Aksara Rania

Aksara Rania
Daster


__ADS_3

Aksara sedang santai di teras sembari berbincang dengan Dimas.


Sementara Rania sedang merapikan baju karena nanti sore mereka sudah harus kembali ke kota makassar.


ketika Aksara sedang asik mengobrol tiba tiba sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya.


Wajah yang Aksara kenal betul turun dari mobil itu.


" Assalamualaikum.. permisi.." seorang gadis berdiri di depan pagar bersama seorang laki laki di belakangnya.


" Safa dan kakaknya mas..?" celetuk Dimas,


" Bukakan Dim, biar ku panggilkan Rania, mereka pasti mencari Rania.." ujar Aksara bangkit dan berjalan masuk.


Sementara Dimas membuka pagar, menyuruh keduanya masuk dan menunggu Rania yang sedang di panggil.


" Sayang? ada tamu.." Aksara masuk ke kamar,


" tamu? siapa?" tanya Rania sembari menata baju.


" Fans mu..." jawab Aksara berlalu begitu saja, wajahnya lagi lagi masam.


Rania heran, namun segera berjalan keluar menyusul Aksara.


" Bu??!" suara Safa girang seraya memeluk Rania.


" Lho tau dari mana ibu pulang??"


" Dari bu Ina.." jawab Safa melepas pelukannya.


" Apa kabar? sehat?" Suara Radit yang sejak tadi menunggu untuk menyapa.


" nggih.. sehat, njenengan?" Rania tersenyum manis.


Sementara Aksara dari samping memperhatikan,


" padahal sudah ku bilang berkali kali, jangan sembarangan tersenyum semanis itu di depan laki laki lain.." gerutu Aksara dalam hati.


" Monggo, silahkan mengobrol.. saya tinggal dulu ke depan.." ujar Aksara tersenyum manis meski hatinya mengomel tidak karuan,


ia berjalan tenang ke arah teras depan, dimana Dimas masih duduk tenang.


" Sabar...hihihi..." ujar Dimas melihat Aksara duduk dengan posisi tidak nyaman.


" Jangan tertawa, ku lempar ke atas pohon mangga kau nanti.."


" idihh.. " Dimas menahan tawa,


" Istri sudah hamil masih saja di cemburui.." lanjut Dimas,


" siapa yang cemburu?"


" mas nggak cemburu sih.. cuman manyun mendadak aja.."


Aksara diam.


" Tenanglah mas.. Rani tidak mungkin aneh aneh.." ucap Dimas menenangkan,


" aku tau.." jawab Aksara pendek.


" lalu kenapa ekspresi mas begitu..?"


" diamlah, nanti Rania mendengarmu.. aku sudah berjanji padanya tidak akan cemburu cemburu lagi.." suara Aksara tenang.


" Tapi muka mas kelihatan banget kalau sewot.. ahahaha.."


" huss..!" Aksara melotot,


" aku tau istriku tidak akan macam macam.. tapi tetap saja aku kesal kalau ada laki laki yang dekat dengan istriku.."


" lah? aku piye?"


" kau tidak ku anggap laki laki.." jawab Aksara santai,


" heh?? tidak dianggap laki laki??" gantian Dimas yang cemberut.


" tapi mas.." ucap Dimas,

__ADS_1


" kukira si Radit juga tau diri mas.. ya memang sih kelihatan sekali dia suka Rani..


tapi melihat Rani hamil pastinya dia berfikir ribuan kali mau dekat dekat Rani lagi.. toh mas dan Rani juga tidak tinggal disini.." imbuh Dimas.


" Tapi ke depannya kami akan kembali kesini"


" sudahlah mas.. nggak ada habisnya kalau mas mikir begitu.. si A hilang akan ada si B, si B hilang akan ada si C..


mas tidak bisa melarang orang menyukai Rani..


yang penting Rani kan tidak merespon..


seperti mas juga, tidak mungkin di luar sana kelak tidak akan ada yg tertarik pada mas..


Rani pun akan merasakan apa yang mas rasakan sekarang..


jadi santai sajalah mas.. yang penting kalian berdua saling mencintai, beres..."


Dimas menyeruput kopinya.


" Aku bodoh kalau urusan perasaan begini.. padahal aku biasa menyelesaikan urusan orang,


tapi urusan perasaanku sendiri aku tidak mampu mengatasinya.." keluh Aksara.


" Sebentar lagi akan ada anak.. jadi pikiran mas harus lebih terbuka lagi.. akan ada banyak permasalahan kecil terjadi, bicarakan.. terbuka.. buat Rania nyaman..


jelaskan segala sesuatunya tanpa Rani bertanya dulu..


karena Rani tipe wanita pasif mas..


dia tidak akan bergerak jika mas tidak mendesaknya.."


Aksara memikirkan kata kata Dimas,


" Tumben kau bijaksana.. " sahut Aksara,


" kalau perutku kenyang aku bijaksana mas.." Dimas terkekeh.


" Ngomong ngomong mas.. aku mau curhat.." Dimas tiba tiba serius,


" Aku.. suka istri orang mas.."


" heh?!!" Aksara sontak memandang Dimas tajam.


" Salah salah.. maksudku calon istri orang.. piye iki mas.."


Aksara menghela nafas panjang karena gemas.


" Istri orang, calon istri orang tetap tidak boleh, kau tidak melihatku disini?!" jawab Aksara ketus.


" Dengarkan dulu mas.. kalau aku sudah menjelaskan nanti mas boleh memarahiku lah.. habisnya aku mau cerita sama siapa? sekarang sampean wes tak anggap kakakku sendiri.." ,


" ojo sok melas ngunu.. malesi.."


" lha memang iya.. apa aku curhat ke Rani?"


" janganlah.. ke aku saja, istriku hamil, jangan bebani dengan masalah hidupmu.."


" ki maksud e opo e mas, modele aku ini ngrepoti ngunu.. "


" sudah, buruan cerita..?!"


Dimas mengelus dadanya.


" Ya wes.. mas tau bu Jihan?" belum selesai Dimas bicara,


" Owalahh... ahahaha!! benci jadi cinta, kayak sinetron awakmu Dim Dim..?!" Aksara heboh menertawakan Dimas.


" Hemm.. " Dimas memasang wajah lelah,


" terus gimana gimana?" tiba tiba Aksara antusias dengan apa yanga akan di ceritakan Dimas, sehingga dia lupa bahwa di dalam istrinya sedang berbincang dengan Radit.


" Lha itu mas.. terus nasibku bagaimana?" tanya Dimas pada Aksara setelah panjang lebar menjelaskan.


" Yang kamu tempati rumahmu sendiri?" tanya Aksara serius,


" iyalah mas.. aku nyicil.. masih kurang 3 tahun.."

__ADS_1


Aksara diam sejenak,


" begini saja Dim, lebih baik perjelas dulu hubungan kalian, tanyakan apa perempuan itu punya perasaan yang sama denganmu..


kalau kalian sudah sejalan baru bicarakan rencana ke depan, kalian berdua menghadap orang tua.. bicarakan baik baik,


meskipun perjodohan wanita itu karena balas budi, tapi orang tua juga tetap tidak boleh memaksa..


mana bisa menikahkan anak perkara balas budi..


apalagi calon suaminya kasar begitu.."


" Aku bingung mas.. soalnya aku bukan orang yang kaya atau punya kedudukan.."


Aksara baru kali ini melihat ekspresi Dimas yang bingung.


" Begini saja.. bicara dulu sama yang namanya bu Jihan itu, dia mau tidak hidup bersamamu..


menerima segala kekuranganmu..


takutnya perasaan ini hanya kau saja yang memiliki.. "


Dimas terdiam,


" yang paling penting adalah, apakah dia mau berjuang bersamamu dalam kondisi apapun..


kalau kau sudah dapat jawaban..


hubungi aku,


kalau memang perempuan itu sanggup berjuang denganmu..


Aku akan menemanimu menemui orang tuanya.."


Dimas menatap Aksara tak percaya,


" sungguh mas??" Dimas tak percaya orang yang acuh dan galak yang ada di hadapannya ini perduli padanya.


" Sudahlah.. asal kau serius aku akan membantumu..


aku tau perasaanmu..


tidak memiliki satu orang pun untuk bicara dan bergantung itu menyedihkan..


aku pernah menjalaninya selama 10 tahun,


jadi pikirkan dulu matang matang.. apa yang kau rasakan ini benar.. dan apa yang kau rasakan ini sama dengannya.." nasehat Aksara tulus,


mendengar itu Dimas terhenyak, andaikan Aksara bukan orang yang kaku mungkin Dimas akan memeluknya saking terharunya mendapat dukungan seperti itu.


Tapi dengan begini saja sudah cukup bagi Dimas, setidaknya ada satu orang yang benar benar menganggapnya saudara.


Aksara terlihat keluar dari kamar mandi, ia menggosok rambutnya dengan handuk.


" Jangan lupa bawa minyak kayu putih.." ujar Aksara melihat Rania membuka bungkusan.


" Apa itu?" tanya Aksara,


" dari Safa mas.." jawab Rania terlihat antusias,


" Wah?! daster bali.. lucunya..?!" Rania girang karena menemukan daster di dalam bungkusan kertas kado yang di berikan Safa.


Aksara mengambil daster itu, membolak baliknya,


" bagian dadanya terlalu ke bawah, jangan di pakai.." ujarnya dengan wajah tenang.


" Mas??"


keduanya berpandangan,


" Ini Safa yang berikan mas.. Safa...??" nada Rania menahan kesal.


" Ya tapi dia beli pakai uang kakaknya.." jawab Aksara.


Rania diam, setelah menatap Aksara cukup lama dengan kesal, ia berjalan keluar kamar begitu saja tanpa berkata apapun.


" Ya sudah ya sudah pakai?! tapi di dalam rumah saja ya?!" Aksara mengikuti Rania berjalan keluar, ia takut istrinya mogok bicara lagi.

__ADS_1


__ADS_2