Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
Eps 13 - Dalam Perjalanan


__ADS_3

Setelah makan malam bersama yang pertama itu, Mereka menaiki mobik yang dikemudikan oleh Aris menuju kosan, sepanjang perjalanan Aira tak berhenti senyum- senyum. Sesekali Aira melirik Aris yang tengah mengemudi.


"Mas," Panggil Aira


"Ya... Kenapa?" Jawab Aris


"Maass," Panggil Aira lagi dengan suara agak manja.


"Kenapa?" Aris mencubit hidung Aira gemas. Mereka pun tertawa bersama. Sambil melajukan mobil perlahan, Aris melirik Aira yang sedang melihat keluar mobil.


Tak lama kemudian Aris menghentikan kemudinya dan mengemudi ke arah pinggir jalan, dia berhenti tepat disamping penjual kaki lima yang menjual aneka cemilan dan jajanan tradisional.


"Kenapa berhenti?" Tanya Aira keheranan


"Kita beli cemilan yuk" Ucap Aris mengisyaratkan untuk turun dari mobil.


"Jangan Mas, sudah mau pukul 22.00, nanti aku telat ke kosan." Rengek Aira. dia menjelaskan pada Aris bahwa dikosannya ada jam malam. pukul 22.00 harus sudah masuk ke kosan karena kosan akan digembok oleh Mbak Mi.


"Yasudah kita pulang saja," Aris agak kecewa karena dia masih ingin melalui malam bersama Aira. Sementara itu ponsel di dashboard mobil berdering tanpa suara. Aris mengaktifkan mode senyap. Dia tak tahu bahwa Ressa menelponnya berulang kali.


Akhirnya mereka sampai dekat kosan, Aira keluar dari mobil dan berpamitan kepada Aris, dan Aris segera memacu mobilnya menuju rumah untuk pulang.


Aira memasuki kosan dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Dia bersenandung ria karena sangat bahagia. Akhirnya Aira bisa menghabiskan waktu bersama Aris lebih lama, dia menantikan waktu besok karena Aris berjanji akan bersepeda bersamanya besok pagi.


Aira membuka kunci kamar kosnya dan tiba- tiba terdengan dering telepon di ponselnya Aira.


Triing Triing


"Hallo mama," Ucap Aira bersemangat sambil masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu.


"Bagaimana kuliahmu sayang?" Ucap Mama Aira

__ADS_1


"Bagus kok aku suka kuliah disini, Apa Mama dan Papa sehat?" Tanya Aira sambil menyimpan tas dan berbaring diatas temoat tidur sembari bertelepon dengan Mama-nya.


"Mama dan Papa sehat, cuma Papa-mu kangen banget sama kamu, tiap hari nyuruh Mama telepon kamu," Ucap Mama Aira tertawa kecil.


"Pasti Papa kangen gak ada yang pijitin sama gelitikin kan Ma," Aira tertawa membicarakan Papa-nya bersama Mamanya di telepon. Disaat yang bersamaan saat Aira tengah menelpon dengan Mamanya, Aris juga menelpon Aira dan notifikasinya muncul namun Aira tak menyadarinya. Aira berbincang panjang hampir 20 menit bersama Mamanya.


"Yasudah, kamu istirahat tapi jangan lupa bersihkan badan dan cuci muka dulu ya nak," Ucap Mama Aira kemudian menutup telepon karena Aira sudah mengantuk.


Kemudian Aira bergegas membersihkan diri dan mengganti bajunya lalu pergi tidur karena sudah sangat mengantuk. Dia tak menyadari ada panggilan tak terjawab dari Aris dan beberapa pesan singkat yang Aris kirim.


Sementara itu Aris yang dalam perjalanan pulang membuka ponselnya sambil membeli beberapa barang di minimarket.


"Mas, Cepet pulang,"


"Mas kamu masih dimana?"


1 panggilan tak terjawab


"Mas kepalaku berdarah."


Aris membaca pesan itu dengan gemetar, dia segera memacu mobilnya menuju ke rumah dengan kecepatan tinggi. Sesampainya dirumah, Aris melihat ada beberapa orang berserta ambulan didepan rumahnya. Ketika dia turun dari mobil, ambulan itu pergi melaju menuju ke rumah sakit.


"Ada apa ini?" Tanya Aris ke beberapa tetangga


"Kamu dari mana saja? Istrimu sendirian dirumah. Tadi ada beberapa laki-laki, dan kami mendengar istrimu menjerit dan meminta tolong, Setelah kami hampiri laki-laki itu bergegas pergi dan ternyata istrimu terluka." Jelas Bu RT


"Saya baru pulang kerja bu," Ucap Aris menjelaskan. Aris segera masuk kerumahnya dan melihat kondisi rumah yang berantakan. Dia segera keluar dan mengunci pintu, lalu pamit kepada warga dan Bu RT yang masih ada didepan rumahnya.


"Saya nyusul dulu istri saya ke rumah sakit ya bu," Ucap Aris segera berangkat menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Aris ingat bahwa besok dia memiliki janji dengan Aira, kemudian dia segera menelpon Aira namun Aira tak menjawabnya. kemudian Aris memberikan oesan singkat pada Aira.


"Maaf, besok kita batalkan saja dulu, ada urusan mendadak,"

__ADS_1


"Maaf"


Pesan singkat dari Aris kepada Aira, Namun Aira tak juga membalas. Aris memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Aris segera menuju Unit Gawat Darurat dan melihat istrinya yang terbaring pingsan tak sadarkan diri.


Ada dokter dan beberapa perawat yang sedang melakukan pertolongan kepada Ressa. Perawat memasanngkan selan infus dan mengobati luka dikepala Ressa dan memcoba memasangkan perban. Namun tak lama perawat itu menghampiri Aris yang memperhatikan dari jauh.


" Bapak keluar Bu Ressa?" Tanya perawat itu


"Ya betul, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Aris khawatir.


"Keadaanya kritis karena darah yang keluar dari kepalanya cukup banyak dan lukanya agak dalam, jadi harus kami bedah." Terang perawat. Mendengarnya Aris terkejut, dia tak menyangka sesuatu yang buruk menimpa istrinya.


Aris menghampiri Ressa yang masih belun sadarkan diri. Dia memegang tangan Ressa dan menghela nafas panjang.


"Maaf pak bisa ceritakan kronologisnya?" Ucap perawat tadi.


"Saya juga tak tahu dengan jelas, begitu saya pulang kerja, istri saya sudah dibawa dengan ambulance. Seharusnya saya pulang lebih awal." Sesal Aris. Seandainya tadi dia tak makan malam bersama Aira, mungkin Ressa tak akan seperti ini.


"Baiklah, sebaiknya Bapak segera menuju ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pendaftaran, agar istri bapak bisa segera masuk ruang bedah untuk menjait luka dikepalanya." Setelah itu Aris segera menuruti permintaan perawat dan kembali menemani Ressa yang belum sadarkan diri.


Perawat membawa Ressa ke ruang bedah. Aris menunggu didepan ruang bedah sendirian, dia duduk disana dengan penyesalan. Melihat Ressa tak sadarkan diri dengan kepala yang bersimbah darah.


Waktu terasa berjalan begitu lambat, Aris sudah berjalan mondar-mandir, duduk kemudian berdiri lagi. Hingga Akhirnya lampu merah diruang bedah sudah padam, menandakan pembedahan selesai.


Setelah itu Seorang dokter keluar dan beberapa perawat juga keluar.


"Dok bagaimana istri saya?" Tanya Aris tanpa basa basi


"Keadaannya sudah membaik, lukanya cukup dalam dan kami menjahit 17 jahitan. menurut saya itu luka benda tajam yang dihantamkan dengan sangat kuat" Terang dokter bedah.


"Obat biusnya akan bertahan sekitar 2 jam lagi, sekarang istri anda akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jelas perawat dan mereka pun pergi meninggalkan Aris.

__ADS_1


Aris terduduk lega, dia melihat jam yang menunjukan jam 1 pagi. Dia menghela nafas panjang. kemudian Aris segera berjalan menuju ruang perawatan Ressa. Dia melihat istrinya dan duduk di sofa yang berada disamping tempat tidur Ressa.


Aris menatapnya lama, lalu mengambil segelas Air minum. Dia kehausan dan juga mengantuk. Sambil menunggu istrinya tersadar, Aris merebahkan badannya di sofa. Tak terasa Aris tertidur sambil menemani Ressa.


__ADS_2