Aksara Rania

Aksara Rania
Satu bulan


__ADS_3

Aksara berpapasan dengan Wulan, namun Wulan tidak sedikitpun melirik atau memandang Aksara seperti biasanya.


" Tumben.." komentar Marlin,


" biasanya melihatmu dari atas ke bawah.." Farhan ikut ikutan berkomentar, karena ekspresi Wulan tidak seperti biasanya, ia acuh acuh saja.


" jangan berisik, ayo ke lapangan.." ajak Aksara tenang,


" Eh, trio kwek kwek?!" sapa seorang senior yang selalu gemas melihat ketiga juniornya yang bagaikan lem, padahal ketiganya bukan anak muda lagi.


" Apa sih bang..." gerutu Farhan,


" lha iya.. kalian seperti gadis gadis SMA yang kemana mana selalu bertiga, ke kelas bertiga, ke kantin bertiga, olah raga bertiga.." imbuh seniornya sembari berlalu begitu saja.


" Apa ku bilang.. kau jalan duluan, aku di belakang biar nggak di bilang trio kwek kwek.. " ujar Aksara mendorong Marlin dan Farhan agar berjalan terlebih dahulu.


Wulan duduk di ruangannya, wajahnya terlihat lesu karena sulit tidur beberapa hari ini.


" Tok tok tok.." terdengar ketukan pelan,


" Masuk.." jawab Wulan tanpa melihat siapa yang mengetuk,


seseorang tiba tiba meletakkan sebuah tote bag berisi kotak makanan, sekilas Wulan melihat tangan dan jam tangan yang sangat di kenalnya,


sontak Wulan melihat ke arah pemilik tangan itu.


" Aku ingin makan siang bersamamu.." Suara yang begitu lembut, pemiliknya pun begitu.


parasnya tampan tak kalah dari Aksara meskipun ia tak setinggi Aksara, umurnya pun tak terlihat begitu berbeda dengan Aksara meskipun Ilham jauh lebih tua,


itu karena Ilham berkulit cerah dan selalu di penuhi senyuman ramah yang membuatnya menjadi pusat perhatian.


" Sedang apa kau di tempat kerjaku?" Wulan sinis,


" menemui istriku.." jawab Ilham sembari duduk,


Ia merapikan meja Wulan dan mengeluarkan makanan makanan di kotak.


" Jam berapa ini, apa kau biasa makan telat?" Tangan laki laki itu dengan cermat menata makanan,


" sejak kapan kau perduli dengan jam makan ku?"


" sejak sekarang.." Ilham selesai menata makanan tepat di hadapan Wulan.


" Aku yang masak.. aku sengaja pulang sebentar tadi, mumpung masih hangat ayo makan.."


Wulan terlihat kesal, ia tidak tau apa maksud suaminya ini, padahal kemarin lusa dia sudah meminta berpisah,


Meski Ilham tidak menjawab tapi rasanya aneh sekali dia tiba tiba datang dan mengajak makan bersama, pikir Wulan.


" Apa maksudnya ini?" tanya Wulan penuh selidik,


" ya Makan siang bersamamu..." lagi lagi Ilham tersenyum,


" omong kosong.. , apa sudah tidak ada perempuan yang bisa kau ajak makan siang sehingga kau berbalik ke arahku..?"


nada Wulan benar benar tajam,


Ilham diam, ia menahan dirinya, Wulan memang selalu dengan sengaja berbicara akan hal hal yang pahit dan berhubungan dengan kesalahan kesalahannya dulu.

__ADS_1


" Kenapa? apa aku benar..?" tanya Wulan mengejek,


" harus berapa kali ku bilang, kematian putra pertama kita tidak hanya meninggalkan luka untukmu, tapi untukku juga.. se brengsek apapun aku tetap Papanya, aku seperti di hukum oleh Tuhan karena menyianyiakan mu dan dia..


apa kau kira aku berani main main lagi? aku tidak mau ada hal hal buruk terjadi pada Ami.. " Ilham berusaha menyentuh tangan Wulan tapi Wulan menghindarinya.


" Aku tetap ingin berpisah denganmu, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk merubah keputusanku" Wulan tetap teguh,


Ilham menghela nafas berat sembari memandang istrinya tenang.


" satu bulan..." ujarnya,


" maksudnya?"


" beri aku waktu satu bulan lagi untuk bersamamu..


kalau memang kau mau berpisah, akan ku turuti.. tapi beri aku waktumu dan perhatianmu selayaknya seorang istri selama satu bulan ini.. " lanjut Ilham,


" apa apaan itu.. ?!" Wulan kesal,


" jangan berkata keras.. ini kantormu, dengarkan aku..


buat kesepakatan denganku, 1 bulan menjadi istri yang baik untukku..


dan aku tidak akan mempersulit pengajuan nanti..


meski mungkin itu akan sedikit sulit karena tidak ada masalah serius diantara kita.."


" jadi kau anggap perasaanku tidak serius?!"


" pikirkan... kau tidak akan rugi bersikap baik padaku selama sebulan..


keduanya beradu pandang, Wulan terlihat ragu, sementara Ilham terus memandang istrinya penuh harap.


" Kau mau berjanji akan melepaskan ku setelah satu bulan?" tanya Wulan dengan ragu,


Ilham mengangguk pasti,


" kau janji?!" ulang Wulan lebih tegas,


" aku janji.. " jawab Ilham tenang.


Keduanya lama terdiam, susana terasa kikuk karena Wulan terus menjaga jarak dari Ilham, ia bahkan selalu membuang pandangannya saat tidak sengaja beradu pandangan dengan ilham.


" Kita makan ya?" Ilham memecah keheningan,


ia menyiapkan sendok untuk Wulan, dan betapa kagetnya Wulan saat tau yang ada di hadapannya adalah menu kesukaannya,


Ilham dulu sering memasak untuknya semasa pacaran,


" Kau masih ingat cara memasaknya rupanya.." ujar Wulan lirih sembari mengambil sendok,


" tentu saja.. aku tidak pernah memasak lagi karena kau tidak pernah memintanya.. ku kira,


jika kau benci orangnya.. kau pasti benci pula makanannya.."


Ilham memotong iga bakar di hadapannya dan memindahkan ke kotak makan istrinya,


" makanlah.. apa rasanya masih seperti dulu, atau sudah berbeda..

__ADS_1


karena aku sudah mulai menua.." Ilham lagi lagi memberi senyum yang sulit di terima oleh Wulan, ia rindu dengan masa lalu, tapi ia juga membenci masa lalu.


Rania duduk disamping suaminya yang sedang asik menonton pertandingan sepak bola,


" Mas..?" panggil Rania hati hati,


" hemm..." jawab Aksara dengan mata lurus ke arah TV,


" Aku bosan dirumah.." ucap Rania membuat Aksara langsung menoleh ke arah Rania,


" bosan? mau jalan jalan?" Aksara menekan remote untuk mematikan TV nya,


" tidak.."


" lalu? mau kemana?"


" mas bilang mau mencarikan aku sekolah..."


Deg.. Aksara lupa, tidak.. ia tidak lupa, ia sengaja tak akan membahasnya selama Rania tidak membahasnya.


Ia benar benar tak ingin istrinya bekerja, ia akan lebih tenang melihat istrinya diam dirumah, tapi apalah daya..


janji adalah janji..


" Ahh.. Mas lupa ya...?" Aksara nyengir menutupi ekspresi wajah tidak nyamannya,


" Mas lupa atau sengaja lupa..?"


" hehehe.. Mas ingat sih, tapi masih sibuk minggu minggu ini..


minggu depan ya mas ajak kerumah teman Mas..


soalnya istrinya yang memberi kabar kalau ada sekolah yang membutuhkan guru..


awalnya istri teman mas itu yang mengajar, tapi karena mereka mau pindah ke Palu, jadi mengundurkan diri..


nah, kalau posisi itu belum terisi kemungkinan Kau Ran yang akan mengisi..


bagaimana?" Aksara mencoba berbesar hati,


" mata pelajaran apa?"


" yah.. mas kurang jelas, nanti saja kalau kesana kau tanya langsung ya.."


Rania mengangguk,


" bilang apa dong?"


" iya.. terimakasih mas.."


" sekali kali panggil sayang.. "


Rania terdiam sejenak, dan menghela nafas..


" terimakasih sayang.. " ucapnya kemudian membuat senyum Aksara mengembang lebar,


" itu lebih enak di dengar dari pada Mas.. "


" Apapun katamu wes Mas.." Rania terlihat lelah menanggapi kemanjaan suaminya, bungkusnya saja yang tua.. tapi dalamnya kalau sudah datang waktunya manja.. anak TK pun kalah.

__ADS_1


__ADS_2