
Sudah beberapa lama semenjak Aris meninggalkan Ressa di rumah Ibunya, Emosi Ressa mulai stabil dan saat ini dia sudah lebih baik karena kasih sayang Ibunya Aris. Ibunya Aris merawat Ressa dengan baik seperti merawat anaknya sendiri.
Ressa memang yatim piatu, dia terbiasa mandiri sejak kecil, tapi kasih sayang Ibu mertuanya itu sangat dia syukuri. Meskipun sering mual dan muntah serta tidak berselera makan, Ibu mertuanya tetap sabar dan memberikan jamu jamu untuk merawat kandungannya.
"Bu, Terima kasih sudah merawat saya," Ucap Ressa memeluk ibu mertuanya itu. Wanita tua itu membalas pelukan Ressa hangat.
"Sama sama nak, kamu ini kan anak Ibu juga," Jawab Ibu mertuanya itu.
Ressa menatap wajah Ibu mertuanya yang teduh, tutur kata yang lembut dan pelukannya yang hangat. Ressa sangat nyaman tinggal bersama Ibu mertuanya.
"Oh iya, kapan Aris akan kesini? Sudah hampir 2 minggi dia tidak mengunjungimu." Ucap Ibu lembut.
"Saya tidak tahu bu, Mas Aris tidak menghubungi saya belakangan ini," Ucap Ressa lesu.
"Mungkin dia sibuk, sejak kecil Aris memang terbiasa melakukan banyak hal sekaligus. Sehingga dia sering lupa bahkan pada dirinya sendiri." Ucap Ibu dengan lemah lembut.
Ressa tersenyum lesu dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya Aris lakukan padanya tempo hari, Ressa juga tidak menceritakan apa yang terjadi sehingga malam itu Aris menitipkannya pada Ibunya.
Malam itu, Ressa menatap langit kamarnya, tampak jelas bekas genangan air hujan disana. Rumah itu sudah tua, Rumah yang ditinggali oleh Ibu Mertuanya sendirian. Padahal Ressa sudah beberapa kali meminta Aris untuk mengajak Ibunya tinggal bersama. Namun Aris selalu menolaknya.
Tak lama, Ressa mendengar ketukan pintu didepan rumah. Ressa segera keluar dari kamarnya dan melihat keluar dari jendela untuk mengecek siapa yang bertamu malam malam seperti ini. Dan ternyata yang datang itu adalah Aris.
Ressa segera membukakan pintu. Melihat suaminya didepan pintu Ressa segera mencium tangan suaminya.
"Mas, silahkan masuk," Ucap Ressa lembut. Dihati kecilnya dia sangat rindu, namun entah kenapa dia merasa canggung.
"Iya, Ibu mana?" Tanya Aris merangkul Ressa sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ibu disini Nak, kamu sudah datang?" Ibu Aris keluar dari dalam kamarnya.
"Iya Bu, maaf sudah merepotkan Ibu dengan menitipkan istriku disini." Ucap Aris seraya mencium tangan Ibunya dan memeluknya.
"Tidak apa apa, justru ibu senang ada yang temani dirumah." Ibu Aris tersenyum lembut.
Mereka duduk diruang tengah yang dialasi dengan karpet berwarna hijau, Ressa menyajikan teh hangat untuk suaminya dan duduk kembali disamping suaminya itu.
"Ini tehnya Mas," Ucap Ressa. Aris menerima gelas berisi teh hangat itu dan meneguknya sedikit.
__ADS_1
"Aris baru pulang dari Samarinda, disana ada launching hotel baru. Jadi Aris ditugaskan kesana selama beberapa hari." Ucap Aris.
"Pantas saja kamu tidak datang, Ibu pikir kalian bertengkar," Jawab Ibu lembut.
"Tidak Bu, mana mungkin kami bertengkar dihadapan anak kami ini," Ucap Aris memeluk Ressa dan mengusap perut buncitnya.
Ressa tersenyum dan bersyukur ternyata suaminya tidak menjauhinya. Setelah berbincang sebentar, Ressa dan Aris masuk ke kamar dan Ibu Aris juga masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
"Mas mau mandi dulu?" Tanya Ressa begitu melihat suaminya akan berganti pakaian.
"Tidak usah, Mas ingin langsung tidur. Mas lelah sekali." Ucap Aris.
"Yasudah kalau begitu." Jawab Ressa, kemudian naik ke tempat tidur.
"Oh ya, ponsel Mas hilang. Entah tertinggal di samarinda atau di pesawat Mas tidak ingat. Jadi Mas beli ponsel dan nomer baru. Ponselnya ada didalam tas," Ucap Aris menunjuk ke tas yang dibawanya.
"Iya Mas, besok saja cek ponselnya, sekarang istirahat dulu," Ucap Ressa lembut.
"Kamu benar, sekarang saatnya melepas rindu pada istri Mas yang paling cantik," Ucap Aris memeluk Ressa mesra. Mereka pun tertidur sambil berpelukan.
Sementara itu, di Samarinda. Bos Adji sedang menelpon seseorang setelah menerima kiriman foto. Terlihat raut wajahnya geram dan memerah. Bos Adji sangat marah. Istrinya menghampiri dan terkejut melihat suaminya yang berteriak.
"Kenapa kamu diam saja?!" Teriak Bos Adji. Dia terlihat sedang mendengarkan penjelasan orang yang diteleponnya itu.
"Pokoknya laporkan semua perkembangannya, jangan sampai terlewat." Ucap Bos Adji marah dan menutup teleponnya.
"Ada apa sayang? Tenanglah," Ucap Mama Aira mengelus tangan suaminya itu. Bos Adji menghela nafas panjang dan memeluk istrinya.
"Tidak apa, ini hanya urusan pekerjaan," Jawab Bos Adji dengan nada bicara yang tenang. Dia selalu merasa lebih baik saat bersama istrinya.
"Kamu tidak berbohong kan sayang?" Tanya Mama Aira ragu ragu.
"Tentu tidak, Oh ya, besok kita mampir temui Aira dulu sebelum ke newyork ya," Ucap Bos Adji.
"Loh kenapa? Bukannya kita akan langsung ke Newyork besok pagi?" Tanya Mama Aira heran.
"Tidak apa apa, Papa hanya merindukan putri kecil kita itu," Ucap Bos Adji mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah, Aku minta Patrick untuk siapkan tiket pesawatnya." Ucap Mama Aira dan segera menelpon Patrick.
Bos Adji duduk disofa dan termenung. Dia menatap jam dinding dan bunyinya seakan terdengar jelas.
tik tik tik tik tik
"Aku tidak bisa diam saja," Batin Bos Adji.
Dia segera mengambil ponselnya kembali dan menelpon orang kepercayaannya, yaitu Aris. Namun nomer ponselnya tidak bisa dihubungi. Setelah itu dia segera menghubungi hotel dan meminta mereka untuk menyuruh Aris menghubunginya jika sudah berada di ruangannya.
Besok harinya, Bos Adji menerima telepon dari nomer tidak dikenal, dan ternyata itu Aris.
"Maaf Bos, Ponsel saya hilang, jadi saya pakai nomer baru. Bos perlu bantuan saya?" Tanya Aris sopan.
"Saya ingin kamu cuti 2 minggu, dan menjaga putri saya." Ucap Bos Adji. Mendengar itu Aris terkejut.
"Memangnya kenapa Bos?" Tanya Aris heran
"Jangan banyak tanya, saya akan bayar 3x lipat gaji bulananmu selama 2 minggu cuti. Bagaimana?" Tanya Bos Adji tanpa basa basi. Aris tersenyum lebar.
"Baik Bos, saya bersedia. Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Aris.
"Pertama carikan Apartement mewah yang nyaman untuk putri saya, berapapun harganya tidak masalah. Nanti uangnya saya transferkan ke rekening kamu, lalu bantu putri saya pindahan." Ucap Bos Adji.
"Baik Bos," Jawab Aris sigap
"Dan juga carikan Apartemen yang full fasilitas, tapi kalau putriku ingin apartemen yang kosong dan mencari interiornya sendiri, temani dia berbelanja. Untuk pembayarannya saya akan berikan kartu debit khusus besok saat dibandara." Ucap Bos Adji menambahkan.
"Bos besok kesini?" Tanya Aris.
"Ya, besok saya hanya sebentar mampir, kamu bawa putri saya ke bandara." Ucap Bos Adji tegas.
"Baik Bos, laksanakan," Ucap Aris sigap.
Bos Adji menutup teleponnya dengan perasaan yang kacau. Dia mengepalkan tangannya dan memukul mukul sofa pelan.
"Semoga apa yang aku lakukan tidak memperburuk keadaan," Batin Bos Adji
__ADS_1