
Rania membuka matanya, ia melihat atap langit kamar yang sudah beberapa bulan tidak di lihatnya.
Yah.. akhirnya aku menetap di tempat ini juga.. ucapnya dalam hati.
" Bangun nyonya.. " suara Aksara mendekat dan menjatuhkan beberapa kecupan di wajah Rania yang belum bangun seratus persen itu.
" bukankah ini masih terlalu pagi Mas..?" Rania melihat jam dinding, masih jam setengah 4.
" Aku terlalu gembira.. sampai sampai tidurku tidak nyenyak.. kita harus merayakannya, ayo bangun.. ini joging pertama kita setelah menikah.." wajah Aksara begitu sumringah.
" joging?"
" iya.. ayo bangun, ganti baju tidurmu.." Aksara membantu istrinya bangkit.
" Mas yakin mau joging jam segini??" Rania benar benar malas mendengar kata joging.
" iya.. sekalian kita jalan jalan ke pasar, banyak ikan segar baru datang jam jam segini.."
" astaga.. mentang mentang aku sekarang pengangguran Mas mau menyiksaku..?"
" huss.. ! aku mengajakmu hidup sehat.."
Rania tidak menjawab, namun wajahnya cemberut, se akan ia ingin tidur lagi namun Aksara tidak mengijinkannya.
" Nanti siang tidurlah sepuasmu.. nikmatilah waktumu sebelum aku mencarikan sekolah yang baru.. sudah, ayo bangun.." Aksara memaksa istrinya agar bangkit.
Dan benar saja, Aksara mengajak Rania berjalan sampai pasar yang berada di sebelah kiri lampu merah Daya, pasar kecil namun lengkap dengan sayuran dan ikan ikan segar.
Suasana sebenarnya masih gelap, namun lampu penerangan seperti berlomba lomba menerangi tumpukan ikan dan sayuran itu.
Rania melihat orang orang yang riuh membersihkan ikan dan menumpuk numpuk ikan.
Mereka berbicara dengan bahasa yang Rania tidak mengerti,
beberapa orang berbahasa indonesia, namun selalu menambah akhiran akhiran di belakangnya.
Yang paling membuat Rania terhibur adalah ketika suaminya dengan santainya membolak balik ikan, meneliti mata dan warna insangnya,
" kesini kesini.." Aksara menarik Rania mendekat,
" Kau lihat warna insangnya.. masih merah kan, lalu warna matanya masih jernih.. itu berarti ikannya masih segar, baru datang.." Aksara menunjukkan pada Rania sambil membolak balik ikan itu,
dan Rania hanya bisa mengangguk sambil mengingat ingat apa yang di katakan suaminya.
" Berapa ini?" tanya Aksara menunjuk ikan Tuna,
" limapuluh Daeng.." jawab si penjual,
" eh..! kenapa mahal sekali?"
" tidak mahal itu ji, segar segar ini ikannya.. baru datang, begini saja.. tetap limapuluh, tidak bisa ku kasih kurang, ku tambah satu ikan, bagaimana?" penjual itu menambahkan satu ikan tuna berukuran kira kira 20 cm.
__ADS_1
" ya sudah ya sudah.. bungkus sudah.."
Aksara melihat beberapa gurita dan cumi yang berukuran besar,
" mau masak cumi Ran?" tanyanya memandang istrinya yang seperti takjub dengan ukuran ukuran ikan yang lumayan besar.
" Beli saja.. kita bisa menyimpannya di freezer.. " jawab Rania terlihat tertarik pada cumi cumi yang besar bahkan lebih besar dari telapak tangan Aksara itu.
Setelah puas berbelanja ikan mereka berpindah ke lapak sayuran dan bumbu bumbu.
Betapa terkejutnya Rania ketika tau harga sayuran lumayan mahal juga, kemarin kemarin kemarin ketika disini, ia sempat belanja juga sih, tapi dia tidak menyangka kalau beli langsung di pasar pun harga nya memang mahal, ia juga tidak bisa menemukan salah satu bumbu dapur yang biasa ia gunakan untuk memasak sayur bayam, padahal Aksara suka sekali sayur bayam, apalagi ada tempe goreng dan sambal tomat.
Berbeda sekali dengan di Jawa memang.. tapi Rania malah merasa antusias,
ia juga takjub dengan kemampuan suaminya berbelanja dan menawar, sehingga Rania hanya menjadi pengikut saja di belakang Aksara tanpa berkata apapun.
" Apa lagi yang mau di beli?" tanya Aksara dengan bawaan yang sudah penuh di tangannya,
" cukup Mas, kita pulang saja.." jawab Rania sembari mengambil beberapa kantong untuk meringankan beban suaminya.
" Biar Mas yang bawa.."
" kasian Mas.. berat.."
" berat apanya, istriku saja ringan setiap kali ku angkat ke tempat tidur..
apalah arti belanjaan ini.." Aksara mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.
Keduanya berjalan kembali ke arah Rumah, mereka menghabiskan waktu berjalan kaki sekitar 20 menit.
" Sudah siap sarapannya Mas.." Rania masuk ke dalam kamar, ia menemukan Aksara yang masih mengambil seragam nya di lemari,
" di kira sudah selesai ganti.." Rania mendekat, ia membantu suaminya menggenakan seragam, mengancingkan kancing atasan Aksara satu persatu,
mengambil pelembab dan mengoleskannya lembut di wajah suaminya.
" Apa itu? harum sekali?" Aksara yang tidak pernah memakai pelembab atau sejenisnya heran.
" Pelembab wajahku Mas.. aman kok.. biar kliatan segar aja sm lebih cerah.."
" Maksudnya aku kurang segar?"
" bukan begitu.. Mas mana faham sih, udah diam saja.. manut.." Rania bahkan mengoleskan hand body ke telapak tangan suaminya.
" Waduh, bahaya nanti.. "
" bahaya kenapa?"
" kalau aku jadi putih dan semakin ganteng bagaimana? hitam begini saja aku sudah repot.." Aksara tersenyum menggoda istrinya.
" Jangan narsis Mas, awas saja kalau aku tau Mas sengaja pamer.. "
__ADS_1
" pamer apa?"
" pamer senyummu yang manis itu, cukup cukup aku saja yang lihat lesung pipi mu setiap hari?!"
Aksara tertawa keras, ia gemas sekali melihat Rania yang manyun itu.
" Ya sudah.. besok besok jangan beri aku pelembab lagi, biarkan aku hangus seperti arang saja.. yang penting istriku ini bahagia.." ujar Aksara sembari memeluk pinggang istrinya dan mengecup bibir Rania beberapa kali.
" Aduhh..." keluh Aksara,
" Mas?!!" Rania melotot, ia merasakan sesuatu yang berubah menjadi keras.
" padahal cuma peluk dan kecup.. inilah kalau pagi pagi kau menyentuhku.. jam berapa ini, masih sempat nggak?" Aksara melihat jam,
" masih sempat.." Aksara mengeratkan pelukannya,
" Mas?!! seperti tidak ada waktu lain saja, segeralah sarapan!" Rania melotot galak, ia melepaskan dirinya dari Aksara dan berjalan keluar dari kamar begitu saja.
" lho kan.. Ran????" panggil Aksara,
" Makan!" suara Rania tegas dari luar kamar,
" aduhh.. " keluh Aksara sembari duduk menenangkan dirinya.
Marlin Duduk di dekat Aksara,
" pesta pesta...?!" suaranya nyaring di telinga Aksara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Pesta apa? ah! pergi pergi!"
" Eh! pesta lah.. karena kau sudah bukan bujang lokal lagi.." Marlin tertawa lepas,
" bahagia sekali nampaknya kau?"
" bahagialah! temanku sudah punya teman tidur setiap hari, temanku juga akan bernasib sama seperti ku setiap hari.."
" Maksudmu?"
" omelan istri.. omelan istri yang lebih merdu dari kicau burung.. kau akan merasakan nya lambat laun, belum lagi pelototan mautnya.." Marlin menjelaskan dengan sepenuh hati.
" kalau pelototan aku sudah dapat sih pagi ini.." ujar Aksara membuat Marlin terkekeh bahagia,
" Apa ku bilang.. inilah seni berumah tangga.. nikmatilah.. " imbuh Marlin.
" Ijin..!" seorang anggota tiba tiba Masuk,
" Arahan komandan, semua berkumpul di gedung olah raga.."
Mendengar itu sontak Aksara dan Marlin berpandangan.
" Ada masalah selama aku pergi?" tanya Aksara penasaran ketika mereka sudah berdua saja,
__ADS_1
" tidak ada sih.. hanya saja, akan ada kunjungan.. " jawab Marlin,
" ya sudah.. panggil Farhan.. " Aksara dan Marlin bangkit, keduanya berjalan keluar dari Ruangan dan menyusul Farhan.