Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 76


__ADS_3

Hai, saya efa Author ASWS, mohon dukungannya ya, jangan lupa vote like dan komentar pendapatmu tentang novel ini ya


Ressa mengendarai motornya meninggalkan Bandara saat itu, dia melihat di kaca spionnya, Aris berlari mengejarnya dengan terpincang pincang.


"Ressaa," Teriak Aris.


"Siaalll," Teriak Aris lagi.


Aris menyetop taksi dan kemudian mengejar Ressa. Walau bagaimanapun, rumah yang saat ini mereka tempati adalah milik Ressa. Tentu saja, Aris juga berkontribusi membelikan beberapa perabot rumah.


Ergy menggeleng gelengkan kepalanya menyaksikan adegan drama dihadapannya itu. Dia tidak menyangka kalau laki laki yang dicintai Aira itu, laki laki yang sudah beristri.


________________________________________________


Sementara itu, Aira yang dibawa paksa ikut orang tuanya ke New York, hanya bisa menangis sepanjang perjalanan. Aira memang kecewa karena Aris menipunya, berbohong soal dia belum menikah, bahkan Aira sempat ditampar oleh Istri Aris.


"Sayang, Pipi kamu merah sekali," Ucap Mama Aira mengusap pipi putrinya dengan iba.


"Aira tidak apa apa Ma," Jawab Aira murung.


Sementara itu, Bos Adjie hanya menatap dalam diam, Dia sangat marah, namun dia juga tidak ingin menyakiti hati putrinya yang memang sudah terluka.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, Aira dan orang tuanya akhirnya tiba di New York, mereka menuju mansion yang dimiliki Bos Adjie disana.


"Kamu istirahat dulu, Kita bicara setelah semuanya rileks," Ucap Bos Adjie meminta Aira beristirahat.


Aira merasa mual dan pusing, Dia segera tertidur begitu sampai di kamar yang disediakan untuknya. Sementara itu Bos Adjie dan istrinya berdiskusi dikamar utama.


"Pa, Papa jangan marahin Aira terus dong, kasian kan Aira," Ucap Mama Aira.


"Papa gak bermaksud memarahi Aira Ma, tapi bagaimanapun, Aira tetap salah," Tegas Bos Adjie.


"Ya, Mama ngerti, tapi jangan terlalu keras, Aira kan hatinya lembut banget," Rayu Mama Aira.


"Pokoknya, keputusan Papa sudah bulat, Aira harus aborsi disini. Papa akan carikan Rumah Sakit yang bisa menangani ini semua." Ucap Bos Adjie sambil menatap mata istrinya itu.

__ADS_1


"Pa, Aborsi itu bahaya. Kalau Aira kenapa kenapa bagaimana?" Kata Mama Aira khawatir.


"Papa tidak mau, punya menantu bejat seperti Aris, Ma," Tegas Bos Adjie


"Tapi kan bayi itu gak bersalah Pa," Ucap Mama Aira memohon.


Bos Adjie dan istrinya berpelukan beberapa saat, mereka memikirkan apa yang terbaik untuk anaknya.


"Kita tanyakan dulu pada Aira ya Pa," Mohon Mama Aira. Bos Adjie menganggukan kepalanya, lalu mencium kening istrinya itu.


Keesokan harinya.


Aira terbangun karena merasa mual, dia segera berlari ke kamar mandi dan muntah muntah, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pusing. Dia juga sensitif terhadap bau bau dan tidak nafsu makan.


Bos Adjie masuk ke kamar Aira, setelah Aira kembali ke tempat tidurnya.


"Kamu masih kecil sayang, belum saatnya jadi orang tua." Gumam Bos Adjie, mengelus kepala Aira.


"Aira lemas Pa, pusing, Aira gak kuat," Aira terisak, merasakan gejala ibu hamil muda yang membuatnya frustasi.


"Aborsi? Sakit gak?" Aira menatap Papanya dengan berlingan air mata.


"Tidak sayang, kamu akan dibius, cuma sakit sebentar kok," Ucap Bos Adjie memeluk putrinya itu.


"Tapi Aira takut, apa Papa tidak bisa mengijinkan Aira menikah saja dengan Mas Aris?" Tanya Aira dengan tatapan memohon pada Papanya.


"Dia itu laki laki beristri sayang, kamu mau jadi istri kedua?" Tanya Bos Adjie dengan sungguh sungguh.


"Tidak Pa, Aira ingin jadi satu satunya. Tapi bayi ini... dia gak salah." Ucap Aira sambil mengelus perutnya yanf masih rata.


Bos Adjie memeluk putri kesayangannya itu dengan hangat, kasih sayangnya yang begitu tulus terasa nyata bagi Aira. Dalam pelukan hangat itu, Aira kembali menangis.


"Coba kamu pikir baik baik, apa selama ini, yang si brengsek itu lakukan adalah mencintaimu dengan baik? atau dia hanya menjadikanmu pemuas nafsunya" Bos Adjie memeluk Aira erat, dan dia mengepalkan tangannya.


Bos Adjie selama ini sudah menyelidiki hubungan Aris dan Aira. Bos Adjie bahkan menyewa seseorang secara khusus untuk mengikuti Aris. Namun Bos Adjie tidak berpikir sejauh ini, dia tidak menyangka bahwa putrinya benar benar mudah sekali termakan oleh laki laki bajingan seperti Aris.

__ADS_1


Aira yang berada dalam pelukan Papanya itu merenungkan apa yang Papanya ucapkan, Aira mengingat dari awal bagaimana Aris mulai berkenalan dengannya hingga saat ini.


"Sebenarnya, setiap aku merindukan Mas Aris, Dia selalu sulit dihubungi, tapi Mas Aris sering tiba tiba datang dan melakulan itu denganku, Apa memang bagi Mas Aris, aku hanya pemuas nafsunya?" Batin Aira


Setelah cukup lama memeluk putrinya, Bos Adjie menatap wajah Aira yang masih basah dengan air mata, lalu mengecup kening putrinya itu.


"Papa akan kasih kamu waktu untuk berpikir dan memutuskan, entah kamu akan melahirkan bayi itu, atau aborsi. Apapun keputusan kamu Papa akan menghormatinya. Tapi Papa tidak setuju, jika kamu ingin menikahi Aris." Ucap Bos Adjie bersungguh sungguh sambil memegang pundak Aira. Aira mengangguk lalu kemudian mereka sarapan bersama.


__________________________________


Sementara itu, rumah tangga Aris sedang diujung tanduk. Ressa benar benar marah, karena ini kali keduanya dia mengetahui Aris selingkuh. Bahkan sampai selingkuhannya itu hamil.


Ressa mengunci dirinya didalam rumah, dia tidak mengijinkan Aris untuk masuk. Aris kembali kerumah ibunya, namun beberapa kali Aris datang untuk menemui Ressa.


Pagi itu, Ressa keluar dari rumah hendak berbelanja bahan baku untuk pabriknya. Namun tiba tiba saja Aris sudah berada dihadapannya. Entah muncul dari mana.


"Kamu mau kemana?" Aris menyergap Ressa memegangi tangannya.


"Lepasin Mas, kalau gak aku bakalan teriak!!" Ucap Ressa berusaha melepaskan genggaman tangan Aris.


"Teriak saja, toh warga sini juga kenal sama aku," Ucap Aris tersenyum menyeringai.


"Apa sih, cepat lepas!!" Ujar Ressa dengan tegas.


"Aku kehilangan pekerjaanku karena kamu menampar Aira." Ucap Aris melotot.


"Oh jadi namanya Aira, anak Bos kamu?" Tanya Ressa dengan angkuh.


"Dia itu kaya, aku akan segera menikah dengan Aira." Ucap Aris dengan percaya diri.


"Yasudah, sana nikahi dia, memangnya aku peduli," Ucap Ressa kesal dan akhirnya bisa melepaskan genggaman tangan Aris.


"Aku ingin rumah ini, kamu bisa ambil mobil, kalau kita cerai, harta harus dibagi dua kan?" Ucap Aris dengan senyum licik.


Ressa berdecak kesal, Aris benar benar diluar batas. Dia sudah menggila semenjak kejadian kemarin. Aris kehilangan pekerjaannya dan semua kehidupan hebatnya. Dia sekarang bukan lagi Manager Hotel. Dia hanya Aris. Seorang pria yang sudah bukan siapa siapa lagi.

__ADS_1


__ADS_2