
Ressa tersungkur ke tanah, tamparan itu cukup membuat pipi Ressa berdenyut, Ressa mengusap pipinya dengan mata yang berkaca kaca.
"Kenapa saya ditampar?" Tanya Ressa merasa heran
"Makanya, jadi orang gak usah sombong. Aku tau kamu cari perhatian kan sama Bu Yuni." Teriak Laras.
"Kamu itu anak baru, udah sok sok-an lagi!!" Hanum menjambak rambut Ressa.
"Aw sakit Mbak, tolong lepasin," Ressa mengaduh, namun tidak dihiraukan oleh Hanum, Intan kemudian berjongkok didepan Ressa yang sedang memohon pada Hanum.
"Mana uang yang kamu dapat tadi?" Tanya Intan sambil meraba saku dipakaian Ressa hingga menemukan uang seratus ribu satu lembar. Uang itu Intan ambil.
"Cuma segini bonusnya? Mana lagi yang lainnya?" Teriak Intan.
"Jangan diambil Mbak, itu uang untuk stok makanan saya," Ucap Ressa memohon. Uang itu ingin dia belikan sembako untuk beberapa hari. Namun Intan, Hanum dan Laras tidak menghiraukannya dan segera pergi. Ressa menangis tersedu sendirian, namun dia juga bersyukur karena tidak membawa uangnya semua saat itu.
Setelah merasa lebih baik, Ressa kembali ke kontrakannya dan ternyata didepan kontrakannya ada Bu Hanna yang sedang menunggunya.
"Loh, Mbak Ressa kenapa kotor begini pakaiannya? Ini pipinya juga merah," Mata Bu Hanna berkaca kaca.
"Saya tidak apa apa Bu, tadi kepeleset dijalan," Senyum Ressa menahan sakit dipipi dan hatinya. Dia berusaha menahan diri agar tidak menangis. Namun tangan Bu Hanna mengusap pipinya dengan lembut serta matanya yang berkaca kaca menatap Ressa, membuat Ressa tak sanggup menahan air mata yang akhirnya tumpah juga.
Ressa mempersilahkan Bu Hanna masuk ke kontrakannya dan kemudian menceritakan semua yang dia alami sebelumnya.
"Memang si Laras itu dari dulu suka sekali cari ribut, dia itu orangnya iri Mbak, tiap ada orang yang melebihi dia, dia selalu begitu." Ucap Bu Hanna sambil mengusap usap punggung Ressa berusaha mengurasi rasa sakit dihati Ressa.
Bu Hanna terlihat sangat peduli pada Ressa, kedatangannya saat itu juga untuk mengirim makanan untuk Ressa.
__ADS_1
"Ini Saya masak kebanyakan, jadi saya anterin aja kesini buat Nak Ressa," Ucap Bu Hanna menyodorkan rantang berisi makanan.
"Ya ampun Bu, ini berat sekali, pasti banyak banet isinya," Ucap Ressa dambil membuka rantang makanan yang dibawa Bu Hanna. Didalam rantang itu ada nasi, telur balado, ayam serundeng dan juga tempe tahu goreng.
"Terima kasih banyak yang bu, tadinya saya juga mau beli mie dan telur, tapu uangnya diambil sama mereka tadi." Sendu Ressa. Meskipun uangnya masih ada banyak didalam lemarinya, tetap saja Ressa merasa sedih, karena saat ini, baginya uang seratus ribu itu sangat besar. Bisa untuk makan selama 1 minggu.
Jika dulu dia sering menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah dalam sehari, saat ini justru Ressa sangat hemat hingga badannya menjadi sangat kurus.
Sementara itu, selama sekitar sebulan lamanya Aris juga meninggalkan rumah yang dia dan Ressa tempati sebelumnya. Dia sama sekali tidak ingat untuk mencari istrinya. Dia fokus membuat promosi untuk hotel baru yang akan bersaing dengan hotel air.
Aris dan Satrio bekerja sama, Satrio mendirikan hotel dengan konsep retro tahun 70-an untuk memanjakan para lansia yang merindukan masa keemasannya dan juga mengenalkan pada muda mudi saat ini tentang bagaimana gaya dan suasana tahun 70-an.
"Minggu depan kita sudah bisa launching, pembangunan sudah rampung semua," Ucap Satrio dengan bangga sambil menghirup aroma kopi panas yang baru saja dihidangkan oleh sekretaris pribadinya. Aris yang duduk didepannya tersenyum lebar.
"Tentu saja, saya juga sudah menyiapkan media promosi dan agenda promosi dengan konsep yang lain dari pada yang lain. Ini akan lebih hebat dari hotel air. Bahkan dari semua hotel di luar negri." Aris mengatakannya dengan penuh percaya diri sambil saling tatap dengan Satrio dan merekapun tertawa bersama.
"Apa? Katakan saja," Ucap Aris tersenyum senang.
"Kemana istri Bapak?" Ucap Satrio tenang, Namun Aris yang mendengarnya seketika berubah raut wajahnya yang semula tersenyum, dia menghela nafas panjang dan wajahnya menjadi serius.
Aris melambaikan tangannya pada Satrio untuk mendekat padanya, dia ingin membisikan sesuatu pada Satrio.
"Wanita kalau sudah tidak berguna, ya dibuang saja, Hahahhaa" Bisik Aris lalu tertawa terbahak bahak, Satrio ikut tertawa heran dan sedikit sinis.
"Tidak berguna katanya? Gila, ini orang bisa berbahaya untuk bisnisku," Batin Satrio sambil tetap tertawa berusaha menyesuaikan raut wajahnya meski hatinya sedikit tidak nyaman dengan apa yang Aris ucapkan.
Aris menatap jauh ke depan, dia memikirkan masa lalu sebelum dia akhirnya hancur seperti saat ini, harus mulai dari awal lagi dengan tertatih tatih.
__ADS_1
Sejak masa kuliah, Aris dan Ressa sudah berpacaran, Ressa mengambil jurusan ekonomi bisnis, sedangkan Aris mengambil jurusan perhotelan. Meski berbeda, mereka tidak pernah merasa tak nyaman, justru karena perbedaan itulah mereka bisa saling bercerita keseharian yang berbeda.
Aris menyukai Ressa yang humble dan supel. Dia sangat mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang baru. Ressa saat kuliah terlihat sangat cantik, ceria dan banyak tersenyum.
Ressa itu seperti bunga daisy, putih dan cerah. Tampak indah dan wangi. Begitulah Aris jatuh cinta dan akhirnya menikahi Ressa yang saat itu sudah memiliki online shop. Sementara itu, Aris masih magang di hotel.
Awal pernikahan mereka sangat romantis, meskipun sebenernya Aris bukan laki laki baik, dia sering sekali menggoda wanita dengan wajahnya yang tampan. Namun Ressa pura pura tidak mengetahuinya.
"Pak?" Satrio menepuk lengan Aris yang masih membayangkan saat indah bersama Ressa dahulu.
"Ah yaa Pak Satrio, saya melamun," Aris terkekeh malu.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Pak Satrio
"Oke, mari pak," Ucap Aris sambil beranjak dari kursi dan berjalan mengikuti Satrio keluar ruangan menuju lobby hotel. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka membungkukkan badannya memberi hormat.
"Ke hotel Air ya pak," Ucap Satrio pada supir yang membukakan pintu mobil untuknya dan Aris. Dia menjawab dengan anggukan kepala sambil menutup kembali pintu mobil.
"Bagaimana? Apa Pak Aris sudah siap bertemu anak dari Bos Adjie?" Tanya Satrio lugas tanpa ragu meski mengetahui skandal Aris dan Aira beberapa tahun lalu.
"Sangat siap, justru saya sudah sangat merindukannya." Aris tersenyum lebar.
"Saya ingin bertanya yang agak privasi antar sesama pria, boleh?" Bisi Satrio pada Aris.
"Tentu, apapun silahkan," Aris tanpa ragu
"Bagaimana rasanya?" Bisik satrio sambil tersenyum menyeringan dengan alis diangkat penuh penasaran.
__ADS_1
Mendengar ucapan Satrio, raut wajah Aris seketika berubah serius.