
Hujan deras beserta petir yang bergemuruh, Malam itu cukup mencekam bagi seorang penakut seperti Aira. Dia melihat keluar jendela dan terkejut saat ada kilat seperti cahaya flash.
"Duh untung saja aku sudah sampai kosan. Mas Aris bagaimana ya? Apa sudab sampai rumah?" Gumam Aira sambil memencet nomer Aris diponselnya dan menelpon Aris.
Namun saat panggilan itu tersambung, Aira melihat dikejauhan seseorang sedang berlutut dibawah guyuran hujan.
"Hallo Ra? Ada apa?" Ucap Aris di seberang telepon. Aira masih terdiam memperhatikan sosok itu, rasanya dia kenal.
"Aira!!" Panggil Aris sekali lagi membuyarkan pikiran Aira. Diapun segera menutup gorden jendelanya dan berbaring ditempat tidur.
"Mas sudah sampai rumah?" Tanya Aira
"Sudah, Mas mau mandi terus istirahat ya. Kamu juga istirahat. Besok kita ke bandara." Ucap Aris.
"Iya Mas, selamat istirahat ya," Ucap Aira menutup teleponnya dan mencium ponselnya itu. Dia sangat senang seharian ini bersama Aris.
"Oh ya, tadi orang itu sepertinya aku kenal." Batin Aira dan segera bangun kembali menuju jendela, namun ternyata orang yang berlutut ditengah guyuran huja itu sudah tidak ada.
"Siapa ya, rasanya aku tidak asing," Pikir Aira. Lalu dia segera mandi dan pergi tidur.
Keesokan harinya, Bos Adji, istrinya dan para ajudan sampai dibandara. Mereka hanya punya waktu 2 jam sebelum flight selanjutnya ke Newyork.
Aira dan Aris sudah menunggu dilobby. Aira melambaikan tangan begitu melihat kedua orang tuanya dari kejauhan. Dia loncat loncat kegirangan.
"Mama! Papa!" Teriak Aira sambil berlari menuju kedua orang tuanya dan memeluk mereka berdua.
"Sayang, kamu baik baik saja?" Tanya Mama Aira mengusap pipi putrinya itu.
"Baik Ma, Aira sehat kok." Ucap Aira riang. Aris pun menghampiri dengan tergopoh gopoh.
"Selamat pagi Bos, dan Ibu Bos." Sapa Aris.
"Pagi Pak Aris. Bagaimana? Apa sudah disiapkan apa yang saya minta sebelumnya?" Ucap Bos Adji tanpa basa basi.
"Sudah Bos, Saya tinggal mengajak Nona Aira untuk melihatnya. Rencananya saja akan mengajaknya setelah pulang dari sini." Ucap Aris lugas.
"Jaraknya jauh dari sini?" Tanya Bos Adji.
"Tidak Bos, hanya sekitar 10 menit kalau dari bandara. Agar memudahkan Nona jika ingin bertemu dengan Bos Dibandara seperti ini." Ucap Aris tersenyum.
"Baik, kita lihat kesana sekarang." Ucap Bos Adji singkat. Dia segera memberikan isyarat pada Patrick dan ajudan untuk menyiapkan mobilnya.
"Siapkan apa sih Pa?" Tanya Aira sambil berjalan terburu buru.
__ADS_1
"Apartemen untukmu." Ucap Papa Aira sambil membelai rambut pendek putrinya itu.
"Papa.. Kan Aira ingin cari sendiri." Rengek Aira manja.
"Ya kalau kamu tidak suka pilihan Pak Aris, nanti kamu bisa mencarinya bersama Pak Aris." Ucap Papa Aira.
Mereka segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan dan segera menuju Apartement yang Aris maksud. Tidak lama mereka sampai dikawasan elite. Mereka segera naik ke lantai 12 dan melihat Apartemen yang sudah disiapkan.
"Bagaimana? Kamu suka tidak?" Tanya Bos Adji pada Aira setelah puas melihat lihat isi apartemen yang full fasilitas itu. Aira mengangguk.
"Ira suka kok, apalagi ada jendela besar yang bisa melihat ke arah gunung itu. Sejuk sekali kelihatannya." Ucap Aira senang.
"Bagaimana biayanya? Ini sewa atau dijual?" Tanya Bos Adji pada Aris singkat.
"Pemiliknya ingin menjual, tapi jika ada yang ingin sewajuga tidak masalah." Ucap Aris.
"Sewa berapa dan dijual berapa?" tanya Bos Adji lagi.
"Dijual 950 juta, jika sewa 35 juta pertahun." Ucap Aris tanpa ragu.
"Okay, kita beli saja. Uangnya nanti Patrick yang urus ke kamu ya." Ucap Bos Adji menepuk pundak Aris.
"Baik Bos." Ucap Aris tersenyum.
"Terima kasih atas bantuannya. Saya percayakan surat suratnya Pak Aris yang urus. Karena pekerjaan Patrick sangat banyak." Ucap Bos Adji segera keluar dari Apartement.
"Iya Pa, Makasih ya. Papa dan Mama langsung ke bandara lagi?" Tanya Aira.
"Iya sayang, Mama dan Papa harus segera pergi. Kami pamit ya kita berpisah disini saja." Ucap Mama Aira. Mereka berpelukan dan berpamitan.
Orang tua Aira pun kembali menuju bandara dan terbang menuju newyork. Tinggallah Aira dan Aris di Apartement itu berdua. Aira memeluk Aris begitu masuk kembali ke dalam Apartement.
"Makasih ya, kalau tidak salah Rumah Mas juga dekat kan dari sini." Ucap Aira menatap Aris sambil melingkarkan tangannya ke leher Aris.
"Iya lumayan dekat" Ucap Aris.
"Akhirnya aku bisa bebas ketemu Mas, hehe," Aira mengecup bibir Aris.
"Mau coba tempat tidurnya?" Ucap Aris nakal.
"Tentu saja," Jawab Aira tanpa ragu.
Mereka bercumbu diruangan itu tanpa lupa mengunci Apartemen itu. Pagi hari yang sejuk berubah menjadi panas dan penuh keringat. Mereka lupa waktu hingga saat setelah sadar matahari sudah berada diatas kepala.
"Mas gak kerja?" Tanya Aira sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang tanpa busana.
__ADS_1
"Mas cuti, mau berduaan sama kamu 2 minggu," Kecup Aris dipipi Aira.
"Betul Mas?" Tanya Aira senang.
"Tentu saja sayang," Mereka berpelukan dan kembali melakukannya lagi. Hingga sore hari tiba. Mereka masih berpelukan dan tak ingin berpisah.
"Mas..." Bisik Aira manja.
"Kapan aku bisa tinggal disini?" Tanya Aira.
"Besok sayang. Malam ini Mas akan selesaikan proses akadnya. Kamu Mas antar pulang dulu ya. Dan rapihkan barang barangmu dikosan." Ucap Aris mengecup kening Aira.
Aira dan Aris segera pergi mandi bersama, lalu Aris mengantarkan Aira pulang sebelum menemui pemilik Apartemen dan melunasi apartemennya.
Keesokan harinya Aira segera pindahan tanpa sempat berpamitan pada penghuni kosan yang lain dan juga Meylani. Awalnya Aira ingin berpamitan tapi Meylani tidak membukakan pintu kamarnya.
"Meylani kemana ya pagi pagi begini kok tidak ada dikamarnya." Batin Aira saat hendak berpamitan pada Meylani pagi itu.
Aris menjemput Aira pagi hari, karena Aira hanya memiliki sedikit barang, Mobil Aris pun cukup untuk membawa barang barang Aira. Aris segera mengambil barang barang Aira dari kamarnya dilantai 3.
"Mas aku mau pamitan ke Mbak Mi dulu ya," Ucap Aira.
"Iya, Mas tunggu dimobil ya," Ucap Aris
Aira menuju rumah Mbak Mi, dan saat itu Mbak Mi sedang masak untuk sarapan.
"Mbak," Aira memanggil Mbak Mi.
"Iya.. Sebentar" Mbak Mi mematikan dulu kompornya dan menghentikan aktifitas memasaknya.
"Eh Aira. Ada apa pagi pagi sekali?" Tanya Mbak Mi.
"Mbak Aku mau pamit." Ucap Aira memeluk Mbak Mi.
"Pamit? Maksudnya pamit kemana?" Tanya Mbak Mi heran
"Aku mau pindah ke Apartemen, masih dekat sini kok," Ucap Aira.
"Loh kenapa tiba tiba? kan kamu sudah bayar untuk 1 tahun. Ini masih 5 bulan lagi." Ucap Mbak Mi.
"Gak apa apa Mbak. Nanti kasih ke Mey aja kamarku kalau dia mau." Ucap Aira.
"Apa ada masalah?" Tanya Mbak Mi.
"Tidak Mbak, Papa ku yang menyuruh untuk segera pindah." Ucap Aira.
__ADS_1
"Pindah? Kamu mau pindah?"
Aira dan Mbak Mie terkejut dan Aira segera menoleh ke belakang.