
Ketiga laki laki itu sedang sibuk di halaman samping, baju yang harum dan rambut yang sudah tertata rapi dengan gel rambut menjadi amburadul dalam 30 menit.
Mereka berbau asap dan tidak berseri lagi.
" Papa papa papa...! " panggil si kembar mendekat ke papanya.
" Eh..! jangan dekat dekat kesini nak.. ada api ini..!" Marlin langsung mengusir dua bocah yang tidak bisa diam sejak tadi, mereka berlari kedalam rumah dan memutari halaman berkali kali.
Sedangkan putri Farhan yang seumuran tampak tenang dengan gamenya.
" Kurangi konsumsi gula pada anak anakmu.." nasehat Farhan pada Marlin.
" Sudah.. sudah ku dietkan mereka sesuai anjuran dokter supaya mereka sedikit tenang.." jawab Marlin sambil mengolesi ikan dengan bumbu.
" Berarti faktor keturunan.. bapaknya kan tidak bisa diam juga.." sahut Aksara tertawa,
" bercanda.. sensi.." lanjut Aksara ketika melihat raut Marlin masam.
" Nanti kalau sudah besar juga diam sendiri.. yang penting jangan di marahi terus.." ujar Farhan,
" tidak pernah ku marahi itu.. mereka selalu ribut dengan mamanya.. "
" ya sama saja.. " sahut Farhan,
" Ah.. mana ada sama.. anakmu diam begitu.."
" oh.. itu menyamar... ".
Para wanita sedang sibuk menyiapkan keperluan yang lain, seperti sambal, sayuran dan lainnya.
Rania dan istri Marlin yang paling banyak di dapur, karena istri Farhan sedang sibuk menggendong anak kedua mereka yang masih berusia 3 tahun, dia sedikit rewel malam ini.
" Nah.. ikannya sudah selesai.." Aksara masuk membawa ikan ikan yang sudah di panggang itu, senyumnya terlihat cerah sekali.
" Jangan terlalu sering tersenyum, kami silau.." ejek Marlin.
" Habisnya tampang mu seperti orang yang baru dapat warisan milyaran.. kemarin kemarin tidak begini sebelum ijin tidak masuk kantor..?" lanjut Marlin, Aksara tidak menjawab tapi siku kirinya langsung menyerang perut Marlin.
__ADS_1
Aksara menaruh ikan itu di atas meja makan,
" Ran? mana tissuenya? " tanya Aksara berjalan ke arah dapur,
Rania yang masih sibuk mencuci tangan tidak langsung menjawab.
" Ada dia atas meja kan?" jawab Rania setelah selesai mencuci tangan.
" Ah, masa?" jawab Aksara malah memeluk Rania, Rania melihat kanan dan kiri ia takut ada yang melihat mereka.
" Mas, malu kalau di lihat orang?"
" malu kenapa? kau istriku.." ujar Aksara mengecup bibir istrinya.
" Kau bau asap Mas.. "
" Nanti kan bisa mandi.." Aksara rupanya lupa kalau di rumah ini tidak hanya ada mereka berdua.
" Hei hei hei...!" Marlin masuk ke dapur mengagetkan suami istri itu.
" Ini masih sore, kalian mengundang ku untuk melihat kalian bermesraan?" omel Marlin,
" kau mau cari apa ke dapur?" tanya Aksara muram,
" ya mencari tuan rumah, kami sudah lapar tapi kalian tidak keluar keluar dari dapur.. ternyata.."
" eh.. sudah sudah ayo ke depan..?!" Aksara mendorong Marlin agar kembali ke depan.
" Mas kan.." suara Rania lirih sambil menahan malu di hadapan Marlin.
Jam 11 malam, teman teman Aksara sudah pulang 30 menit yang lalu, dan Rania juga sudah selesai dengan beres beresnya.
" Kenapa tidak tunggu aku selesai mandi, biar ku bantu beres beres.." ujar Aksara keluar dari kamar dengan rambutnya yang basah.
" Cuma membereskan meja, lagi pula aku sudah ngantuk Mas.. aku mau cepat cepat tidur.." jawab Rania sembari mencuci kedua tangannya.
" Sini Mas pijitin kalau capek.." Aksara tersenyum dan mendekat,
__ADS_1
" tidak usah.. malah nggak jadi tidur nanti aku.." Rania berjalan ke dalam kamar, Aksara mengikutinya dari belakang.
" Mas.. jangan ganggu aku Mas.. " peringat Rania halus, ia benar benar ngantuk.
" Kau setega itu padaku Ran..? padahal sebentar lagi aku kau tinggal.." Aksara memasang wajah memelas.
" Mas seperti tidak akan pulang ke jawa saja.."
" aku pasti pulang.. tapi aku tidak akan bisa pulang setiap minggu.."
" Apa Mas mau aku berhenti mengajar?"
Aksara diam sejenak, lalu memandang istrinya itu dengan hangat.
" Kalau itu duniamu.. bagaimana aku memaksamu meninggalkannya..
apa kau bercita cita menjadi pegawai negri sipil?"
Rania tersenyum sekilas,
" tidak Mas.. begini saja cukup, aku tidak mau muluk muluk.. yang penting aku selalu bahagia dan ikhlas mengajar.. ,
maaf.. kalau mengecewakan mu Mas.."
" tidak Ran.. aku bukan suami yang mewajibkan istri bekerja.. bekerja atau tidak.. aku akan menghidupi mu dengan baik.. " Aksara memeluk Rania.
" Tugas mu mendidik anak anak kita kelak.. "
" Jangan bicara terlalu jauh Mas.. kita masih belum punya anak.."
" karena itu kita buat.. "
" Mas.." Rania memutar bola matanya dan mencubit tangan Aksara yang sudah menjalar kemana mana.
" Kau mau aku 35 th dulu baru menimang bayi?"
" ya tidak.."
__ADS_1
" ya sudah.. kalau ngantuk.. biar aku saja yang bekerja, kau diam lah sambil menutup mata.." Aksara mencium Rania dan memindahkan nya ke atas tempat tidur.