Aksara Rania

Aksara Rania
seragam coklat


__ADS_3

Aksara mengantar Rania ke pasar yang waktu tempuh perjalanannya sekitar 15 sampai 20 menit dari rumah mereka.


Entah Rania ingin membeli apa, yang penting Aksara mengantarnya saja.


" Mas?" panggil Rania pada Aksara yang sedang fokus mengemudi mobil,


" hemm.." jawab Aksara.


" Mas.. tidak kangen dengan Bakso Cak Ri tho..? "


Aksara langsung melihat Rania sekilas, tatapan matanya terlihat antusias.


" Memang masih jual?" tanya Aksara


" ya masih Mas.. cuman sekarang anaknya yang meneruskan..


sekarang jauh lebih besar.. banyak orang dari luar kota datang cuma mau makan bakso nya.."


" pindah atau masih di tempat yang kita sering makan dulu?"


Mendengar itu Rania tersenyum, kata "dulu" itu seperti membawa semua kenangan mereka sekilas.


Setiap akhir pekan Aksara selalu membawa Rania kesana.


Orang orang bahkan selalu mengejek Rania yang sudah sebesar itu tapi masih selalu menempel pada Aksara setiap kali mereka makan di tempat itu.


Aksara pun begitu, dia yang sudah dewasa dan bekerja tidak pernah sekalipun memperlihatkan kekasihnya,


malah membawa adiknya setiap kali pergi.


Siapa yang menyangka kalau 10 tahun kemudian Aksara kembali dan membawa Rania bukan sebagai adik, tapi sebagai istrinya.


" Masih Mas.. " jawab Rania mengangguk,


" ya sudah.. kita kesana.." jawab Aksara sembari menambah laju kecepatan mobilnya.


Setelah makan, Aksara mengobrol sejenak dengan pemilik kedai bakso yang dulu hanya sepetak namun sekarang sudah menjadi ruko yang lumayan besar.


banyak mobil terparkir berjajar, baik dari dalam kota maupun luar kota.


Aksara mengenal baik si Bapak pemilik, karena putra si pemilik adalah teman sekolah Aksara.


Setelah mengobrol Aksara dan Rania memutus kan untuk kembali.


Rania dan Aksara harus berjalan sedikit jauh karena mobil mereka terparkir di ujung.


" Mbak?" seseorang memanggil Rania di tengah parkiran.


" Mbak yang jatuh waktu itu kan?" seorang laki laki memakai seragam berwarna coklat menghampirinya.


Aksara yang sudah membuka pintu mobil menutup pintu mobilnya kembali dan berjalan mendekati Rania.


" Saya Radit.. yang membantu mbak waktu itu.." laki laki berkulit kuning langsat dan berwajah kalem itu tersenyum.


" O..oh.." Rania lupa lupa ingat, tapi rania tidak menyangka kalau yang menolongnya waktu itu adalah seorang polisi.

__ADS_1


" waktu itu saya berpakaian santai.. jadi mbak mungkin tidak begitu ingat dengan saya.. "


Rania tersenyum,


" Maafkan saya.. mungkin karena kaget jadi saya kurang memperhatikan.."


" tidak apa apa.. bagaimana sudah sembuh?"


" alhamdulillah sudah.. trimakasih sudah membantu saya Pak.." ucap Rania sopan.


" itu sudah tugas saya.. saya juga minta maaf, semisal sewaktu menolong njenengan saya bersikap kurang sopan..


tanpa pikir panjang menggendong njenengan..


saya belum sempat minta maaf.."


Wajah Aksara kaku, " menggendong?" ucap Aksara dalam hati, di perhatikan laki laki yang sedang berbincang dengan Rania itu dari atas ke bawah.


" Siapa Ran?" Aksara mendekat ke Rania.


" Oh.. Bapak polisi ini yang menolong ku sewaktu terjatuh Mas.." jawab Rania tiba tiba canggung, ia takut Aksara salah sangka dengan kata kata Bapak Polisi itu.


" Oh.. trimakasih atas pertolongan Bapak pada istri saya.. " ujar aksara berusaha tersenyum dan berjabat tangan.


" Oh.. ini suaminya.. iya iya.. sama sama.. sudah tugas saya.. Mari kalau begitu.."


si polisi bernama Radit itu tersenyum memandang Rania lalu segera berjalan masuk ke dalam,


sepertinya ia baru datang dan masih akan makan bakso.


Aksara menatap Rania sejenak, pandangannya seakan tidak terbaca oleh Rania, entah itu marah atau tidak.


menjelang magrib Rania masuk ke dalam kamar, ia mengerutkan dahinya melihat Ada koper besar berwarna biru di kamarnya.


Mungkin Aksara baru beli pikir Rania, karena tadi sore suaminya itu pergi dengan Dimas agak lama.


" Mas tadi beli koper sama Dimas?" tanya Rania mendekat ke arah arah Aksara yang sibuk memasukkan wayang wayang Bapak ke dalam kardus.


" Iya " jawab Aksara pendek tanpa menoleh ke Rania.


" Memangnya baju Mas sebanyak itu?"


" Tidak"


" Lalu? mau bawa apa?"


" bajumu"


" bajuku??" Rania heran,


" kenapa bajuku di bawa Mas?"


Mendengar Rania yang terus bertanya Aksara menghentikan tangannya yang sejak tadi sibuk menata wayang, lalu memandang Rania.


" Karena kau akan ikut aku selama liburan" jawab Aksara dengan nada tidak ramah.

__ADS_1


Rania diam.. kenapa lagi ini.. tiba tiba baik, tiba tiba ketus.. Rania benar benar tidak habis pikir, ia hanya bisa mengomel dalam hari.


" Kenapa? tidak mau ikut suamimu?" imbuh Aksara melihat Rania yang diam saja,


" tentu saja mau Mas.. tapi.. setidaknya Mas bilang, kan aku bisa bersiap siap.." jawab Rania mengerti.


" Apa ada yang memberatkan mu disini? selain rumah ini atau pekerjaanmu? sehingga kau enggan mengikuti ku?" keduanya saling menatap, Rania benar benar tidak bisa menebak apa yang sedang di pikirkan Aksara sehingga bisa melontarkan kalimat seperti itu.


" Kenalan mu mungkin?" imbuh Aksara lagi.


" Mas..? kalau mau bawa aku bawa saja, Mas suruh aku berhenti bekerja pun aku akan Patuh?!, karena aku menyadari sudah seharusnya aku begitu. Tapi tolong.. kendalikan ucapan Mas?!" Rania yang kesal langsung berbalik dan pergi.


Tiba hari Dimana Aksara dan Rania harus berangkat,


mereka berpamitan dengan om Surya dan tante Irma.


" Lee.. yang rukun rukun sama istrimu.. dia disana mengikutimu, jauh dari rumah.. jaga Baik baik.." nasehat om Surya.


" Kamu juga Ran.. jangan lupa selalu mengabari tante.. baik baik sama suamimu.. yang sabar menghadapi Aksara.." tante Irma menambahkan.


Keduanya mengangguk.


" Sudah Mas?" tanya Dimas dari dalam mobil, hari ini Dimas yang mengantar suami istri itu ke Bandara.


" Sudah.. ayo.. " Kata Aksara memasukkan koper nya.


Sesampainya di bandara Rania dan Aksara berpamitan pada Dimas,


Dimas berkata untuk jangan memikirkan apa apa dan fokus saja mengikuti suami.. pada Rania, juga menitipkan Rania pada Aksara agar di perlakukan dengan baik.


Keduanya Take off dan menempuh perjalanan selama 1 jam 15 menit.


Rania dan Aksara tidak saling bertegur sapa.


Selama di perjalanan mereka sama sama diam.


Hingga akhirnya mereka sampai di bandara Sultan Hassanudin.


" Kita Makan dulu ya??" tanya Farhan antusias, kebetulan ia berada di daerah Sudiang, jadi dia memutuskan untuk menjemput Aksara.


" wah.. ini kali kedua ya bu Aksa??" Farhan menyapa ceria Rania sambil menyetir.


" Iya pak.." jawab Rania tersenyum sopan,


" Kita makan dulu ya.. ?"


" Tidak usah, langsung pulang saja" sambar Aksara,


" lho.. makanlah.."


" tidak usah, dirumah sudah ada asisten rumah tanggaku yang menyiapkan makanan "


" Wah, kalau begitu aku makan di rumahmu saja.." Farhan tersenyum ceria, ia berharap mengobrol dan lebih mengenal istri temannya itu.


" aku tidak mengundangmu makan dirumah ku " celetuk Aksara datar, wajahnya benar benar tidak dalam kondisi yang bisa di ajak bercanda.

__ADS_1


" Eh, kejamnya.. ku kira kau akan sedikit lembut setelah menikah.. ya masa kau menunjukkan kekejaman mu yang seperti ini di hadapan istrimu.." gerutu Farhan.


" Dari dulu dia sudah mengerti kalau aku kejam, sudah jangan berisik. fokuslah ke jalan raya." ujar Aksara tegas.


__ADS_2