Aksara Rania

Aksara Rania
kakak Safa


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Rania harus menemui kedua orang tua Randy dan safa.


Rania memijat mijat kepalanya,


" Ran? Rania?" suara Dimas mengejutkannya,


" jangan kagetin orang kenapa Dim?!" Rania emosi.


" Eh.. orang di panggil dari tadi, kau betul betul tidak mau ku temani?"


" Tidak, pulanglah dulu.. aku perlu berbicara secara leluasa dengan mereka.." ujar Rania.


" Ya sudah.. telfon aku kalau ada apa apa.."


" pak satpam dan tukang kebun kan masih ada di sekolah Dim, jangan repot kenapa?!"


" eh maemunah.. suamimu itu yang bikin repot, aku bisa di geprek sama dia kalau kau ada apa apa.., ya sudah aku pulang" Dimas berlalu keluar dari kantor.


30 menit kemudian.


" Tok tok tok.." terdengar suara pintu kantor di ketuk,


" Mama saya dan kakaknya Safa sudah datang bu?" Suara Randy yang biasa sekenanya tiba tiba menjadi pelan dan santun.


" Biarkan masuk.." jawab Rania merapikan buku di atas mejanya ke dalam laci.


" Selamat siang bu.." seorang wanita berusia 45 th an masuk, di ikuti seorang laki laki berusia 27 th an di belakangnya.


Rania sedikit terkejut, begitu juga laki laki itu, namun laki laki itu segera membuang senyum ke arah Rania, mau tidak mau Rania pun tersenyum.


" Perkenalkan saya wali kelasnya Randy dan Safa.. , sebelumnya mohon maaf karena menganggu waktu njenengan.."


" tidak bu.. kebetulan ayahnya Randy berhalangan hadir, jadi saya yang terpaksa hadir.." jelas ibu Randy,


" lalu njenengan?" Rania beralih ke laki laki berbadan tegap dan berkulit putih itu.


" Saya kaka kandung Safa bu.." jawab laki laki itu tenang.

__ADS_1


" Begini..." Rania terdiam sejenak, ia bingung bagaimana cara menjelaskan nya dengan kalimat yang sopan.


" Mohon maaf sekali.. saya mohon maaf..? tapi.. saya menemukan Randy dan Safa melakukan hal yang tidak pantas di dalam kamar mandi perempuan.


Deg.. wajah ibu Randy berubah seketika, namun berbeda dengan kakak Safa, rautnya tetap tenang.


" Ibu melihatnya sendiri?" tanya ibu Randy,


" iya, saya melihatnya sendiri bu.. apa ibu meragukan saya..?"


" tidak bu.." Ibu Randy tertunduk ia tampak malu dan kecewa.


" Apa Randy akan di keluarkan dari sekolah?" tanya sang ibu menahan air mata di sudut matanya.


" Iya kalau saya melaporkan nya pada kepala sekolah.. tapi saya tidak berniat melaporkannya, asal mereka berubah.." suasana hening sesaat,


" Saya mohon, beri pengertian ketika mereka dirumah.. jangan sampai masa depan mereka hancur hanya karena masa muda yang tidak terarah.. "


" Saya sudah lelah menasehati Randy bu.." dan air mata ibu Randy turun juga,


melihat itu Rania merasa tidak enak, hatinya ikut sakit.


" silahkan bu.." jawab ibu Randy.


Rania berbincang cukup lama dengan kakak dan ibu Randy, hingga akhirnya mereka Mencapai kesepakatan untuk mengawasi keduanya dengan serius dan memberi pengertian pengertian yang bisa di terima oleh mereka.


" Tolong tinggalkan nomor yang bisa saya hubungi, jadwal home visit akan kami sampaikan nanti..",


Setelah Rania mendapatkan nomor kakak dan ibu Randy, Rania mempersilahkan keduanya untuk pulang.


15 menit setelan keduanya pulang, Rania juga memutuskan untuk pulang, ia berjalan keluar dari kantor dan menuju parkiran.


" Saya menunggu ibu.." suara seorang laki laki mengagetkan Rania,


" saya tidak menyangka, ternyata yang saya selamatkan dari kecelakaan waktu itu adalah wali kelas Safa.." laki laki itu tersenyum tipis.


" Bapak bukannya sudah pulang dengan ibu Randy sejak tadi?" tanya Rania heran.

__ADS_1


Laki laki itu tersenyum dan mendekat.


" Ada hal yang harus saya bicarakan dengan ibu, tidak di depan orang lain" jawab laki laki itu tenang namun tegas.


" Sepengetahuan ibu, apa adik saya dan Randy sudah sampai ke tahap itu?"


Rania diam sejenak,


" maaf.. mohon tanyakan pada Safa sendiri.."


" Safa tidak akan pernah menjawab saya, jadi tidak ada gunanya saya bertanya padanya"


" saya juga tidak berhak untuk menjawab pak, maafkan saya..


tujuan saya memanggil bapak kesini adalah demi perubahan Safa ke arah yang lebih baik.." ujar Rania.


" Dia adik saya satu satunya bu, orang tua kami sudah meninggal,


apa yang harus saya lakukan pada bocah kurang ajar itu menurut ibu? dia sudah merusak adik saya, saya bahkan bisa mengurungnya di balik jeruji besi, bahkan mungkin itu blm cukup!


tidak kah ini penghinaan bagi saya yang merupakan petugas kepolisian?!


kalau ibu tidak mau menindak tegas anak laki laki itu, saya yang akan memindahkan Safa dari sini!" tegas laki laki itu dengan wajah menahan kesal.


" Saya akan menghadap kepala sekolah besok, anak itu harus di keluarkan dari sekolah, dan saya mau dia di blacklist dari sekolah manapun" imbuhnya lebih tenang.


" Biarkan Safa bersama saya untuk sementara.."


" kenapa saya harus membiarkan dia tinggal bersama ibu? apa ibu ingin menjadi tempat untuknya bersembunyi?"


" beri saya 1 minggu, saya akan berusaha merubah pemikirannya.. jika memang tidak bisa, di pindahkan atau bahkan putus sekolah, itu semua hak anda sebagai walinya.."


Laki laki itu diam, terlihat sekali rahang nya yang mengetat karena menahan amarah.


" Saya mau tinggal dengan ibu?!" Safa tiba tiba keluar dari mobil dan memegang lengan Rania.


" Safa!!" suara laki laki laki itu membuat adiknya gemetar.

__ADS_1


" Mohon kendalikan diri pak, ini lingkungan sekolah.." peringat Rania.


__ADS_2