
" Bukankah semua hal bisa di bicarakan nduk..?" tante Irma memandang Rania baik baik.
" Sudah.. mungkin dia masih kalut, biarkan dia berfikir dengan benar dan beristirahat..
aku sudah menghubungi Aksara, awalnya dia akan segera kesini, tapi aku sudah meyakinkannya bahwa istrinya baik baik saja dan mungkin butuh waktu untuk berfikir..
dia mengubah rencananya, akhir minggu dia baru bisa kesini..
begitu tidak apa apa kan nduk?
om ingin kau berpikir dengan kepala dingin.." ujar om Surya.
Rania sejak tadi hanya diam saja, ia duduk di kursi Ruang tengah, tempat ia dan almarhum bapak dulu berbincang,
dan sekarang ia berada di rumah ini tanpa siapapun termasuk Aksara, sebentar lagi om dan tante nya juga akan pulang.
" Kau sedang hamil besar.. jangan berfikir sesuatu yang berlebihan..
Aksara mungkin bersalah.. tapi belum tentu dia berselingkuh.." tante Irma menyentuh lengan Rania, seperti ingin memberi sebuah pengertian,
bahwa semua hal bisa di bicarakan.
Rania tertunduk, ia menggosok gosokkan kedua kukunya, seakan tidak ingin bicara bahwa om dan tantenya tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi, dan Aksara sudah membohonginya, itu kenyataannya.
" Suami saya terbangun tengah malam, menerima telfon diam diam.. dia dengan sengaja membohongi saya..
kalau saya memaafkan hal seperti ini, kelak akan ada hal yang lebih besar lagi yang ia sembunyikan..
om dan tante tau, saya lahir di keluarga yang bagaimana..
sejak kecil saya melihat ibuku memaafkan kesalahan ayah berkali kali, dengan alasan itu kesalahan kecil dan pasti ayah akan berubah..
nyatanya tidak.. semakin ayah di maafkan semakin ayah menyakiti ibu,
saya tidak mau hal itu terjadi pada saya,
suami yang saya agung agungkan..
saya mengenalnya sejak usiaku masih 14 tahun,
tidak mungkin saya melihat laki laki lain sementara suami saya sejak awal sudah menjadi sosok sempurna bagi saya..
kebohongannya..
meskipun bagi orang lain hal itu kecil, tapi hal itu sudah cukup meruntuhkan kepercayaan saya..."
jelas Rania, ia beberapa kali merubah posisi duduknya seperti tidak nyaman.
" Kenapa nduk? ada yang sakit??" tanya tante Irma,
" tidak te.. pinggangku sedikit terasa.." jawab Rania,
" biar ku gosok dengan minyak kayu putih nanti te.." tambah Rania.
Irma dan Surya saling berpandangan,
__ADS_1
" kami tidak membela siapapun nduk.. kau dan Aksara sama sama anak kami.. bahkan meski kalian tidak menikah kau tetap bagian dari keluarga ini,
tenangkan pikiranmu.. ingat.. anak kalian harus lahir dengan selamat dan sehat.. " ucap tante Irma.
" Om akan bicara dengan Aksara lagi nanti.. kau tenang saja.." ujar om Surya juga.
" Tidak usah om.. saya tidak berniat kembali ke tempat itu lagi.." ucap Rania membuat om dan tantenya terhenyak,
" saya akan melahirkan anak saya dirumah ini.. " imbuh Rania, membuat Surya dan Irma lagi lagi berpandangan.
" Ya sudah.. istirahatlah.. besok saja kita bicara lagi, biar Yuni memijit kakimu.." ujar om Surya, ia beberapa kali memperhatikan kaki Rania yang sedikit bengkak.
" Jangan di pijit mas kalau bengkak.. itu sudah bawaan bayi.. di gosok param saja.. param beras kencur.. " tante Irma beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar Yuni.
Rumah bercat krem itu terlihat sepi, tak ada perempuan berperut buncit lagi yang menyiram bunga tiap sore.
Tak ada juga suara sandal di dalam rumah.
Sudah 2 hari ini rasanya Aksara tidak hidup tidak juga mati.
Dadanya sesak, pikirannya entah kemana, yang jelas ia merindukan sosok istrinya.
Sosok yang sebenarnya tidak manja, dan cukup mandiri.. tapi Aksara selalu ingin memanjakannya dan memenuhi apapun yang ia ingin kan.
Tapi sayangnya sosok Rania jarang meminta hal hal yang biasanya di minta perempuan lain, sepeti baju, tas tau perhiasan.
Yang selalu Rania minta adalah di biarkan untuk bekerja dan memiliki dunia sendiri.
Namun justru itu yang membuat Aksara takut,
ia tidak mau Rania bisa melakukan apapun sendiri tanpanya, intinya adalah.. Aksara ingin Rania bergantung seratus persen padanya.
Aksara tau itu hal yang tidak benar.. tapi hal itu ia lakukan agar Rania selalu disampingnya.
Dan sekarang, karena kebohongan kecilnya, Rania lepas dari genggamannya.
Hal ini cukup membuat Aksara shock.
Istri yang jarang berkata tidak dan selalu patuh itu, sekarang pergi begitu saja.
" Baru dua hari kau pergi.. tapi rasanya sudah se sesak ini.." keluh aksara menyentuh dadanya.
Di bolak balikkan badannya, dirinya di rasa resah sekali, jangankan memejamkan mata, berhenti berfikir saja ia tidak bisa.
" lain kali aku tidak akan menolong siapapun lagi Ran.. kecuali nenek nenek.." Aksara terus menggeluh,
ia benar benar menyesali apapun itu yang sudah terjadi.
Rania mengikuti mbak Yuni yang berencana ke pasar, selain rindu dengan nasi jagung langganannya, ia juga merasa perlu mencari kegiatan agar pikirannya sedikit ringan.
" Itu angkotnya mbak.." Yuni menyetop salah satu angkutan umum yang melewati tempat tujuan mereka.
Rania dan Yuni berbincang ringan di angkot sembari melihat motor dan mobil yang berada di belakang angkot yang mereka tumpangi.
Rania jarang sekali naik angkot semenjak masuk ke keluarga Aksara, namun jika ia bisa sesekali naik angkot, ia akan selalu memilih angkot yang sepi dan duduk di kursi paling belakang.
__ADS_1
Jarak pasar tidak terlalu jauh, namun akan memakan sedikit waktu dengan angkutan umum, karena angkutan umum selalu berhenti untuk menunggu penumpang lain.
Sekitar 5 menit dari pasar Rania tak sengaja melihat sosok yang di kenalnya sedang berada di tengah pertigaan,
Rupanya itu Radit yang sedang mengatur lalu lintas.
Radit pun tak sengaja melihat Rania sekilas dari balik jendela besar angkutan umum itu.
Radit tidak tersenyum, ia segera mengalihkan pandangannya dari Rania dan segera mengatur lalu lintas kembali.
" Itu mas Radit mbak.." ujar Yuni,
" iya, raut wajahnya serius sekali saat bekerja.." komentar Rania sembari tersenyum sedikit.
Sesampainya di pasar Rania mengikuti mbak Yuni membeli beberapa besek ikan dan beberapa kilo ayam untuk entah untuk apa.
" Kok banyak.. buat apa?"
" disuruh budhe Irma, di taruh kulkas.. "
" mau ada acara apa?"
" katanya siapa tau teman teman mbak Rania datang.. "
" owalah.. saya bisa belanja sendiri mbak Yun,"
" alah sudah mbak.. wong ini perintah budhe.."
keduanya meneruskan belanjaannya, tidak lupa Rania membeli nasi jagung langganannya dulu.
Keduanya sampai di rumah sekitar jam 10 siang, padahal rencananya tidak lama, tapi tetap saja ketika perempuan ke pasar, rencana yang sebentar bisa langsung berubah menjadi lama.
Rania dan mbak Yuni turun dari Angkot, lalu berjalan masuk ke area perkampungannya, jarak rumah nya dan jalan raya tidak begitu jauh hanya sekitar beberapa ratus meter.
" Benar toh, saya tidak salah lihat..?!" suara Radit mengagetkan Rania, laki laki itu berdiri di depan pagar rumah, sepertinya menunggu Rania yang masih berjalan.
" Lho? njenengan?" Rania tak habis pikir, sedang apa laki laki itu berdiri di depan pagar rumahnya, padahal tadi pagi laki laki itu sedang sibuk bekerja sampai sampai tidak bisa tersenyum.
" Saya penasaran.. sedikit tidak yakin juga.. apa benar yang naik angkutan umum tadi bu Rania..
eh, ternyata benar.." senyum Radit terkembang, laki laki itu tampak senang sekali.
Yuni sedikit tidak nyaman melihat Radit berdiri di depan pagar dan menunggu Rania seperti itu, apalagi nyonya nya itu sedang ada masalah dengan tuannya.
Tapi apalah daya dia hanya seorang asisten rumah tangga, meski Rania dan Aksara sudah menganggapnya saudara sendiri, ia tetap tidak bisa lancang.
" Jadi bapak kesini hanya ingin memastikan?" tanya Rania merasa tingkah Radit itu ada ada saja.
" Iya, kalau tidak di pastikan.. saya bisa bisa penasaran dan terus berfikir, jadi lebih baik saya pastikan langsung..
alhamdulillah.. bisa lihat bu Rania lagi.." Radit terus saja tersenyum, ia kemudian melirik perut Rania yang sudah besar.
" Ya sudah.. saya kembali bekerja dulu ya bu.." ucapnya kemudian.
" Lho, tidak mampir pak.." ujar Rania basa basi.
__ADS_1
" Saya masih jam kerja, tadi hanya ijin sebentar.. mungkin lain kali dengan Safa.." jawab Radit lagi lagi melempar senyum manisnya.