
Setelah pertengkaran suasana antara Rania dan Aksara menjadi kian canggung,
mereka tidak saling berbincang selama beberapa hari, Aksara tampak benar benar marah, Rania pun begitu, ia kesal karena sudah di tuduh yang macam macam.
Rania yang awalnya ingin pulang mengurungkan niatnya, meski kesal ia tidak mau menambah masalah dengan pulang sendirian.
Ia tau Aksara hanya cemburu, tapi kekesalan di hatinya tidak bisa hilang dengan mudah karena Rania benar benar merasa dirinya tidak mempunyai hubungan lebih dari seorang teman atau kenalan yang baik.
Bahkan hadiah dari Radit pun sudah ia kembalikan jauh jauh hari sebelum Rania berhenti mengajar.
" Hemm.. piye?" jawab Dimas,
" di sekolah?" tanya Rania sambil menaruh telfonnya di atas meja rias agar bisa berbincang lebih nyaman dan bisa melihat wajah Dimas lebih jelas.
" iya.. di perpus.." jawab Dimas melirik ke kanan dan kiri,
" banyak orang?"
" nggak ada, Jihan sedang ikut rapat di SMA 5.. kenapa?"
Rania menghela nafas berat,
" lha.. telfon telfon kok mukamu begitu.." Dimas sambil membolak balik halaman buku,
" aku ribut sama mas Aksa.." jawab Rania dengan wajah lesu,
" lha kenopo?"
" nggak tau, nggak ada angin nggak ada hujan, bahas Radit.. kakaknya Safa.."
" lho?! ya kan?! apa ku bilang.. lama lama ribut kalian perkara laki laki itu.."
" maksudmu iki opo tho Dim?! aku nggak ada apa apa, gila apa?!" Rania emosi
" sek sek.. dengarkan aku bicara dulu.. ojok ngamuk ngamuk sek.."
" aku nggak ngamuk.. " ujar Rania dengan wajah sedikit kesal,
" coba cerita dari awal kenapa mas Aksa marah...?" tanya Dimas,
Rania menceritakan sebab dari pertengkaran mereka pada Dimas.
" Mas Aksa mungkin sudah dari jauh jauh hari memendam Ran..
mungkin saat Radit datang kerumah mu dia sudah kesal..
wajarlah Ran.. siapa yang tidak cemburu, Radit juga ganteng orangnya.. sama sama berseragam.."
" bukan itu intinya.. "
" lalu?"
" aku kesal di tuduh yang tidak tidak.. apalagi di tuduh mau menemui laki laki lain.. padahal tidak ada sedikitpun hal semacam itu di pikiranku.."
" Mas Aksa benar.. kau harus tegas, aku saja tau kalau Radit itu menaruh hati padamu..
omong kosonglah karena balas budi adiknya..
lalu kenapa dia masih menemuimu dan membawakan ini itu.."
__ADS_1
Rania terdiam, ia memikirkan kata kata Dimas cukup lama.
" Jangankan laki laki lain, awal bertemu denganku saja dia.. suamimu itu.. terlihat kesal..
dia cemburu.. hanya saja dia pintar menyembunyikan perasaannya saat itu..
apa kau kira dia menerimaku dengan mudah?
aku terus menerima perlakuan dinginnya hingga akhirnya dia menaruh kepercayaan padaku..
Mas Aksa itu bukan laki laki sembarangan,
dia selalu memikirkan langkahnya dengan benar..
tapi logikanya selalu hilang ketika berhadapan denganmu.. " Dimas menjadi bijaksana tiba tiba,
" Dengarkan aku.. mau cari laki laki yang bagaimana lagi.. ?"
" maksudmu apa? aku waras Dim.." jawab Rania dengan wajah di tekuk,
" yah.. kau waras, tapi kau bodoh dalam hal memahami perasaan orang di sekitarmu..
aku mengerti kau punya trauma, tapi kau harus berusaha lepas dari pikiran pikiran buruk masa lalu..
terlalu acuh juga tidak baik,
jangan sampai kau menyesal..
mas Aksa tidak sehari dua hari mengenalmu..
mana bisa di bandingkan dengan orang yang baru sebulan dua bulan mengenalmu.. "
" Kau salah.. karena tidak tegas, itu saja.. garis bawahi itu.. "
" tapi aku tidak ada hubungan apapun dengan Radit Dim..?, aku harus tegas bagaimana??"
" jangan bertemu dengannya, kalau punya kontaknya blokir saja.. setidaknya mas Aksa tenang..
jangan membuatnya beranggapan bahwa laki laki lain lebih penting dari pada dirinya..
sudah, blokir saja nomor Radit itu.. beres, kalau kau terus ragu ragu ya jangan mengeluh kalau mas Aksa terus marah karena laki laki itu.."
" aku tidak ragu" jawab Rania cepat,
" ya sudah kalau tidak ragu.. lakukan.." tegas Dimas dengan suara tenang.
Aksara memasuki rumah, ia melepas sepatunya dan duduk di teras,
tidak tau kenapa ia terdiam cukup lama.
Rania diam diam mengintip, tapi dia tidak berani untuk menyapa terlebih dahulu, selain itu hatinya masih sedikit dongkol pada suaminya.
Terdengar beberapa kali Aksara menghela nafas berat.
" Pak? saya pamit pulang dulu.. " Suara asisten rumah tangganya sedikit mengagetkannya.
" Oh? sudah mau pulang?"
" iya pak.. pesan ibu bapak disuruh makan,"
__ADS_1
" Memangnya ibu dimana?"
" ibu di kamar pak.. masih kurang sehat pak.. tadi pagi punggung dan telapak kakinya saya pijit.."
" dia sudah makan?"
" belum pak.. tadi pagi hanya makan nasi goreng sedikit dan teh hangat.. untuk siang dan sore ibu tidak makan, tiduran terus.. "
Aksara diam sejenak,
" badannya panas?" tanyanya kemudian dengan dahi berkerut,
" tidak pak.. "
lagi lagi Aksara terdiam,
" ya sudah.. silahkan pulang bu," ujar Aksara kemudian.
Mendengar kata kata asisten rumah tangga sesungguhnya Aksara tak tega, tapi ia rasanya masih enggan berbicara.
Ia memasuki kamar dan mandi dan ganti baju begitu saja tanpa menoleh pada Rania yang sejak tadi terbaring di atas tempat tidur sambil mendengar kan lagu lagu favoritnya.
Waktu menunjukkan jam 8 malam, namun Rania masih tidak keluar untuk makan.
Aksara bimbang, lalu tak lama kemudian ia mendengar suara barang terjatuh dari dalam kamar.
Aksara buru buru masuk, ia melihat beberapa barang terjatuh, itu mungkin karena Rania tidak sengaja menyenggolnya.
Rania mengambil barang yang terjatuh itu dengan sedikit sempoyongan, melihat itu Aksara dengan sigap mengambil barang barang yang jatuh dan meletakkannya kembali ke tempat asalnya.
Mau tak mau hatinya luluh juga melihat istrinya yang kurang sehat itu,
ketika Rania kembali berbaring tanpa mengatakan sepatah katapun, Aksara berinisiatif untuk sedikit membantu istrinya.
Ia mengambil minyak kayu putih di atas meja rias Rania dan tanpa berkata apapun memasukkan tangannya ke dalam piyama Rania, rania sedikit kaget, namun ia tak menolak ketika suaminya itu mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya.
Tangan yang hangat, tangan yang sudah beberapa hari ini tidak perduli padanya, pikir Rania, entah kenapa diam diam wajahnya memerah dan malu,
dalam kondisi seperti ini bisa bisanya ia merindukan sentuhan dari Aksara.
Karena malu pada pemikirannya sendiri Rania tak sengaja membalikkan tubuhnya dan menjauh.
Aksara yang melihat itu terdiam, sedangkan Rania tidak sadar telah membuat gerakan yang membuat Aksara berpikir keras.
" Jadi sekarang kau tidak mau lagi ku sentuh?" suara Aksara dalam,
mendengar itu Rania tersadar, bahwa lagi lagi ia membuat Aksara salah faham terhadapnya,
" tidak mas.." jawab Rania cepat, ia tidak ingin Aksara berfikir macam macam, tapi rasanya sudah terlambat, entah apa yang di pikirkan Aksara..
wajahnya terlihat tidak senang.
" Tidak apa? tubuh dan kata katamu menjelaskan sesuatu yang berbeda, aku bukan anak kecil yang tidak bisa melihat itu"
Rania terdiam, benar benar diam.. ia bingung harus menjawab apa, Aksara tampak sangat tersinggung dengan gerakan tubuh Rania yang berbalik dan menjauh.
" Setidaknya katakan kalau memang sudah tidak mau ku sentuh, aku tidak akan menyentuhmu.." Aksara menaruh minyak kayu putih itu di samping Rania,
ia berjalan dengan tenang keluar kamar, namun ketenangannya itu lebih menakutkan untuk Rania.
__ADS_1