Aksara Rania

Aksara Rania
Aksara menyebalkan


__ADS_3

" Ayo naik gunung.." suara seorang laki laki dari balik punggungnya,


" Ahmad?" Wulan terkejut, matanya menatap laki laki di hadapannya berbinar saking senangnya.


" kok disini?" tanya Wulan tak percaya mereka bisa bertemu,


" Aku bekerja disini.." jawab Ahmad tersenyum,


" sungguh?"


" iya.. aku sudah 5 tahun disini, sebelumnya aku di kalimantan.."


" owh.. pantas, aku tidak pernah melihatmu.."


" kau juga tidak di kota ini kan? aku mendengar kabar dari alumni SMA kau menjadi seorang perempuan yang luar biasa, dinas dimana lan?"


" Aku dinas di luar jawa.." jawab Wulan pendek,


" sedang apa kau disini? dengan anak anakmu?" tanya Ahmad menatap sekeliling.


" Tidak, aku sedang ada urusan disini, besok aku sudah kembali.."


" berarti aku beruntung ya.. " Ahmad tertawa,


" sebenarnya aku sudah melihatmu sejak tadi.. tapi aku takut salah mau menyapa, kau sekarang cantik sekali, tidak tomboi seperti dulu.."


" sebenarnya masih.. " Wulan tersenyum tipis.


"Mau minum teh? mumpung aku sedang istirahat siang.." Ahmad menawarkan,


Wulan diam sejenak, seperti ragu.


" Kita minum di gazebo saja.. dekat perkebunan,


di bawah beringin disana.. jauh dari keramaian.." tunjuk Ahmad seperti mengerti Wulan tidak begitu nyaman dengan keramaian, tentu saja ia mengerti..


keduanya pernah dekat semasa SMA, dan beberapa kali mendaki bersama karena mereka di dalam komunitas yang sama.


Ahmad membawa dua gelas teh hangat, di tangannya, dia juga membawa sekantong teh buatan pabrik tempatnya bekerja.


" Minumlah.. dan bawa ini, sering sering minum teh kalau pikiranmu kurang tenang.. "


ucap Ahmad sembari duduk tak jauh dari Wulan,


Wulan hanya tersenyum saja, ia menyeruput teh hangatnya sambil menikmati pemandangan sekitar, matanya terus saja memperhatikan perkebunan teh yang hijau itu.


Belum lagi satu gunung yang gagah terbingkai menjadi background dari perkebunan itu.


Dari kejauhan terlihat kabut yang mulai turun, membawa hawa dingin yang menusuk.


" Sepertinya sedikit mendung.." gumam Ahmad,


" memangnya kapan disini tidak mendung.." sahut Wulan.


" Bagaimana kabar mu? kenapa kau sendirian disini tanpa anak dan suami?" tanya Ahmad tanpa basa basi, karena ia bisa melihat jelas beban di mata Wulan.


" Sopan sekali kau.. baru bertemu bertanya seperti itu.." Wulan mengerutkan dahi,


" kita kan teman lama.. apa aku saja yang beranggapan begitu?" Ahmad meminum teh nya seteguk.


" Aku kesini sedang mencari ketenangan.. pergilah jika ingin menambah beban pikiranku dengan bertanya macam macam.." jawab Wulan,


Ahmad diam saja dan memperhatikan Wulan sejenak.


" Katakan padaku.. apa yang sedang menekanmu?" tanyanya kemudian,


" masa lalu.." akhirnya Wulan menjawab meski dengan suara yang berat.


" Masa lalu?" Ahmad memiringkan kepalanya, menatap Wulan lagi baik baik.

__ADS_1


Mereka tak memperdulikan kabut tipis yang mulai turun.


" Seburuk apa kondisimu sekarang?"


" kondisiku tidak begitu buruk.. pikiranku yang buruk.. "


" hemm... begitu.. sulit lepas dari masa lalu.. " Ahmad mengeluarkan rokok dari saku celananya, dan membakarnya sebatang.


" Aku tidak tau apa masalahmu, tapi.. aku juga pernah hidup seperti itu..


berkutat pada masa lalu..


tidak bisa memaafkan diriku sendiri..


bahkan aku berfikir untuk mati.." ujar Ahmad sembari menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya perlahan.


Wulan menatap Ahmad dengan hati hati,


" jangan mengada ngada hanya demi menenangkan aku.."


" tidak.." jawab Ahmad cepat.


" istriku meninggal 8 tahun yang lalu.. meninggal tepat di depan mataku.. dalam kondisi hamil 5 bulan.. "


Wulan menundukkan pandangan nya seketika, ia merasa tak mampu mendengar semua ini.


" Aku tidak sanggup mendengarnya" ucap Wulan,


" kau harus mendengar dengan baik ketika teman lamamu sedang bercerita tentang kepahitan hidupnya,


tidak sopan sekali kau mau kabur.. padahal aku sering memasak untukmu ketika naik gunung.."


" jadi kau mau perhitungan denganku sekarang?"


Ahmad tertawa,


" lihat kabut sudah turun, mereka menyapamu.." Ahmad menunjuk kabut yang mulai turun menyelimuti kebun.


" Bagaimana istrimu meninggal?" tanya Wulan memberanikan diri,


" kesalahanku.. " jawab Ahmad membuang pandangannya ke arah langit sejenak.


" kesalahanmu?"


" kami kecelakaan, istriku meninggal dalam perjalanan kerumah sakit.." Ahmad menghisap rokoknya lagi,


" herannya aku masih hidup dan hanya luka ringan.. lucu bukan.."


imbuh Ahmad membuat Wulan tertunduk dalam.


" Aku sempat mencoba bunuh diri beberapa kali lan.. rasanya tidak sanggup hidup.."


Wulan diam, benar benar diam mendengarnya.


" tapi beberapa tahun ini aku sadar, kalau aku bersikap seperti itu.. mungkin istriku akan sedih,


bertahun tahun aku menangis meratapinya tanpa berfikir..


apa dia akan bahagia melihatku terpuruk seperti ini..


atau justru sedih.. "


" lalu apa yang merubahmu? kenapa kau tidak meratapinya lagi...?" tanya Wulan setelah Ahmad bercerita panjang lebar.


" Ibuku membawaku ke alim ulama, mereka banyak menasehati ku.. tidak ada yang ku gubris..


lalu suatu ketika, ketika pulang dari acara rutin di pengajian aku bermimpi,


istriku mendatangiku..

__ADS_1


dia berpesan, untuk jangan menangisinya lagi..


dia bilang tangisanku membuatnya menderita disana, ketidakrelaan ku menyiksanya..


aku tidak tau itu benar atau tidak..


mungkin juga aku berhalusinasi karena saking rindunya..


tapi yang jelas, dia tidak mau aku meratapinya lagi..


alhamdulillah..


setelah itu hatiku berangsur membaik..


meski kadang masih tersisa getir, tapi aku sudah mengikhlaskannya.."


Ahmad tersenyum tenang,


" bohong aku tidak menangis, aku masih tetap menangis.. tapi tidak berisi ratapan, melainkan doa doa yang baik..


aku mencintainya..


aku menginginkan kebahagiannya..


maka dia juga pasti begitu terhadapku yang masih hidup ini.." imbuh Ahmad,


tanpa di sadari air mata Wulan menetes, ada nyeri yang menjalari hatinya,


" apa mama dan anakku juga tersiksa setiap aku meratapi dan menangisi mereka.." tanyanya dalam hati,


" Aku tidak tau seberat apa masalahmu.. tapi percayalah,


ketika kau memikirkan segala sesuatunya dengan ikhlas dan baik..


makan kebaikan kebaikan lainya akan mengikuti..


itu terbukti padaku.. " ucap Ahmad meyakinkan ada teman lamanya itu.


Aksara berdiri di hadapan kaca, merapikan rambut dan seragamnya.


" tidak usah joging mulai sekarang.." ucap Aksara pada istrinya yang sedang membuka jendela agar udara pagi masuk ke dalam kamar.


" bahaya, diam di dalam rumah saja.." imbuhnya, Rania diam saja tidak menjawab,


ia masih merasakan kesewotan Aksara yang belum hilang.


Rania hanya bisa mengelus dada melihat sikap Aksara yang kekanak kanakan seperti itu.


" Nanti kalau berangkat kerja, gembok saja pagarnya dari luar.." ujar Rania tenang, ia mengambil handuk Aksara yang basah.


" kenapa begitu?"


" ya supaya aku tidak bisa keluar, dan supaya tidak ada anjing yang bisa masuk..!" jawab Rania langsung berlalu keluar kamar.


Aksara diam, ia hanya menatap punggung Rania yang menghilang di balik pintu.


Rania menjemur handuk Aksara dengan sedikit kesal, ia benar benar gedek dengan tingkah Aksara yang seperti mencari gara gara terus.


" Bagaimana bisa hal kecil semacam itu di besar besarkan.." gerutunya dalam hati.


" Maaf bu, Bapak minta kunci gembok pagar.." si asisten rumah tangga berjalan mendekati Rania,


" buat apa?" Rania mengerutkan dahinya,


" katanya buat gembok pagar dari luar.."


Rania terbelalak, seperti ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.


" astagaaa...?!!!" teriak Rania gemas,

__ADS_1


" Aksara menyebalkan!" imbuhnya kesal sekali dengan tingkah suaminya yang tidak sesuai dengan umurnya.


Padahal Rania asal bicara begitu karena kesal, bagaimana bisa Aksara menganggapnya serius dan benar benar akan menggembok pagarnya dari luar.


__ADS_2