
Melihat Aksara yang berjalan masuk ke ruangan kepala sekolah, guru guru di sekolah Rania heboh, apalagi mendengar kejadian kemarin dari Ina dan Dimas.
" Waduh.. ?? suami bu Rania sampai datang ke sekolah.." gumam Rehan di depan guru lainnya,
" Dia marah sekali.. " sahut Dimas sambil mengisi absensi.
" Mungkin bu Rani tidak akan mengajar lagi.." imbuh Dimas kurang bersemangat.
" kok begitu?" tanya Rehan spontan,
" memangnya kalau istri pak Rehan di kasari sama orang.. sebagai seorang laki laki pak Rehan akan bersikap seperti apa?" tanya pak Anam,
" waduh.. ya jangan di tanya.."
" diam atau ribut?"
" ya ributlahh! bukan laki laki dong kalau diam?!" jawab Anam tegas, membuat seisi ruangan sedikit tertawa, Anam yang kalem tiba tiba berlagak keras.
" Bu jihan bagaimana?" tanya Anam pada Dimas,
" Dia mungkin libur 3 harian, punggungnya terbentur kursi kayu lumayan keras kata bu Ina.."
" kasihannya.. mana orangnya pendiam.." komentar Anam,
" Dia pendiam pada kita saja.. kalau pada Dimas tidak, bicaranya jadi banyak.." sahut Rehan,
" apa sih.. biasa saja.." jawab Dimas mengalihkan pandangan nya.
" tunangan orang.. ingat.." imbuh Rehan,
" aku tau.." ekspresi Dimas terlihat kurang nyaman,
" jadi bagaimana kelanjutan bapaknya Nanda? kok bisa sih dia pukuli anak dan istrinya begitu, anaknya nggak boleh sekolah lagi?!" Anam kesal,
" itu semua karena Nanda memergoki Bapaknya dengan perempuan lain selain ibunya, jadi..
bapaknya si Nanda itu mau menikah lagi, tapi tidak mau melepas ibu Nanda juga..
yah.. poligami lah..
Nanda dan ibunya di paksa hidup sesuai dengan kemauan bapaknya, harus diam.. manut..
karena Nanda memberontak dan tidak terima ibunya di perlakukan tidak adil, jadilah seperti ini.. begitu sih cerita dari Nanda, untuk cerita lebih jelasnya bu Ina dan bu Rania yang tau.."
" Wahh.. gila, bisa ya begitu.. " komentar Rehan.
" Laki laki itu di ciptakan sebagai pelindung.. tidak di benarkan bersikap kasar dalam kondisi apapun itu, mau istri cerewet atau apalah itu..
jika bertemu baik baik.. maka berpisah lah dengan baik baik pula..
perceraian di perbolehkan jika hubungan pernikahan lebih banyak menuju ke penyiksaan batin..
dan ujung ujungnya neraka..
jangan karena sudah bosan pada istri..
atau karena mengenal perempuan baru di luar sana membuat laki laki bersikap tidak baik pada istrinya, karena tanggung jawab dan berprilaku baik dalam rumah tangga adalah kewajiban..
cinta atau pun tidak cinta, wajib berprilaku baik terhadap istrimu..
ini menurut saya lho ya adik adik sekalian,
__ADS_1
jadi.. jadikan ini pelajaran yang berharga, mumpung kalian masih bujang, banyak banyaklah berbincang dengan orang tua"
Pak Burhan yang sejak tadi diam tiba tiba saja berkomentar,
" inggih pak.. orang tua itu, maksudnya njenengan..?" goda Dimas,
" yahh.. saya sudah tua.. kenapa?" jawab pak Burhan masam membuat Dimas dan lainnya tertawa.
Rania tidur meringkuk di atas tempat tidur, sejak pagi dia begitu saja..
tidak mandi, tidak sarapan..
gara gara kelakuan Bapak Nanda, kenangan masa kecil nya muncul lagi.
Kenangan dimana Rania kecil harus melihat perlakuan perlakuan kasar ayahnya pada ibunya,
saat itu rumah tangga ayah dan ibunya juga di ganggu oleh pihak ke tiga,
Ibu yang tidak bekerja dan bergantung seluruhnya pada ayahnya shock.. karena tiba tiba di ceraikan dan di usir dari rumah.
Rumah yang biasa Rania dan Ibunya tempati di jual tiba tiba oleh ayah nya, dan setelah itu entah kemana ayahnya Rania pergi, Rania tidak pernah melihatnya lagi sampai detik ini.
Saat itu Rania kecil pernah membela ibunya dan akhirnya dirinya di seret dan di jambak, belum lagi di lempar ke dinding atau kursi saat ia mencegah ayahnya memukuli ibunya,
ia bahkan sering memegangi satu kaki ayahnya agar ayahnya tidak bisa bergerak untuk menyerang ibunya,
kenangan buruk bertubi tubi menyerbu,
ia tidak ingin mengalami hal yang Ibunya alami,
bukan tidak percaya pada Aksara, namun karena kenangan buruk itu masih belum bisa ia lepas seluruhnya.
Rania pernah hidup terlunta lunta, sulit makan, berhenti sekolah selama berbulan bulan hingga ia harus mengulang kelas.
Putus asa, rasa malu.. dan kemiskinan.. semua menyerang ibunya.
Ia bahkan mengingat dengan jelas, bagaimana ibunya menangis nelangsa setiap malam karena di buang begitu saja oleh suaminya, laki laki yang di cintainya..
laki laki yang menjadi tumpuan hidupnya.
Siang bekerja menjadi pembantu rumah tangga sore berjualan gorengan di depan rumah kost yang sudah reot.
Tak jarang ketika hujan turun deras, kasur Rania basah dan ia terpaksa tidur di atas lantai beralaskan tikar, sedang ibunya sibuk membuat makanan untuk di jual ke esok an harinya.
Rania kecil tumbuh tanpa sosok ayah, yang ia tau hanya pelukan seorang ibu yang terbiasa menahan tangis.
" Kita ke dokter?" Suara Aksara tenang, entah kapan ia masuk ke dalam kamar, yang jelas tiba tiba saja Aksara berada di dalam kamar.
" Aku tidak apa apa mas.. aku hanya ingin tidur saja seharian.." jawab Rania dengan suara pelan.
" Makanlah setidaknya, sudahlah...jangan terlalu di pikirkan.." Aksara membelai rambut istrinya,
" Aku yang mengambil keputusan kali ini, selama ini aku sudah mengalah dan mendengarkan mu, tapi ternyata kau tidak bisa menjaga dirimu baik baik,
aku sudah menemui kepala sekolah, besok ku antar mengambil barang barangmu..
kau tidak perlu lagi mengajar disini,
setuju atau tidak setuju.. aku akan membawamu bersamaku mulai sekarang.." Suara Aksara tegas namun tenang.
pandangan Rania sayu, ia tidak ada niat untuk membantah, ia hanya diam tanpa menjawab.
__ADS_1
Melihat itu Aksara menghelas nafas, ia benar benar tidak memahami apa yang di inginkan istrinya sebenarnya.
" Jangan takut, aku janji..
kau akan bekerja di sekolah yang bagus disana.. jadi jangan takut bergantung padaku, aku yang menghidupimu dan memenuhi segala kebutuhanmu, kau kerja atau tidak sebenarnya bukan masalah bagiku..
tapi melihat mu setakut itu tidak bekerja, maka sudah tugasku menjadi suami yang memahami dan mendukungmu.." Aksara meyakinkan segalanya akan baik baik saja.
" Aku tau kau trauma.. tapi tidak semua laki laki seperti itu.. kau harus yakin kalau suamimu tidak begitu.." imbuh Aksara,
namun Rania masih diam,
" Kau ingat tidak.. pertama kali Bapak membawamu kesini..
awalnya aku ingin membencimu karena merebut kasih sayang Bapak..
tapi melihat kondisimu yang kurus, kecil dan tidak terawat membuat ku tidak sanggup membencimu..
Bapak menceritakan segalanya padaku, sejak saat itu entah kenapa hatiku perhatianku selalu terarah kepadamu..
mungkin awalnya iba, tapi lama kelamaan aku tidak rela orang lain memandangmu..
aku tidak mau melihatmu menangis, karena awal kau pindah kesini kau masih sering menangis,
aku pernah melihatmu berkaca kaca saat makan bersama, bahkan beberapa kali,
itu membuat ku sedih dan ingin membahagiakan mu..
tapi tanpa ku sadari itu malah mengikat ku padamu..
Aku bingung.. bagaimana bisa aku menginginkan adik ku sendiri..
yah.. meskipun kita tidak sedarah, namun itu tidak terlihat baik di hadapan orang saat itu..
aku bersembunyi di balik kata kakak untuk membawamu kemana mana, merangkul mu.. bercanda dengan mu , dan menghabiskan waktu bersamamu..
aku melihatmu tumbuh.. kau yang pendiam jadi banyak bicara padaku, menempel dan ber gelandotan pada ku..
memikirkan itu..
bagaimana aku tega untuk menyakitimu,
aku memang tidak tau tentang masa depan.. aku tidak ingin bicara sombong dengan berkata tidak akan menyakitimu..
tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungimu..
kalau suatu hari aku sampai menyakitimu.. " Aksara terdiam sejenak,
" Kau boleh membuangku.. kau boleh membuatku menderita lebih dari penderitaan yang kau rasakan..
aku mengijinkannya..." lanjut Aksara dengan suara berat.
Rania yang sejak tadi diam, tiba tiba saja menangis mendengar itu, ia terisak.
" Aku tidak pernah ingin mas menyakitiku di masa depan, aku tidak sanggup membayangkannya.. 10 tahun lalu, saat mas pergi.. itu sudah sangat berat sekali.." ucap Rania di sela isak tangisnya.
" Maafkan aku Ran.. saat itu tidak ada pilihan untuk tidak pergi..." Aksara memeluk istrinya,
" sebagai seorang kakak sangat bersalah padamu.. maafkan aku..?" Aksara memeluk Rania erat, dan Rania.. bukannya semakin tenang, tangisnya makin deras..
Ia seperti kembali ke masa lampau.. seperti menemui Aksara yang dulu, yang selalu ada untuknya, Aksara yang hangat dan penuh kasih sayang.
__ADS_1