
Malam menjelang, Terlihat bulan bersinar lebih terang, Malam ini nampak cerah ditandai dengan banyaknya bintang bintang yang terlihat tanpa tertutupi oleh awan. Aris mengemudikan mobilnya menuju hotel setelah melakukan beberapa rapat dengan beberapa klien berbeda ditempat yang berbeda. Hari ini sangat melelahkan baginya. Dia mengemudikan mobilnya dengan kesadaran yang kurang baik karena agak mengantuk. Hingga dia hamper menambrak tiang jalanan.
Khawatir akan mencelakai orang lain, Aris segera menepikan mobilnya dan mengambil ponselnya. Dia memanggil Ressa.
“Halo, Ada apa Mas?” Ucap Ressa menjawab telepon dari Aris.
“Mas mengantuk, kamu bisa datang kesini jemput Mas?” Pinta Aris sambil Manahan kantuknya.
“Maaf Mas aku gak bisa, Aku sedang dipabrik dan kemungkinan tak bisa pulang malam ini.” Jawab Ressa kepada suaminya itu. Mendengar itu Aris kecewa dan mematikan telepon tanpa menjawab perkataam Ressa.
"Mungkin sebaiknya aku tidur sebentar dan baru lanjutkan perjalanan, daripada nanti kecelakaan," pikir Aris memasuki mobil kembali. Dia mengubah posisi kursi disamping kemudi agar nyaman untuk beristirahat sejenak. Namun belum sempat dia memejamkan matanya, Dering telepon berbunyi. Panggilan itu dari Aira. Melihat nama yang tertera dilayar ponselnya Aris tersenyum dan segera mengangkat teleponnya.
"Hallo Mas," Ucap Aira disana dengan nada kesal.
"Yaaa," Jawab Aris sambil menghela nafas dan memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman.
"Kenapa sih gak ngabarin aku? Mas gak tau yang seharian aku mikirin Mas, Mas kemana? Mas ngapain? Mas makan sama siapa? Aku tuh mikirin dari pagi," Aira terus berbicara tanpa henti tak membiarkan Aris menjawab meski sebentar aja. Aira sangat kesal sehingga omelannya sangat panjang.
Aris mendengarkan omelan Aira dengan tersenyum dan memejamkan matanya. Suara Aira lembut membuat Aris makin ingin terlelap.
"Mas? Hallo?! Mas gak dengerin aku ya?" Panggil Aira dengan kesal dan sedikit berteriak.
"Mas denger sayang, tapi seharian ini Mas banyak meeting. Sekarang Mas lagi menepi dijalan karena sangat ngantuk dan gak kuat nyetir sendiri. Jadi Mas mau tidur dulu sebentar terus ke hotel." jawab Aris lemas dan memposisikan tubuhnya agar merasa nyaman.
"Mas gak tau ini jam berapa? bahaya mas berhenti dijalan dan tidur sendirian." Ucap Aira khawatir. dia ingin sekali menghampiri Aris namun kakinya sedang terkilir.
"Tidak apa apa, Mas berhenti depan minimarket, jadi aman kok." Ucap Aris menenangkan kekhawatiran Aira. Namun Aira tetap tak tenang, dia gelisah dan ingin menghampiri Aris.
"Memangnya Mas dimana?" Tanya Aira sambil melihat jam didinding kamarnya yang menunjukan pukul 20.10, masih ada waktu sebelum gerbang dikunci oleh Mbak Mi, pikir Aira.
"Daerah xxxx dekat mall, memangnya kamu mau kesini ketemu mas?" Canda Aris sambil terkekeh, dia hanya menggoda Aira, karena lokasi ini cukup jauh dan Aira tak mengetahui daerah itu karena dia bukan penduduk asli.
__ADS_1
"Mas share lokasinya ya, biar aku kesana," Ucap Aira segera bergegas bersiap mengambil jaketnya dan memakai sepatunya. dia tak mengatakan kepada Aris bahwa kakinya sedang terkilir, dia berjalan perlahan karena kakinya yang terasa sakit.
"Kamu serius? jangan kesini, bahaya anak gadis keluar malam malam," Ucap Aris tertawa menggoda Aira, dan itu justru membuat Aira semakin ingin menghampirinya.
"Mas tunggu aja disana, sekarang kirim lokasinya, Ira sedang berangkat." Ucap Aira sambil memasangkan Earphone wireless ke telinganya dan segera keluar dari kamarnya. dia mengunci pintu dan berjalan perlahan menuruni tangga menuju ke lantai bawah.
"Mas sudah kirim lokasinya. tapi apa kamu serius? Mas khawatir kamu sendiri kesini." Ucap Aris, rasa kantuknya mulai hilang. Aris juga keluar dari mobilnya dan masuk ke minimarket. dia mencari sesuatu.
"Gak apa apa kok mas, Aira gak takut. yang Aira takutin adalah kehilangan mas Aris hehe" Aira merayu Aris dan membuatnya tertawa, sementara Aira berjalan menuju jalan utama untuk mencari taksi, Aris berkeliling di minimarket dan membeli beberapa minuman dan makanan serta pengaman. malam ini pasti seru, ucap Aris dalam hatinya.
"Mas taksinya sudah ada, teleponnya jangan dimatikan ya," Ucap Aira
"Ya sayang, hati hati, bilang mas kalau ada apa apa," Ucap Aris sambil mmebayar beberapa barang belanjaannya. Setelah itu Aris kembali ke dalam mobil dan meminum minuman energi yang dibelinya diminimarket sebelumnya.
Aira menaiki taksi dan segera menuju ke lokasi dimana Aris berada. Meski telepon tak dimatikan, Aira tak berbincang dengan Aris karena tak nyaman berbicara didepan supir taksi. dalam perjalanan dia merasa tak sabar ingin bertemu Aris yang sudah beberapa hari tak bertemu. jantungnya terasa berdebar kencang seolah tak sabar menemui Aris.
sementara itu Aris menerima pesan singkat dari Ressa. dia kemudian membacanya, "Mas maaf, aku tak bisa pulang malam ini, bahkan mungkin beberapa hari, boleh gak mas? aku mau telepon mas tapi sibuk terus." isi pesan singkat dari Ressa istri Aris. membaca itu Aris menghela nafas, selalu saja bisnis lebih penting dari dirinya. Aris membalas singkat, "Ya" Tulisnya dalam pesan singkat itu.
Namun belum sempat Aira menekan tombol telepon, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Sayang," Ucap Aris menepuk pundak Aira dari belakang.
"Ah Mas, aku terkejut," Ucap Aira tersenyum manis, dia menatap Aris beberapa saat, jantungnya semakin berdebar kencang dan mulai merasa gugup.
"Mana mobil Mas? Ucap Aira menengok ke sekitar mencari dimana diparkirnya mobil Aris.
"Mas parkir didekar hotel itu," Tunjuk Aris. Pandangan Aira mengikuti arah yang ditunjuk oleh Aris dan mengangguk karena telah melihat mobil Aris disana.
"Ayo kita pulang Mas pasti capek, Mas tidur saja, biar aku yabg nyetir," Ucap Aira percaya diri.
"Memang kamu bisa nyetir?" Ledek Aris seolah tak percaya dengan kemampuan Aira. mendengan itu Aira kesal dan ingin membuktikannya.
__ADS_1
"Bisa dong, Ayo aku buktiin sekarang," ucap Aira menarik lengan Aris, namun Aris justru menarik tubuh Aira dan memeluknya. Aira terkejut dan terdiam dalam pelukan Aris. tubuhnya sedikit kaku karena terkejut.
"Mas kangen," Bisik Aris pelan.
"Aira juga kangen Mas," Jawab Aira membalas pelukan Aris. mereka berpelukan beberapa saat. mereka tenggelam dalam perasaan rindu yang menggebu dihati mereka masing masing.
"Ayo kita pulang, sudah hampir larut." Ucap Aris melepaskan pelukannya pada Aira dan mengajak Aira menuju ke mobilnya. mereka berjalan bersama namun Aira berjalan perlahan karena kakinya masih terasa sangat sakit.
"Kakimu kenapa?" Tanya Aris menghentikan langkah kakinya karena melihat Aira cukup kesusahan berjalan dengan terpincang pincang.
"Oh gak apa apa, tadi hanya terkilir sedikit," Ucap Aira berusaha berjalan dengan normal agar Aris tak khawatir. Namun tiba Aris berlutut memunggungi Aira.
"Naik ke punggung Mas," Ucap Aris meminya Aira naik ke punggungnya.
"Tapi mas Ira gak apa apa ko," Jawab Aira tak tega membiarkan Aris menggendongnya karena kondisi Aris yang sedang kelelahan. namun Aris justru menatapnya tajam seolah menegaskan untuk segera naik ke punggungnya. Aira menurut dan akhirnya Aira digendong oleh Aris menuju ke mobil.
"Bagaimana kamu bisa menyetir kalau kakimu terkilir begini?" Ucap Aris khawatir. Aira terdiam, sebelumnya dia tak memikirkan hal ini, karena sangat rindu pada Aris sehingga dia tak berpikir panjang.
"Maaf ya mas, kedatangan Aira justru bikin mas repot." Aris menurunkan Aira disamping mobilnya. Aris menatap Aira dan memeluknya lagi.
"Gak apa apa, kamu dateng aja mas udah seneng banget," Ucap Aris sambil memeluk Aira.
"Mas cuma butuh tidur beberapa jam, mungkin 2 jam cukup, setelah itu kita pulang ya," Ucap Aris sambil mengelus kepala Aira.
"Yasudah tidur disana aja mas," Tunjuk Aira ke hotel yang ada dibelakang Aris. Aris menengok ke belakangnya.
"Kenapa?" Tanya Aris menahan tawa.
"ya kan biar mas tidurnya nyaman," Ucap Aira polos.
Aris tersenyum menyeringai, kenapa gadis ini begitu polos? pikir Aris dalam hatinya.
__ADS_1