
Dimas membonceng Aksara dengan motornya menuju ke bengkel, jalanan tidak begitu ramai karena kebetulan mereka tinggal di pinggiran kota.
" Rumahmu di sebelah mana?" tanya Aksara sambil melihat pepohonan yang rindang di tepi jalan, pohon yang dulu tidak setinggi ini seingat Aksara.
Tanah tanah yang dulu kosong juga sudah penuh terisi dengan pertokoan dan perumahan.
" di gang 10 Mas.. perumahan kecil, Masih nyicil.. hehehe.." jawab Dimas sambil menyetir motor dengan hati hati.
Tak lama mereka sampai di depan bengkel, terlihat banyak sekali motor menumpuk dan belum di perbaiki saking ramainya.
" Kau yakin motor Rania sudah selesai?" tanya Aksara ragu melihat antrian sebanyak itu.
" Sudah kok Mas.. tinggal ambil saja.." jawab Dimas masuk ke dalam bengkel dan berbicara dengan salah satu pegawai bengkel.
" Pak? kan saya duluan yang datang?!" terdengar suara seorang perempuan yang familiar di telinga Dimas.
" Ehh... bu Jihan...?" sapa Dimas sebal,
" saya duluan pak Dimas?!, njenengan jangan se enaknya ngeduluin orang dong?!" Jihan melotot kesal.
" Bu jihan seluang itu ya? ketemu dimanapun kok ngajak saya ribut.. saya bukan mendahului, saya cuman mau ambil motor..." jawab Dimas melebarkan senyum menutupi hatinya yang kesal dan gemas dengan Jihan.
" Tapi gara gara pak Dimas ajak ngomong, Bapaknya jadi tertunda mengerjakan motor saya?!"
Dimas diam, ia memandang Jihan seksama.
" Ini motor bu Rania.. itu suaminya.. dan saya cuman mau ambil motor!" jawab Dimas menekan suaranya yang kesal agar tidak terdengar terlalu keras.
Jihan memandang Aksara sejenak, lalu sedikit melunak.
" Ya sudah, saya maklumi karena bu Rania.." jawab jihan berbalik dan kembali duduk di kursi tunggu.
Sesampainya di rumah Aksara meminta Rania untuk membuatkannya dua gelas kopi.
Karena bosan dan tidak ada kegiatan keduanya memutuskan bermain catur sambil ngopi di balai.
" Wanita yang tadi pacarmu?" tanya Aksara di tengah tengah permainannya,
" amit amit Mas.. biar semua perempuan di dunia habis saya ogah sama dia" jawab Dimas ketus.
Aksara tiba tiba tertawa melihat sosok Dimas yang begitu.
"Ehh.. membenci boleh.. tapi jangan berlebihan.. nanti jatuh cinta.." kata Aksara masih tertawa.
" Jangan menyumpahi saya Mas.."
" mana ada yang menyumpahi.. memang semua orang bilang begitu.. "
" Mas lagi gabut kan? mangkannya Mas ramah terhadapku.." gerutu Dimas lagi lalu membuat Aksara tertawa.
" Kau mengajar apa?" tanya Aksara sambil menyeruput kopi,
" Olah raga Mas.."
" pantas posturmu lumayan.. kalau aku sudah pindah kesini olah raga denganku ya..",
Dimas diam sejenak.. ia heran, kenapa Aksara tiba tiba ramah padanya,
"Mas ada apa sih.. ?"
__ADS_1
" ada apa maksudnya? kau tidak suka aku berprilaku baik?"
" ya aku kan kaget... Mas biasanya serem.."
lagi lagi Aksara tertawa,
" lho kan?? hari ini banyak tertawa.. aku merasa semakin ada yang tidak beres.."
" hemm.. ya sudah, aku tidak akan tertawa.., trimakasih ya..?"
" kenapa tiba tiba terimakasih Mas??"
" Sudah menggantikan aku menjaga Bapak.." suara Aksara tiba tiba berubah, bibirnya tersenyum tapi sorot matanya penuh kesedihan.
Dimas menundukkan pandangannya dan beralih ke papan catur,
" Bapak baik kepadaku Mas.. sudah selayaknya aku baik juga terhadap Bapak.." jawab Dimas berusaha sesantai mungkin agar tidak membuat Aksara semakin sedih,
" Aku kangen Bapak Dim.. " ujar Aksara dengan mata mulai berkaca kaca, itu membuat Dimas terdiam, ia menghela nafas berat.
Kematian Bapak memang bukan hal yang ringan untuk Aksara, waktunya bertemu Bapak terlalu pendek.. dan ia terus menyesali itu.
"Mas.. ?" Dimas hati hati,
"iya?" jawab Aksara tenang.
"Bawa saja istrimu Mas.. jangan biarkan dia sendiri disini.." wajah Dimas sangat serius saat mengatakan itu.
"Aku kasian saja Mas.. meski tidak nampak, dia juga berat sekali dengan meninggalnya Bapak..
aku sering memergokinya melamun, mungkin juga sewaktu jatuh dari motor dia sedikit melamun..
memang ada mbak Yuni, tapi nggak samalah Mas.."
Aksara berfikir sejenak, Apa yang di katakan Dimas memang ada benarnya..
tapi Aksara takut di kira memaksakan kehendaknya.
"Liburan masih lama ya Dim?" tanya Aksara,
" ya lumayan Mas.. 2 minggu.. " jawab Dimas sambil menyeruput kopinya.
Rania gusar..
entah kenapa dia tidak bisa tidur memikirkan Aksara yang besok akan kembali ke tempat kerjanya, tanpa di sadari kaki nya bergerak gerak.
Tadi malam Aksara tidur di sofa ruang tamu, lalu paginya langsung pergi dengan Dimas, siangnya mengobrol dengan Dimas sampai magrib.
Saat makan malam pun Aksara diam saja bahkan tidak memandang Rania sedikitpun.
"Ya masa ngambek..?" penasaran Rania dalam hati.
"Kenapa?" suara Aksara lirih, rupanya ia terbangun karena terganggu dengan gerakan gerakan kaki Rania.
"Nggak Mas.." jawab Rania pelan,
" kakimu gatal? mau ku ambilkan minyak kayu putih?" tanya Aksara bangun,
" enggak kok Mas..?"
__ADS_1
" kalau enggak kenapa kakimu kau gosok gosok terus?" tanya Aksara, melihat Rania diam tak menjawab Aksara bangkit dan berjalan mengambil minyak kayu putih.
" Yang mana yang gatal?"
Aksara duduk tepat di samping kaki Rania, tanpa bertanya ia mengolesi kaki Rania satu persatu dengan minyak kayu putih.
" nggak usah Mas??" Rania menarik kakinya karena geli.
" Bahkan kakimu pun tak boleh ku sentuh?" aksara mendengus sedikit kesal dan membuang pandangannya ke arah lain.
" Tidak seperti itu Mas..?" Kata Rania bangkit dan duduk,
" Mas salah faham.." imbuh Rania.
Aksara mematung, ia tak berniat menjawab apapun.
Rania yang takut Aksara berfikir macam macam dan marah, berinisiatif mendekatkan kakinya kembali ke Aksara.
" Oles lagi Mas.. agak banyakan minyaknya.." ujar Rania dengan wajah polos, ia tidak berniat apapun.. itu semata mata ia lakukan karena takut Aksara salah faham saja dengannya.
Tapi berbeda dengan Aksara, pikirannya kemana mana ketika melihat Rania yang menggenakan baju tidur itu menggeser kakinya perlahan ke arah Aksara, hingga kaki mereka bersentuhan.
" Sekarang kau malah menggodaku.." Gerutu Aksara,
" Bukannya Mas mau mengolesi kakiku dengan minyak..?" tanya Rania benar benar polos.
Aksara tak menjawab, ia menarik kaki Rania ke atas pahanya dan mengolesinya dengan minyak kayu putih.
Perlahan lahan Aksara sambil memijit kaki Rania, sengaja ingin berlama lama menyentuh istrinya,
namun tetap saja, sebesar apapun gejolak di hatinya.. Aksara harus menahannya sesuai janji.
Tapi kaki mungil ini seperti sengaja di gunakan untuk memancing, pikir Aksara.. apalagi baju tidur yang hanya sepaha itu.
Aksara menelan ludahnya, sebenarnya..
karena melihat Rania memakai baju tidur itu tadi sore, Aksara buru buru masuk kamar dan tidur.
Ia lebih baik tidur dan tidak melihat Rania, karena ia takut tidak bisa menguasai dirinya ketika Rania terbaring di sampingnya.
Siapa yang menyangka kalau ia malah akan terbangun gara gara Rania yang menggosok gosok kakinya.
Aksara berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun kaki mungil itu..
" Aduh...!" Aksara benar benar mengeluh dalam hati.
" Ran..?" panggil Aksara pelan, ia merasa harus berhenti..
" Ran, sudah ya.. ? aku ngantuk.." ujar aksara seraya memandang Rania.
Tapi ternyata si pemilik kaki sudah terlelap,
Aksara menghela nafas panjang melihat itu.
" Nah.. sekarang gantian aku yang tidak bisa tidur.. "
Aksara menaruh kaki Rania pelan pelan agar Rania tidak terbangun,
lalu dengan perlahan Aksara bangkit dan berjalan keluar dari Kamar.
__ADS_1