
Aira terkejut dengan apa yang ia dengar. Tiba tiba saja, telapak tangan dan kakinya terasa dingin dan membeku, jantungnya berdebar kencang, dadanya sesak, kepalanya terasa pusing dan lemas.
Padangannya terasa pudar, Aira segera bangun dan berjalan perlahan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Pandangannya kabur karena air mata yang menggenang dipelupuk matanya.
"Bagaimana ini? Mas Aris menipuku."
Aira berjalan sempoyongan, saat sampai dihalaman Rumah sakit, dia pun bertutut dan mulai menangis. Air matanya tak dapat lagi ditahan. Dadanya terasa sangat sakit sampai rasanya dia tidak bisa bernafas.
Aira meraih ponselnya, dia ingin menelpon seseorang. Tapi dia harus menghubungi siapa? Aira merasa bingung, dia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
"Ergy, aku harus telepon Ergy!"
Aira segera mencari kontak Ergy dan menelponnya. Dan tentu saja Ergy langsung mengangkatnya.
"Ada apa? Apa kamu mau minta maaf karena sudah menamparku?"
"Ergy... Hiks,"
Aira seketika menangis lebih kencang setelah mendengar apa yang Ergy katakan. Tentu saja, harusnya dia meminta maaf pada Ergy karena sudah menamparnya.
"Kamu dimana?"
"Rumah sakit Kasih Bunda"
"Aku kesana sekarang,"
Ergy menutup teleponnya dan Aira berusaha menenangkan dirinya sendiri. Meski hatinya sangat hancur, dia harus kuat setidaknya untuk meninggalkan rumah sakit itu terlebih dahulu.
Sementara itu, Ergy yang baru saja berpisah dengan Meylani segera mengendarai motor tuanya ke Rumah sakit Kasih Bunda dengan kecepatan tinggi. Meskipun dia mengetahui keadaan Aira, tapi sungguh, cintanya masih sama.
Meski dalam hatinya dia merasa kecewa dan sedih, namun mendengar suara Aira yang menangis, Ergy sangat khawatir.
Setelah 20 menit menunggu Ergy, Aira duduk didalam mobilnya, dia menatap kosong dan sangat kacau.
"Tok tok"
Aira menoleh pada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya dari luar. Itu adalah Ergy. Aira keluar dari mobilnya dan seketika memeluk Ergy dan menangis kembali.
"Kenapa?"
"Bawa aku pulang,"
"Yasudah, Masuklah ke kursi penumpang."
Ergy dan Aira kemudian pergi meninggalkan Rumah Sakit Kasih Bunda dengan mengendarai Mobil milik Aira dan meninggalkan motor tuanya disana.
Lalu lintas padat sore itu membuat perjalanan menuju apartemen Aira terasa cukup lama. Aira menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, matanya basah. Ergy hanya meliriknya sesekali, dia tidak menanyakan apapun karena tidak ingin membuat Aira merasa terbebani.
"Apartemen baru kamu dimana?"
"Flower tower, unit no 1 lantai 25."
Aira menjawab pertanyaan Ergy dengan lemas, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari apa yang sebenarnya tidak benar benar dia pandang.
__ADS_1
Setelah tiba diApartemen Flower Tower, Ergy menuju basement untuk memarkirkan mobil Aira.
"Aku antar kamu sampai sini saja, kalau butuh bantuan lagi hubungi saja aku."
"Makasih ya, Maaf aku sudah menamparmu."
"Sebaiknya kamu istirahat, sudah hampir malam,"
Ergy keluar dari mobil Aira, meninggalkan Aira sendirian didalam mobil dan terisak kembali. Setelah sejam menangis didalam mobil, Aira keluar dan ingin kembali ke kamarnya.
Namun ternyata Ergy masih disana, dia menunggu Aira untuk naik ke kamar Apartementnya.
"Kamu... Masih disini?"
"Aku ingin memastikan kamu benar benar masuk ke Apartemenmu,"
"Tapi kenapa?"
Ergy tidak menjawab dan hanya diam saja. Dia merasa tidak perlu menjawabnya lagi, karena Ergy sudah pernah mengungkapkan perasaannya pada Aira. Seharusnya, tanpa Ergy menjawab pun, Aira tahu betul alasannya.
"Aku naik dulu,"
Aira berjalan masuk menuju lift, Setelah lift terbuka dia segera naik ke kamarnya. Ergy segera pergi setelah Aira masuk ke dalam lift.
Saat itu hari sudah malam, Ergy naik kendaraan umum dan kembali ke Rumah Sakit Kasih Bunda untuk mengambil kembali motor tua kesayangan Bapaknya itu.
________________________________
Saat siuman, dia melihat Ibunya dan Aris berada disisinya. Setelah mengingat apa yang terjadi sebelumnya, Ressa mulai menangis histeris, terutama saat menyadari kalau kandungannya sudah tidak ada lagi.
"Bayiku... Bayiku mana?"
Ressa berteriak histeris, dia sangat terpukul dengan kenyataan bahwa dia mengalami keguguran. Dia menangis dan berteriak hingga perawat memberikannya obat penenang.
"Semua ini salah kamu Mas, salah kamu!!"
Ressa mengatakan itu sesaat sebelum tertidur setelah Perawat itu menyuntikkan obat penenang.
________________________________
Beberapa hari setelah kejadian hari itu, Aira tidak menghubungi Aris lagi, dan Aris juga tidak menghubungi Aira karena memang dia sangat sibuk mengurus istrinya yang baru saja keguguran. Padahal Aris cuti khusus diberikan oleh Bos Adjie untuk menjaga Aira.
Aira hanya berdiam diri di Apartemennya dan tidak keluar sama sekali. Dia bahkan mematikan ponselnya dan tidak ingin menerima tamu. Beberapa kali Ergy datang, namun selalu ditolaknya. Aira benar benar ingin sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan, aku mengandung anak Mas Aris."
Batin Aira, dia duduk disamping jendela besar yang menghadap ke pegunungan. Aira benar benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Aira sangat sedih tapi air matanya tidak lagi keluar, dia menangis terus menerus dan matanya sangat bengkak. Namun tiba tiba terdengar seseorang masuk ke kamar Aira.
"Mas Aris? Cuma Mas Aris yang punya kartu akses masuk ke sini,"
Aira segera berlari ke kamarnya dan mengunci diri didalamnya. Benar dugaan Aira, Aris datang. Dia mencari Aira dan menggedor pintu kamarnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu didalam? ini Mas,"
"Pergi!! Aku gamau ketemu Mas lagi,"
"Apa maksudmu? Kamu kenapa?"
Aris berusaha membuka pintu kamar Aira, namun Aira tidka sedikitpun mengalah, dia tetap kokoh dengan pendiriannya tidak ingin bertemu dengan Aris lagi.
"Papa kamu telepon, dia sangat khawatir karena ponsel kamu mati beberapa hari, Jadi Mas datang kesini,"
"Pergi ku bilang!"
"Kamu marah karena beberapa hari ini Mas gak datang?"
"Mas minta maaf, Mas ada urusan mendadak dan tidak bisa ditinggal. Tapi sekarang Mas udah bisa sama sama kamu terus lagi ko."
"Jangan marah dong cantik,"
Aira tetap tidak membukakan pintu kamarnya untuk Aris. Dia benar benar kecewa dan sangat sakit hati pada Aris. Dia tidak ingin menemui Aris lagi.
"Pergi!!"
"Kalau kamu gak pergi, aku akan telepon Papa!!"
Aris terkejut dengan apa yang Aira ucapkan, Dia bingung dengan apa yang terjadi pada Aira sebenarnya. Namun menurut Aris, Aira hanya rindu padanya dan kesal karena Aris tidak menghubunginya beberapa hari.
"Mas minta maaf, mas gak akan ninggalin kamu lagi, Buka pintunya ya,"
"Pergiiiiiiii"
Aira benar benar berteriak dengan kencang. Sehingga seseorang mendengarnya dan melaporkan kepada satpam. Aris menunggu beberapa saat dan berusaha tidak memprovokasi Aira. Dia duduk di sofa dan melihat dapur Aira sangat berantakan.
"Tok tok tok"
"Permisi"
Aris membukakan pintu dan ternyata itu adalah pak satpam apartemen. Aira mendengar Pak Satpam datang dan dia keluar dari kamarnya.
"Ada apa ya pak?"
"Maaf pak, saya dapat laporan kalau ada teriakkan dari kamar ini, apakah afa sesuatu yang terjadi?"
"Oh tidak.."
Bruuggg
Aira mendorong Aris keluar hingga terjatuh dan mengambil kunci akses Apartemen Aira dari tangannya.
"Dia penguntit Pak, bawa dia pergi,"
"Ta-Tapi Ra.."
Aira segera menutup pintu kamarnya dan meenguncinya dari dalam. Kini Aris tidak dapat masuk ke Apartemen Aira tanpa seijinnya lagi.
__ADS_1