
Aksara memakai batik berwana coklat muda dan celana bahan berwarna senada,
ia berjalan sendiri di tengah keramaian di karenakan Rania teler lagi.
Rania sudah berpakaian rapi dan memakai Make up lengkap, tapi tiba tiba tubuhnya limbung.
Aksara terpaksa meninggalkan Rania dirumah dengan si ibu asisten rumah tangga mereka.
" Pergilah mas, tidak enak kalau mas tidak datang..
ini pernikahan juniormu.. " ujar Rania ketika Aksara berniat tidak pergi.
Akhirnya dengan berat hati Aksara pergi, namun ia tidak berniat lama,
setelah acara selesai ia akan langsung pulang, karena hatinya tidak tenang meninggalkan Rania dirumah.
" Kenapa istrimu?" tanya Farhan,
" biasa.. bawaan bayi, padahal tadi baik baik saja.." Wajah Aksara tidak tenang.
Dari kejauhan Aksara melihat Marlin dan istrinya, lalu di belakangnya Ilham dan Wulan mengikuti.
" Kemana Rania?" tanya Ilham mendekat sendirian.
" Sedang kurang sehat.. bawaan bayi.." jawab Aksara dengan wajah tidak tenang.
" Duh kasian... ku kira dia bakal ikut.."
" sebenarnya sudah siap, tiba tiba kepalanya pusing.. apa mungkin masuk angin ya mas..
gara gara kemarin malam itu.. "
" memangnya kalian lama di pinggir jalan?"
" ya lumayan mas.. Rania dan aku asik mengobrol dengan bapak penjualnya..
sampai kami lupa waktu..
tau tau mas sudah lending saja.."
" nah itu.. bawaan hamil juga mungkin, kondisinya naik turun.." komentar Ilham.
" Istri mas mana?"
" ke kamar mandi sebentar.. sekalian ke pengantinnya taruh kado.. soalnya kami tidak bisa lama, masih ada satu acara lagi, waktunya juga bersamaan.."
jelas Ilham,
" Wah, aku juga inginnya pulang duluan mas.. aku ikutan ya?"
" ya sudah.. kau langsung saja ke ruangan pengantinnya, kalau menunggu sampai acara selesai mungkin sejam lagi kau baru bisa pulang.."
" yang penting aku sudah setor mukalah mas.. tidak enak nanti kalau ketemu di kantor.." ujar Aksara,
" ya sudah.. pergilah, mungkin Wulan sudah disana.."
" iya mas, tunggu ya..?"
Aksara berjalan melewati kerumunan.
Ia bertanya pada penyelenggara pesta, dimana letak ruangan ganti baju pengantin.
" Mari saya antar.." ujar seorang perempuan memakai kebaya, sepertinya ia adalah keluarga dari sang pengantin.
" Oh, terimakasih.." Aksara mengikuti langkah perempuan itu.
" Teman Kak Fira atau kak Fatan?" tanya perempuan itu menatap Aksara di sela sela langkahnya,
" saya senior Fatan" jawab Aksara tersenyum.
" Oh.. " jawab perempuan itu melempar senyum juga.
__ADS_1
" Kak?" panggil perempuan itu pada pengantin laki laki dan perempuan yang sedang bersiap.
" Ada yang mencari.." imbuhnya.
" Lho bang?! kok tidak di depan?" si pengantin laki laki maju dan bersalaman dengan Aksara.
" Maaf.. aku tidak bisa lama lama, istriku sedang sakit.. "
" Waduh.. sayang sekali bang..?"
" iya.. aku minta maaf.. selamat menempuh hidup baru ya..?" Aksara menyalami kedua nya dan sekali lagi mengucapkan selamat sebelum mengundurkan diri.
" Aku undur diri dulu ya.." pamit Aksara,
" Siap bang?! terimakasih bang!" jawab si pengantin.
Tapi baru beberapa langkah Aksara keluar dari ruangan pengantin terdengar suara gaduh.
" Ya Ampunn?!! tolong! ada yang pingsan?!"
Aksara mencari asal suara, ternyata tak jauh dari ruangan ganti pengantin.
" Ada yang bisa saya bantu?" Aksara mendekat.
" lho?" ucap Aksara dalam hati, ini perempuan yang tadi mengantarnya, kenapa tiba tiba pingsan.
Aksara melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada laki laki, hanya perempuan yang berlalu lalang.
" Bisa tolong angkat ki'?" pinta seorang perempuan,
" mau di angkat kemana ini?" tanya Aksara,
" Angkat saja ke sana..?!" seseorang menunjuk sebuah ruangan dimana terletak sebuah sofa panjang.
Tanpa menjawab Aksara segera mengangkat perempuan itu dan membaringkannya di atas sofa.
" Kenapa bang?!" si pengantin laki laki tiba tiba keluar.
Aksara yang masih mengatur nafas tidak langsung menjawab, tenaga yang ia pakai sedikit lumayan karena perempuan ini tidak bertubuh mungil seperti istrinya, dan jarak dimana perempuan itu pingsan sampai dengan sofa lumayan juga.
Tanpa menunggu jawaban Aksara segera menyingkir, ia tidak mau terlalu lama di tempat itu.
" Kau bertemu dengan Aksara di ruang ganti tadi sayang?" tanya Ilham sembari menyetir.
" tidak bertemu.. tapi aku melihatnya.."
" dia terburu buru.. Rania sedang sakit.." ujar Ilham.
Wulan menatap Ilham tiba tiba,
" Kenapa kau perhatian sekali pada Rania?" tanya Wulan serius.
Ilham tersenyum mendengar pertanyaan istrinya,
" kau ingin membalasku?"
" apa apaan sih.. " jawab Ilham tertawa geli,
" aku suka yang garang.. yang suka membanting ku di tempat tidur kalau marah.. jadi buang jauh jauh pikiranmu yang tidak masuk akal itu sayang.." jelas Ilham sembari tertawa.
" Tapi aku senang.." ujar Ilham kemudian,
" senang?"
" iya.. kau mulai cemburu.."
" ih, siapa yang cemburu?!"
" lalu kenapa kau bertanya? hemm..?" Ilham memainkan alisnya,
" karena kau terlalu dekat dengan Aksara dan Rania.."
__ADS_1
" itu karena aku ingin menebus kesalahan kita..
apa kau sadar seberapa besar kesalahan kita kepada mereka?"
Wulan terdiam, ia benar benar tidak bisa menjawab.
" kita harus menjadi kakak yang baik untuknya.. " imbuh Ilham.
" Bijaksananya suamiku" ujar Wulan,
" aku juga bijaksana di tempat tidur.. " Ilham lagi lagi melempar senyumnya yang berjuta makna.
" Astagaa.. aku heran kenapa aku menerima mu kembali, padahal kau se mesum ini.." gerutu Wulan.
" Mesum? mesum mesum begini kau cinta.. "
" ihh ihhh..! hentikan sikapmu yang memalukan itu mas?! dimana wibawamu?!"
" kau menggerusnya habis.. " ujar Ilham,
" jadi semua salahku?"
" tidak.. semua salahku, jangan khawatirkan apapun..
aku menjadi semanis anak kucing hanya di hadapanmu sayang.." Ilham mencubit pipi Wulan hingga blush on di pipi wulan menempel di ibu jari Ilham.
" lho? ada cap jempolku di pipimu..?!".
Aksara masuk ke dalam kamar perlahan,
ia melihat istrinya sudah terbaring lelap.
" Ibu pulang saja.." kata Aksara pada asisten rumah tangganya.
" Iya pak.. saya pamit dulu.." si asisten rumah tangga itu segera undur diri, sesekali Aksara memanggilnya di malam hari, karena rumahnya tak jauh dari sini.
Aksara memandangi istrinya yang sedang tertidur itu.
" Owalah Ran.. aku ingin punya banyak anak darimu.. tapi kalau setiap kau hamil susah begini..
lebih baik satu saja...
aku tidak tega melihatmu.."
ujar Aksara membelai kening istrinya.
Rania bangun pagi sekali, itu karena kemarin ia tidur terlalu sore, hingga ia tidak menyadari suaminya pulang.
Aksara masih terbaring di atas tempat tidur,
Rania tidak berniat membangunkannya karena ini masih terlalu pagi.
Rania melihat baju dan celana yang Aksara gunakan semalam gantung di belakang pintu.
Rania mengambilnya karena baju ini sudah di pakai sekali, Rania berjalan keluar kamar dan menuju ke keranjang pakaian kotor.
Seperti biasanya, Rania memeriksa kantong celana dan baju Aksara takut ada uang atau barang barang penting yang tertinggal di saku.
" Noda apa ini?" gumam Rania melihat noda merah di batik suaminya, tepat di posisi dada.
" seperti lipstik..?" gumam Rania lagi, ia memastikan baik baik dan mencium baunya.
Rania terhenyak, lama.. sejenak ia tidak bisa berfikir normal..
pikirannya tidak karu karuan ketika ia menyadari ada bau parfum yang asing di baju suaminya.
Rania tau benar itu bukan bau parfum suaminya, apalagi semenjak Rania hamil Aksara sama sekali tidak pernah memakai parfum.
Rania terdiam, ia hanya berdiri sembari memegang baju Aksara dalam waktu yang cukup lama.
Ia ingin menenangkan dirinya dari pikiran pikiran buruk.
__ADS_1
Ia yakin kalau suaminya bukan tipe orang yang aneh aneh..
tapi kenapa bekas lipstik dan bau parfum ini seakan melunturkan segala pemikiran baik Rania terhadap Aksara.