
Siang itu suasana sekolah tiba tiba saja Ramai, seorang murid tiba tiba pingsan dan menangis histeris ketika ia sudah sadar.
" Ibu guru yang jam nya kosong tunggu saja disini, jangan biarkan dia sendirian.." ujar pak burhan guru Agama yang usianya sudah 50 tahunan.
" Yang ada jam ayo kembali mengajar.." imbuh beliau lalu berlalu keluar dari ruangan UKS, tersisa bu Ina dan Rania yang menunggu di UKS.
" Sudah.. minum teh hangat dulu.." Ina membantu anak itu duduk dan meminum teh hangat.
Setelah anak itu jauh lebih tenang Ina mengajaknya bicara pelan pelan, apa yang sebenarnya terjadi hingga anak itu menangis sedemikian rupa.
Dengan air mata yang kembali tumpah anak itu menceritakan apa yang dia rasakan.
" Namamu Nanda toh?" tanya Rania,
" iya bu.. " jawab anak itu lirih,
" biar ibu telfon mamamu ya?, biar kamu di jemput.." Ina memegang punggung tangan anak itu, seperti menguatkan.
" Jangan bu?? nanti mama kaget.." air mata nanda mengalir lagi,
" kalau begitu mau diantar pulang bu guru saja? mau diantar bu Rania atau bu Ina?" tanya ina, tapi anak itu tak menjawab, ia menunduk dan menangis lagi.
Rania dan Ina berpandangan,
" Maunya nanda bagaimana?, siapa tau ibu guru bisa bantu??" tanya Ina pelan pelan.
" Saya tidak mau pulang.. saya tidak mau.."
" jangan seperti itu.. kasihan mama nanti, malah semakin bingung kalau nanda tidak pulang.."
" saya tidak kuat lihat mama menangis terus... saya juga tidak tau bisa terus sekolah atau tidak.."
Rania menghela nafas dalam, ada getir yang ia rasakan.
" Mama dirumah dengan siapa?" tanya Rania,
" adek..."
" adekmu umur berapa?"
" kelas 3 Sd.."
Lagi lagi Ina dan Rania terdiam sejenak, mereka seperti bingung mau berkata bagaimana.
" saya mau berhenti sekolah saja bu, saya mau bantu mama cari uang.."
" mau kerja apa nduk? SMA saja kamu belum lulus..
sabarlah, beberapa bulan lagi kamu lulus..
jangan putus sekolah, biar bu Ina dan bu Rania yang bantu selsaikan nanti ya.."
Rania dan Ina tak henti hentinya saling menatap lalu menundukkan pandangan mereka, seperti tidak habis pikir.
" pulang ya.. ibu antar.. sekarang istirahat dulu disini.." ujar bu Ina.
Aksara berkali kali mengirim chat pada istrinya, bahkan menelfonnya, tapi sudah berjam jam lamanya tidak di angkat.
" Mbak yun?! istriku mana?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi karena kesal.
" Belum pulang mas.."
" belum pulang? ada acara di sekolah?, hpnya tidak bisa di hubungi?"
__ADS_1
" tadi siang jam 10 sempat wa saya katanya nggak langsung pulang karena mau antar muridnya.. "
Aksara diam sejenak, menurunkan kekesalannya.
" ya masa sampai jam 4 belum pulang?"
gerutu Aksara,
" coba tanya mas Dimas saja?"
" owalah.. ya wes mbak.." Aksara memutus panggilannya.
" Sekarang mulai susah kalau di telfon.. ada apa sih.." tanya Aksara dalam hati,
Semenjak ia bermimpi tentang Rania hatinya tak pernah tenang meski ia sudah menyibukkan diri.
Aksara membaringkan dirinya di atas sofa ruang tengah,
bolak balik, sebenarnya lelah..
ia ingin tidur barang sejenak, tapi mata dan hati dan pikirannya tidak sejalan.
" Iya mas, maaf...?? hp q low bat..??" Suara Rania menghubungi Aksara melalui vidio call setelah sejam kemudian.
Aksara mengelus elus dadanya sendiri, ia menahan diri agar kekesalannya tidak terlihat,
" Kenapa? dada mas sakit?" tanya Rania melihat gerakan suaminya.
" Tidak.. gatal sedikit.." jawab Aksara tenang,
" dari mana saja? " lanjut Aksara bertanya,
" Kerumah murid ku mas.. ada sedikit masalah yang harus di bantu untuk menyelesaikan.." jawab Rania sambil membuka handuk yang membungkus rambutnya yang masih basah.
" Yang menginap itu?"
" bukannya ada guru BP kenapa kau yang ikut?" Aksara sedikit cemberut, apalagi melihat Rania yang memakai daster tipis.
" Ganti bajunya!" Tegas Aksara tiba tiba, Rania yang kaget menghentikan gerakannya yang sedang mengeringkan rambut.
" Kenapa mas?" tanya Rania seraya memperhatikan apa yang ia kenakan.
"Kalau aku dirumah boleh kau pakai itu, kalau tidak ada aku tidur pun bajumu harus panjang!"
terlihat sekali Aksara yang kesal, tapi Rania sama sekali tidak tau kenapa suaminya itu kesal sampai sampai membawa bawa baju yang ia kenakan.
" Mas ngambek gara gara aku pulang sore??"
" mana ada, umurku sudah 33 tahun, buat apa aku ngambek ngambek, aku tidak suka saja membayangkan tiba tiba ada tamu, lalu kau keluar dengan daster tipis itu.." ujar Aksara, namun Rania bisa melihat jelas ekspresi yang masam itu dari HP nya.
" Kemarin kemarin pakai ini mas ga komplain lho.." Rania tersenyum,
" memangnya aku tidak boleh komplain perkara baju istriku?"
" boleh.. tapi.. kenapa baru sekarang komplainnya?"
" ya harusnya faham lah kenapa.."
mendengar itu Rania tersenyum sabar, mungkin suaminya ini sedang lelah atau jenuh.. pikirnya, jadi sikapnya sedikit kekanak kanakan.
" Harusnya ngerti dong Ran, mas ini kangen sampe pengen marah.. saking kangen nya.."
Rania tertawa ringan,
__ADS_1
" Sama mas.." jawab Rania,
" Ah, kelakuan mu tidak menunjukkan kalau rindu aku sama sekali.."
" lha memangnya harus bagaimana menunjukkan nya?"
Aksara terdiam, ia ingin mengatakan " ya kesini susul mas!" tapi ia menahannya, lagi lagi ia tidak mau memaksa Rania.
Apalagi sejak ia tau dari mbak Yuni kalau Rania takut menggantungkan dirinya pada laki laki.
" Kalau aku bisa carikan sekolah bagus.. mau ya kesini?"
Rania mendadak diam,
" Mas bisa carikan gaji di atas sekolahmu sekarang Ran, kalau memang kau takut sekali tidak kerja disini.. " imbuh Aksara melihat Raut istrinya berubah,
" bukannya mas mau ajukan pindah.. lalu kenapa aku harus pindah sekolah??"
Sekarang Aksara yang diam mendengar pertanyaan istrinya, ia hanya ingin di temani sampai surat pindah nya turun, karena itu masih beberapa bulan lagi.
" apa tidak mau mengalah beberapa bulan saja demi aku??" ingin sekali Aksara berkata seperti itu, tapi lagi lagi, ia hanya mampu berkata seperti itu di dalam hati saja.
" Ya sudah lah.." ujarnya kemudian dengan pandangan lemah,
" istirahatlah.. disini sudah malam, mas mau tidur lebih awal.. mas capek sekali.." imbuh Aksara memaksakan senyumnya.
" Ya sudah mas.. segera istirahat.. " balas Rania.
" Tok tok..!" terdengar suara pintu kamar Rania di ketuk oleh mba Yuni setelah beberapa menit ia mematikan sambungan telfonnya dengan Aksara.
" Dalem mbak?" Rania membuka pintu,
" Ada titipan mbak.." mbak Yuni menyerahkan sebuah tote bag berukuran kecil,
" dari siapa mbak?"
" dari kakaknya mbak Safa.."
" lho??" kening Rania berkerut heran, apalagi ini pikirnya,
" orangnya mana?"
" karena mbak Rani belum pulang jadi di titipkan pada saya.."
Rania diam sejenak,
" ya sudah mbak.. matur nuwun.." ucap Rania lalu masuk ke dalam kamarnya.
Dengan sedikit penasaran ia mengeluarkan kotak hitam berukuran 13x13 cm itu dari tote bag kertas bergaris hitam dan putih.
Rania terdiam setelah membuka isinya,
" apa lagi ini.." ucapnya lirih melihat jam tangan cantik berwarna hitam,
setelah memegangnya beberapa detik Rania memasukkan kembali jam itu ke dalam kotak dan tote bag.
Ia ingin sekali menghubungi Radit dan bertanya, tapi ia takut..
ia takut radit malah berbicara macam macam, ia sebenarnya sedikit heran terhadap kelakuan Radit padanya, tapi ketika di tanya Radit selalu menjawab apapun yang di lakukan nya adalah sebuah bentuk rasa terimakasih karena sudah mengarahkan Safa.
Rania tidak bisa berkata apapun ketika hanya kalimat kalimat itu saja yang terus keluar dari mulut Radit.
Dia juga takut salah faham, logikanya Radit yang ganteng dan masih bujang itu mana mungkin dengan sengaja mendekati Rania yang pendek dan kecil ini, apalagi dengan kenyataan suaminya yang tidak ramah itu, semua orang pasti berfikir berkali kali untuk mendekati Rania.
__ADS_1
" ku kembalikan saja.. ga enak.." ucapnya lirih pada diri sendiri, karena mau bagaimana pun, pemberian jam tangan ini sudah berlebihan dan tidak pantas menurutnya, kalau sepatu itu kan Safa
yang memberikan, jadi Rania merasa tidak masalah jika menerima pemberian dari Safa.