
Dimas mengambil sapu yang di berikan tante Irma, ia menyapu sisa sisa sampah acara tahlilan sejam yang lalu.
Dimas menyapu dengan serius sambil mengangkat sedikit ujung sarungnya agar tidak kotor.
Diam diam Aksara mengawasi gerak gerik Dimas.
" Kau mau menatap Dimas sampai berlubang?" tanya om Surya duduk di sebelah Aksara.
" Tenanglah.. anak itu sudah bertahun tahun disini.. meski kadang slengean tapi dia tau tata krama.. Almarhum Bapakmu sayang sekali padanya,
entah karena merindukan sosok mu atau merasa bersalah..
Bapakmu mencurahkan kasih sayang selayaknya Dimas itu anak laki lakinya..
tapi Dimas tau diri.. dia menjaga jarak karena takut di gunjing orang.. " jelas om Surya panjang lebar.
" Apa om mengenal keluarganya?"
" Dia yatim piatu sejak kecil dan di rawat oleh Budhenya..
tapi aku sudah mencari tau segala sesuatunya tentang dia, Bapakmu sih yang sebenarnya mencari tau.. karena Bapakmu tidak mau Rania dekat dengan orang yang bisa membahayakan Rania kapan pun itu,
pokoknya percaya saja.. kalau dia ada niat buruk pada Rania bukankah harusnya sudah dari dulu..
lagi pula dia terlihat takut padamu.." om Surya tertawa sambil sesekali menghisap rokoknya.
" Piye.. ?" tanya om Surya tanpa memandang Aksara, keduanya masih sibuk mengawasi Dimas yang memunguti sampah dan menyapu.
" Apanya piye Om?"
" Bojomu.. (istrimu..)" suara om Surya tenang dan dalam,
Aksara diam tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa tentang Rania, ia juga malu jika harus membicarakan perihal rumah tangganya yang baru kemarin pada Om nya.
" laki laki itu harus tegas dengan perasaan nya, jangan biarkan seorang wanita menebak nebak perasaan dan ujung ujungnya salah faham.. "
Aksara tertunduk mendengar itu,
" kalau rindu ya bilang rindu, kalau sayang ya bilang sayang..
jangan sayang tapi pura pura kejam..
jangan rindu.. tapi pura pura tidak mau..
koreksi kalau Om salah ngomong.." lagi lagi om Surya tertawa sambil menepuk bahu Aksara.
" inggih Om.." jawab Aksara menunduk, ia seperti di ingatkan secara tidak langsung.
" Rania itu sudah bukan adekmu lagi.. tapi istrimu..
jangan salah memperlakukan nya.. "
Om surya menghembuskan asap rokoknya,
" Bapakmu.. laki laki yang baik, tirulah dia.. setidaknya caranya memperlakukan Almarhum ibumu dan almarhum ibu Rania selalu manis..
semarah apapun kalimat dan sikapnya tetap terjaga..
Bapakmu menitipkan Rania padamu seumur hidup.. bukan setahun dua tahun,
mungkin kau orang yang luar biasa baik dalam hal pekerjaan..
tapi belum tentu kau baik juga saat menjadi seorang suami..
jadi.. belajarlah bicara dengan cara yang benar pada istrimu.."
" sudah Om.."
" sudah apa? sikap kaku begitu.. siapa yang mau kau bohongi..
bahkan Dimas pun takut padamu..
apalagi Rania.." gumam Om nya,
" tidur saja belum kok bilang sudah.."
mendengar kata kata om Surya barusan sontak Aksara memandang Omnya itu, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain karena ekspresi kagetnya terlalu jelas, bagaimana om Surya tau kalau dia dan Rania belum tidur bersama..
apa mungkin Rania bercerita?,
" owalah lee.. lee.." om Surya tertawa melihat ekspresi Aksara yang berubah kaku.
" Rania tidak bilang apa apa.. tapi mataku dan mata Irma tidak bisa kau bohongi..
gelagat mu dan Rania terlalu terlihat jelas kalau kalian masih mempunyai jarak..
__ADS_1
ingat ya.. Om cuma memperingatkan.. istrimu itu banyak yang mengharapkan.."
" Om sengaja menakutiku..?" tanya Aksara tidak nyaman,
" ah.. mana ada Om menakutimu.. tanya saja Dimas..
berapa orang datang melamar istrimu sebelum kau pulang.. " jawab om Surya lalu bangkit.
" Wes.. pahami iku baik baik.." om Surya berjalan ke arah teras melewati Dimas yang masih sibuk bersih bersih.
" Yang bersih Dim, nanti istrimu brewok kalau nyapumu nggak bersih.." goda om Surya pada Dimas,
dan benar saja Dimas langsung sewot,
" mana ada perempuan brewok om!" jawab Dimas tegas sambil menekuk mukanya.
Akhirnya semua sudah selesai dan rapi kembali, tinggal bagian dapur saja yang belum di tata, karena jam sudah menunjukkan waktu yang cukup malam semua orang memutuskan untuk kembali besok.
Rania masih sibuk dengan mbak Yuni di ruang tengah, melihat itu Aksara masuk ke kamar, ia diam sejenak memikirkan kata kata om Surya.
Tapi malam ini ia cukup lelah.. jadi besok saja berpikirnya.. ucapnya dalam hati.
Aksara membuka lemari, mengambil celana pendek dan kaos oblong berwarna putih, itu warna kesukaan Bapak.. dan sejak kecil Aksara selalu di biasakan memakai sesuatu yang berwarna putih ketika tidur.
Tanpa bertanya kenapa Aksara menurutinya dan sekarang itu menjadi kebiasaannya..
Aksara melepas sarungnya dan mengganti dengan celana pendek,begitu juga dengan baju kokonya.. namun sayangnya belum sempat ia memakai kaos oblongnya, Rania tiba tiba masuk.
" Maaf Mas?!" Rania sontak membalikkan badannya,
Aksara melihat punggung Rania dan tersenyum dalam hati,
" kenapa minta maaf?" tanya Aksara,
" karena aku masuk tanpa permisi saat Mas mengganti baju.." jawab Rania dengan wajah memerah karena dia sempat melihat perut yang ber buku dan bahu yang kokoh milih Aksara.
" Berbaliklah.." ujar Aksara,
pelan pelan Rania membalikkan badannya,
Aksara yang sudah memakai baju itu duduk di tepi tempat tidur.
" Apa semua sudah selesai?" tanya nya kemudian,
" sudah Mas.." jawab Rania berjalan ke arah lemari dan mengambil baju tidurnya.
" sudah Mas.." jawab Rania berjalan melewati Aksara.
" Mau kemana lagi?" tanya Aksara menarik Rania dan menduduk kan nya di pangkuannya.
" Aku mau ganti baju Mas?" Rania berusaha berdiri tapi Aksara menarik ya lagi.
" Ganti baju kemana? disini saja.."
" Kan ada Mas Aksa??"
" memangnya kenapa, aku sudah pernah melihat setengahnya.. " jawaban Aksara membuat Rania benar benar tidak berkutik, wajahnya merah padam.
" Ran.." suara Aksara lembut,
" apa kau takut padaku?" lanjutnya,
" iya, eh! enggak Mas.. emh.. maksudnya kadang kadang.. " Rania menundukkan pandangannya, aduh.. keceplosan! gerutu Rania dalam hati.
" Dulu kau tidak takut.. kenapa sekarang kau takut?"
" karena dulu Mas tidak galak.."
" jadi sekarang aku galak??"
Rania mengangguk pelan,
Aksara menghela nafas dan menatap Rania lekat,
" Apa ada seseorang yang kau suka sebelumnya..? sebelum Bapak menyuruhmu menikah denganku?" tanya Aksara tenang,
Rania diam, ia tidak menjawab.
" Ada ya..?" tanya Aksara mengharapkan sebuah jawaban,
" tidak Mas.. " hanya itu yang terlontar dari mulut Rania.
Aksara diam sejenak.. ia berusaha menenangkan hatinya.
" Aku mau ganti baju dulu mas.. aku lelah seharian ini.. " Rania bangkit,
__ADS_1
" Aku sudah bilang.. tidak akan memaksamu jika kau tidak berkenan.. jadi jangan bersikap seperti kau akan ku mangsa..
apa kau lupa Ran, sebelum aku pergi.. kau menempel padaku setiap hari..
aku memboncengmu kemana mana,
kau bahkan tidak malu melihatku keluar dari kamar mandi meski aku hanya memakai handuk..
meneriaki ku " Mas!" sepanjang hari..
lalu apa kau kira aku akan tega memaksamu untuk melayaniku..??
malam itu aku memang bersikap kasar..
aku lepas kendali ketika mendengar kata perpisahan darimu..
dengarkan aku Rania, Aku memang brengsek meninggalkanmu dan Bapak untuk waktu yang lama..
tapi perasaan ku tidak pernah berubah sedikitpun.. " Aksara berdiri, raut wajahnya terlihat begitu sendu..
ia menahan dirinya untuk mendekati Rania, karena Aksara berfikir Rania masih belum membuka dirinya seutuhnya.
" biar aku yang keluar kalau kau mau ganti baju.." ujar Aksara berjalan melewati Rania dan keluar dari kamar.
Rania yang melihat itu tak bisa berkata kata, ia duduk di tepi tempat tidur.. sesekali ia mengelus dadanya untuk menghilangkan rasa gusar..
tapi tak lama kemudian ia menangis, Ia mengingat apa yang sudah terjadi 10 tahun yang lalu.
Bukannya ia tidak tau kalau Aksara menyayanginya..
Rania tau dengan jelas itu, Rania juga tau Bapak berusaha memisahkan keduanya mati matian setelah tau Aksara menyimpan perasaan untuk adiknya sendiri.
Rania mengetahui hal itu dari om Surya dan tante Irma, menurut cerita om Surya saat itu..
Bapak menjodohkan Aksara dengan putri temannya, perempuan itu mempunyai pekerjaan yang sama dengan Aksara... perempuan itu bernama Wulan,
Aksara berkali kali mengatakan pada Bapaknya kalau tidak suka dengan Wulan dan tidak akan menikah dalam waktu dekat karena ingin mengejar karirnya.
Namun Bapak tau kalau itu hanya alasan karena Aksara ingin tetap mendampingi Rania setiap saat.
Suatu hari seseorang menelfon Bapak..
entah siapa orang itu.. ia menyuruh Bapak untuk pergi ke rumah Wulan.
Bapak mengamuk karena menemukan Aksara sedang terbaring tak bersama dengan Wulan.
Bapak memaksa Aksara untuk segera menikah, namun Aksara menolak dengan keras dan bersumpah kalau dia tidak melakukan apapun pada Wulan karena kenyataannya Aksara memang hanya tidur saja.
Bapak tetap tidak mendengarkan meski Aksara memohon mohon agar Bapak mempercayainya..
ia bersujud dan bersumpah..
" Saya tidak menyentuh Wulan sedikitpun pak.. Demi Allah pak....
saya anak Bapak.. kenapa Bapak tidak mempercayai saya pak.. ??" tangis Aksara, ia bersimpuh di lantai sambil memegang kaki Bapaknya, namun Bapak bersikap keras.
Bagi Bapak apa yang di lihatnya adalah kenyataan yang sebenarnya.
Aksara yang kecewa karena tidak di percaya kata katanya, ia mulai berubah..
Aksara menjadi pribadi yang berbeda..
ia menjaga jarak dan bersikap dingin pada semua orang termasuk Rania,
ia bahkan hanya menumpang untuk tidur dirumah lalu berangkat kerja lagi.
Bapak semakin menentang hubungannya dengan Rania, bahakan suatu ketika Bapak sampai menghajarnya habis habisan, Aksara tidak melawan sedikitpun.
Bapak benar benar Akan mengusir Aksara jika Aksara tidak membuang perasaannya pada Rania dan segera menikah,
Namun Aksara adalah aksara..
ia memilih pergi dari rumah dari pada harus menikah dengan perempuan yang tidak dia cintai.
Rania yang masih usia awal remaja hanya bisa terdiam tanpa bisa melawan keadaan, ia hanya bisa patuh terhadap Bapak, karena setelah ibunya pergi hanya Bapaklah tumpuannya.
Rania selesai mengganti bajunya dengan piyama, lalu duduk di atas tempat tidurnya.
Ia menyeka sisa air mata di ujung matanya, lalu menghela nafas berat..
ingin merubah keadaan agar jauh lebih baik dan nyaman..
namun nyalinya terlalu kecil untuk memulai perbincangan yang serius dengan Aksara.
Hatinya tidak akan kuat melihat air mata Aksara lagi..
__ADS_1
luka Aksara sudah terlalu banyak di masa lalu.
jadi lebih baik ia diam dan tidak menyinggung tentang perasaan atau masa lalu yang sudah sangat menyakitkan itu.