
Aksara membantu Rania turun dari mobil, Rania sedikit heran karena ada mobil yang terparkir di depan rumah mereka, Rania juga tidak begitu faham itu mobil siapa.
" Ada siapa dirumah?" tanya Rania pada suaminya yang fokus mengikuti langkahnya dari belakang,
" Mas??" ulang Rania lebih keras, Rupanya Aksara tidak begitu memperhatikan ucapan Rania, ia terlalu fokus dengan langkah Rania, ia bersikap siaga yang sewaktu waktu bisa menangkap Rania jika tiba tiba tersandung atau terjatuh.
Rania mulai sedikit kesal dengan sikap suaminya yang seperti itu sejak tadi.
" Mas...?" Rania setengah melotot,
" hemm.." jawab Aksara masih dengan sikap berjaga jaga di belakang Rania,
" tidak ada kerikil ataupun batu disini mas, aku tidak akan jatuh, aku juga akan berhati hati.. jadi berhenti bersikap seperti itu Mas,"
mendengar itu Aksara berfikir sejenak,
" dokter bilang kondisimu rentan.." ujar Aksara khawatir,
" itu karena aku kemarin stress.."
" jadi sekarang sudah tidak stress..?"
" dasar anak anak.." gumam Rania terdengar Aksara,
" bisa ya ngejek Mas anak anak.. ?"
" ya memang Mas kadang begitu.." Rania kembali berjalan ke arah teras rumah,
" tapi saat di tempat tidur kau tidak pernah bilang aku anak anak?" goda Aksara sambil mengikuti langkah istrinya.
" Bahasnya itu terus.." gerutu Rania sembari menahan malu.
" Habisnya.."
" habisnya apa?"
" kangen Ran..?" Aksara memeluk pinggang istrinya begitu saja dari belakang,
menciumi pundak dan pipi istrinya.
Rania yang malu karena sedang berada di depan teras rumah berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya, namun tenaga Rania tidak bisa di bandingkan dengan tenaga Aksara yang sudah menahan rindu seminggu lebih itu.
" Woy?! tingkah mu seperti berandalan saja!" suara Marlin keras mengagetkan Aksara dan Rania, ia keluar dari dalam rumah dan melempar Aksara dengan kardus kecil.
Pandangan Aksara dan Rania beralih ke arah pintu rumah mereka, Aksara yang sudah tau ada teman temannya di dalam rumah bersikap santai, berbeda dengan Rania, rautnya kaget bercampur malu.
Tanpa melepaskan pelukannya Aksara memasang wajah tidak senang.
" Enak saja bilang aku berandal.. !" ucap Aksara dengan wajah manyun.
" lalu apa namanya, istrimu baru sembuh masih saja kau rayu dan cumbui di luar rumah?!" Marlin ketus,
" ini bukan di luar rumah! ini halamanku tau! jadi ini termasuk rumah!"
jawaban Aksara membuat Farhan yang sejak tadi di dalam diam diam tertawa,
" Tahan tahan lah sedikit sa.. ada anak dan istri kami di dalam.." suara Farhan sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Mendengar itu Aksara langsung melepaskan tangannya dari istrinya,
" Kalian kan tidak bilang kalau anak istri kalian ikut?" protes Aksara merasa bersalah,
" kalau libur begini gausah ngomong.. harusnya kau tau anak istri kami otomatis ikut..?!" omel Marlin blm puas memarahi Aksara,
" Ah, iya iya Masuklah sana.." ujar Aksara sembari memandang istrinya yang sejak tadi mematung,
" kenapa?" tanya Aksara melihat wajah istrinya merah padam,
" sudah, tidak apa apa.. temanku memang begitu.. aku lupa bilang mereka kesini untuk merayakan kehamilanmu.. ayo masuk.."
" bisa bisanya mas begitu di depan orang?" Rania menatap suaminya itu heran dan kesal, rasanya ia ingin mencari lubang dan bersembunyi.
Aksara tersenyum lebar,
" jangan marah sayang.. jangan menyalahkan rinduku.. toh ini rumah kita.. mereka saja yang rese menganggu keromantisan kita.. " ujar Aksara dengan wajah manja dan masih sempat sempatnya mencuri satu kecupan di bibir Rania.
Suasana Ramai, anak anak Marlin dan Farhan berlarian.
__ADS_1
Rania, dan istri Marlin sedang mempersiapkan sambal di dapur,
sedangkan Istri Farhan mengawasi anak anak yang sedang bermain.
" Sudah, tidak usah di bantu.. adek kan baru sehat.. ini mudah biar mbak yang kerja ini sendiri.." ujar Istri Marlin merebut pisau di tangan Rania dan mengantikan Rania mengupas bawang juga memotong sayuran.
Meski bukan orang jawa tapi istri Marlin pernah kuliah di jawa,
jadi ia tidak aneh dengan panggilan Mbak atau Mas, dia bisa menyesuaikan diri dengan orang jawa dengan mudah, bahkan lebih mudah dari pada suaminya.
" Kalau begitu biar saya yang cuci sayur nya ya??"
" ya sudah.. sayur saja ya, tidak boleh tambah lagi.." istri Marlin tersenyum sambil menggeleng kepala,
" pantas saja.. si Bapak lengket, ibunya imut imut begini.." celetuk istri Marlin yang juga gemas melihat tampilan Rania yang mungil seperti anak SMA,
" mana ada imutnya saya ini.. pendek yang ada.." jawab Rania sembari memindahkan sayur yang sudah bersih ke dalam wadah yang lebih besar.
" mana bisa 25 tahun di bandingkan dengan 30 tahun..?" istri Marlin tertawa,
" jangan begitu mbak.. jangan bahas umur, kita bahas yang lain saja.. mbak kan juga pernah berada di usia saya.. dan nanti saya juga ada pada usia mbak sekarang.. siklus saja kan mba..
kita pasti menua..." Rania tidak enak meski istri Marlin hanya bercanda.
" Ya sudah.. kita bahas kehamilanmu saja... bagaimana?"
" bagaimana? tentu saja saya bahagia.. " jawab Rania sembari memegang perutnya meski belum terlihat adanya perubahan sama sekali,
" kalau begitu sehat sehat ya.. jangan banyak berfikir yang tidak tidak..
suamimu mencintaimu.. kami tau itu dengan baik dek.."
" iya mbak.. terimakasih, karena sudah memperlakukan kami dengan baik.. dan selalu menganggap kami keluarga.." ucap Rania tulus,
" suamiku dan suamimu sudah jadi teman sejak dulu, sebelum menikah denganku mereka sudah bersama..
jadi wajar saja kalau akhirnya mereka seperti saudara.. jangan sungkan dek.. "
Rania tersenyum sembari mengangguk,
" Eh, sekarang kita buat kapurung nya.. sebentar, dimana ku bawa tadi..?" istri Marlin lupa dimana ia menaruh tepung sagu yang ia bawa dari rumah tadi.
" Oi..! Marlinoo?!!" panggilnya lagi karena Marlin tak kunjung menyahut.
" Untung saja jendelamu tidak retak.." ujar Marlin setelah menyerahkan barang yang di cari istrinya dan kembali duduk diantara Farhan dan Aksara yang sedang sibuk mengipasi ikan yang sedang mereka bakar.
" Kau sih, suara istrimu kencang begitu tidak segera bangun.." komentar Farhan,
" disitulah romantisnya kalian.." celetuk Aksara sembari terus mengipasi ikan,
" romantis dari mana?" Marlin mengerutkan dahi,
" pandanglah sesuatu itu dengan cinta, maka segalanya indah..
istrimu memanggil namamu sekeras itu karena apa coba..?
karena dalamnya perasaan nya padamu.."
" perasaan marah yang mendalam maksudmu?" Raut Marlin serius tak ada hawa bercanda sedikitpun.
" Eh.. benar kata Aksara.. itu panggilan sayang.. Marlinoo Marlino sayang.. hanya sayangnya saja yang terlupa, jangan cemberut begitu..
sini sini.. kau kipas ikan saja.." Farhan menengahi, dia memberikan kipasnya pada Marlin.
" Kau jangan marah marah terus padaku kenapa.." ujar Aksara setelah agak lama melihat wajah Marlin terus di tekuk.
" Aku ini mau jadi ayah.. skip dulu lah marah marahmu padaku.. aku sedang berbahagia ini.." imbuh Aksara,
Marlin hanya melirik tak menjawab,
" ku panggilkan istrimu lho kalau kau terus ngambek padaku?" ancam Aksara,
" eh.. ancaman macam apa itu, tidak berlaku.. " jawab Marlin santai,
" Papa?! papa?! mama panggil itu..!" dua orang anak marlin berlari kearahnya dan menarik nariknya,
" Mamak kalian panggil?" tanya Marlin pada kedua anaknya,
__ADS_1
" iyee..!" kedua putranya mengangguk ,
Marlin sontak bangkit dari duduknya,
" Kalian urus dulu.." ujar Marlin bejalan masuk dengan langkah cepat. Aksara dan Farhan saling memandang dan tersenyum saja melihat Marlin.
Ilham bangkit dari tempat tidurnya dan merebut kunci mobil dari tangan Wulan,
" Aku bisa membunuh orang kalau kau terus begini..!" tegas Ilham dengan cepat berdiri di depan pintu kamar.
" Minggir.." suara Wulan tenang,
" tidak.. " Ilham menyandarkan punggungnya pada pintu,
" ku kira kita sudah berdamai.. ku kira kita bisa melanjutkan pernikahan kita dengan baik..?" nada suara Ilhan melemah.
" Minggu minggu ini kau bertindak seperti kita adalah pengantin baru.. aku tidak berkomentar dan menurutimu,
tapi sekarang aku terganggu,
aku merasa kontak fisik kita sudah berlebihan, jadi aku memutuskan akan tinggal di tempat lain selama keputusan cerai kita belum fix.." Wulan menarik kopernya, namun Ilham memegang koper itu, sehingga Wulan kesulitan untuk memindahkannya.
" Kau bilang apa? kontak fisik kita berlebihan?" suara Ilham tertahan,
" aku suamimu, suami sah mu! kau bilang sentuhanku berlebihan..?"
" lepaskan?!" tegas Wulan, keduanya saling menatap.
" Jadi kau takut dan mau melarikan diri? kau mau mengingkari janji?"
" kenapa aku harus takut?" Wulan melepaskan kopernya,
" ya sudah, ambil.. ambil saja.. aku akan keluar tanpa membawa apapun dari rumah ini"
Wulan berusaha menggapai pintu tapi Ilham tetap menghalangi.
" Kau tidak mengakuinya.. kalau kau takut..?" sekarang Ilham memegang lengan kanan Wulan agar tidak sampai ke pintu.
" Apa yang harus ku takutkan dari laki laki tidak berprinsip sepertimu?"
" laki laki tidak berprinsip??"
" jangan kira karena kita selalu tidur bersama beberapa waktu ini aku akan dengan mudah melupakan kesalahan mu di masa lalu,
kau sengaja merayuku kan? agar aku luluh dan menghentikan perjanjian cerai kita?"
Ilham diam, ia tidak bisa menyanggah..
karena yang di katakan Wulan itu memang benar,
ia bersusah payah mengambil hati istrinya kembali, meski singkat Ilham berharap moment moment yang pernah mereka lakukan akan mengingatkan Wulan kembali akan hubungan mereka yang harmonis dulu.
Satu minggu ini Ilham merasa tenang, karena minggu ini adalah minggu terbaik untuk Ilham, karena Wulan bersikap sedikit melunak dan tidak pernah menolak Ilham.
Yang membuat Ilham paling senang adalah ia bisa memeluk Wulan di tempat tidur seperti dulu lagi, membelai dan mengecup keningnya.
Tapi ia tidak menyangka ternyata itu hanya sementara, Wulan seperti terbangun dari tidurnya dan tiba tiba berontak kembali, itu membuat Ilham frustasi, sehingga ia mencegah dengan berbagai macam cara agar istrinya itu tidak pergi dari rumah.
" Katakan dengan jujur.. kau pergi karena kau takut rasa cintamu timbul lagi padaku?
atau.. keputusanmu pergi sekarang jangan jangan karena hatimu memang sudah mulai terisi lagi olehku?" tanya Ilham tenang,
Wulan terdiam, ia tak menjawab dan hanya membuang pandangannya ke arah lain.
Ilham tersenyum sekilas,
" benarkan...? aku mulai memenuhi hatimu.. dan sekarang kau mau lari dari kenyataan itu?"
" omong kosong..!"
" omong kosong? beberapa hari ini kau tidur di pelukan ku.. padahal sudah bertahun tahun kau tidak mengijinkan aku begitu.. kau bilang semua itu omong kosong?
jadi kau melambungkan ku tinggi, lalu kau menghantamkan aku ke tanah dengan sengaja?? teganya..
aku memang pernah berdosa, sudah bertahun tahun aku membuktikan padamu bagaimana aku berubah, kau istriku Wulan.. bagaimana kau anggap semua ini omong kosong..
kasihani Ami kita.. ?" mohon Ilham
__ADS_1
" aku tidak ingin ada keributan, kita tetap bercerai, dan aku tidak akan membawa sepeserpun hartamu.. jadi menyingkirlah.." ucap Wulan tajam, membuat kedua kaki Ilham seperti kehilangan kekuatan untuk berdiri seketika.