Aksara Rania

Aksara Rania
kesempatan kedua


__ADS_3

Aksara terdiam, ia hanya bisa berdiri di bawah pohon di sebrang jalan.


Ingin rasanya menyeret Ilham yang setengah berlutut di hadapan Wulan itu.


Aksara menoleh ke arah sekitar, untungnya jam makan siang belum habis, jadi suasana parkiran bintal masih sepi.


Aksara pun sesungguhnya berniat makan siang dirumah, tapi ia tidak sengaja melihat pemandangan ini dan berhenti.


Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas..


Ilham dengan posisi seperti itu pastilah sedang memohon.


" astaga... " kalimat itu keluar dari mulutnya lirih, ia tidak habis pikir, laki laki dengan posisi yang jauh di atasnya itu menunjukkan sisi lemah seperti itu di tempat seperti ini.


Aksara Makan sedikit terburu buru karena waktu istirahatnya sudah mepet.


Rania heran melihat tatapan suaminya itu yang seperti tidak fokus saat makan.


" Ada apa?" Rania duduk disamping suaminya,


" makan kok sambil melamun Mas.."


" ah.. tidak.." jawab Aksara sambil tersenyum sedikit,


" bilang.. ada apa..?" tanya Rania khawatir,


" hemm..itu.." Aksara terdiam sejenak,


" Mas.. Ilham,"


" kenap mas Ilham?"


" kasian.. "


" jadi ajukan cerai??"


Aksara mengangguk,


" lho.. benar benar si mbak Wulan, terus Anaknya gimana?"


" sama mas Ilham, nyari ibunya terus..."


Rania terhenyak mendengar itu, trauma akan perpisahan orang tuanya dulu tiba tiba muncul kembali,


Rania kecil yang kebingungan..


dan hal hal tidak menyenangkan lainnya, yang dampak dari sebuah perceraian itu sangat lah luar biasa bagi anak.


" Kok ikutan melamun.." Aksara melihat sorot mata istrinya yang ikut sedih,


" apa mba Wulan masih sering menggoda mu Mas?"


" tidak.. justru setelah memutuskan bercerai ia tidak pernah menggangguku sama sekali.."


" jangan jangan ia mau bercerai.. karena masih ingin.."


" hussh..!" Aksara memotong kalimat Rania,


" bicara yang baik baik, dia menggangguku selama ini ternyata hanya untuk menyakiti mas Ilham..


dia memang membuat kesalahan yang besar pada kita.. tapi mau bagaimana, semua itu sudah berlalu..


yang penting kita sudah bersama,


anggap saja 10 tahun itu ujian kita.."


Aksara menenangkan istrinya,


" Sebenarnya Mas bisa pulang sebelum 10 tahun, tapi mas saja yang tidak mau pulang.." Rania manyun,


" Memangnya kalau aku kembali sebelum 10 tahun kau akan mau menikah denganku..?"


" ya emboh.."


" lho.. koo ya emboh.." Aksara tertawa,


" tau nggak apa yang mas pikirkan saat itu.. ?"


" apa.."


" kalau aku mendengar kau akan menikah dengan seseorang, baru aku akan pulang.."


" untuk melihatku menikah dengan orang lain?"


" tidak.. untuk membawamu lari.." Aksara tersenyum dan mencubit pipi istrinya,


" memangnya aku mau di ajak lari? belum tentu..."


" kenapa belum tentu? ada laki laki yang lebih menawan dari Mas di pikiranmu?"


" menawan? terlalu percaya diri.."

__ADS_1


" ahahaha..., lha terus kenapa, apa si adik tidak pernah tau kalau kakaknya mencintainya sejak dulu?"


" aku tau.. tapi Rasanya tidak mungkin saja, lagi pula Mas kemarin kemarin galak sekali kepadaku,


siapa perempuan bodoh yang mau ikut laki laki yang galak kepadanya.."


lagi lagi Aksara tertawa melihat ekspresi kesal istrinya saat bicara.


" Aku tidak galak.. aku sayang padamu Ran.."


" mana ada orang sayang seperti itu.. judes.."


" itu karena Bapak memarahiku, lalu aku berusaha membuang perasaanku padamu..


ku kira akan mudah jika seperti itu,


nyatanya tidak.. "


" ngapusi.."


" lho.. kok ngapusi..?"


" setahuku orang yang mencintai itu tidak sanggup berjauhan terlalu lama..


apalagi bertahun tahun.."


" nah.. ini...


sayangku.. Mas orang seperti apa hanya Rania yang tau,


Mas tidak mau kembali bukan karena tidak mencintai Rania,


tapi Mas kecewa sekali pada bapak,


Rania tau orang seperti mas jika kecewa itu seperti apa kan..


apalagi bapak adalah satu satunya tempat mas bersandar dan berlindung.."


" tapi Bapak sudah meminta maaf padamu Mas.."


" benar... tapi setiap Mas ingat Bapak memukul dan mengusir Mas, rasa nelangsa tidak dapat Mas bendung, dan Mas masih belum sanggup bertemu sosok Bapak..


kekecewaan mas pada Bapak lumayan besar..


andaikan saat itu Bapak mempercayai mas, dan mau mencari tau dengan benar..


Rasa kecewa yang mas tanggung tidak akan sebesar itu.."


" Maafkan aku, aku mengganggap mas laki laki yang tega untuk beberapa waktu.."


" Aku mencintaimu Ran.. baik itu dulu.. baik itu sekarang, dan ke depannya.. aku akan berusaha yang terbaik untukmu dan anak kita..


aku tidak akan berjanji, tapi aku akan terus berusaha membahagiakanmu.."


Aksara menggenggam tangan istrinya sembari melempar senyum.


" Mas lanjut maem nya, nanti terlambat.." Rania mengingatkan suaminya itu, karena waktu sudah mepet.


Marlin baru saja keluar dari kantin sembari membawa secangkir kopi,


" Weh.. sudah ku bilang jangan minum kopi.. " Farhan mengingatkan,


" sekali saja.. cuma secangkir, jangan ramai kau ini..?!" Marlin buru buru membawa kopinya masuk ke dalam ruangan.


" Jangan salahkan aku ya, kalau asam lambungmu naik.."


" ah.. sudah mi, jangan berisik.." Aksara melihat Marlin masuk dan menaruh secangkir kopi di ujung mejanya.


" Aku telfon istrimu ya?" suara Aksara pelan namun penuh ancaman.


" ehh!! kalian ini teman ku apa teman istriku?!"


" kau kalau sudah masuk rumah sakit lama keluarnya.. sadar tidak, kalau kau tiba tiba jatuh meringkuk, jangan harap aku menolong mu.."


" benar itu, susah di beri tau.. " Farhan yang baru masuk ke ruangan ikut berkomentar.


" Wulan ada di ruangan?" tanya Aksara tiba tiba,


" ada, kenapa?" tanya farhan,


" aku mau bicara padanya sebentar, siapa yang mau menemaniku?"


" berangkat saja sendiri.. kesini kesitu saja kau minta antar?!" sahut Marlin sambil menyeruput kopi.


" Bukannya begitu.. aku takut ada fitnah kalau aku menemuinya sendiri, seperti tidak tau saja pandangan sekitar.." jelas Aksara,


" ajak Farhan saja, malas aku melihatnya.." komentar Marlin sinis.


Dengan langkah tenang Aksara masuk keruangan Wulan di temani Farhan,


" aku ingin bicara sebentar, luangkan waktumu" ujar Aksara langsung duduk tanpa disuruh.

__ADS_1


Wulan menghentikan kesibukannya, ia menatap seluruh ruangan, anggota yang biasa ya duduk dan mengetik di ujung ruangan sedang tidak di tempat,


ia hanya menemukan Farhan yang duduk di kursi dekat pintu.


Pandangan Wulan dan Farhan beradu sejenak.


" Anggap saja aku tidak ada" ujar Farhan seperti tau Wulan tidak nyaman dengan kehadirannya.


" Mimpi apa aku semalam, akhirnya kau berinisiatif datang kepadaku.." Wulan tersenyum tipis.


" Aku datang sebagai seorang teman.. meskipun kau pernah menyakitiku,"


suara Aksara tenang,


Wulan menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.


" Kau bukan temanku, tapi teman Ilham, dan kau kesini pun karena Ilham, aku baru tau kau se cinta itu terhadap suamiku..


pantas saja aku tidak berhasil meski sudah susah payah menggoda mu.."


ucapan Wulan sedikit mengejek, sorot mata dan ekspresi wajah wanita itu datar, seperti tidak ada perasaan dan emosi yang bisa Aksara tangkap.


" Aku kesini demi anak kalian..


bukan demi kau atau mas Ilham,


sebenarnya aku tidak mau ikut campur urusan orang,


apalagi orang itu dirimu,


aku tidak bisa diam saja melihat ini, karena telingaku mendengar sendiri kalau anakmu selalu mencari mu"


Aksara menatap Wulan dengan serius, ia berharap perempuan di hadapannya ini bisa mengubah pikirannya.


" Aku sudah mengajak Ami, tapi mas Ilham mencegahku, kalau aku berebut dengannya itu akan semakin melukai Ami..


jangan kau kira aku tidak mencintai putriku,


kenapa orang orang mengganggap ku tega kepadanya, padahal tidak sekali dua kali aku memintanya pada mas Ilham"


jelas Wulan masih dengan ekspresi datar.


" Kalau kau mencintai putrimu harusnya kau tidak mengambil keputusan ini,


alasanmu bisa di mengerti jika mas Ilham sampai detik ini masih bersikap buruk,


namun mas Ilham sudah jauh berbeda dari yang dulu" tegas Aksara dengan suara terkendali.


" Apa yang kau cari sebenarnya? kau sengaja menyiksanya? atau ada pihak lain diantara kalian?"


Wulan tersenyum tipis,


" pihak lain? kau membicarakan dirimu sendiri?"


" bicara yang benar! aku tidak pernah menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, kau saja yang selalu menyeret ku seakan akan ini semua di sebabkan karena kau menyukaiku?! padahal kau hanya ingin menyiksa mas Ilham!"


Aksara hampir kehilangan kesabaran nya.


" Sa.. sabar sa.." suara Farhan mengingatkan.


" Mas Ilham dan anakmu selalu menunggumu dirumah, jadi tarik pengajuan mu dan pulang lah baik baik, sebelum kau menyesali segalanya" imbuh Aksara lebih tenang.


" Belajarlah legowo, maafkan dia, yang berlalu biarkan berlalu..


seperti aku yang legowo memaafkan mu,


mas Ilham sudah menebus kesalahanya.. dia bahkan menerima kelakuanmu yang buruk selama ini karena dia ingin kau tau kalau dia sudah berubah.. "


Wulan diam, ia tak menjawab sepatah kata pun.


" Kau masih mencintainya, aku tau dengan jelas itu.."


" kau sok tau ya.." jawab Wulan membuang pandangan nya.


" Pikirkan baik baik.. mas Ilham amat mencintaimu, dan putrimu menunggu mu dirumah.. " lagi lagi Aksara memberi pengertian.


" Kau mengesampingkan rasa sakit ku..


semua orang memikirkan suamiku, tapi tak pernah memikirkan bagaimana aku.." suara Wulan tenang.


" Kau berhak memberi suamimu kesempatan kedua.." Farhan tiba tiba ikut bicara.


" Jika setelah kesempatan yang kau beri dia menyakiti mu dan tidak menghargai mu, meski kau menendangnya sekalipun aku akan mendukungmu,


tapi selama suamimu masih setia dan bertanggung jawab..dia berhak kau beri kesempatan.." imbuh Farhan,


Aksara langsung menoleh ke arah Farhan yang sedang duduk santai dengan kedua tangannya yang terlipat di dada.


Aksara kaget, kata kata seperti itu bisa keluar dari mulut Farhan.


" Benar kata Farhan, kau wajib memberinya kesempatan, pikirkan itu baik baik" ujar Aksara bangkit dari duduknya, dan tanpa pamit dia langsung berjalan keluar dari ruangan Wulan, tak lupa Farhan mengikuti langkah Aksara.

__ADS_1


__ADS_2