Aksara Rania

Aksara Rania
Tidak sanggup menerima kemarahan istriku


__ADS_3

Aksara berjalan ke arah kamar tamu, ia ingin mengetuk pintu, tapi di urungkan niatnya.


" Sudahlah.. mungkin dia masih marah.." ucap Aksara dalam hati.


Aksara berbalik dan berjalan menuju dapur.


" Saya tidak sarapan.. nanti kalau istri saya bangun suruh makan ya, tanya mau makan apa, jangan sampai tidak makan.." ujar Aksara pada asisten rumah tangganya yang sedang sibuk mengepel dapur.


" iyee' pak.." jawab si asisten.


Aksara yang sudah berseragam lengkap itu mengambil kunci motor dan helmnya, tanpa berkata apapun lagi ia berangkat.


Sebenarnya masih cukup pagi, tapi Aksara merasa jauh lebih baik segera berangkat ke kantor saja,


karena Rania pasti tidak akan senang melihatnya untuk sekarang.


Melewati perintis kemerdekaan, ia berhenti sejenak melihat bubur ayam di pinggir jalan.


" Kesukaan istriku ini.." gumamnya.


Ia membeli dua bungkus bubur ayam.


" Terimakasih.." ucap Aksara menerima bubur itu.


Ia segera menaiki motornya dan mengambil arah berlawanan dari kantor.


Aksara kembali kerumahnya, menaruh bubur itu di meja ruang tamu.


" Suruh istri saya makan, yang satu boleh buat ibu" ujar Aksara kepada asisten rumah tangganya yang diam diam heran dengan sikap Aksara yang seperti orang bingung.


Si ibu itu hanya mengangguk saja,


" Ya sudah.. saya ke kantor dulu" Aksara segera berjalan keluar dari rumahnya lagi.


menaiki motornya hingga suara motornya tak terdengar lagi oleh si asisten.


" Tok tok tok..!" di ibu itu mengetuk pintu kamar tamu, karena Aksara tadi sempat memberi tahu bahwa nyonya nya sedang tidur disitu.


" Sarapan bu.. saya sudah masak, ini juga ada bubur dari bapak... " suara si asisten membangunkan.


Tak lama pintu kamar itu terbuka, betapa terkejutnya si asisten melihat mata nyonyanya yang sembab begitu pula wajahnya terlihat kusut dan berantakan.


" Ibu kenapa bu??" spontan si asisten bertanya karena khawatir.


" Tidak apa apa.. saya mau mandi dulu.." jawab Rania tenang dan berjalan melewati si ibu itu begitu saja.


Rania terlihat sudah rapi, ia meminum segelas susu yang sudah di sediakan si ibu sejak pagi.


" Bu, saya keluar dulu.." ujar Rania pada si asisten yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang.


" Kemana bu??" di asisten setengah berlari mendekat ke arah Rania berdiri.


" Ibu mau kemana? sama bapak ibu tidak boleh kemana mana?


atau kalau memang ingin sekali keluar biar saya antar??" si ibu asisten khawatir, ia bahkan masih membawa satu pakaian yang akan di jemur di tangannya.


" Saya cuma sebentar ke Sudiang.. jangan khawatir, saya naik taksi online.." jawab Rania,


" saya ikut ya bu..? saya nanti di marahi bapak.. ??"


" sudah tidak usah.. toh saya cuma sebentar.." jawab Rania, tak lama HPnya berdering.


" Nah.. itu taksinya sudah datang.. saya berangkat dulu ya bu.." Rania mengambil dompetnya di kamar sebentar, lalu segera berjalan ke luar rumah tanpa memperdulikan kekhawatiran si ibu asisten.


30 menit berlalu, Rania belum juga datang padahal dia pamit hanya sebentar saja, itu membuat si ibu asisten gusar dan segera menelfon Aksara.


" Pak??"


" ada apa bu?" suara Aksara cepat, karena tidak biasanya si ibu asisten menelfon.


" Ibu tadi pamit keluar sebentar pak, naik taksi online..


saya ikut tidak boleh..?"

__ADS_1


" kemana?!"


" katanya ke sudiang pak.. " jawab si ibu asisten sedikit takut, dia tau kalau Aksara paling tidak suka istrinya itu keluar sendirian.


Tapi tak lama ia mendengar suara pintu terbuka, dan terdengar suara nyonya rumahnya itu mengucapkan salam.


" Itu ibu pak?! baru masuk rumah..?" beritahu si ibu asisten cepat,


" syukurlah, ya sudah.. kalau dia mau kemana mana telfon saya segera ya bu?" nada Aksara lega, lalu segera mematikan sambungan telfon dari si ibu asisten.


Aksara terlihat benar benar tidak fokus dengan pekerjaannya, hatinya menyuruhnya untuk segera pulang, tapi ini masih jauh dari waktu istirahat siang.


" Tempat dudukmu penuh paku?" tanya Marlin heran,


" aku tidak bisa fokus bekerja.. aku ingin pulang saja.." keluh Aksara,


" profesional kau pak? sudahlah masalahmu nanti kita bantu selesaikan..


kita panggil adik Fatan itu, supaya dia jelaskan langsung dengan istrimu.. "


" ah.. yang ada dia makin marah, lagi pula kenapa sih aku menolongnya saat itu.. bodohnya.." Aksara menyesali perbuatannya.


" Katanya ada lipstik menempel di bajuku waktu itu.." imbuh Aksara,


" Ya pantas istrimu ngamuk.." sahut Marlin menggeleng gelengkan kepalanya.


" tapi aku kan tidak berselingkuh?"


" memang tidak.. tapi kau bohong.. aku tau sih kau ingin menjaga semuanya dengan baik, tapi kejujuran di awal di perlukan untuk mencegah kesalahpahaman semacam ini..


kalau sudah salah paham begini agak repot menjelaskannya,


apalagi istrimu tipe yang meredam masalah..


lebih baik istri cerewet tau dari pada istri pendiam,


istri pendiam itu lebih menakutkan kalau marah.."


" ah, kau jangan menakut nakutiku?!" Aksara semakin gusar.


" lalu?"


" langsung pergi.." jawab Marlin membuat ekspresi Aksara berubah lebih buruk.


" Aku tidak mengkhianatinya sedikitpun Lin.. sumpah demi apapun.. " ucap Aksara kemudian, nadanya putus asa.


" Aku tau.. kau bukan tipe laki laki yang berfikir pendek..


kau juga cukup mampu menahan dirimu,


tapi istrimu sekarang tidak tau itu,


yang ada di pikirannya sekarang adalah hal hal buruk.. semacam..


kau pembohong..


pengkhianat..


kau berselingkuh..


dan mungkin lainnya.."


Aksara terdiam, hatinya carut marut.


" Sudah.. nanti biar aku bicara pada Fatan, kau tenanglah dulu.. biarkan kemarahan istrimu mereda.. setelah itu kita pertemukan mereka..


besoklah.."


" tidak, jangan besok.. nanti malam saja, aku mau ini segera selesai, hatiku ini tidak sanggup menerima kemarahan istriku terlalu lama.." sahut Aksara cepat.


" Ya sudah, ku pesankan kopi.. sekalian ku panggil Fatan kesini.." Marlin bangkit, ia benar benar mengerti dan memahami Aksara.


Aksara bersyukur memiliki teman seperti Marlino yang sudah seperti saudaranya sendiri.

__ADS_1


1jam sebelum istirahat siang, tiba tiba HP aksara berdering lagi, ternyata si ibu asisten rumah tangga.


" Kenapa bu??" tanya Aksara cepat,


" Ibu tidak ada pak..?" suara si asisten rumah tangga cemas.


Mendengar itu Aksara tidak lagi bertanya, ia langsung mematikan sambungan telfonnya.


" Kemana?" tanya Marlin,


" Pulang, istriku tidak tau kemana?!" Aksara mengambil kunci motornya.


" Aku ikut denganmu, tapi ijin dulu.." ujar Marlin ikut khawatir melihat Aksara.


Marlin memasukkan motor ke dalam halaman depan rumah Aksara, ia tidak mengijinkan Aksara yang menyetir, ia khawatir karena kondisi aksara sekarang sedang bingung.


Marlin mengikuti langkah Aksara yang masuk ke dalam rumah.


Saking bingungnya keduanya masuk ke dalam dengan memakai sepatu.


" Kok bisa?! ibu memangnya kemana?!" tanya Aksara tidak sabar,


" maaf pak? tadi setelah ibu kembali..


ibu menyuruh saya belanja pisang ke warung di gang 1, karena ibu ingin makan pisang goreng hangat katanya..


setelah saya pulang saya langsung ke dapur menggoreng pisangnya,


setelah pisangnya matang baru saya mencari ibu di kamar, ternyata ibu tidak ada, di samping dan di belakang juga tidak ada.."


jelas si ibu asisten sedikit gemetar melihat Aksara.


" Mungkin dia hanya keluar sebentar Sa.." Marlin menenangkan,


" Ibu tadi telfon saya pak.. ibu bilang.. minta maaf kalau ibu ada salah pada saya.."


Deg! Aksara tidak bisa lagi tenang mendengar penjelasan asisten rumah tangganya.


Sontak ia berjalan terburu buru ke dalam kamarnya, dan membuka lemari.


Aksara membeku, kaki nya lemas seketika melihat baju istrinya sudah bersih,


tidak mau menyerah ia mencari koper istrinya, namun itu juga tidak ada.


Dengan cepat ia mengambil HPnya, menelfon Istrinya berkali kali, hingga mengiriminya chat, tapi sepertinya HP Rania sedang di non aktifkan.


Tubuh Aksara lemas, benar benar lemas.


" Istriku pergi.. istriku pergi.. " Aksara berjalan keluar kamar, wajahnya terlihat pucat pasi.


" Kau yakin? sudah kau telfon?" tanya Marlin,


" Baju dan kopernya tidak ada.. dan HPnya tidak bisa di hubungi.." jawab Aksara lemah.


Marlin terkejut, namun ia bisa berfikir dengan cepat.


" Ayo kita ke bandara, mungkin istrimu masih ada disana?" Marlin menarik lengan Aksara dengan cepat.


" Ayo!" bentak Marlin menyadarkan Aksara yang sedang shock itu.


Keduanya sampai ke Bandara Hassanudin 30 menit kemudian, Marlin mencari di parkiran karena mungkin saja Rania baru turun dari kendaraan.


Dan Aksara langsung berlari ke dalam bandara, sayangnya ia hanya bisa masuk ke batas terakhir pengantar, selebihnya ia hanya melonggok kesana kemari dengan ekspresi berharap menemukan sosok istrinya.


Lama Aksara mengawasi, dan berlarian ke kanan dan kiri hingga satu jam berlalu.


" Mungkin istrimu sudah masuk ke pesawat.." Marlin menyentuh pundak Aksara, ia pun turut bersedih dengan hal ini, namun memberi semangat pada Aksara adalah hal yang penting di saat saat seperti ini.


" Tenanglah.. kau bisa ijin dan menyusulnya, ia sudah pasti pulang kerumah kalian kan.." imbuh Marlin menenangkan,


" Ini gara gara kau asal bicara.. sekarang istriku benar benar pergi.." suara Aksara bergetar menahan perasaan, seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.


Marlino tertunduk, ia tau Aksara sedang dalam kondisi yang tidak baik,

__ADS_1


" iya.. aku salah bicara begitu.. maafkan aku.." ujar Marlin menenangkan, ia menepuk punggung Aksara berkali kali, karena untuk sekarang hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan temannya itu.


Keduanya masih duduk di parkiran bandara, Aksara membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menenangkan dirinya, hingga akhirnya ia sanggup menerima kenyataan kalau istrinya memang sudah pergi, meninggalkan dirinya tanpa pamit.


__ADS_2