
Aris terkejut melihat Aira berdiri didepan semua pegawai hotel dan memperkenalkan diri. Aira tampak sangat cantik memakai setelan jas dan rok span selutut berwarna biru muda.
Dia sangat cocok memakai baju setelan kantoran itu, membuatnya terlihat anggun dan karismatik. Beberapa pegawai yang masih muda berbisik bisik memuji kecantikan Aira, terutama pegawai pria yang terpesona dengan kecantikan Aira.
Aira tersenyum mengedarkan pandangannya ke seluruh pegawai yang berkumpul. Ketika matanya bertemu dengan mata Aris, Aira menganggukan kepalanya sehingga para pegawai mencari siapa yang disapa Aira secara pribadi itu.
"Masalah apa lagi ini, Benar benar membuat kepalaku pening," Gumam Aris dalam hatinya.
Pak Wisnu menyenggolkan sikutnya ke sikut Aris, seolah memberikan isyarat bahwa semua orang melihatnya.
"Mohon bantuannya ya semuanya." Aira membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Setelah perkenalan itu, Aira diperkenalkan dengan Manager Operasional, Ibu Sulistya. Aira diberikan pengenalan tugas kerja dan beberapa bahan evaluasi. Ibu Sulistya mengenalkan beberapa staff khusus dibagian Managemen Operasional.
Aira ditempatkan sebagai Assistent Manager Operasional. Dia belajar perlahan laha agar nantinya mampu meneruskan usaha Papanya. Ini seperti praktek kuliah baginya.
Sore hari, setelah semua perkenalan dan penyesuaian jadwal, Aira segera pulang dan menemui Meylani untuk menceritakan apa yang dia kerjakan hari ini.
"Wah enaknya jadi orang kaya," Gumam Meylani mendengarkan cerita dari Aira.
"Bagaimana hari ini? Apa kamu senang?" Tanya Aira penasaran.
"Tidak ada yang special, hanya saja tadi Ergy dan kawan kawannya kemari dan membawakanku buah buahan. Mereka juga bermain kartu disini. Sebentar lagi mereka akan kembali." Ujar Meylani.
"Kembali?" Aira bertanya mengulang apa yang Meylani katakan.
"Iya, Tadi mereka pergi beli makanan, dan rencananya kita akan makan bersama dikamarmu Ra. He he" Ucap Meylani tetawa dan merangkul Aira agar tidak marah.
"Kenapa dikamarku?" Tanya Aira kesal dan tertawa karena gelitikan Meylani.
"Kan kamarmu lebih besar. jadi muat untuk kita semua." Ucap Meylani dengan tatapan memohon.
"Iya gak apa apa, kalau begitu ayo ke kamarku, menunggu dikamarku saja." Ucap Aira.
"Ayo," Meylani setuju
Mereka pun ke kamar Aira dan menunggu Ergy dan kawan kawannya. Saat ketiga pria itu tiba, mereka makan bersama hingga larut malam. Setelah selesai Ergy dan kawan kawannya pamit saat Meylani sudah tertidur dikamar Aira.
"Ra, kita pamit. Tapi ada yang ingin aku bicarakan dulu diluar. Bisa?" Tanya Ergy. Aira mengangguk dan mengikuti mereka keluar.
__ADS_1
"Gy kita berdua duluan ya," Pamit Niko dan Steve.
Aira berjalan mengikuti Ergy keluar kosan, mereka berbicara didepan gerbang.
"Ada apa?" Tanya Aira.
"Seharian ini kamu benar bekerja?" Ucap Ergy memulai pembicaraan.
"Iya aku bekerja dihotel Papaku, baru mulai hari ini. Kamu mengetahuinya dari Mey?" Ujar Aira
"Iya tadi Mey bercerita tentang pekerjaan barumu disana." Ergy menghela nafas. Dia mengusap kepala Aira, karena terkejut Aira menatap Ergy.
"Kamu jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit atau kecapean." Ucap Ergy tersenyum.
Entah kenapa Aira merasa tenang saat Ergy mengatakan itu, Aira menganggukkan kepalanya dan menujukan tatapannya ke langit yang berbintang malam itu.
"Kok degdegan ya," Gumam Aira dalam hatinya.
"Oh ya aku mau kasih kamu ini," Ergy menyerahkan sebuah kantong plastik berwarna putih pada Aira.
"Apa ini?" Tanya Aira mengambil bungkusan itu dan membukanya.
"Vitamin, minum itu setiap sebelum tidur dan bangun tidur. Biar kamu tetap sehat dan fresh." Ucap Ergy
"Gak repot kok, Maaf mungkin vitaminnya gak sesuai sama vitamin yang biasa kamu minum. Tapi semoga bermanfaat. Aku pamit ya."Ergy berlari setelah mengusap kepala Aira sekali lagi.
Deg deg
Deg deg
Deg deg
Jantung Aira berdebar, dia menatap punggung Ergy yang berjalan semakin jauh. Tanpa sadar dia tersenyum.
Sementara itu Ressa dirumahnya sedang memandangi foto pernikahan dengan Aris, Sakit didadanya masih terasa, namun air mata tidak lagi membasahi pipinya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
__ADS_1
Ressa berjalan keluar dan membukakan pintu, dan ternyata itu Indah. Saat melihat wajah Indah, Ressa segera menutup kembali pintu rumahnya namun Indah menahannya dengan kakinya.
"Mbak, kita perlu bicara. Ku mohon," Ucap Indah mengiba.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," Ucap Ressa tegas.
"Ku mohon Mbak," Indah mulai terisak.
Ressa kesal dengan sikap Indah yang memaksanya masuk ke dalam rumah Ressa malam itu. Namun Indah berhasil duduk diruang tamu berhadapan dengan Ressa yang memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Indah.
"Mbak, Aku dan Mas Aris sudah lama berhubungan. Tapi bukan hubungan yang sesederhana itu. Kami saling menyayangi." Ucao Indah terisak dihadapan Ressa.
"Aku mencintai Mas Aris, bahkan kamu pernah melakukan itu dirumah ini beberapa kali." Ungkap Indah tanpa rasa malu. Ressa tertawa mengejek sambil melirik Indah sesekali.
"Mas Aris juga mencintaiku, dia sangat baik padaku. Dan aku rela memberikan apapun yang dia inginkan. Bahkan kapanpun dia menginginkan untuk melakukan itu, aku tidak akan menolaknya,.... Seperti Mbak," Ucap Indah agak pelan. Mendengar kata terakhir Indah, dia seketika menatap Indah tajam.
"Seperti aku?" Tegas Ressa.
"Mas Aris sering membicarakan Mbak," Ucap Indah dengan nada datar. Awalnya dia bersikap menyedihkan, namun semakin lama dia semakin angkuh dan justru memojokkan Ressa.
"Aku tidak peduli, keluar dari rumahku." Ucap Ressa berteriak.
"Rumah Mbak? Ini kan rumah Mas Aris, Mobil juga milik Mas Aris. Seharusnya Mbak yang kembali ke rumah orang tua Mbak. Jangan menjadi beban Mas Aris." Ucap Indah sinis.
"Dia tidak tau apa apa tapi berani bicara seperti ini, sebenarnya apa yang sudah Mas Aris katakan padanya?" Gumam Ressa dalam hatinya. Dia hanya menatap Indah dengan tatapan iba. Janda dengan seorang anak ini tidak mengetahui apapun tentang Aris.
"Sebaiknya Mbak segera bercerai dari Mas Aris, sehingga ini akan jadi rumah kami." Ucap Indah angkuh.
Ressa hanya tersenyum mendengar ocehan Indah yang tidak masuk akal. Ressa beranjak dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Namun langkahnya terhenti karena Indah menarin lengannya dengan keras dan mendorongnya ke lantai.
"Gara gara kamu, Mas Aris sekarang tidak ada kabar. Dia menghilang. Pasti dia sangat malu untuk datang kesini karena tingkahmu yang murahan itu." Teriak Indah. Dia segera berjongkok dan menarik rambut Ressa.
"Kalau terjadi sesuatu pada Mas Aris, akan ku pastikan kamu mendapatkan balasannya." Bisik Indah sambil menjambak rambut Ressa.
Ressa menahan diri untuk tidak emosi dan bersikap acuh, karena dia mengetahui pasti keberadaan dan keadaan Aris. Karena Aris selalu memberikan kabar kepadanya meski dia tidak pernah membalas pesannya.
Tiba tiba Indah mencekik leher Ressa dan berteriak.
"Dasar wanita munafik!!" Teriak Indah.
__ADS_1
Ressa berusaha menahan cekikan itu sekuat tenaga, Dia berusaha mendorong tubuh Indah, namun Indah lebih kuat karena Ressa sejak pagi belum makan apapun hanya minum air putih, karena merasa mual seharian.
"Ahhkkk le-lep-lepas-kkan" Teriakan Ressa terbata. Dia melihat Indah yang menatapnya dengan tatapan nanar penuh keinginan membunuh.