Aksara Rania

Aksara Rania
3 bulanan


__ADS_3

Keduanya turun dari taksi online, tepat di depan rumah mereka.


" Mbak Rani?!" Suara Yuni lantang dari dalam rumah.


Yuni setengah berlari ke arah Pagar,


" kangen mbak..??" Yuni membuka pagar sembari berkaca kaca, perempuan itu sebelumnya memang tidak pernah jauh dari Rania.


" Pelan pelan, nanti malah jatuh mbak.." ujar Aksara tersenyum.


" Saya juga kangen mbak Yun.. pripun? sehat?" tanya Rania sambil memeluk Yuni.


" Nggih.. sehat, njenengan bagaimana mas Aksa?"


" Alhamdulillah sehat.. mau jadi bapak.." senyum Aksara mengembang lebih lebar.


Yuni yang terharu memeluk Rania untuk kedua kalinya, ia benar benar bahagia mendengar kabar Rania hamil,


dan sekarang ia melihat Rania berdiri di hadapannya tersenyum bahagia bersama Aksara.


" Bapak pasti bahagia kalau melihat ini.." ujar Mbak Yuni dalam hati.


" Ayo masuk.. dingin mbak.." Yuni mengajak Rania masuk segera dan mengabaikan Aksara.


Aksara hanya tersenyum saja melihat itu,


ia menutup pagar Rumahnya.


Berbalik dan mematung sejenak, matanya berkeliling menemukan banyak kenangan yang manis.


Seketika sosok bapak muncul di pikirannya.


" Bapak mau punya cucu.. pak.." Gumamnya, rasa bahagia dan pedih menelusup di hatinya menjadi satu.


Aksara masih ingat betul, pohon mangga di sebelah rumah, tepat di samping balai tempat bapaknya bersantai dan bermain gamelan bersama teman temannya.


Dulu saat Aksara meninggalkan rumah, pohon itu belum sebesar sekarang dan jarang sekali berbuah, sehingga ia dan Rania sering mengambil mangga dirumah tetangga.


Namun sekarang..


belum setahun dirinya dan Rania pergi dari rumah ini,


pohon itu sudah tumbuh lebih tinggi dan berbuah lebat.


Begitupun bunga bunga yang di tanam oleh bapak mengelilingi rumah.


Mereka seperti serempak berbunga.


" Apa karena ini musim penghujan..? atau mereka tau.. akan ada anggota keluarga baru.." ucap Aksara dalam hati.


Di hela nafasnya..


betapa rindunya ia dengan hawa sejuk yang sedang ia nikmati sekarang.


Rumah ini akan selalu menjadi rumah yang di penuhi kenangan manis untuknya dan Rania.


Rania duduk di sofa, mengistirahatkan punggungnya.


Setelah lelahnya mulai hilang Rania baru sadar, bahwa ruang tengah itu penuh dengan persiapan selamatan.


Beras, sayuran, juga bumbu bumbu yang sudah di persiapkan di wadah khusus oleh mbak Yuni.


" Maem sek mbak.." ajak mbak Yuni,


" masak apa mbak?"


" Urap urap, nasi jagung, ikan asin dan sambel teri.."


Rania bangkit seketika, ia sudah rindu dengan masakan sederhana mbak Yuni yang luar biasa nikmat baginya.

__ADS_1


" Lho? mas Aksa kemana?" tanya mbak Yuni melihat Rania makan sendiri dengan lahap.


" Di depan sepertinya, tolong panggilkan mbak.." ujar Rania dengan nada sedikit aneh menurut Yuni.


" oalah.. mau punya anak mbak.. mbok yang akur akur.." komentar Yuni mengerti,


" Siapa yang ribut mbak.. saya cuma lagi capek saja, kesel..." jawab Rania tenang sembari terus melanjutkan makannya.


" Mas.. maem.." Yuni membuyarkan lamunan Aksara, laki laki itu sedang duduk tenang di balai, sembari mencari cari ingatan ingatan nya yang dulu.


" Istriku sudah makan?" tanya Aksara,


" lagi makan mas.."


" ya wes.. biar dia makan dulu saja, sampean temani saja dia.. nanti saya juga makan kok mbak.." ujar Aksara sembari menghisap rokoknya.


" Owalah.. nggih pun mas," jawab Yuni lalu masuk ke dalam rumah.


Aksara merebahkan dirinya di atas lantai balai yang beralaskan kayu.


Biasanya ada karpet disana, tapi karena pemilik rumah tidak ada, Yuni membersihkan semuanya.


Untuk kesekian kali Aksara menghela nafas berat, hatinya gelisah sekali setiap mengingat bahwa Rania masih marah padanya, benar benar marah, dan mogok bicara meski di ajak bicara.


Jika kemarin kemarin dia masih bicara meskipun sedikit, sekarang tidak sama sekali.


Aksara merasa bersalah kali ini, karena kata katanya pada istrinya sudah keterlaluan,


kecemburuannya menutupi logikanya.


bagaimana bisa ia menuduh istrinya yang sedang hamil itu menemui laki laki lain.


Aksara merasa pantas jika Rania marah terhadapnya, ia memang sudah berlebihan dalam hal ini.


Pagi, waktu indonesia barat.


Rumah itu Ramai dengan keluarga dekat dan teman teman Rania.


Sedangkan di ruang tamu, Aksara duduk di temani 3 orang ustad yang sedang mengaji mulai jam 6 pagi tadi.


Aksara tampak menawan dengan sarung coklat dan baju taqwa putihnya.


" Ikut ngaji sana.. jangan nimbrung saja disini..!" ujar Ina,


" memangnya ada larangan bergabung bersama ibu ibu..?" jawab Dimas sembari menyemili makanan, sementara tangan kirinya memegang HP.


" Plak!" Jihan memukul punggung tangan Dimas yang loncat kesana kemari mengambil makanan.


" Tidak sopan, kalau mau makan ambil piring, jangan seperti itu.."


Dimas menatap Jihan, wajahnya seperti anak kecil yang sedang di omeli karena sembunyi sembunyi makan permen.


" Ambilkan piring sana bu.." sahut Ina,


" dia kan sehat dan bugar bu In, kenapa tidak mengambil piring sendiri.." jawab Jihan membuat Dimas semakin manyun.


" tidak jadi lapar.." jawab Dimas pelan, lalu berdiri pergi.


" Nah.. nah.. purik.." komentar Ina,


" makin kesini kok makin mirip anak kecil begitu.. " komentar Jihan.


Rania yang sejak tadi hanya tersenyum sembari memperhatikan akhirnya tidak bisa untuk tidak bertanya.


" Apa ada hal yang sudah ku lewatkan selama aku pergi?" tanya Rania penasaran dengan kedekatan Dimas dan Jihan.


Ina hanya tersenyum sembari melirik Jihan, sedangkan Jihan seketika menunduk fokus pada sayuran yang sedang di potongnya.


" Bu Jihan?" panggil Rania,

__ADS_1


" iya?"


" saya sedang bertanya..."


" iya silahkan tanya apa?" Jihan pura pura tidak faham,


" Ah.. ya sudah kalau tidak ada yang mau terbuka.. " gumam Rania,


" Tidak ada apa apa bu, kami semua berteman baik.." jawab Jihan membuat Rania tertawa,


" jadi masih pdkt ya?"


" pdkt menuju jadian.." sahut Ina membuat Jihan sedikit merona.


" Wah.. baguslah.. saya doakan ya.." ujar Rania,


" bu Rania ini bisa bisa saja.." Jihan benar benar malu, karena sebelumnya semua orang tau kalau dirinya dan Dimas adalah musuh bebuyutan.


" Dim?! karpete lee..!" suara tante Irma lantang,


" Nggih te..?!" jawab Dimas dari depan membawa 2 karpet untuk di gelar, karena orang ngaji khataman sudah selesai.


" Sa? bapak bapak sebelah sudah di aturi (undang) lee?" tanya tante Irma pada Aksara yang sudah selesai mandi dan ganti baju.


" Sampun (sudah) te.." jawab Aksara sembari berjalan ke arah istrinya yang terlihat lelah dan sedang mensejajarkan kakinya.


" Ayo mandi, sebentar lagi orang orang datang.. " suara Aksara kalem,


Rania diam tak menjawab,


" Kalau diam terus jangan salahkan aku menggendong mu ke kamar mandi.."


Rania masih saja diam, ia menganggap Aksara yang disampingnya tidak ada.


" Ran?" panggil Aksara pelan, namun masih saja Rania diam seribu bahasa.


" Ya wes..." ucap Aksara tenang tapi tangannya langsung mengangkat tubuh Rania.


Rania sontak berteriak karena kaget,


membuat orang orang di sekitarnya menatap keduanya.


Tapi Aksara tidak perduli, ia menggendong Rania dan membawanya ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar Aksara menurunkan istrinya di dalam kamar mandi.


" Apa apaan mas?!" Rania kesal,


" Mandi, kalau masih ngomel aku yang akan mandikan,


mandi sendiri atau ku mandikan?" suara Aksara tenang namun tegas.


Rania mendengus kesal,


" Oh.. minta di mandikan berarti.." ujar Aksara sembari melepas kancing baju taqwanya satu persatu.


" Iya iya?!, aku mandi sendiri.. sudah sana!" Akhirnya Rania bicara juga,


Aksara tersenyum melihat tingkah Rania yang merajuk seperti itu.


Ia senang, meski marah tapi Rania sudah mau bicara dengannya.


Sedangkan di luar orang orang hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Aksara.


" Anak anak itu.. tingkahnya seperti tidak ada orang saja di sekitar.. " gumam tante Irma,


" biarkan saja.. yang penting mereka bahagia.. " sahut om Surya tertawa, semua keluarga bahagia melihat Rania dan Aksara,


" Andai mas masih hidup.. dia pasti bahagia melihat Rania dan Aksara sekarang.. " imbuh Om Surya,

__ADS_1


" lha iya mas... sudahlah.. yang penting keinginan terakhirnya sudah tercapai, dan anak anaknya sudah bahagia.." ujar tante Irma menepuk pundak kakak laki laki keduanya itu.


__ADS_2