Aksara Rania

Aksara Rania
Dia sudah tidak mencintaiku


__ADS_3

Aksara Mengambil HPnya yang berdering,


" malam Mas?" jawab Aksara,


" temui aku sebentar, di tempat biasanya.."


" siap Mas.." jawab Aksara menaruh Hpnya kembali ke atas meja,


" siapa Mas?" tanya Rania yang sudah mengantuk,


" Mas Ilham.."


" Ilham yang itu?" Rania tiba tiba membuka matanya yang sudah mengantuk.


" Ada apa selarut ini?" lanjut Rania bertanya,


" mungkin hanya ingin berbincang denganku, biasanya juga begitu sebelum kita menikah.. " jawab Aksara sembari menjatuhkan diri ke pelukan istrinya.


" Bukannya mau keluar? " Rania heran karena tangan Aksara merayap masuk ke dalam baju tidur Rania,


" sebentar saja.. takutnya Mas pulang kau sudah tidur.." pinta Aksara dengan wajah sengaja memelas,


" Mas... mas... sempat sempatnya sih, Mas itu di tunggu orang?" gerutu Rania yang akhirnya menurutinya juga.


Aksara memarkir motornya,


" Apa kabar pak?" sapa si tukang parkir yang sudah lama sekali tidak melihat Aksara berkunjung,


" alhamdulillah.. sehat pak.." jawab Aksara sembari melempar senyum,


" pak Ilham dari tadi di dalam.."


Aksara tersenyum sembari mengangguk, ia berjalan masuk ke dalam cafe yang di kelola oleh teman sekantor Ilham yang juga di kenal Aksara,


namun Aksara tidak begitu akrab dengannya.


Cafe itu memiliki suasana jawa yang kental sekali, tidak ada tempat duduk layaknya cafe modern, yang ada hanyalah Gasebo gasebo bambu untuk lesehan, suasananya tenang dan nyaman,


tidak hanya suasananya, tapi menu makanannya yang sederhana ala rumahan membuat rindu akan kampung halaman.


Ilham beberapa kali memanggilnya kesini saat tau istrinya masih mengusik Aksara, bukan untuk marah, namun untuk meminta maaf karena perlakuan istrinya dan berbincang selayaknya hubungan mereka yang masih baik dulu.


Aksara masuk lebih dalam, ia melihat Ilham duduk sambil tertidur di sofa panjang, tepatnya Ilham ketiduran di dalam rumah sementara pemilik cafe.


" Ketiduran dia, bangunkan saja.." ujar Rizky pemilik cafe,


" iya bang.." jawab Aksara duduk di sebelah Ilham,


" kalian ngobrol saja, kalau butuh apa apa minta sama pegawaiku, aku mau pulang kerumah.." pamit Rizky sembari mengambil kunci mobil,


" Iya bang, terimakasih..".


Aksara membangun kan Ilham yang terlihat lesu sekali, mereka mulai berbincang beberapa menit kemudian sembari menghisap rokok dan menyeruput kopi.


" Masa Mas kalah sih..?" tanya Aksara menatap Ilham penuh rasa heran, bisa bisa nya laki laki itu mengalah terus.


" Aku tidak mau menyakitinya lagi,"


" mengarahkan istri ke hal yang benar itu bukan menyakiti Mas.. tegaslah sedikit pada Wulan,"


" kau saja tidak bisa tegas padanya, apalagi aku.."


" aku menahan diriku hanya demi Mas, kalau aku tidak memandang Mas, sudah habis dia kucari kesalahannya, tapi aku memandang hubungan kita..


karena itu aku diam diam saja menahan diri..


padahal perbuatannya itu sudah sangat merusak hidup ku.."


Ilham terdiam sejenak, ia menghisap Rokoknya beberapa kali, lalu berbicara

__ADS_1


" yang membuatnya seperti itu adalah aku.. kau tau dengan benar itu,


dia menjebak mu karena aku tidak mau langsung bertanggung jawab saat itu..


andaikan aku langsung bertanggung jawab,


mungkin dia takkan melukaimu,


dan mungkin anak pertama kami masih hidup.." nada Ilham tertahan, sorot matanya benar benar terluka,


" dia minta berpisah.. sebenci itu dia padaku..


yah.. memang aku laki laki brengsek, saat dia membutuhkan ku,


aku malah pergi dengan perempuan lain.." lanjut Ilham,


" yaa.. Mas memang brengsek.. tapi baguslah mas sadar kalau saat itu mas memang benar benar brengsek.. " ujar Aksara pelan seakan tidak takut meski Ilham mempunyai posisi yang lebih tinggi darinya.


Tapi bukannya marah, Ilham malah mengangguk,


" kau benar.. aku brengsek, perempuan terhormat seperti Wulan ku campakkan, dan aku malah terlena dengan perempuan yang tidak karuan..


kau lihat kan? kau lihat kan? dia berpakaian seperti itu hanya untuk balas dendam terhadap ku,


dia bilang karena aku lebih suka perempuan liar, dia akan belajar menjadi perempuan liar,


ku kira itu main main, tapi dia benar benar melakukannya, istriku yang cantik dan terhormat itu..


sengaja mencari perhatian laki laki lain hanya untuk menyakitiku, dia ingin aku mati nelangsa memikirkannya..


saat tidur dengan ku pun dia membuang muka.. " mata Ilham memerah,


" aku tau Mas, karena itu aku tidak bisa kasar terhadap Wulan meski dia sudah melukaiku.. karena aku tau, dia juga terluka olehmu..


dia sedang salah jalan sekarang,


tugasmu sebagai suami adalah menariknya ke jalan yang seharusnya kalian lewati..


" Dia sudah tidak mencintaiku..


aku mau bagaimana.." Ilham tertunduk dalam,


" aku tidak bisa membayangkan bagaimana putriku akan menerima kenyataan ini.. " imbuhnya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Aku yakin pasti masih ada cinta Mas, meski itu sedikit.. itu terbukti dengan ia masih bersedia tinggal satu atap denganmu dan melayanimu.."


" tidak.. itu terpaksa, aku tau dia terpaksa.. "


" Mas?? jangan pesimis.. bersabarlah..."


" bagaimana kalau dia benar benar menginginkanmu sa? bagaimana kalau dia ingin bercerai denganku karena ingin memudahkan jalannya untuk mengejarmu??"


Aksara diam, keduanya berpandangan seakan sama sama bingung dan takut.


" Tidak mungkin Mas, apa aku gila mau menerima istrimu?! mengejarku sampai kapanpun aku tetap tidak mau mas?!" tegas Aksara lama lama kesal,


" tolong mas... aku sudah bahagia dengan istriku.. jangan ganggu kami.." imbuh Aksara lebih tenang, ia setengah memohon karena lelah terus berada di tengah tengah Wulan dan Ilham, padahal dirinya tidak tau apa apa.


" Kau pulanglah mas.. benarkan lagi apa yang tidak benar..


kasihan anakmu kalau kalian berpisah,


lebih kasihan lagi aku mas? aku yang tidak tau apa apa ini selalu kalian sangkut pautkan ke dalam rumah tangga kalian.."


Ilham diam, ia terus berfikir..


namun rasanya tidak menemukan jalan harus bagaimana lagi ia berdamai dengan istrinya yang sudah bulat meminta perpisahan itu.


" Minta saran sama orang orang yang sudah sepuh saja.. sementara mas adem adem saja dulu.. " saran Aksara ketika Ilham terus saja diam sambil menyandarkan kepalanya di bahu sofa, ia terus menatap langit langit dengan pandangan kosong.

__ADS_1


" adem bagaimana maksudmu ?!" tegas Ilham dengan wajah gelisah,


" Dadaku ini rasanya sesak, berfikir hidup terpisah dengannya dan Ami saja tidak pernah ku bayangkan..


karena itu selama ini aku mengalah..


aku ingin kami baik baik saja sampai tua,


tak apa dia membenciku..


tak apa sudah tidak mencintaiku..


asal jangan meminta berpisah dariku,


dosa yang dulu ku lakukan padanya masih terasa begitu berat,


dia bahkan belum bisa menerima Ami sepenuhnya..


dia terus mengatakan Ami adalah anakku, bukan anaknya..


terkadang aku tidak sanggup mendengar kata katanya yang pahit dan sinis terhadapku..


tapi tak ada yang bisa ku lakukan..


karena kenyataannya aku bersalah padanya.. "


" lalu Mas mau bagaimana?? ku antar ke komandan, ayo kita minta saran komandan.."


" tidak, aku tidak mau istriku bermasalah.."


Aksara diam, ia turut bingung..


padahal dirinya kesal sekali terhadap Wulan, tapi melihat suaminya begini mana bisa dia marah.


Yah.. Aksara tau benar, yang di lakukan Wulan padanya memang salah dan sangat menyakitkan, Wulan bahkan dengan sengaja ingin melukai Rania saat itu,


tapi begitu ia tau Wulan kehilangan anak pertamanya, dan Wulan sangat depresi.. kebenciannya memudar,


Aksara merasa semuanya sudah impas..


tidak ada yang perlu di balas, karena Wulan sudah mendapatkan sesuatu yang lebih pedih..


" Mas mau kemana??" tanya Aksara sembari mengejar Ilham yang tiba tiba saja bangkit dan berjalan ke arah luar cafe.


" Aku mau menemui istriku.. aku akan memohon lagi padanya.." ujar nya dengan wajah penuh kegelisahan dan ketakutan.


" sebegitu takutnya mas kehilangan Wulan..?" tanya Aksara menarik lengan Ilham,


" Aku kapok sa.. aku kapok, aku hanya ingin istriku..


bukan perempuan lain..


aku mau istriku tau..


kalau aku sudah lama berubah, sebelum Ami lahir aku sudah berubah..


itu karena aku ingin hidup bersamanya seterusnya..


aku ingin menyembuhkan lukanya dan membahagiakannya.."


" jangan hanya bicara mas.. buktikan..


kalau mas layak di maafkan.."


" memohon padanya.. itulah satu satunya cara.."


" Tidak.. memohon itu bukan jalan,


di mana pemikiran mu yang cerdas dan berwibawa mas?!" Aksara sedikit kesal,

__ADS_1


" aku tidak mengerti, otak ku tumpul di saat saat seperti ini.." keluh Ilham benar benar tidak mampu berfikir,


" Buat dia mencintaimu lagi..." ujar Aksara tenang.


__ADS_2