
Aksara sampai dirumah, ia berusaha membuka pintu, namun pintu Rumah itu terkunci.
" Ran??! Ran??!" Aksara mengira istrinya itu sedang tertidur.
Aksara berjalan ke arah halaman samping, ia mengintip melelalui jendela.
TV mati, pintu kamar terbuka, Aksara berpindah ke jendela dapur, tampak kosong juga.
" Kemana sih? masa ketiduran?" gumam Aksara mengambil HPnya untuk menghubungi Rania.
Aksara mendengar suara HP berdering, ternyata HP rania tergeletak di atas meja tengah.
Sekali, dua kali, Aksara tetap menelfon berharap Rania keluar dari kamar dan mengangkatnya, namun Rania tak juga keluar.
" Rania?!! Rania??!! sayang??!!" panggil Aksara untuk yang kesekian kali.
Aksara mulai cemas, dimana istrinya.. pikirannya kemana mana.
Namun beberapa menit kemudian suara motor matic milik Aksara terdengar memasuki halaman depan melewati mobil Aksara yang masih terparkir di luar pagar.
Aksara terkejut, melihat istrinya yang hamil besar itu menaiki motor maticnya." " Astagaa?!" Aksara berjalan terburu buru ke arah garasi.
" Dari mana?" tanya Aksara dengan nada berat menahan marah, bagaimana ia tidak marah, sejak Rania hamil ia melarang keras Rania naik motor.
Jangankan hamil, sebelum hamilpun Aksara lebih suka Rania kemana mana dengannya sehingga Rania tak perlu naik motor sendirian.
Tapi sekarang ia malah melihat istrinya yang hamil besar itu menaiki motor sendiri malam malam begini dan entah dari mana.
Rania tak menjawab, ia seakan tak mendengar pertanyaan Aksara.
" Rania??" Aksara masih tenang meski Rania mengabaikannya.
" Rania?!" tegas Aksara mengejar Rania yang masuk ke dalam rumah begitu saja.
" Aku sedang bertanya Rania?!" tegas Aksara.
Rania tetap membisu, wajahnya terlihat sembab, sepertinya ia banyak menangis dijalan.
" Astaga Rania?!" Aksara menarik lengan Rania agar langkah Rania terhenti.
" Katakan padaku?!" Aksara berdiri di hadapan istrinya dan menatapnya baik baik meski terlihat sekali ia kesal.
" Katakan kau dari mana, aku tak akan marah asal kau jujur dari mana?" ujarnya.
" Jujur mas bilang?" suara Rania tertahan,
" Katakan, kau dari mana? semalam ini keluar sendirian dengan perutmu yang besar itu? apa kau tau berbahayanya itu Ran? apa kau tau?!"
" Mas tanya saja pada diri mas sendiri aku dari mana" jawab Rania dengan mata yang sembab.
" Aku kan sudah bilang keluar sebentar, tunggulah dirumah, tapi kenapa kau malah pergi sendirian? apa tidak bisa menelfonku menyuruhku pulang untuk mengantar mu?! kalau begini kau tidak hanya membahayakan dirimu sendiri, tapi juga anak kita Ran?!"
Rania melepaskan dirinya dari pegangan Aksara,
" aku lelah, jangan ganggu aku" ujar Rania berusaha pergi tapi Aksara tak melepaskan tangannya.
" Jangan coba coba menghindar, aku masih bicara Rania?!" Tegas Aksara,
__ADS_1
" katakan kau dari mana?!" tanya Aksara lebih keras,
" kau benar benar tidak patuh, padahal itu untuk keselamatanmu sendiri?!" imbuh Aksara.
Rania diam, ia menatap Aksara dengan pandangan marah dan kecewa.
" Jangan berteriak padaku.." suara Rania bergetar menahan amarah,
" Seorang pembohong, tidak berhak berteriak padaku" imbuh Rania membuat ekspresi Aksara berubah menjadi heran.
" Apa maksudmu Ran? siapa pembohong? kenapa kau mengalihkan pembicaraan? aku bertanya kau dari mana, kau malah menuduhku pembohong?"
" jujurlah.. aku sudah tau.." suara Rania masih bergetar, ia menahan air matanya.
" Mas bertemu dengan perempuan yang lebih muda dariku dan tidak jujur kepadaku" Air mata Rania akhirnya jatuh.
Aksara membeku, kalimat Rania membuatnya kehabisan kata kata seketika.
" Kenapa? kaget? mas bertemu dengan perempuan itu di acara pernikahan kan?
itu sebabnya mas selalu gelisah,
mas takut ketahuan olehku?"
air mata Rania berderai, ia tidak bisa menahan kekecewaannya pada suaminya.
Aksara memandang istrinya sembari menghela nafas berat,
" semua tidak seperti yang kau pikirkan Ran?" ujar Aksara berusaha memberi pengertian.
" Aku tau mas, sejak awal.. tapi aku diam.."
" telfon mas berdering tengah malam, mas dengan hati hati keluar kamar entah untuk bicara dengan siapa,
herannya setiap aku memeriksa log panggilan mas, nomor yang menelfon di jam itu sudah tidak ada,
itu berarti mas menghapusnya"
Aksara lemas mendengar itu, berarti Rania tau setiap perempuan itu menelfon tengah malam,
" oh Tuhan..." keluh nya dalam hati,
" Ran?" Aksara benar bingung harus bagaimana menjelaskan.
" Awalnya aku tidak percaya mas berbohong padaku.. tapi saat melihat mas bertemu dengan beberapa orang di cafe tadi, dan aku yakin ada perempuan itu juga, aku jadi mengerti..
kalau suamiku pembohong" nada Rania benar benar menusuk.
" Jadi kau mengikutiku Ran? kau membahayakan dirimu hanya karena hal seremeh ini?!" Aksara kembali marah setelah tau Rania mengikutinya,
ia marah bukan karena hal lain, tapi karena yang di lakukan Rania itu beresiko, dengan tubuh yang sekecil itu, perut sebesar itu, dan motor matic sebesar itu.
" Hal remeh mas bilang? andai saja aku tadi masuk dan mendengarkan pembicaraan kalian, aku pasti tau kebohongan kebohongan mas selama ini dengan mereka, laki laki itu yang ada di foto undangan pernikahan itu kan? dia pengantinnya kan? dan satu kantor dengan mas?
luar biasa..
rupanya mereka menutupi hubungan mas, apa mereka juga yang mencomblangi mas dengan perempuan itu?"
__ADS_1
" Kau sedang mengarang cerita apa Rania? omong kosong apa yang kau bicarakan, mencomblangi? itu tidak pernah terjadi?
harusnya kau percaya padaku dan mendengarkan penjelasanku sebelum mengarang cerita seperti ini..?"
" menggarang? mas ini keterlaluan ya? pulang dengan bekas lipstik dan bau parfum perempuan.. dan sekarang menuduhku mengarang?"
" Kapan?! kapan aku begitu?!!" suara Aksara keras, ia tidak terima di tuduh melakukan hal yang tidak ia lakukan.
" Aku tidak waras jika melakukan hal tidak senonoh dengan perempuan lain saat istriku hamil! bahkan saat kau tidak hamilpun aku tidak pernah melakukan hal semacam itu! jadi hentikan tuduhanmu Rania?!!" Aksara naik pitam.
" Mas meneriaki aku demi perempuan lain?" Rania tak percaya Aksara sanggup berkata keras kepadanya demi perempuan lain.
" Tidak Ran..?!" sanggah Aksara dengan nada sedikit menurun, ia tidak tega melihat air mata istrinya yang tumpah seperti itu, tapi ia juga tidak mau di tuduh melakukan hal hal yang buruk di belakang istrinya.
" Dengarkan aku, aku tidak seperti itu.. ? aku sungguh tidak seperti itu..!
aku sudah janji pada bapak tidak akan menyakitimu.. kenapa kau meragukan aku Ran?
aku suamimu, harusnya kau percaya padaku..?!"
" Mas berbohong di depan mataku.. bagaimana lagi aku percaya?"
" Astaga Rania?! aku tidak berbuat hal buruk di belakangmu, karena itu dengarkan aku bicara?!"
Aksara frustasi, ia memang sudah ketahuan berbohong, dan pasti sulit untuk meyakinkan Rania sekarang.
" Dengarkan...perempuan itu pingsan, aku hanya menolong menggendongnya karena saat itu tidak ada laki laki sama sekali disana dan.."
" cukup!" belum selesai Aksara menjelaskan Rania sudah tidak sanggup mendengarnya, mendengar Aksara menggendong perempuan lain hatinya sudah cukup terbakar, ia tak mau mendengarkan apapun lagi.
" Mas bahkan berkata dengan begitu entengnya kalau menggendong perempuan lain di hadapanku,
sementara aku yang tidak sengaja berbicara dengan orang asing saja mas bisa semarah itu denganku?
apa mas kira hatiku ini terbuat dari batu?
mas boleh marah padaku dan aku tidak boleh marah pada mas begitu?
hebat sekali dirimu mas..
mas bertindak seolah olah sangat mencintaiku dan cemburu dari waktu ke waktu..
sementara ternyata mas bertingkah seperti itu di belakangku.."
" kau salah faham Ran?"
Aksara benar benar tak di gurbis, ia sudah kehabisan kata kata, bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan pada istrinya.
Apapun yang ia katakan sekarang tidak akan ada gunanya, jadi dia memilih diam dan berusaha lebih tenang.
" Aku tidak mau melihatmu untuk sekarang mas" ujar Rania setelah keduanya lama beradu pandangan, antara kesal, kecewa dan marah semua campur aduk menjadi satu.
Dengan langkah tenang Rania menjauh dari Aksara dan berjalan ke arah kamar tamu tanpa berkata apapun lagi.
Meninggalkan Aksara yang termenung dan terlihat tak tau apa yang harus di perbuat untuk sekarang.
Aksara yang melihat itu hanya bisa diam, ia berfikir yang terbaik sekarang adalah membiarkan Rania tenang dulu, karena percuma menjelaskan ini semua saat Rania masih kalut dan marah.
__ADS_1
Ia duduk lemah di ruang tengah, menatap pintu kamar tamu yang di huni istrinya untuk malam ini dan untuk beberapa hari ke depan mungkin,
karena kemarahan Rania tidak akan hilang dengan mudah.