
Rania sibuk mengemasi bajunya, ia memasukkan bajunya satu persatu ke dalam koper.
Aksara yang melihat itu geram, Ia membuka laci lemarinya.
Barang yang sebenarnya tidak pernah ia gunakan terpaksa ia keluarkan.
Aksara menarik tangan kiri Rania dan koper yang sudah siap di bawa pulang itu bersamaan.
" Kau mau pulang kan? pulanglah.." ujar Aksara seraya memborgol tangan kiri Rania dengan pegangan koper.
"Mas?! jangan bercanda Mas?! aku sudah memesan tiket online jam 2 siang?!" Rania berusaha melepas.
" Gigit saja, siapa tau bisa lepas.." Aksara tersenyum mengejek.
" Katanya mau pulang.. pergilah.. "
keduanya saling menatap kesal,
" panggil si ibu kalau butuh sesuatu, aku berangkat dulu" Aksara membawa kunci borgol itu dan berjalan keluar kamar.
Sementara Rania yang kesal tidak bisa berkata apapun selain memegangi dahinya sambil berfikir.
" Kau ijin kemana?" tanya Farhan,
" pulang" jawab Aksara pendek,
" pulang?"
" istrimu sakit?" sahut Marlin sambil sibuk membaca majalah pemerintahan.
" tidak"
"lalu? kau mau apa? enak saja main ijin.." gerutu Marlin,
" istriku ku borgol sejak pagi"
Marlin dan Farhan sontak saling menatap,
" Kenapa??" Marlin menutup majalahnya dan memandang Aksara serius.
" Habisnya dia mau kabur pulang" jawab Aksara masih datar,
" Kau bertengkar? pengantin baru bertengkar?" Farhan heran.
" Gara gara si Wulan itu, entah dia bicara apa pada istriku.. tadi malam sampai berani bicara keras padaku..dan kabur mau pulang"
" Kau sabar dulu.. kita kan sedang mencari kelemahan si Wulan, sekali kali harus di buat kapok.. "
" aku sebenarnya tidak begitu perduli, tapi efeknya besar pada perasaan Rania.. mana dia sudah beli tiket online lagi jam 2.. "
" siang ini?"
" ya iyalah.."
" ya sudah.. cepat pulang?!"
" tidak kalian suruh aku juga akan pulang" Aksara bangkit dari tempat duduknya.
" Eh, mau ku ajari cara menghilangkan amarah istri dalam 30 menit?" ujar Farhan,
" apa?" tanya Aksara polos,
" buat dia seharian di tempat tidur denganmu.. , buat dia berkata.. ' Mas sudah ya aku capek..' mengerti?" Marlin dan Farhan tertawa.
" Oh.. jurus handal itu..! " celetuk Marlin,
" sudah sana mi.. pulang pulang..!" usir marlin dengan logatnya.
Aksara membuka borgol di tangan kiri Rania, sedangkan Rania terus saja menekuk wajahnya.
" Mandilah.. " ujar Aksara lalu berjalan keluar, dia bahkan belum mengganti seragamnya.
" Ibu tadi keluar makan?" tanya Aksara pada asisten rumah tangga mereka,
" tidak pak.. tapi minta segelas susu.. saya antar ke kamar.."
Aksara diam sejenak, ia melihat jam dinding, masih jam 1 siang.
" Bu, hari ini cukup.. ibu pulang saja, saya dan istri saya mau makan di luar.." ujar Aksara, kondisi mereka sedang kurang baik, ia tidak ingin pertengkaran mereka di dengar orang lain, jadi lebih baik menyuruh si ibu asisten pulang lebih awal.
__ADS_1
Rania yang sudah rapi berjalan keluar kamar,
" Mau kemana?" tanya Aksara yang melihat Rania berusaha membuka pintu depan, tapi sayangnya Aksara sudah mengunci semua pintu dengan rapat.
" Mau cari angin ke teras" jawab Rania acuh,
" Memangnya AC di dalam kurang dingin?" tanya Aksara dari arah dapur mendekat, ia mengenakan celana pendek dan kaos oblong, sedangkan Rania sangat rapi, ia menggenakan celana jeans dan sweater tipis, tampak seperti orang yang akan pergi keluar rumah dan bukan hanya mencari angin di teras.
Yang membuat Aksara lebih kesal adalah rambutnya yang basah dan aroma tubuhnya yang wangi.
" Mau kemana bibir merah begitu?"
" merah apanya, ini pink tau.. masa nggak bisa bedakan mana merah mana pink"
" sini, bantu aku masak Aksara menarik lengan Rania,
" Masak ? itu di meja ada makanan, mau masak apalagi?"
" pokoknya masak, supaya kau sibuk"
Aksara mengeluarkan beberapa ikan dari lemari es,
" bersihkan ikannya"
" maksud Mas apa sih?! aku mau ke bandara Mas?!"
mendengar itu Aksara diam, ia menaruh kedua tangannya di pinggang dan menghela nafas dalam.
" Kau mau ku borgol tangan dan kakimu?"
" aku akan lapor polisi kalau Mas berani memborgol ku lagi?!" tegas Rania.
Aksara tersenyum mengejek,
" aku juga akan melaporkanmu.. kalau kau mau kabur dari rumah dan dengan sengaja meninggalkan suamimu sendiri sehingga suamimu sedih dan kesepian..
lalu suamimu mogok makan dan sakit..
kalau aku mati nanti berarti itu salahmu.."
" eh! jangan kekanak kanakan Mas?! bukankan Mas lebih senang aku tidak disini? "
" buktinya Mas tidak terbuka denganku dan menyembunyikan kenyataan bahwa Mas satu kantor dengan si Wulan itu.
Aku tidak mau menyiksa diriku sendiri Mas, aku tidak mau memikirkan laki laki yang tidak memikirkan ku" Rania berhamburan pergi meninggalkan dapur.
Ia masuk ke dalam kamar, wajahnya merah padam karena kesal, pulang tidak bisa, diam disini tapi pikirannya tidak tenang, ia menggerutu dalam hati.
Hari sudah menjelang malam, namun Rania yang sejak siang masuk ke dalam kamar tak kunjung juga keluar.
Aksara sedikit khawatir karena Rania belum makan.
Tapi ego Aksara menyuruhnya untuk diam, biar jadi pelajaran pikirnya.. kelakuannya kembali seperti bocah SMA, semaunya dan sedikit sedikit merajuk.
Sekitar jam 8 malam saat Aksara sedang menonton TV, Rania terlihat keluar dari kamar.
Lagi lagi ia menggenakan baju tidurnya yang sepaha itu.
" Ck..!" Aksara berdecak dan sedikit mendengus,
Rania sepertinya sibuk di dapur, mungkin ia lapar, ah.. toh banyak makanan di lemari es.. pikir Aksara membiarkan Rania sibuk sediri di dapur.
" Klontang..!" suara berisik dari dapur membuat Aksara bangkit dan menengok Rania.
" Kenapa?"
" tidak, hanya tidak sengaja menjatuhkannya" jawab Rania pendek.
" Sampai kapan kau akan marah?" Aksara menghela nafas, ia benar benar tidak bisa mengendalikan Rania untuk saat ini.
" Dengarkan aku.. siapa yang bilang aku tidak memikirkan mu..?
sejak awal aku yang lebih banyak memikirkan mu, memikirkan bagaimana caranya memutuskan hubungan kita sebagai kakak adik dan merubah hubungan kita menjadi lebih dari itu.. "
Aksara mendekat, ia ingin Rania mendengarkan kalimatnya namun Rania seperti menutup telinganya, ia dingin tak merespon.
Melihat dirinya di acuhkan Aksara sedikit kesal, ia mematikan kompor yang di gunakan Rania untuk memasak.
" Mas?!" Rania berbalik dan menatap Aksara yang berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
" Sekarang mau masak pun aku tidak bebas?"
" memasak lah setelah aku bicara,"
" Mas itu se enaknya, Mas kira aku sama seperti 10 tahun yang lalu? berbicara tentang perasaanmu lalu pergi begitu saja tanpa mengabari aku sedikitpun.
aku tidak mau lagi, tidak! kalau memang si Wulan yang tidak pernah berhenti mengejar mu itu baik untukmu, silahkan.. aku tidak mau berebut laki laki"
" jadi kau mau menyedekahkan suami mu?"
" kalau Mas mau aku bisa apa?" Rania membuang muka ke arah lain.
Aksara lebih kesal lagi mendengar itu. Perempuan ini seperti tidak membutuhkanku dan menganggap ku penting.. geram Aksara dalam hati.
" Terkadang kau tidak imut dan sedikit menjengkelkan ku" bisik Aksara mulai tidak sabar, samar samar ia mencium aroma rambut Rania yang harum..
Semakin dekat semakin jelas keharuman yang melekat di kulit dan rambut Rania.
" Kenapa kau se harum ini.." ada satu perasaan yang mengalir di dalam tubuh Aksara, rasanya hangat dan begitu menginginkan Rania.
Hasratnya mulai timbul,
" andai kau tau.. aku tidak pernah tenang bekerja.. karena pikiranku penuh olehmu..
aku sudah cukup menahan diriku Ran..
jadi tolong.. jangan pergi... "
Dengan gerakan lembut Aksara mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rania, menyentuh pinggang Rania dan mendudukkannya di meja dapur.
" Mas?!" Rania melotot namun Aksara tidak memperdulikannya.
"Apa aku boleh memintanya malam ini, beserta bunganya.. " bisik Aksara membuat Rania bungkam, wajahnya merona karena malu, dan tidak ada kalimat kalimat menentang yang keluar dari mulutnya lagi.
" Jangan menolak ku Ran..." ujar Aksara sembari melingkarkan kedua kaki rania di pinggangnya,
dengan hati hati ia mendekatkan wajahnya, mencium Rania dengan lembut, bibir itu kemudian turun ke leher Rania dan menciptakan letupan letupan kecil di hati Rania, hingga Rania tak sengaja mendesah lirih.
Aksara yang mendengar desahan itu semakin berani, karena tidak merasakan penolakan dari Rania, ia menggendong Rania menuju kamar.
Rania mendadak patuh seperti anak kecil yang di gendong untuk mengambil sekotak permen yang ada di kamar.
Aksara yang sudah menahan berhari hari sudah tidak sanggup lagi, tidak ada cancel lagi untuk malam ini pikirnya.
Ia menghela wajah Rania dan mengecup bibir Rania beberapa kali, lalu menciuminya dengan lembut, sambil terus menggendong Rania.
Rania yang pertahanannya mulai melemah membalas ciuman Aksara, bahkan mengalungkan tangannya ke leher Aksara, meremas remas rambut Aksara,
keduanya sibuk mencari satu sama lain, hingga Aksara merebahkan Istrinya itu ke tempat tidur.
" Boleh ya Ran...? " tanya Aksara memandang Rania lekat, Rania diam tidak menjawab.. ia seperti malu, namun gestur tubuhnya tidak menunjukkan adanya keberatan.
Melihat Rania yang diam Aksara menganggap Rania bersedia.
Ia menindih tubuh Rania sembari menjelajahi leher Rania dengan bibirnya untuk kesekian kalinya, membuat tanda tanda kemerahan kecil di leher dan dada Rania.
Aksara yang merasa di sambut oleh Rania memasukkan tangannya ke dalam baju tidur Rania, dari paha sampai pangkal paha, lagi lagi Rania tidak sadar mendesah lirih, itu seperti penanda bagi Aksara untuk segera memulai poin utama.
Aksara membuka resleting baju tidur Rania dan menariknya ke bawah hingga baju itu terlepas, lalu misi berlanjut untuk menyingkirkan penghalang lainnya, termasuk di tubuhnya sendiri.
" Ran.." panggil Aksara ketika sudah tak ada lagi yang menghalangi diantara keduanya.
" Ran.. jangan marah lagi ya...?? Mas sayang, sejak dulu.. Mas sayang Ran, cintanya Mas rindunya Mas.. tidak pernah berubah.. " bisik Aksara pelan membuat Rania terhenyak, Aksara akhirnya mengatakan itu.
Semuanya seperti mimpi yang nyata untuk Rania, sesungguh nya ia bahagia sekali berada di pelukan Aksara.
Apalagi perlakuan Aksara yang lembut dan hangat seperti ini, kelembutan seperti inilah yang sebenarnya di rindukan Rania selama ini.
Aksara kembali menciumi Rania, dari atas sampai bawah, tidak ada yang di lewatkan Aksara dari tubuh semungil itu.
Aksara tersenyum lalu mengecup dahi Rania,
ia terlihat begitu tenang meskipun sesungguhnya debar jantungnya berlarian.
istri kecilnya yang cantik.. sekarang sepenuhnya menjadi miliknya,itulah hal yang membuatnya tersenyum.
Seperti haus yang tak kunjung reda..
Aksara meminta lagi dan lagi..
__ADS_1
Ia bahkan sampai lupa sudah berapa kali ia meminta bunganya dari Rania.