Aksara Rania

Aksara Rania
penderitaan


__ADS_3

Pagi ini sedikit berbeda untuk Aksara, ini pertama kalinya ia bangun dan menyaksikan Rania masih terlelap di atas tempat tidur.


Rania memang pernah kesini sebelumnya,


tapi mereka tidur terpisah.


Semalam Aksara berfikir Rania akan mengambil kamar lain.


Tapi ternyata Rania tidur di kamar yang sama dengan Aksara.


Tentu saja Aksara senang dengan hal itu, meskipun tidak bisa menyentuh tapi Aksara bisa memandangi Rania yang terbaring disampingnya setiap malam.


Rania mungkin kelelahan, setelah datang ia langsung merapikan bajunya di lemari dan sedikit membersihkan kamar.


Aksara memandanginya..


bagaimana mungkin wajahnya tidak berubah jauh, dari 17 tahun sampai 25 tahun masih saja sama, hanya saja sikapnya sekarang dewasa dan lembut.. tidak petakilan seperti masih remaja dulu. Orang tidak akan mengira ia seorang guru jika ia tidak menggenakan seragam.


Tubuhnya mungil seperti tidak bisa tumbuh lagi lebih dari ini.


Memikirkan itu lama lama membuat Aksara kesal, tampilannya yang mungil itu membuat orang selalu mengira kalau Rania masih single dan masih SMA atau bahkan masih Kuliah.


hal semacam itu yang paling membuat Aksara kesal, seperti seseorang bisa merebut Rania kapan saja dari sampingnya.


" Apa aku perlu membuat tanda 'bersuami' di dahi mu?, atau aku harus mengikatmu di dalam rumah agar tidak ada laki laki lain yang bisa memandang mu ?" ujar Aksara lirih sambil terus menatap istrinya yang sedang terlelap itu.


Marlin menyambut Aksara di parkiran kantor,


" Pagi Ganteng.. wah, sarapan masakan istri ini pastinya..?!" goda Marlin dengan logat khas sulawesi selatannya sambil menepuk punggung Aksara dengan ceria.


" Dia masih tidur " jawab Aksara pendek sambil melangkah masuk ke kantor.


" Eh..?!! begitu sudah benar.. , berapa kali semalam??" Marlin heboh sendiri, pikirannya tertuju pada satu hal.


" Ahh.. jangan bahas seperti itu di kantor " jawab Aksara Berhenti di depan ruangannya.


" Ehh.. benar benar, Aku ini mau menyampaikan pesan, nanti malam ada acara perayaan, semua perwira wajib hadir.. "


" Acara apa?"


" Bagaimana kau ini.. perayaan ulang tahun pernikahan komandan.. pas toh nanti malam sabtu, kebetulan istriku tidak bisa datang mi.. aku bisa pulang lama lama.. hihihihi.." Marlin benar benar ceria hari ini, Aksara sampai geleng geleng kepala melihatnya.


" Ini kantor, bukan rumah.. jaga sikapmu.." ujar Aksara masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Marlin yang masih berdiri di depan pintu.


Rania Bangun,


" Astagaa..." keluhnya pelan setelah melihat jam, ia bangun sangat terlambat, dan sepertinya suaminya sudah berangkat tanpa membangunkannya.


" Selamat pagi ibu..?" sapa seorang asisten rumah tangga yang berumur sekitar 40 tahun itu, Ia sedang sibuk mengisi air kolam yang sepertinya baru di kuras.


" Sarapannya mau di panaskan lagi bu?" tanya si asisten,


" nggak usah bu, saya makan nanti saja.." jawab Rania duduk di teras samping sambil melihat kegiatan si asisten rumah tangga.


"Betah bu?" tanya si asisten tersenyum,


" betah.. " jawab Rania juga tersenyum.


" Disini jam 9 pagi sudah panas bu, beda dengan di tempat ibu ya.. kata Bapak tempat tinggalnya di jawa dingin.. mungkin itu sebab Bapak kalau libur kerja tidak pernah keluar keluar.. dirumah saja terus.. "


" masa Bapak tidak pernah main? "


" ya kadang ada pak Marlin dan teman lainnya yang datang.. bakar bakar bu.."


"bakar bakar? "


" iya.. Bapak sering beli ikan besar besar di pasar.. "


" kadang memancing di laut juga..." tambah si asisten.


Rania hanya tersenyum saja melihat itu.


" Bapak tadi berangkat jam berapa? "


" setengah 7 bu.. , oh iya.. ada pesan dari bapak.."


" apa? "


" ibu kalau mau ke pasar atau belanja keperluan apapun sementara ke pasar daya dulu saja, karena itu yang terdekat.. terus kata Bapak kunci motornya di atas meja ruang tengah bu..


kata Bapak hati hati bu.."


" saya tidak ada rencana kemanapun.. lagi pula motor itu terlalu besar bu, saya takut jatuh.." jawab Rania.


Motor yang terparkir di garasi memang matic, tapi itu salah satu matic yang ber body besar.


Laki laki memang akan terlihat gagah jika memakainya, tapi untuk tubuh Rania yang kecil, ia sedikit kurang yakin akan baik baik saja di jalan raya yang sedikit ramai.


Aksara pulang menjelang magrib, Ia terlihat membawa beberapa belanjaan di tangannya.


" ibu mana?" tanya Aksara melepas sepatunya sembari bertanya pada asisten rumah tangga.

__ADS_1


" Baru selesai mandi pak.. di kamar.." mendengar itu Aksara langsung ke kamar dan membawa bawaannya.


" Mas?!" Rania yang kaget sontak menutupi tubuhnya dengan handuk.


Aksara yang buru membuka pintu itu seperti mendapatkan anugerah dari Tuhan, dia melihat istrinya hanya mengenakan pakaian dalam, dan yang tertutupi hanya bagian bawah nya saja, tentu saja itu seperti pencerahan..


Aksara bisa leluasa memandangi bagian lain yang tidak tertutupi apapun.


Diam diam dia tersenyum dalam hati, pura pura tidak terjadi apapun Aksara tetap masuk ke dalam kamar dengan menundukkan sedikit pandangannya.


Ia mengunci pintu kamar dan menaruh bawaannya di atas meja.


" Apa..?, orang tidak sengaja.. " ujar Aksara merasa di beri tatapan yang tidak menyenangkan dari Rania.


" Terus kenapa malah masuk?" tanya Rania masih memegangi handuknya agar bagian dadanya tertutupi.


" Lha trs? kenapa aku tidak boleh masuk? ini kan kamarku juga.." jawab Aksara sambil membuka atasan PDH nya.


" Tapi aku kan ganti baju mas??"


" terus kenapa? kau kan istriku.. masalahnya dimana.. lagi pula aku juga ganti baju di depanmu nih.. liat liat.. " Aksara melepas kaos lorengnya, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang proporsional itu, bahu yang bidang dan perut yang di penuhi Abs, membuat Rania mundur selangkah..


ia sedikit oleng melihat pemandangan semacam itu.


" Biar satu sama.. nih, ku kasih lihat dadaku juga.. kan aku tadi nggak sengaja lihat puny.."


" bughhhhhkk!!!" Rania melempar Aksara dengan bantal agar tak menyelesaikan kalimatnya yang sangat memalukan bagi Rania.


Aksara diam sejenak, lalu tersenyum melihat wajah Rania yang sudah seperti kepiting rebus itu.


Tiba tiba hatinya tergerak untuk menggoda Rania.


Ia mendekat ke arah Rania,


" Mau nggak..?" tanya Aksara setengah berbisik di telinga Rania, sontak Rania mundur, wajahnya antara malu dan gugup.


" Mau nggak...?" tanya Aksara lagi karena tidak mendapat jawaban.


" mau apa sih Mas?!" Rania ketus,


" Mau nggak..?"


" Mau apa?!"


Aksara sudah tidak tahan melihat ekspresi Rania yang yang canggung seperti itu, ia tertawa sekilas.


" Mas sengaja mempermainkan ku ya?!" Rania kesal, ia melempar bantal lagi ke arah Aksara tapi kali ini Aksara menghindarinya.


" Mau ikut nggak.. nanti malam ada undangan dari komandan dan istrinya, acara ulang tahun pernikahan mereka.."


" Tadi aku mencarikanmu baju, cobalah satu persatu.. kalau mau ikut pakailah.." Aksara memberikan bawaannya tadi.


" Kalau aku tidak ikut?"


" tidak pantas kalau kau tidak ikut.. lagi pula kita pengantin baru, sekalian memperkenalkan mu pada atasan dan teman teman ku yang lain.." ujar Aksara memandang Rania yang masih menutupi tubuhnya dengan handuk itu.


" Sudah ganti bajumu sana, aku mau rebahan sebentar.. "


Rania memicingkan matanya menatap Aksara,


" aku tidak akan lihat.. sudah sana ganti baju.." Aksara membaringkan tubuhnya dan memunggungi Rania.


"Awas saja kalau ngintip?!"


" buat apa aku ngintip anak kecil yang ganti baju.." sahut Aksara membuat Rania makin kesal.


pesta itu di adakan di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari Losari,


suasananya cukup romantis dan hangat..


laut dan gemerlap lampu terlihat cukup jelas.


Tidak banyak sebenarnya tamu yang hadir, karena ini seperti acara privat yang hanya di hadiri oleh keluarga dan teman dekat saja.


Tentu saja beberapa orang kantor dan pengurus pengurus yang selama ini membantu ibu komandan juga hadir.


Rania dan Aksara memakai warna baju yang senada, yaitu abu abu muda.. Aksara membelikan 2 baju, long dress dan tunik.


Namun Rania lebih memilih tunik dan celana kain yang menampilkan kakinya yang ramping, tak lupa heels dan tas yang senada, dan luar biasanya semua itu Aksara yang membelinya tadi sore secara dadakan.


Rania selalu merasa tenggelam jika dirinya memakai long dress jadi ia tak mau memakainya.


Keduanya terlihat simpel namun elegan, Semua mata menelisik mereka sebagai pengantin baru.


Sampai akhirnya Rania di perkenalkan secara langsung pada komandan dan istrinya, meski malu malu Rania bisa bersikap selayaknya istri seorang perwira.


Apa yang di tampilkan Rania tidak terlalu sederhana dan juga tidak terlalu berlebihan.


Ketika di tanya pun Rania selalu tersenyum dan menjawab dengan baik, mungkin karena dasarnya ia adalah seorang pendidik,


dia bisa menempatkan dirinya..

__ADS_1


dia banyak diam.. namun dia bisa tiba tiba menjadi banyak bicara di saat yang di perlukan.


Aksara terus tersenyum memandang istrinya yang sedang bercengkerama dengan istri istri perwira lain dari jauh, ia sengaja memberi ruang untuk Rania agar akrab dengan lainnya.. termasuk istri Farhan, sayangnya istri Marlin tidak datang.


" Kenapa aku tidak melihat wulan ?" tanya Farhan penasaran,


" Apa dia tidak datang?" tanya Aksara tiba tiba waspada, ia tetap mengawasi istrinya dari jauh.


" Ah dia datang kok sama suaminya.."


" ya sudah biarkan, jangan sampai dia mendekatiku atau istriku saja.." ujar Aksara tenang sembari menegak minuman yang sejak tadi di pegang nya.


Acara itu berlangsung masih 2 jam, Rania yang puas mengobrol kembali ke meja, sedangkan yang lainnya masih bercengkerama bahkan beberapa orang memesan makanan lagi sambil mendengarkan teman teman yang lain bernyanyi mesra dengan istrinya.


" Ayo pulang..?" Rania mendekat ke meja Aksara,


" Kenapa?" tanya Aksara bangkit,


" Badan ku tidak enak Mas.. ayo cepat pulang.." ajak Rania, Marlin dan Farhan saling memandang,


" sudah bawa saja pulang, ijin dulu ke komandan.." kata keduanya bergantian.


Aksara segera meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu pada komandan karena istrinya kurang sehat, dan tentu saja komandan mengijinkan.


Aksara mengandeng tangan Rania dan keduanya berjalan ke arah parkiran mobil, tiba tiba Rania limbung.


" Eh! eh!" Aksara menangkap Rania dan segera membantunya masuk ke dalam mobil.


" Kau makan atau minum sesuatu?" tanya Aksara khawatir,


" ada yang memberiku minuman.." jawab Rania dengan mata terpejam,


" laki laki apa perempuan"


" perempuanlah.."


mendengar itu Aksara berfikir sejenak, raut wajahnya berubah masam.


" tidurlah dulu.." ujar Aksara sambil terus mengemudikan mobilnya menuju ke arah Daya.


Sesampainya dirumah Aksara mengendong Rania kedalam rumah, dan membaringkannya di atas tempat tidur.


" Puyeng Mas...perut ga enak.." keluh Rania,


" gimana nggak puyeng, orang mabuk.." sahut Aksara, ia benar benar tidak tau apa yang harus di lakukan, karena ini sudah tengah malam juga. Ia hanya memberi Rania minum yang banyak lalu membiarkan Rania tidur.


Setelah membersihkan dirinya Aksara juga membaringkan dirinya di atas tempat tidur, ia juga lelah ingin segera tidur dan tidak ingin memikirkan apapun untuk malam ini, karena ia akan membuat perhitungan setelah masuk ke kantor.


Namun tidur tenang hanyalah rencana, kenyataannya ia tidak tidur nyenyak, karena Rania yang sedang kurang sadar itu tiba tiba berguling ke arah Aksara yang sudah tertidur,


awalnya hanya kakinya saja yang di naikkan ke tubuh Aksara.


Lama lama Rania mendekap Aksara erat seperti sebuah guling sehingga setengah tubuhnya menempel di atas Aksara.


Aksara berkedip kedip, andai lampu kamar menyala mungkin terlihat telinga Aksara yang memerah.


" Aduhh.. kelakuanmu Ran.." Aksara mengigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.


Aksara berusaha menguasai dirinya meskipun ada satu bagian dari tubuhnya yang tiba tiba menjadi keras.


Sialnya Rania bergerak lagi, membuat Aksara semakin tak berdaya.


" Bocah ini menantang keteguhan imanku.. " Aksara mengeluh berkali kali sambil mengeluarkan suara suara yang bisa membuat orang salah faham ketika mendengarnya.


" ini penderitaan.. " gumam Aksara menatap wajah Rania, ia tak tahan melihat bibir mungil itu, dengan hati hati Aksara mencurinya, mengecupnya beberapa kali.


Tangannya pun mulai meraba tubuh Rania, dari pinggang turun ke paha.


Ia menarik tubuh Rania agar sepenuhnya naik ke atas tubuhnya,


Tapi gerakannya terhenti saat tangannya yang memegang kendali penuh itu mulai menurunkan celana Rania.


" Tidak.. tidak boleh.." laki laki berparas manis dan berhidung mancung itu mati matian bertarung dengan hasratnya, ia memang ingin melakukannya, sungguh sungguh menginginkan Rania menjadi satu dengan dirinya.


Namun akan lebih baik jika Rania sadar dan ikut merasakan sentuhan sentuhan Aksara, yang paling penting adalah Rania ikhlas memberikannya.


Aksara menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, ia melakukan itu berulang kali.


" Maaajuu tak gentar...


membela yang benar...


maaajuu tak gentar...


..............................."


entah mendapat ide dari mana, laki laki yang sudah di ujung tanduk itu bernyanyi.


Ia bernyanyi sepanjang malam dan berganti ganti lagu untuk mengusir hasrat yang menguasai dirinya,


sebenarnya ia sudah tidak mampu menahan, namun membayangkan hubungannya akan semakin buruk nantinya jika ia nekat melakukan nya Aksara benar benar tidak berani menyentuh Rania.

__ADS_1


Istri yang di pikirannya masih bocah ini pasti akan menangis dan semakin menjaga jarak dengannya.


Karena itu ia mengambil jalan bersabar dalam 'penderitaan' ini untuk sementara.. hingga akhirnya Aksara lelah bernyanyi dan ia tertidur sambil mendekap Rania.


__ADS_2