Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 31 - RELUNG RINDU


__ADS_3

Papa dan Mama Aira sudah tiba dibandara, Mereka datang bersama beberapa ajudan dan segera menghubungi hotel untuk menyiapkan akomodasi. Mendengar kedatangan orang tua Aira membuat Aris merasa gelisah, Dia takut Aira menceritakan tentang apa yang sudah dia perbuat.


Aris segera menjemput orang tua Aira dibandara bersama dengan beberapa mobil hotel. Dia ingin memastikan bahwa semua tetap menjadi rahasianya.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," Ucap Aris sopan dan membungkukknya tubuhnya saat bertemu dengan kedua orang tua Aira.


Plakk


Papa Aira menampar Aris didepan staff dan ajudan yang lain, mereka semua terkejut dengan apa yang terjadi. Papa Aira menatap nanar pada Aris yang menundukkan kepalanya. Lalu menarik nafas panjang.


Aris merasakan pipinya berdenyut perih, tamparan itu membuat jantungnya bedegup kencang, apa mungkin Aira sudah menceritakan hubungannya dengan Aris kepada Papa dan Mamanya? pikir Aris dalam hatinya.


"Antar saya ke rumah sakit dimana Aira berada." Ucap Papa Airq singkat sambil berjalan menuju lobby bandara dimana para supir sudah menunggu.


Aris mengikuti mereka dengan tergopoh gopoh, dan segera membukakan pintu untuk kedua majikannya itu. Aris sudah mendapatkan informasi rumah sakit dari Mimi, dan mereka segera mamacu mobilnya dengan cepat.


5 rombongan mobil itu sampai di rumah sakit, Papa dan Mama Aira segera turun diikuti dnegan ajudan mereka, Rumah sakit pun heboj dengan kedatangan Papa Aira yang memang terkenal sebagai pengusaha hotel sukses.


"Dimana ruangannya?" Tanya Mama Aira pada Aris.


Aris segera berjalan didepan untuk menunjukan jalan, semakin dekat ke ruangan yang dituju, Aris semakin cemas. Setelah sampai didepan ruangan yang dimaksud, Aris mengetuk pintunya.


Tok tok tok


Didalam ruangan itu ada Aira yang tengah berbincang ringan demi menghibur Meylani agar tidak melamun dan Mbak Mi yang tertidur di Sofa. Aira membuka pintu dan terkejut mendapati kedua orang tuanya berada di hadapannya.


"Mama? Papa? Aira kangen banget" Aira segera memeluk kedua orangtuanya dan disambut hangat. Papa Aira mengelus kepalanya dan menatap putrinya dengan cemas.


"Ada apa sayang? kamu sakit apa?" Tanya Papa Aira melihat mata putrinya berkaca kaca.


"Aira t-tidak huaaa" Bukannya menjawab Aira justru menangis kencang, Mamanya memeluk erat Aira dan mereka masuk ke dalam ruangan Meylani. Aris beserta ajudan dan staff menunggu diluar ruangan.

__ADS_1


Meylani menatap Aira dan kedua orang tuanya. Mimi pun terbangun mendengar keribut yang terjadi. Namun setelah masuk ke dalam ruangan, kedua orang tua Aira menjadi kebingungan. Kenapa yang berada di atas kasur pasien itu orang lain?


"Nak, tenanglah Papa dan Mama sudah ada disini, sudah ya jangan nangis," Ucap Mama Aira sambil mengelus pipi Aira dengan lembut, menghapus air matanya yang mengalir.


"Selamat sore Pak, Bu," Sapa Mimi dengan sopan dan tersenyum, dijawab dengan senyum dan anggukan kedua orang tua Aira.


"Ah iya Aira belum kenalin, ini Mbak Mi, pemilik kosan yang Aira sewa, dan itu Meylani teman dekat Aira dikampus dan juga teman kosan." Singkat Aira mengenalkan Mimi dan Meylani kepada kedua orang tuanya.


Mereka pun duduk dan berbincang, Aira menceritakan apa yang terjadi tadi pagi sehingga membuat kedua orang tuanya segera datang. Papa dan Mama Aira bisa bernafas lega setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Sayang, hubungi Mama jika kamu butuh bantuan maupun kamu berada disituasi yang tidak bisa kamu tangani. Mama dan Papa akan segera datang." Ucap Mama Aira lembut sambil membelai rambut panjang Aira. Meylani yang melihat semua itu kemudian berlinang air mata dan membalikkan tubuhnya memunggungi mereka semua. Meylani sedih, karena mengingat kedua orang tuanya yang justru sudah meninggal dunia. Dadanya terasa sesak dan perih, air matanya mengalir. Dia menatap pergelangan tangannya yang diperban. Air matamya mengalir tanpa suara.


Aira yang meyadari Meylani menahan tangis, beranjak dan menghampirinya.


"Mey.. jangan sedih." Aira mulai ikut terisak, Aira mudah menangis apalagi melihat orang terdekatmya menangis. Mama Aira juga menghampiri mereka berdua.


Meylani berbalik dan segera mengambil posisi duduk dan mencium tangan Mama Aira. Mesti sambil terisak, Meylani menyapa dengan memaksakan tersenyum meski getir.


"Nak, orang tuamu pasti sangat menyayangimu, makanya dia tidak membawamu dimobilnya waktu itu, percayalah, mereka selalu menyayangimu bagaimanapun kondisinya." Ucap Mama Aira dengan lembut.


Meylani menangis dipelukan Mama Aira, tersedu karena dadanya terasa sesak, kesedihan itu menyeruak ke rongga dadanya, dia mengingat saat saat terakhir bersama orang tuanya.


Hari itu, Meylani kecil berada dikamarnya dan kedua orang tuanya berkata bahwa sepupu perempuannya datang untuk bermain, Meylani segera menyambutnya dan mengajaknya ke kamar. Mereka bermain boneka bersama.


"Mey, Ayah akan ke minimarket, kamu tunggu dirumah saja ya," Ucap Ayah Meylani. Namun Meylani segera beranjak dan memeluk Ayahnya manja.


"Ikut yah, Mey mau ikut Ayah." Peluk Meylani manja.


"Sayang, Ayah tidak akan lama, setelah urusan ayah selesai, kita berangkat jalan jalan ya," Ucap Ayah Meylani menatap mata putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Tapi belikan aku cokelat ya," Meylani tersenyum lebar, Ayahnya meng-iya-kan dengan manganguk meyakinkan. Ayah Meylani pun keluar dari rumah namun Ibu Meylani menghampirinya didepan mobil. Meylani melihat mereka berdebat kecil.

__ADS_1


Namun akhirnya mereka berdua pergi bersama setelah Ibunya menciumi Meylani beberapa kali.


"Kamu baik baik ya, Ibu tidak akan lama" Ucap Ibunya terakhir kali saat itu. Meylani yang mengira kedua orang tuanya hanya pergi ke minimarket tak berharap banyak, dia hanya berharap saat orang tuanya pulang, mereka membawa cokelat kesukaannya.


Namun Orangtuanya tak pernah kembali membawakan cokelat, namun ternyata orang tuanya kembali tanpa nyawa.


Meylani terisak merindukan kedua orang tuanya, dalam pelukan Mama Aira, Meylani merasakan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu yang sudah lama tidak dia rasakan.


Mama Aira membelai rambut Meylani pelan, dan menatapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih tante, saya minta maaf membuat pakaian tante basah dengan air mata, saya hanya merindukan orang tua saya saat melihat kebersamaan tante dan Aira." Ucap Meylani setelah merasa membaik dan tangisnya mereda.


"Tidak usah sungkan sayang, anggap aja tante ini Mamamu juga." Jawab Mama Aira tersenyum, Aira yang mendengarnya juga tersenyum dan merangkuk Meylani.


"Yeay punya sodara," Gelak tawa mereka terdengar hingga keluar, akhirnya suasana tidak kaku dan semenyedihkan sebelumnya. Meylani juga senang dengan sikap Papa Aira yang humoris, tidak sedikit pun membuat jarak meski beliau adalah pengusaha sukses yang kaya raya.


Waktu berlalu begitu saja, sampai tak terasa malam sudah hampir larut. Aira pamit pada Meylani dan Mimi untuk pergi bersama orang tuanya.


"Mbak, Mey, aku ikut sama Papa Mama dulu ya, besok aku datang lagi," Ucap Aira pamit.


" Iya Ra, Adrian juga akan datang nanti malam, kamu pulang saja bersama orang tuamu, mumpung mereka masih disini," Ucap Mimi.


Meylani hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui apa yang Mimi katakan. setelah itu Aira pergi keluar dari ruangan meninggalkan Meylani bersama Mimi.


Mereka keluar dari ruangan disambut beberapa ajudan yang masih menunggu disana, sementara Aris sudah pergi karena ada meeting mendadak.


Aira menggandeng lengan Mama dan Papanya dengan manja, dia sangat merindukan mereka berdua sampai tak ingin melepaskan gandengan tangannya.


"Apa kamu lapar?" Tanya Papa Aira pada putri cantiknya itu.


"Tentu saja, kita makan malam steak ya," Ucap Aira menyebutkam makanan kesukaannya. Mama Aira hanya tersenyum melihat kekompakan bapak dan anak itu.

__ADS_1


Mereka pun menuju ke restoran untuk makan bersama.


__ADS_2