Aksara Rania

Aksara Rania
Pulanglah!


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Arisan ibu ibu, seperti biasa Rania duduk dan berbincang dengan ibu ibu lainnya.


Anak anak lepas dari pangkuan ibunya dan berlarian ke arah ayahnya.


Aksara berjalan mendekati Rania yang duduk di samping jendela,


" Kalau pusing ijin pulang saja.." Aksara berbisik, ia resah melihat wajah istrinya yang pucat, gara gara mereka terlalu lama melihat laut semalam, istrinya jadi masuk angin.


" Tidak mas.. aku bisa tahan.. " jawab Rania tenang,


" ya sudah.. kalau cari Mas di kantor ya.. "


melihat Rania mengangguk Aksara segera pergi dan tidak menganggu lagi.


Satu jam berlalu, Aksara masih diam menunggu istrinya selesai, tidak ada keluhan apapun, berarti dia baik baik saja.. pikir Aksara.


Aksara tak sengaja tertawa, ketika melihat Marlin yang sibuk mengejar anaknya yang berlarian kesana kemari,


lalu Farhan yang menggendong putranya yang paling kecil.


Diam diam dirinya mengeluh..


umur mereka hanya berbeda satu atau dua tahun, tapi sampai setua ini Aksara belum punya Anak.


Sesungguhnya ia tidak terlalu memikirkannya, toh awalnya dia juga tidak berfikir untuk menikah sejak keluar dari rumah..


tapi melihat teman temannya yang sibuk dengan anak anaknya, hatinya sedikit iri..


ia sudah berusaha yang terbaik.. Rania pun tidak mengikuti program pencegahan kehamilan apapun.


" Mas??" suara Rania tiba tiba di hadapannya, ternyata Aksara larut dalam lamunan sehingga ia tidak menyadari istrinya masuk dalam ruangannya.


" Sudah?"


" sudah.. aku ijin"


" pusing?" tanya Aksara seraya bangkit dari duduknya,


" tidak tau, badanku tidak enak.. "


" hemm ya sudah ayo pulang.." Aksara segera mengambil kunci mobilnya dan berjalan mendahului istrinya.


Sore itu Aksara pulang, Kondisi Rania tidak membaik.


Rania bersikeras tidak mau di bawa ke dokter karena ia berfikir apa yang terjadi padanya hanya masuk angin biasa.


Aksara menuruti keinginan istrinya, mengolesi tubuh istrinya dengan minyak kayu putih.


" Makan ya.. kan belum makan??"


Rania menggeleng,


" bukan tambah sembuh malah tambah parah masuk anginnya.."


omel Aksara sembari memijat telapak kaki istrinya.


" Kangen Bapak..." ucap Rania tiba tiba,


Aksara terdiam,


" bulan depan kita pulang.. tapi jangan mengeluh kalau hanya dua hari saja.." jawab Aksara setelah sedikit lama diam, ia lalu melanjutkan pijitannya.

__ADS_1


" Kalau Mas repot aku bisa pulang sendiri.." suara Rania lirih sambil menutup mata,


" maksudmu apa mau pulang sendiri?" suara Aksara berubah, tangannya berhenti memijat,


" tidak ada maksud apapun mas.. memangnya kenapa?" Rania membuka matanya dan mengarahkan pandangannya pada suaminya, terlihat wajah Aksara yang tidak senang.


" Aku hanya tidak mau merepotkan mas yang sibuk.. " imbuh Rania.


" Aku tidak pernah sibuk jika itu tentang kebahagiaanmu, aku juga selalu mendahulukan perasaanmu, tapi entahlah.. sepertinya kau tidak begitu terhadapku" suara Aksara menahan kesal.


" Mas ini ngomong apa sih?" Rania bangkit dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


" Jujurlah kepadaku.."


" jujur apa ?" Rania tidak mengerti,


" apa hubunganmu dengan si Radit itu?"


" Radit??"


" ya!, kau mau pulang sendirian untuk bertemu dengannya kan?!" nada bicara Aksara mulai meninggi,


" Rindu dengan almarhum bapak hanya alasanmu kan? setelah mengunjungi makam bapak kau akan bertemu dengan laki laki itu kan?!"


" astaga Mas???! sadar mas sadar.. ?!" Rania duduk tegak, ia benar benar tidak menyangka suaminya berfikir tidak masuk akal seperti ini.


" Mas dapat pikiran pikiran buruk itu dari mana? bisa bisanya tiba tiba menuduhku seperti itu?, pak Radit itu orang baik..


dia kakak dari murid ku, dia juga kakak kelas ku dulu..


aku baik padanya wajar Mas, yang penting aku tidak berbuat aneh aneh atau bahkan melampaui batas.. ?"


" Sikapnya padaku di luar kendaliku Mas, kenapa Mas menyalahkan ku?"


" Karena kau tidak tegas!" Aksara marah,


" mataku tidak buta Rania, laki laki itu menyukaimu, dia menyukai istriku, dan dia adalah tipe laki laki yang akan mengambil kesempatan sekecil apapun untuk mendekatimu ketika aku tidak berada di sampingmu! sadari itu!"


Wajah Rania memerah saking kesalnya dengan kata kata Aksara ia hampir menangis namun ia menahannya.


" Jadi mas selama ini meragukan aku?"


"aku tidak meragukan kesetiaan mu! aku hanya ingin kau bersikap tegas pada laki laki itu agar tidak terus menggunakan berbagai macam cara untuk mendekatimu?!


tidak tahukan kau bagaimana rasanya, ketika istriku selalu di perhatikan laki laki yang lebih muda dariku, dan istriku malah santai santai saja menerima perhatian itu, aku punya hati Rania?!"


" Mas keterlaluan Mas?!" potong Rania,


" Aku keterlaluan? mengkhawatirkan istriku yang tiba tiba ingin pulang sendiri keterlaluan??"


Rania diam, ia menatap Aksara tajam sembari menahan tangis.


" kalau kau mau pulang sendirian baiklah! aku tidak akan mengikuti mu! pulanglah! tidak ada yang akan menghalangi mu..!" tegas Aksara seraya pergi keluar kamar dengan membanting pintu.


Aksara yang kesal langsung mengambil kunci motor dan pergi keluar dari rumah.


Ilham mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang,


kebetulan ia pulang dari mengantar Wulan ke klinik kecantikan, sekalian dia ingin tau kegiatan kegiatan istrinya jika keluar dari Rumah.


" Ami sudah tidur, tadi pengasuhnya telfon.." ujar Ilham tapi Wulan diam saja.

__ADS_1


" kita mau kemana lagi setelah ini, bagaimana kalau kita makan malam sebentar.." lanjut Ilham,


" kenapa kau mengajakku makan terus, apa kau sengaja merusak bentuk badanku agar tidak ada seorangpun yang melirikku?"


jawab Wulan sambil menatap ke luar jendela mobil, ia melihat lampu yang berjajar rapi di pinggir jalan.


" lho? itu bukannya Aksara.." suara Ilham setengah bergumam, ia melihat Aksara yang mengemudikan motor melintas melewatinya.


" jangan mengalihkan pembicaraan" Wulan ketus,


" Mungkin aku salah lihat.." Ilham tenang,


" oke.. kalau begitu kita makan malam dulu.."


" kenapa aku harus menurutimu, makan dan makan terus.."


" kerena kita sudah ada perjanjian.. " Ilham membelokkan mobilnya ke arah hotel bintang 4 yang terdekat,


" bukannya kita mau makan malam?" Wulan waspada,


" iya.. kita makan di restorannya, anak anak merekomendasikan restorannya kepadaku.. " jelas Ilham memasukkan mobil ke tempat parkir.


" Mau makan di restoran atau kita makan berdua di kamar.. " goda Ilham tersenyum, ia membuka pintu mobilnya dan turun, tak lupa ia membukakan pintu untuk istrinya.


" gausah sok romantis, masa masa kita sudah lewat" Wulan masih ketus, Ilham hanya tersenyum melihat itu.


Sesampainya di dalam ternyata mereka bukannya menuju restoran, tapi mereka malah diantarkan ke lantai 5.


Wulan mengomel di sepanjang koridor, namun Ilham hanya berkata,


" Diam dan ikut saja..".


" Sesuai pesanan bapak.. silahkan.." pelayan itu memberikan kunci kamar pada Ilham,


" jika masih ada yang di perlukan silahkan hubungi kami.." ucap pelayan itu sebelum akhirnya berlalu pergi.


" Ayo masuk..?" Ilham membuka pintu dan masuk,


Wulan mengikuti dengan langkah malas.


" Selamat hari pernikahan.." Ucap Ilham tiba tiba mengecup dahi Wulan, dan betapa terkejutnya wulan melihat kamar itu sudah di hias dengan mawar sedemikian rupa,


" kau suka mawar kan.." ujar Ilham tersenyum, lantai dan tempat tidur penuh dengan mawar berwarna merah maroon, ada juga beberapa lilin menyala di ujung ujung ruangan,


" kau mau membuka hadiah dulu atau kita makan dulu.." Ilham menyerahkan kotak berwarna hitam yang di hiasi dengan pita silver, lalu menunjukkan meja yang sudah penuh dengan makanan.


Wulan tidak bisa berkata apapun, ia terlalu terkejut, karena ia bahkan sudah melupakan kapan hari pernikahannya, karena baginya mengingat hal itu sama saja dengan membangkitkan luka di masa lalu.


" Makan dulu atau ?"


" atau apa?" Wulan menatap Ilham baik baik seperti heran,


" apa mau mu sebenarnya?" tanyanya kemudian, ia benar benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Ilham yang seperti ini, kebenciannya seperti terkoyak sedikit demi sedikit.


Ilham lagi lagi tersenyum sambil menjawab,


" Bukankan sudah ku katakan kalau aku mau kau.. dirimu.." Ilham menatap istrinya penuh harap,


ia berharap hal hal kecil yang ia lakukan mampu merubah hati istrinya yang penuh kebencian terhadapnya itu,


dengan hati hati Ilham mendekat ke arah istrinya dan memberanikan diri menarik istrinya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2