
Aira dan Aris bertatapan beberapa saat. Mereka terhanyut dalam gelora debaran cinta. Entah itu cinta atau bukan. Tapi bagi Aira saat ini dia bahagia bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya itu. Tapi bagi Aris, dia harus menuntaskan nafsu birahinya.
Perlahan Aris memulai aksinya, Aira menolak awalnya namun tak begitu kokoh, Dia hanya berkata "jangan" dari bibirnya namun membiarkan apa yang Aris lakukan. Bukan. Bukan hanya membiarkan, tapi dia juga menikmatinya.
Yang terdengar hanya jeritan tertahan dari Aira dan nafas memburunya. Sampai saat Aris benar benar tak sanggup lagi menahan keinginannya, Aira menghentikannya.
"Mas, jangan, kemarin juga sakit." Ucap Aira lirih.
Aris mendengus kesal, dia sudah memposisikan dirinya diantara kedua kaki Aira. Namun Aira menolaknya.
Kau tau kadang laki laki bisa lebih sensitif disaat seperti ini.
Aira melihat raut wajah Aris yang kecewa, dia merasa bersalah dan menyentuh tangan Aris, namun Aris menepisnya dan segera berdiri. Aira tambah merasa bersalah, dia segera memeluk Aris dari belakang.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku takut Mas Aris marah," Pikir Aira dalam benaknya.
"Lepas" Ucap Aris tegas.
"Mas, jangan marah, Aira cuma merasa tak nyaman dengan karet yang suka Mas pakai." Ucap Aira mencari alasan.
"Karet pelindung?" Tanya Aris heran
"Duh kenapa ngomong ngawur sih," Gumam Aira dalam hati, dia bingung harus menjawab apa.
"Itu kan agar aman, masak gitu aja gatau," Dengus Aris sangat kesal.
"Gak tahu Mas, Aira baru pertama kali lihat waktu sama Mas," Jawab Aira masih memeluk Aris dengan Erat. Aris melepaskan paksa tangan Aira dan segera berbalik, Aira terkejut dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
Aris memegang kedua tangannya. Dia mulai lagi. Membuat Aira melambung tinggi. Namun kali ini dia lebih keras, lebih mendominasi. Dia tak mengijinkan Aira bernafas tenang barang sedetikpun.
"Masalahnya ini saja? Okay Mas tidak akan pakai." Bisik Aris di telinga Aira. Membuat Aira merasa merinding.
Aira memejamkan matanya menahan nyeri, Dia menggigit bibirnya kencang. Aris mengerti apa yang harus dia lakukan, karena ini bukan pertama kalinya bagi Aris. Sampai akhirnya Aris berhasil membuat Aira tak merasa sakit dan justru menikmatinya.
__ADS_1
Mereka bercinta ditengah suara hujan yang deras. Bahkan dering telepon dari ponsel Aira pun tak terdengar, karena suara hujan yang deras dan suara mereka berdua yang bersatu.
Aris terkulai lemas, begitupun dengan Aira. Tubuhnya yang sebelumnya terasa begitu dingin, sudah berubah menjadi panas. Dia bermandikan keringat.
"Gak sakit kan?" Bisik Aris pelan.
Aira tak menjawabnya karena merasa malu, suaranya cukup nyaring tadi. Bahkan saat saat terkahir dia menjerit. Dan Aris tau itu bukam jeritan kesakitan.
Tok tok tok
Aris bangun dan menyelimuti tubuh Aira yang dipenuhi keringat. Dia memakai kembali handuk bajunya dan berjalan membuka kan pintu. Ternyata itu adalah makanan yang mereka pesan serta pakaian mereka yang telah selesai dilaundry.
Aris membawa makanan itu ke atas tempat tidur. Mereka makan bersama diatas tempat tidur. Namun Aira terlihat sangat lemas.
"Ya ampun, kita melakukan itu sejam lebih?" Ujar Aira terkejut melihat jam dinding yang menunjukan hampir pukul 9 malam.
"Sudah ayo makan dan berganti pakaian, kita harus segera pulang." Ucap Aris mulai menyantap makanannya. Aira menurut.
Pukul 9 malam lebih sepuluh menit mereka meninggalkan hotel dan segera bergegas pulang kembali. Suasana hati Aris tampak sangat bagus, dia bersenandung ria didalam mobil. Lain dengan Aira yang tampak sangat kelelahan.
"Kamu hanya belum terbiasa, nanti juga ketagihan," Gumam Aris melirik Aira dan tersenyum menggoda.
"Apa sih Mas," Gumam Aira lemas. Aira memejamkan matanya dan mulai tertidur. Aris membiarkannya untuj beristirahat sejenak.
Sementara itu, Bos Adji menunggu Aira sambil menatap ke arah luar jendela griya tawang. Istrinya menghampirinya.
"Sudah ada kabar Pa?" Tanya Mama Aira lemah lembut.
"Belum, teleponnya belum dijawab" Gumam Bis Adji pelan.
Tak lama kemudian terdengar suara lift terbuka, Dan ketukan pintu didepan.
"Mungkin itu Aira," Ucap Mama Aira memastikan, dan benar saja. Itu Aira.
__ADS_1
Aira berjalan gontai, dia tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang lelah. Melihat putrinya itu, Mama Aira merasa cemas dan memapah Aira ke kamarnya.
"Kamu kenapa sayang," Tanya Mama Aira khawatir, dia menyelimuti putrinya.
"Tidak apa apa Ma, Ira hanya mengantuk saja kok," Ucap Aira sambil menguap.
"Ya ampun Mama kira kamu kenapa, ya sudah tidurlah sayang, Mama matikan lampunya ya," Ucap Mama Aira lega. Dia pikir putrinya sakit lagi karena berjalan dengan lemas, padahal putrinya hanya mengantuk.
Sementara itu, Aris kembali kerumahnya. Dalam perjalanan dia melewati toko bunga milik indah, beberapa saat dia menghentikan mobilnya dan menatap toko bunga itu dari dalam mobilnya. Toko bunga itu tampak berantakan dan gelap gulita. Biasanya lampu gemerlap menghiasi toko bunga itu.
Dia mendengar berita bahwa Indah sudah pindah ke kota lain bersama anaknya setelah dilepaskan dari kantor polisi. Masalah percobaan pembunuhan Ressa diselesaikan dengan kekeluargaan. Dia tidak ingin membuat Ressa terbebani dan menjadi cemoohan tetangga.
Aris menyapukan pandangannya ke sekeliling komplek. Dan keadaan tampak tenang. Dia melanjutkan perjalanannya dan menuju kerumahnya. Namun saat sampai didepan rumah dia terkejut dengan pecahan kaca yang berserakan dari jendela yang sudah rusak.
Tidak terdengar suara apapun dari dalam. Aris segera berlari kedalam dan mendapati Ressa sedang mengurung dirinya dikamar.
"Res.. Ressa sayang, buka pintu ini Mas." Ucap Aris mengetu pintu kamar istrinya.
"Mas Aris?" Ressa memanggilnya dari dalam kamar.
"Iya, buka pintunya." Teriak Aris. Ressa menurut dan membukakan pintu. Matanya sembab dan raut wajahnya ketakutan. Dia memegang secarik kertas.
Aris segera memeluk Ressa yang ketakutan. Dia berusaha menenangkannya. Aris mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Ada batu cukup besar yang sepertinya dilempar dari luar dan memecahkan kaca rumahnya.
"Ada surat ini Mas," Ressa menyerahkan secarik kertas yang digenggamnya.
"HIDUPMU TAK AKAN TENANG!!"
Tulisan di secarik kertas itu dipenuhi dengan noda merah namun bukan darah. Aris mengenggam kertas itu dan kemudian memeluk Ressa yang mulai terisak.
"Ada apalagi ini Mas? Aku takut, apa mungkin ini indah?" Tanya Ressa tak mampu lagi menahan tangisnya.
"Gak sayang, jangan takut ada Mas disini." Aris tak melepaskan pelukannya. Dia mengelus kepala Ressa agar Ressa merasa lebih baik.
__ADS_1
"Sebaiknya kita menginap dulu dirumah ibu malam ini." Aris mengajak Ressa untuk menginap di rumah orang tua Aris. Mereka segera bersiap tanpa membawa banyak barang.
"Siapa yang mengirimkan ini, kurang ajar!!" Gumam Aris dalam hatinya.