
Ressa tak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir dipipinya, meski tanpa suara, tangisan itu merupakan ungkapan betapa hancurnya hati dan kepercayaan Ressa. Melihat suaminya berselingkuh didepan matanya sangat membuat Ressa terpukul.
Supir taksi online melihat Ressa dari kaca spion supir. Terlihat Ressa menangis sambil memalingkan wajahnya ke jendela mobil melihat jalanan yang dilewati.
Meski kakinya membengkak, tapi yang Ressa tangisi bukan luka itu, tapi luka dihatinya yang kian menganga. Setelah sampai di rumah sakit, Ressa menuju Instalasi Gawat Darurat dan meminta bantuan untuk menangani lukanya.
"Ya ampun, bagaimana bisa menginjak serpihan kaca sebanyak ini?" Tanya seorang Perawat yang terkejut melihat luka dikaki Ressa.
"Ambilkan peralatannya." Ucap Seorang Dokter, dijawab anggukan Perawat itu dan mulai membersihkan luka Ressa dan mengambil serpihan serpihan kaca yang menancap ke dalam kulit dna telapak kakinya.
Dokter itu menghela nafas panjang, namun tetap tenang menangani luka dikaki Ressa.
Sementara itu Ressa hanya menatap langit langit, pikirannya melayang entah kemana, meski lukanya cukup serius, dia tidak memekik kesakitan seperti orang yang terluka pada umumnya.
"Sudah selesai" Ucap Dokter itu setelah membalut luka dikaki Ressa.
"Terima kasih," Ressa berniat segera pergi, namun dokter itu menahannya.
"Maaf, ibu tidak boleh banyak berjalan dulu, jadi sebaiknya rawat inap sampai lukanya benar benar kering." Ucap Dokter itu. Ressa tertegun. Dia berpikir mungkin ini kesempatannya untuk menenangkan diri sendiri dulu.
"Baiklah, " Jawab Reesa pelan. Dia memilih ruang VIP yang sendirian agar dia bisa benar benar menyendiri.
"Sus, saya menolak jika ada yang ingin menjenguk, tolong sampaikan jika ada yang datang." Ucap Ressa pada perawat yang berjaga di area kamar rawatnya.
◇◇◇◇◇◇
Waktu berlalu begitu saja, setelah 2 minggu dirawat Ressa akhirnya diijinkan pulang. Sementara itu Aris terus mencarinya ditengah permasalahan audit dihotelnya.
Aris datang setiap malam kerumahnya namun Ressa tidak pernah ada, dia tidak mengetahui harus kemana mencari Ressa karena Ressa tidak mempunyai sanak saudara atau teman dekat yang akan memberikan tempat tinggal sementara.
"Kamu dimana sih Ressa," Gerutu Aris. Setiap pulang dari hotel Aris selalu datang kerumah yang mereka tinggali bersama, namun rumah itu kosong.
Selama Ressa menghilang, Aris menginap dihotel diruang kerjanya. Dia memang lembur membereskan pekerjaannya yang tidak kunjung selesai karena akan dilaksanakannya audit.
Meski sesekali menghubungi Aira, namun dia tetap merasa ada yang kosong direlung hatinya. Dia tetap tidak tenang jika belum menemui Ressa. Karena untuk menghubungi Ressa pun Aris tidak bisa karena Ressa menonaktifkan ponselnya.
__ADS_1
Waktu yang bersamaan juga Aira tidak begitu menghiraukan Aris, dia tengah fokus pada kuliah dan pemulihan Meylani. Dia tidak mau meninggalkan Meylani berlama lama karena takut Meylani drop kembali.
Malam itu Aris mengendarai mobilnya keluar dari komplek dan melihat Ressa yang menaiki taksi online menuju ke dalam komplek. Aris segera memutar arah mobilnya dan mengikuti taksi online itu kerumah mereka.
"Kamu dari mana saja? Aku mencarimu," Ucap Aris berteriak putus asa.
Ressa tertegun mendengar suara itu dibelakangnya. dia mengetahui pasti itu adalah Aris. Ressa tertunduk menghela nafas panjang. Lalu berjalan lagi tanpa menghiraukan Aris.
Aris menghadangnya.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" Tanya Aris jengah. Dia benar benar putus asa.
"Apa menurutmu aku akan sehancur ini jika tidak mencintaimu?" Lirik Ressa lemas. Dia berjalan kembali masuk ke dalam rumah diikuti oleh Aris.
Aris memeluknya dari belakang. Memohon agar Ressa memaafkannya. Dia berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Ressa tidak menangis lagi, mungkin air matanya sudah habis karena 2 minggu itu dia menangis setiap kali mengingat kejadian itu.
"Aku masih butuh waktu sendirian." Ucap Ressa pelan dan melepaskan pelukan Aris lalu masuk ke kamarnya.
Aris pergi dari rumah itu, membiarkan Ressa menjernihkan pikirannya terlebih dahulu. Setidaknya dia merasa lega karena mengetahui keberadaan Ressa meski dia tau Ressa tidak baik baik saja.
◇◇◇◇◇
"Halo Ma, apa kabar?" Tanya Aira ceria saat menelpon Mamanya.
"Iya sayang Mama baik baik saja, bagaimana kuliahmu?" Tanya Mama Aira lembut pada putrinya itu.
"Ya begitu saja, membosankan Ma, Aira ingin mencoba hal baru." Ucap Aira mengadu pada Mamanya.
"Ha ha ha putri Mama tersayang ini sudah dewasa ya, Memang kamu ingin mencoba apa?" Tanya Mama Aira.
"Aira juga belum tau, tapi benar benar membosankan. Setelah Aira pikir pikir, untuk apa membeli mobil, kampus Aira sangat dekat. Jalan kakipun hanya 5 menit." Gerutu Aira
"Apa kamu mau coba masuk ke managemen hotel?" Tanya Mamanya.
"Mama serius? Memang Papa mengijinkan?" Aira sumringah,
__ADS_1
"Nanti Mama bicarakan dengan Papa ya sayang," Jawab Mama Aira lalu menutup teleponnya.
Aira senang akhirnya punya kegiatan lain selain kuliah, belakangan ini dia mulai bosan dengan kesehariannya. Karena semasa dulu dia mengikuti club gowes.
Tidak lama berselang, Papa Aira menelpon pada Aira. Dia pun segera mengangkat telepon itu.
"Ya Pa?" Aira menerima telepon dengan nada yang hangat.
"Mama bilang kamu ingin bergabung dihotel?" Tanya Papa Aira serius.
"Iya Pa, itu juga kalau Papa mengijinkan," Jawab Aira manja.
"Tentu saja boleh, Besok kamu sudah bisa masuk manajemen hotel. Papa akan siapkan posisi yang pantas untukmu." Jawab Papa Aira senang karena putrinya bisa meneruskan usaha keluarganya.
Setelah bertelepon dengan Papanya Aira segera menelpon Aris. Dia merindukannya.
"Halo Mas, bisa bertemu?" Tanya Aira senang, namun Aris yang sedang tidak bergairah menolaknya.
"Mas tidak bisa, banyak kerjaan dihotel. Mas bahkam belum pulang selama beberapa minggu." Jawab Aris malas berbincang dengan Aira. Aira merasa kesal dan akhirnya menutup telepon sebelum Aris selesai bicara.
Padahal Airq ingin bicara bahwa dia akan bekerja di tempat yang sama dengan Aris.
Keesokan harinya, Aira bersiap menuju ke hotel, dia mengendarai mobilnya dan segera menuju ke lobby bertemu dengan Pak Arman.
Pak Arman merupakan salah satu orang yang paling dipercaya Papanua di hotel itu selain Aris. Dan Pak Arman merupakan Direktur pelaksana dibawah pengawasan langsung Bos Adji yang merupakan Papa Aira.
"Nona sudah siap?" Tanya Pak Arman ketika bertemu Aira untuk mengenalkannya kepada seluruh staff hotel.
"Tentu saja," Jawab Aira percaya diri.
"Mari ikut saya, yang lain sudah menunggu" Ujar Pak Arman mengajar Aira ke ruang rapat yang sebelumnya sudah disiapkan untuk memperkenalkan Aira. Seluruh staff sudah menunggunya disana, termasuk Aris.
Ceklek
Semua mata tertuju pada Aira, sebagian staff dan karyawan sudah mengenalnya ketika beberapa hari Dia menempati hotel.
__ADS_1
"°Perkenalkan, Ini adalah Bu Aira Permatasari. Dia yang akan menjadi assisten manager operasional mulai saat ini." Ucap Pak Arman lantang. Aira mengangguk dan tersenyum. Semua orang yang berada disana bertepuk tangan, termasuk Aris. Dia sangat terkejut.
"Kenapa Aira bekerja disini?" Gumam Aris.