lalu mencium telapak tangan istrinya.


" Uehemmmm...!" seseorang lewat di depan ruangan Wulan,


" seperti ada kabut.. ?!" ujar teman sekantor Wulan,


" kabut apa bang?" tanya teman yang satunya, kebetulan ruangan mereka berada di samping ruangan Wulan, jadi wajar saja mereka berlalu lalang.


" kabut cinta.. " jawab teman sekantor Wulan itu sambil tersenyum.


" Huss..! abang ini..?!"


" lha iya.. mbok ya di lanjutkan dirumah.. aku jadi kangen istriku begini ini.." sindir temannya itu lagi,

__ADS_1


bukannya sakit hati Wulan dan Ilham malah tersenyum, karena Ilham dan Wulan tau, sindiran mereka hanya bermaksud bercanda.


" Tuh.. kita disuruh pulang.." Ilham menarik tangan istrinya agar segera bangkit dari duduknya.


__ADS_2