
" Ehh.. lagian dapat ide dari mana kau mau minta aku memboncengmu segala, gausah nanya jawabannya sudah jelas nggak boleh..!
kau mau membuat nyawaku terancam??
aku ini belum menikah,
aku harus meneruskan garis keturunan ku Rania...?!
tolong jangan libatkan aku dengan suamimu dalam bentuk apapun itu, serem tau.. serem..!"
Dimas mengomel ketika Rania menceritakan bahwa dia baru saja menelfon suaminya dan meminta ijin.
Rania tertawa melihat Dimas bertingkah seperti itu.
" Aku ini sampai heran.. Bapak yang kalem dan murah senyum itu kok bisa punya anak kayak dinding beton begitu.." Dimas masih menggerutu, firasatnya sudah tidak enak, apalagi sebentar lagi Aksara pulang.. entah kalimat seperti apa yang akan dia dapatkan kalau bertemu Aksara nanti.
" Jadi kau tadi naik taksi online?"
" iya,mau bagaimana.."
" kalau kau sudah sembuh, minta ajari suamimu kemudikan mobil.. kalau belanja belanja enak.. " komentar Dimas,
" sudah enakan bu..?" guru bahasa indonesia tiba tiba nimbrung di meja Rania,
" alhamdulillah.. sudah mulai kering lukanya.." jawab Rania tersenyum manis.
" sekolah sudah mau libur.. ibu bisa istirahat drmh, toh anak anak juga sudah menerima rapot..",
" iya.. rencananya begitu bu Jihan..." celetuk Dimas sok imut,
" apa pak Dimas..?"
" iya bu Jihan..?"
" jangan mulai.."
" Mulai apa.. mulai kangen sama guru Olah raga yang penuh pesona ini.." jawab Dimas sengaja membuat Jihan kesal.
" Bapak itu tidak punya kaca dirumah ya?"
" baru lahir saya auto tampan, untuk apa saya berkaca.. mungkin bu Jihan yang butuh kaca?"
" dirumah saya sudah banyak kaca pak, karena itu saya tau diri dan tidak tebar tebar pesona pada murid saya.." nada Jihan sinis,
Melihat pertikaian di hadapannya Rania hanya bisa menahan tawa dan memasang wajah seakan tidak tau apa apa.
" Saya tidak pernah tebar pesona terhadap murid murid saya ya bu, kalau mereka nyaman dengan cara mengajar saya ibu jangan sewot dong..
siapa suruh ibu galak seperti itu pada anak anak?"
" saya bukannya galak, tapi sy disiplin terhadap mereka?!" Jihan mulai kesal,
" nah.. nah.. tuhkan.. cantik cantik kok galak, sayang kan cantiknya.." kalimat terakhir Dimas membuat wajah bu guru Jihan merah padam, tanpa berkata apapun lagi ia bangkit dari tempat duduk dan berlalu pergi dengan tatapan sinis pada Dimas.
" Sehat kau Dim ribut dengan wanita?" Rania menggeleng geleng pelan,
" aku tidak pernah menganggapnya wanita," jawab Dimas sekenanya
" Lagi pula dia duluan.." imbuh Dimas,
" jangan ribut terus.. nanti pacaran lho.." goda Rania sambil tertawa.
" pacaran sama orang galak itu? males banget.. orang aku nggak pernah punya salah sama dia, dia itu cemburu kalau aku dekat sama murid perempuan.."
" ku kira dia hanya tidak bisa menegurmu dengan baik.. ada benarnya sih Dim..
jangan terlalu dekat pada murid perempuan.. "
__ADS_1
" astagaaa.. ini juga, aku selalu menjaga jarak Rania......
bu Jihan itu nggak sengaja melihatku saat membantu salah satu murid yang cidera saat lari,
dia itu salah faham denganku..
aku ini laki laki yang berjiwa luhur dan berbudi pekerti tinggi.. kau taulah itu.."
Rania tidak menjawab, namun ia menunjukkan ekspresi yang mengejek pada Dimas.
" Aku mau ke kantin saja, kangen sama soto ayam bu kantin.." Rania bangkit pelan pelan dari kursinya dan berjalan dengan hati hati.
" Aku ikut.." Dimas bangkit,
" jangan menempel padaku.. kapan kau bisa punya pacar kalau menempel padaku terus?"
tegas Rania sedikit kesal karena Dimas seperti lem.
Aksara menghentikan mobilnya di parkiran Mall di daerah Panakukang,
Ia berencana membeli sesuatu untuk Rania,
Aksara berjalan sambil melihat lihat toko perhiasan, dan akhirnya ia masuk ke toko perhiasan yang paling besar di Mall itu.
Ia berbincang dengan salah satu pelayan, dan pelayan itu memberikan rekomendasi barang yang Aksara inginkan.
Sedikit bingung Aksara memilih model dan bentuk karena ini baru pertama kali untuknya, sebelumnya cincin pernikahannya di pilihkan oleh tante Irma.
" Kupikir kita tidak akan pernah bertemu.. karena Mas selalu menghindar dariku dua hari ini.. " seorang wanita berambut pendek sebahu dan bertubuh jenjang tiba tiba berdiri disamping Aksara, wajahnya cantik dan modis.
" Ku dengar mas Aksa sudah menikah? yang benar saja..?" perempuan itu mendekat dan melihat perhiasan di tangan Aksara, lalu matanya meneliti jemari Aksara,
perempuan itu tampak sedikit kecewa melihat ada cincin yang melingkar di jari manis Aksara.
" Ternyata benar benar sudah menikah ya.."
" jangan sok Akrab denganku, dan jangan bicara dengan ku selain urusan pekerjaan" tegas Aksara berbalik lalu pergi dengan langkah yang terlihat sekali menahan perasaan kesal.
"Sial sekali aku.." umpat Aksara dalam hati, padahal Mall ini besar, tp kenapa ia harus bertemu dengan wanita itu disini.
Aksara mempercepat langkahnya, ia sudah tidak berminat berbelanja lagi.
Lebih baik ia mencari ke tempat lain yang tidak mungkin bertemu dengan orang yang dia kenal pikirnya.
Aksara menghentikan mobilnya di area dekat pantai Losari,
di keluarkan ponselnya dari saku, di bolak balik ponsel itu dan di tatapnya cukup lama.
" Kenapa dia tidak menelfonku lagi?" tanya Aksara dalam hati, ia menunggu telfon dari istrinya, tapi entah kenapa istrinya itu jarang sekali menelfonnya, sebenarnya ia ingin dalam kondisi kesal seperti ini ada Rania yang menenangkannya.
Tapi ia tidak mau menelfon terlebih dahulu, yah sesekali ia memang menelfon.. tapi ia juga ingin Rania lebih sering menelfonnya terlebih dahulu.
" Hallo," suara Aksara tenang,
" hallo mas? ada apa?" terdengar suara Dimas gugup, ternyata bukan Rania yang di telfon.. tapi Dimas.
" Kenapa istriku bisa jatuh dari motor?"
" waduh.. hari minggu itu mas, saya juga tau tau jatuh e mas, di senggol motor.. bukanya saya nggak mengabari Mas tapi kata Rania jangan..
takut mas Aksara khawatir.. takut juga kondisi mas kalau banyak pikiran dan sakit.. begitu kata Rania Mas.." jawab Dimas hati hati dan berimprovisasi, padahal Rania tidak pernah berkata seperti itu kepadanya.
" Dia bilang begitu.. khawatir aku sakit?" tanya Aksara sambil tersenyum kecil,
" inggih Mas.. anu Mas, motornya masih di bengkel.. saya yang ambil dari pos Polisi dan langsung saya taruh di bengkel.." jelas Dimas.
" Tadi istriku ngajar?"
__ADS_1
" iya Mas, tapi cuma bagi rapot saja lalu pulang.. "
" hemm.. ya sudah, terimakasih" Aksara mematikan panggilan telfonnya.
Entah kenapa tangannya tiba tiba memencet nomor Dimas, padahal ia ingin bicara dengan Rania, tapi mendengar apa yabg di katakan Dimas sudah membuat hatinya lega, setidaknya Rania ada rasa khawatir kepadanya.
" Aduh.. aduh.. hampir pingsan.." Dimas merebahkan dirinya di atas kursi, jantungnya hampir copot karena Aksara tiba tiba menelfonnya.
" Bukanya dia harusnya telfon istrinya.. kenapa malah bertanya padaku..
bikin jantungan saja.." keluh Dimas sambil mengelus dadanya berkali kali.
Aksara keluar dari mobilnya, ia tidak langsung pulang.
Tidak biasanya ia ingin merasakan angin laut sejenak.
Lampu yang berwarna warni terlihat indah di sepanjang pantai Losari, matanya jauh memandang beberapa kapal yang sedang melintas di kegelapan.
sesungguhnya ia ingin duduk, namun di pinggiran pantai penuh dengan anak muda yang sedang berduaan.. malu rasanya jika ia harus duduk sendiri.
Lagi lagi pikirannya berlari ke pada Rania,
sedang apa istriku.. seandainya dia disini bersamaku..
ada nyeri di hatinya, ia teringat pada kejadian 10 tahun yang lalu, hari hari diman ia harus menahan kerinduan karena perasaannya tidak di restui oleh Bapaknya.
Hari hari dimana ia harus mengangkat kaki dari rumah dan tidak boleh lagi melihat Rania.
Memang benar.. Bapak sudah mengembalikan Rania kepadanya, namun ia masih belum bisa menemukan perasaan Rania..
karena yang ia tau selama ini Rani hanya menganggapnya seorang kakak.. tidak lebih.
" huhh...!"
Aksara menghelas nafas sembari berusaha membuang beban pikirannya pula.
Angin yang begitu kencang, namun muda mudi itu tak bergeming dari tempatnya.
Mungkin di mabuk asmara akan membuat mereka selalu merasa hangat.. pikir Aksara sedikit konyol, ia tertawa sendiri melihat betapa kesepiannya dirinya..
bahkan setelah menikahpun ia harus merasakan kesendirian seperti ini.
setelah sekitar 30 menitan Aksara berdiri dan menikmati temaram lampu dan desiran angin, ia memutuskan untuk kembali ke mobil,
" Pisang pisang.. "
Aksara mendengar suara Bapak bapak yang sedang berjualan pisang epe tak jauh dari parkiran mobilnya.
Aksara memandang penjual pisang itu sejenak lalu berjalan menghampirinya,
" pisang pak.." kata Aksara tersenyum lalu duduk di kursi plastik yang sudah di sediakan si Bapak.
" Bungkus nak..?" tanya laki laki yang sudah cukup tua itu sambil mengupas beberapa pisang,
" Bapak orang jawa??" tanya Aksara karena tidak menangkap logat sulawesi sama sekali, dan cara bicara Bapaknya kalem juga medhok.
" inggih nak.." jawab si Bapak tersenyum,
" lho.. kulo tiang jowo pak.. njenengan jowo pundi.. ( saya orang jawa juga pak, anda orang jawa mana..)" tanya Aksara antusias,
" lhoo.. enggeh tho.. " si Bapak tersenyum, dan terlihatnya giginya yang sudah tidak utuh lagi,
Keduanya berbincang cukup lama, karena Aksara memutuskan untuk makan sambil ngobrol dengan si Bapak..
di sela sela tawanya lagi lagi ada nyeri yang menyusup, ia ingat Bapak.. rindu Bapak.. seandainya Bapak tidak meninggalkannya terlebih dahulu..
dan seandainya diantara dirinya dan Bapak dulu tidak ada kesalahpahaman..
__ADS_1
mungkin ia tidak akan se menyesal ini sekarang..