
Ressa menangis tersedu dengan sikap Aris yang mengacuhkannya, semua perkataan yang Aris ucapkan barusan sangat menyayat hatinya. Ini pertama kalinya Aris sangat marah padanya.
"Apa karena kebutuhannya tidak terpenuhi? Atau memang aku yang tidak becus jadi istri" Pikir Ressa dalam benaknya. Dia masih berlutut dilantai dan menangis tersedu saat Aris selesai mandi. Ressa segera beranjak saat Aris memakai piyama tidurnya.
"Mas, maafkan aku menolak keinginan Mas, jika Mas mau.." Ucap Ressa sambil membuka gaun tidurnya. Namun Aris memotong ucapannya.
"Tidak perlu. Sudah ku selesaikan sendiri dikamar mandi!" Ucap Aris ketus dan segera menuju ke tempat tidur dan meringkuk didalam selimut dengan amarah yang masih membara didadanya.
Ressa tertegun melihat sikap Aris yang tidak biasanya seperti itu. Aris suami yang sangat lembut, bahkan meski Ressa jarang memasak untuknya Aris tidak pernah menuntut. Namun malam ini, Aris begitu marah dan wajahnya sangat masam.
Ressa menghela nafas panjang dan segera mengambil posisi memeluk Aris yang membelakanginya. Namun tangannya ditepis oleh Aris yang sedang tak ingin disentuh.
Itu membuat Ressa merasakan denyutan pedih didadanya. Hal yang paling dibenci wanita adalah diabaikan oleh suaminya sendiri. Ressa memandangi punggung Aris dengan tatapan sedih, dia menangis tanpa suara.
Ressa tak menyangka justru kepulangannya membuatnya semakin merasa penat.
Sementara itu, Aira dan Ergy beserta kedua kawannya baru saja tina di rumah sakit. Mereka menuju kamar Meylani. Saat mereka sampai, Meylani sedang makan makan ditemani oleh Bibinya.
"Tok tok, Permisi," Ucap Aira melongokkan kepalanya dibalik pintu.
"Airaa,"Teriak Meylani kegirangan melihat Aira yang tiba.
"Masuk Nak, " Bibi Meylani menyambut dan tersenyum menyapa. Aira segera masuk bersama Ergy, Steve dan Niko. Mereka menyapa dan bersalaman dengan Bibi Meylani.
"Loh ternyata Aira gak sendirian ya," Ucap Bibi Meylani menyambut mereka semua.
"Iya, ini kawanan pendekar mau pada ikutin saya terus, Hehe" Aira menjawab dengan maksud menggoda Ergy dan kawan kawannya. Ergy yang malu mencubit hidung Aira dan mereka sempat ribut kecil dan ditertawakan oleh seisi ruangan yang melihat tingkah mereka berdua.
Ergy menghampiri Meylani dan mengusap pergelangan tangannya yang diperban karena luka saat mencoba bunuh diri. Ergy menatap Meylani dalam, dengan tatapan iba dan kemudian mengelus rambut Meylani.
__ADS_1
Entah mengapa mendapat perlakuan Ergy seperti ini, Meylani berkaca kaca, Matanya yang kecoklatan dibentengi oleh air mata yang tidak sanggup terbendung seperti air bah yang datang tiba tiba.
Meylani terisak meski Ergy tak mengucapkan sepatah katapun. Ergy menarik tubuh Meylani bersandar pada bahunya. Ruangan itu sunyi, sehingga tangisan Meylani begitu pilu terdengar seperti hati yang teriris.
"Nak, Bibi ingin bicara sebentar," Bisik Bibi Meylani pada Aira pelan dan mengajak Aira keluar dari ruangan saat Meylani menangis dibahu Ergy.
"Ada apa Bi?" Tanya Aira yang menghampiri Bibi Meylani yang duduk di kursi tunggu didepan ruangan rawat Meylani.
"Bibi ingin ucapkan terimakasih, biaya rumah sakit Meylani dan menempatkannya diruang VIP, " Ucap Bibi Meylani sambil menggenggam tangan Aira saking berterimakasihnya.
"Sama sama Bi, Meylani itu sahabatku, jadi aku juga sangat menyayanginya." Jawab Aira tersenyum.
"Sebenarnya jasad kedua Orang Tua Meylani juga ada dirumah sakit ini, Bibi ingin mengajaknya melihat jasadnya untuk terakhir kali, meskipun sudah tidak berbentuk sempurna, setidaknya Meylani tidak akan merasa penasaran. Tapi Bibi takut nanti dia akan nekad, dan melakukan hal buruk yang akan menyakiti dirinya sendiri lagi." Raut wajah Bibi sangat cemas, Dia mengatakan itu dengan gemetar dan menahan tangis.
Aira mengerti apa yang Bibi rasakan, dia juga takut Meylani melakukan percobaan bunuh diri lagi.
"Bibi tenang saja, aku akan bicara pelan pelan pada Meylani, dan aku akan selalu menghiburnya agar dia tidak terus teringat dengan Orang Tuanya." Aira berusaha meyakinkan Bibi Meylani agar tidak merasa khawatir dan cemas yang berlebihan. Setelah merasa lebih tenang Bibi Meylani pamit dan pulang membiarkan Aira yang menjaga Meylani malam itu.
"Kenapa kalian tidak mengajakku?" Ucap Aira ingij bergabung dan duduk diantara Steve dan Ergy.
"Gak boleh, ini udah pas 4 orang," Tolah Ergy tidak memberikan celah untuk Aira bergabung. Aira yang kesal dengan sengaja mengelitiki Ergy agar memberinya tempat. Mereka tertawa bersama.
Malam itu, Meylani melupakan sejenak kesedihannya dengan bermain bersama kawan kawannya yang datang menginap. Malam yang menyenangkan.
--------------
Pagi hari dirumah Aris.
Ressa tidak dapat tertidur nyenyak semalaman, kantung matanya semakin terlihat jelas, Dia terbangun pagi hari sekali dan segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Alarm ponsel Aris berbunyi pukul 06.00, Aris segera terbangun dan pergi mandi. Dia mencium wangi masakan yang dimasak Ressa. Dan memang perut Aris sudah keroncongan karena lapar.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Aris memakai setelan jas berwarna biru tua dan segera bersiap berangkat bekerja. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan mendapati Ressa yang sedang menunggunua dimeja makan.
"Mas, sarapan dulu." Ucap Ressa segera berdiri dari kursinya.
"Tidak perlu," Jawab Aris ketus.
"Tapi Mas, aku sudah berusaha masak, cobalah sedikit saja." Ressa memohon agar Aris mau bersarapan bersamanya.
"Kenapa? Bukannya biasanya juga aku yang masak sendiri dan sarapan sendiri sementara kamu masih tidur?!" Kata Aris singkat dan ketus. Dada Ressa terasa sakit mendengarnya. Aris berlalu begitu saja, yang tertinggal hanya suara deru mobilnya yang semakin menjauh.
Ressa menangis lagi, matanya sembab. Memang benar semua yang Aris ucapkan. Ressa memang tidak pernah memasak untuk Aris, justru Arislah yang lebih sering memasak untuknya.
Mereka berdua memang saling sibuk bekerja dan berbisnis, sudah lama sekali tidak berhubungan badan. Ressa menyadari kelalaiannya sebagai istri.
Ressa memang terlalu sibuk dan sering kali menolak ajakan Aris untuk berhubungan karena kelelahan mengurus usahanya. Namun meskipun begitu, Ressa sangat mencintai Aris sepenuh hatinya. Dia tidak ingin kehilangan Aris.
Dia menangis tersedu sendirian, melihat sekeliling rumahnya yang ternyata tidak banyak dihiasi foto mereka berdua. Hanya hiasan dinding dan lukisan dengan bunga bunga yang mengisi penuh rumah itu. Ressa menyadari hubunhan mereka yang memang sudah hambar beberapa bulan ke belakang.
Ressa termenung didepan jendela dan memikirkan pernikahannya. tiba tiba dia merasa harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki hubungannya dengan Aris.
Dia segera beranjak dan bergegas pergi dari rumahnya. Ressa menuju sebuah salon, dan segera masuk ke dalamnya.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu," Ucap terapist salon pada Ressa yang sepertinya kebungungan.
"Saya ingin lulur dan massage, juga ratus, dan hmm ditambah mani pedi, dan juga creambath dan totok aura. pokoknya semuanya ya," Ucap Ressa yang bingung harus melakukan apa saja.
Terapis itu hanya tersenyum dan mempersilahkan Ressa masuk ke ruangan perawatan. Ressa menghabiskan waktunya di salon kecantikan untuk memperbaiki hubungannya dengan Aris.
Ressa memberikan pesan singkat pada Aris, "Mas, malam ini mau candle light dinner dirumah?" Ressa mengetik pesan itu dengan ragu ragu, namun akhirnya dia mengirimkan pesan itu pada Aris.
Berjam jam berlalu Ressa melalukan perawatan hingga petang. dan dia segera memesan makanan kesukaan Aris dari restoran langganan mereka. Dia tidak ingin mengecewakan Aris lagi malam ini.
__ADS_1