
Sesampainya di kantor Radit justru tidak tenang,
ia melihat dengan jelas senyum Aksara yang hanya basa basi itu saja.
Meski sikapnya tenang dan bibirnya selalu tersenyum tapi tatapannya seperti ingin menguliti Radit.
Jujur saja Radit sudah sering melihat sosok Aksara semasa ia kelas 3 SMA, ia selalu mengawasi Rania dan diantar dan di jemput oleh Aksara hampir setiap hari.
Jangankan Radit, laki laki manapun harus berfikir ratusan kali jika ingin mendekati Rania, kesempatan sulit sekali datang, karena itu Radit hanya bisa menjadi pengagum rahasia.
Saat yang lain menyapa Rania dengan tenang, dan tersenyum dengan santai di depan Rania, Radit malah selalu balik kanan atau bahkan sembunyi saat berpapasan dengan Rania.
Ia memang termasuk anak yang introvert, jarang berbicara, mempunyai sedikit teman.
Radit yang kurang berani itu memendam perasaan sukanya sampai ia lulus dari sekolah, menjalani pendidikan di kepolisian dan kembali ke kota asalnya setelah berdinas beberapa tahun di kantor pusat.
Pertemuannya kembali dengan Rania adalah saat kecelakaan itu.
Itulah sebabnya Radit dengan sigap membawanya ke dokter.
Namun lagi lagi Radit sadar Rania tidak mengenal sosoknya sama sekali meski mereka pernah satu sekolah, Radit adalah orang yang menerima keadaan.. ia hanya bisa tersenyum ketika mendengar Rania sudah bersuami.
" Kau kenapa? datang datang melamun?" seorang teman menepuk pundak Radit,
" tidak apa apa bang.." jawab Radit mengulas senyum kalem.
Aksara diam saja, tak bertanya, tak membicarakan apapun pada Rania.
sorot matanya tenang dan raut wajahnya datar.
Ia merokok beberapa batang, lalu mengambil kunci motornya,
" Mau kemana Mas?" Rania mengikuti langkah suaminya ke arah garasi.
" Keluar sebentar.." jawab Aksara tersenyum.
Rania hanya menatap suaminya itu, ia tak berani bertanya lebih banyak lagi, karena ia sadar.. ada yang tidak benar, Aksara yang tenang seperti itu malah membuatnya takut.
Robi menaruh secangkir kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja.
" Adanya cuman ini.. minumlah.." Robi duduk di kursi yang berhadap hadapan dengan Aksara.
Laki laki berpotongan cepak yang lumayan ganteng ini selalu terlihat tidak ramah, ucap Robi dalam hati.
Sejak kecil mereka berteman tentu saja Robi tau bagaimana karakter Aksara, tidak banyak yang berubah kecuali semakin dingin saja.
" Ada apa..." tanya Robi setelah beberapa menit memperhatikan Aksara yang hanya merokok saja tanpa bicara apapun setelah masuk kerumah Robi.
" Jangan selalu memendam apa yang kau rasakan.. bicarakan agar beban mu sedikit berkurang.. " imbuh Robi.
" Aku takut.." ujar Aksara sambil menghembuskan asap rokoknya,
" Aku takut jika aku bicara semua tidak akan baik baik saja.." lanjut Aksara,
" perkara apa ini.. ?" Robi menyandarkan punggungnya di bahu kursi, ia memandang Aksara dengan seksama.
" Aku kesal.. , aku kesal dengan kenyataan kalau aku tidak bisa hidup sesuai yang aku inginkan.. "
__ADS_1
" hemmm... jadi kau mulai mengeluh sekarang..?"
" Aku hanya manusia biasa.. yah.. aku hanya manusia biasa.." ucap Aksara sambil menatap keluar jendela, ia bahkan tak memandang Robi sama sekali ketika bicara.
" Kau sedang lelah.. pikiranmu sedang tidak jernih.. "
Aksara diam mendengar itu, ia mematikan rokoknya di asbak, berfikir dan berfikir.. entah kenapa dirinya semarah ini melihat si laki laki berseragam coklat itu.
Ia selalu merasa pernah melihat laki laki itu tapi entah dimana.
Ia juga merasa laki laki itu mendekati Rania dengan sengaja,
entah itu hanya perasaannya saja, atau itu memang iya..
namun ia tak mau marah terhadap istrinya, ia tidak mau menyakiti hati istrinya dengan kemarahannya.
" Ku kira aku saja yang berlebihan karena kondisiku sedang tidak stabil.. " ujar Aksara pada Robi kemudian.
Robi menghela nafas dalam, lalu tersenyum pada Aksara yang memandangnya sekilas.
" Kau tau.. aku menjalani kehidupan rumah tangga lebih lama darimu.. banyak hal yang sudah ku hadapi, namun ingatlah.. kepercayaan adalah kunci dari segala hal..
Waktu.. tidak bisa menggilas komitmen yang kuat,
Waktu.. tidak berjalan untuk orang orang yang di penuhi cinta dan ketulusan yang dalam,
tapi waktu.. akan menggilas dan berjalan pada orang orang yang tidak percaya... pada orang orang yang tidak tulus...
dan tidak di penuhi cinta.." ujar Robi sembari menatap Aksara,
" Aku sadar.. menjadi dirimu tidak mudah, kau melihat hal hal yang buruk terjadi di hadapan mu..
coba lihat dirimu, apa yang kurang di banding kan aku ini.. "
" Tidak Rob.. aku punya banyak kekurangan, aku juga punya penyesalan yang mendalam karena meninggalkan Rania dan Bapak selama 10 tahun ini..
saat mengingat itu hatiku sakit..
aku juga kadang berfikir, apakah selama aku pergi Rania mengenal laki laki lain..
itu sangat merusak pikiranku..
aku adalah seorang laki laki yang realistis, aku juga berusaha disiplin dalam segala hal..
namun aku tidak bisa realistis ketika itu berhubungan dengan Rania.. "
" hei.. kau tidak tau bagaimana istrimu mengurus Bapak mu selama kau pergi, ia bahkan tidak menerima lamaran siapapun.. bukankah sudah ku katakan padamu saat itu..
jangan meremehkan prinsip istrimu.. "
" Aku percaya pada istriku Rob.. sangat percaya..
tapi kadang kecemburuanku mendidih tanpa sebab.. padahal usia ku sudah tidak muda, tapi kenapa pikiranku seperti ini..
kadang aku merasa kecewa pada diriku sendiri.."
" Kau laki laki yang baik.. tapi akan lebih baik jika kau belajar memahami istrimu, apa yang ia inginkan sebenarnya.... kesulitan kesulitannya....
__ADS_1
ketika kau sabar dan memahaminya secara terus menerus..
maka suatu ketika nanti dia akan sadar, bahwa kau layak di pertahankan dalam kondisi apapun, kau akan selalu menjadi tempatnya pulang meski banyak laki laki muda yang menawarkan hal lain di luar sana.."
Robi mengambil sebatang rokok dan membakarnya,
" jangan terlalu kencang memegang tangan Rania..
jangan juga menariknya agar bisa menyamai langkah mu..
genggam senyaman nya, tidak terlalu keras tidak juga terlalu renggang..
agar semua berjalan dengan baik sampai kalian menua.."
" iya Rob.. " jawab Aksara setelah lama terdiam.
Ia meminum kopi yang di sediakan Robi dan membakar satu rokok lagi.
" Aku kembali nanti malam.. jaga dirimu rob.." ujar Aksara,
" kau yang jaga dirimu.. di lapang kan lagi dadanya.." Robi mendekat dan menepuk lengan Aksara beberapa kali untuk menyemangatinya.
Sesampainya dirumah Aksara tetap bersikap tenang dan baik baik saja, ia mengajak seisi rumah untuk makan bersama, termasuk Safa.
" Safa ya.." sapa Aksara setelah mereka makan, Aksara mengajaknya bicara sebentar ketik gadis itu membantu Rania beres beres di dapur.
" nggih.." jawab Safa tertunduk,
" sekolah yang baik ya.. banggakan keluarga.. " ujar Aksara mengulas senyum lalu berjalan berlalu.
Rania mengeluarkan baju yang akan di kenakan Aksara dari dalam lemari,
" pakai kaos kan?" tanya Rania pada suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggenakan handuk itu.
" Nanti saja, aku bisa ambil sendiri.. " jawab Aksara malah mendekat dan memeluk Rania dari belakang.
" jangan antar aku.." katanya sambil memutar tubuh istrinya agar berhadapan dengan nya,
" kenapa tidak mau ku antar??" Rania heran, ia takut Aksara marah karena melihat kakak Safa datang kerumah tadi siang.
" Karena aku akan membuatmu lelah sebelum aku berangkat.."
" Mas, waktumu mepet.. " Rania takut suaminya terlambat,
" Tidak akan, aku bisa menyelesaikannya sebelum 30 menit.."
Rania heran, padahal tadi siang tatapan Aksara tampak tidak nyaman dan kesal pada Radit, tapi kenapa sekarang dia biasa biasa saja.. tidak marah dan tidak bertanya tentang apapun padanya.
" Mas tidak apa apa?" tanya Rania hati hati,
" kenapa?" tanya Aksara balik,
" Mas tidak marah?"
" marah kenapa? sebentar lagi aku pergi.. kenapa aku harus marah marah.. " jawab Aksara sembari membuka kancing baju istrinya satu persatu.
" Nanti mas terlambat?"
__ADS_1
" kalau terlambat aku akan berangkat besok pagi..
kenapa kau mau membiarkan ku pergi tanpa bekal ran..." ujar Aksara dengan tangan yang sudah meraba kemana mana, juga bibir yang tiada henti mengecup pundak istrinya.