Aksara Rania

Aksara Rania
kasihani Ami


__ADS_3

" Mama?!" seorang anak perempuan berumur sekitar 6 tahun berlari ke kaki Wulan,


" mama mau kemana? temani adek tidur ya ma?"


Wulan terdiam,


" adek kangen ma, mama kan sibuk terus.."


lagi lagi kalimat anaknya itu membuatnya tak sampai hati,


tapi ia malas sekali dirumah, semakin banyak suaminya mengajaknya bicara, ia akan semakin malas berada dirumah.


" Adek.. kalau mama pergi, adek mau ikut mama atau papa?" tanya Wulan tiba tiba,


bocah berumur 6 tahun itu terdiam, ia bingung..


" kenapa papa sama mama nggak barengan saja perginya, biar adek bisa ikut mama sama papa.." jawab si anak setelah lama menunjukkan ekspresi kebingungan.


" Dek.. adek masuk ke kamar dulu ya, papa mau ngobrol sama mama.." terdengar suara suami Wulan tiba tiba menyela, tanpa menunggu laki laki itu menarik istrinya ke dalam kamar dan mengunci nya.


" Maksudnya apa ini?" tanya Wulan kesal,


" Kau mulai bicara sembarangan di depan anak kita?!" tegas Ilham,


" anak kita? itu anakmu!" balas Wulan, membuat suaminya terdiam dengan geraham mengetat.


" Aku bosan dengan sikapmu yang seperti tidak terjadi apapun! aku bosan dengan sikapmu yang sok suci itu!" nada Wulan keras,


" Cukup! aku sudah cukup sabar padamu! sudah ku bilang lupakan masa lalu?!


itu memang kesalahanku, aku mengakuinya, aku berdosa padamu.. tapi jangan hal ini terus terusan kau ungkit?!


kita bahkan sudah mempunyai Ami.. perhatikan kebahagiaan Ami sedikit saja..?!"


" jadi yang kau pikirkan hanya Ami? bagaimana dengan anak pertamamu?! andai saja saat itu kau tidak melepaskan tanggung jawab mu karena alasan karir dan belum siap,


aku pasti bisa melahirkannya dengan baik..!" Wulan menatap suaminya dengan mata berkaca kaca, hatinya sakit sekali setiap mengingat anak pertamanya yang meninggal saat di lahir kan, sejak saat itu ia tak henti menyalahkan suaminya.


" Aku jadi seperti ini karena mu.. padahal orang tua ku mendidik ku dengan baik dan penuh kehormatan,

__ADS_1


tapi karena cinta buta dan bodohku padamu.. "


Wulan menahan diri, amarah di dadanya serasa ingin meledak.


Ilham terhenyak, ia hanya bisa memandang istrinya dengan pandangan tak berdaya, ia merasa sangat bersalah tapi sampai detik ini Wulan tidak pernah memberinya maaf.


Keduanya memang hidup normal sebagai suami istri, Wulan pun tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai istri, namun wajahnya tak pernah ramah pada Ilham, bahkan pada saat mereka tidur bersama.


" Kau benar benar tidak bisa memaafkan ku? mau sampai kapan kau begini terhadapku..?? " suara Ilham lirih,


" Tidak.. aku tidak mungkin memaafkan laki laki yang dengan sengaja mencampakkan ku.."


" aku tidak pernah mencampakkan mu..


aku hanya.." Ilham terdiam sejenak,


" aku.. aku hanya.." Ilham tertunduk, ia tak mampu melanjutkan perkataannya, ia takut jawabannya akan semakin membuat Wulan sakit hati.


" hanya apa? membohongiku kalau belum siap menikah sementara kau pergi dengan perempuan lain?!" kata kata Wulan membuat Ilham semakin tidak berdaya,


" mau mu bagaimana..? aku akan menurutimu, tapi kumohon berhentilah balas dendam terhadapku..


kau perempuan yang disiplin dan terhormat..


" Kita berpisah saja, mungkin dengan berpisah aku bisa melupakan hal hal buruk yang sudah terjadi.." ujar Wulan membuat Ilham tersentak.


" Apa yang kau katakan? berpisah? " Ilham terbelalak tidak percaya, kalimat yang paling ia hindari akhirnya di ucapkan oleh istrinya.


" Biar Ami hidup denganku.."


" tidak!!" tegas Ilham dengan perasaan tak karuan, ia marah juga kecewa.


" kasihani Ami.. ?"


" karena itu aku akan membawa Ami, berhentilah bersikap seperti sangat mencintai ku,


setelah kita berpisah kau bisa mencari perempuan yang sesuai dengan seleramu"


" Aku memang mencintaimu! buat apa aku diam selama ini kalau aku tidak mencintaimu! kau terang terangan menggoda laki laki lain di hadapanku.. setengah mati aku menahan amarah.. kau kira apa kalau aku tidak mencintaimu?!" Ilham benar benar frustasi, ia sudah tidak tau harus bicara apa lagi terhadap istrinya itu.

__ADS_1


" jangan bodoh.. Aksara tidak akan memandangmu.. sadarlah.." imbuh Ilham lebih tenang,


Wulan tersenyum sinis mendengar itu,


" Kau kira aku sesuka itu pada Aksara?"


" lalu kenapa selama ini ?" Ilham tiba tiba berhenti bicara,


" karena kau terlihat paling menderita saat aku mendekati Aksara dari pada laki laki lain,


di balik senyum bijaksana mu itu hatimu pasti terluka kan, bagaimana rasanya?? istrimu malah memandang orang lain yang sudah kau anggap adik sendiri.." Wulan tersenyum pahit, hatinya di penuhi getir, sesungguhnya sejak awal dia bukan wanita yang tidak benar, karena sakit hatinya di khianati ia menjadi seperti sekarang.


Ia mencari luka suaminya setiap melihat Aksara, karena Aksara laki laki yang dingin dan jauh dari perempuan, Wulan menjadikan Aksara target utama.


Tapi Wulan sungguh tidak pernah menyangka kalau perbuatannya 10 tahun yang lalu itu bisa merusak kehidupan Aksara.


Wulan tidak berfikir panjang bahwa Aksara akan memberontak pada Bapaknya, dan Wulan juga tidak tau kalau Aksara sudah jatuh cinta pada gadis kecil yang ada dirumahnya itu.


Wulan menyesal akan hal itu dan ingin mulutnya berucap maaf, tapi ia merasa dirinya terlalu berdosa sehingga tidak pantas meminta maaf, karena itu ia terus memainkan perannya sebagai perempuan yang di nilai buruk oleh Aksara, karena itu semua sudah terlanjur dan ia pun masih membutuhkan Aksara untuk melukai hati suaminya dari hari ke hari.


Wulan menatap sinis suaminya,


" apa yang kau pikirkan? kau tampan.. punya jabatan yang bagus.. kau bisa mendapatkan perempuan seperti apapun di luar sana..


lepaskan aku,


biar ku bawa Ami bersamaku.."


Ilham membisu,


hatinya seperti di pukul puluhan kali,


ada sakit yang tidak bisa ia gambar kan dengan kata kata,sehingga ia memutuskan untuk diam,


diam dan menatap istrinya dalam dalam, ia mencari apakah masih ada sedikit kasih sayang yang tersimpan di dalam pandangan mata istrinya,


beberapa menit keduanya diam dan hanya saling menatap,


namun Akhirnya Ilham mundur, ia tak menemukan apa yang ia cari, harapan kecil yang mungkin bisa menyelamatkan rumah tangga nya,

__ADS_1


dengan langkah ragu Ilham berbalik,


" lakukan apapun yang kau mau, jika tanpa aku kau bahagia, aku akan pergi.." ujaranya dengan suara lirih tertahan, lalu membuka pintu dan berjalan pergi.


__ADS_2