
Aris dan Ressa menaiki mobil dan meninggalkan rumah mereka malam itu. Cuaca sangat buruk setelah hujan deras udara terasa sangat dingin menusuk kulit.
Mobil Aris melaju dengan perlahan, Jalanan sangat licin karena sudah diguyur hujan deras sebelumnya. Ressa mengelus elus perutnya yang mulai terlihat membuncit. Matanya menatap iba pada jabang bayi yang ada diperutnya itu. Melihat Ressa yang sangat trauma, Aris memegang tangan Ressa yang sedang mengelus perut.
"Gak apa apa, semua akan baik baik saja." Ucap Aris berusaha menenangkan.
"Ini semua gara gara Mas!" Ressa melotot dengan mata yang berkaca kaca, dia menepis tangan Aris yang memegang tangannya. Ressa menangis sesenggukan.
"Apa maksudmu?" Aris heran.
"Kalau Mas gak berurusan sama wanita gila itu, semua inu tidak akan terjadi!" Teriak Ressa tersedu. Hujan rintik rintik membasahi jalanan dan mobil mereka. Aris terdiam beberapa saat.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi." Ucap Aris mengelak berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? kalau saja kamu bukan laki laki brengsek, jabang bayi ini gak perlu menderita." Ucap Ressa dengan nada tinggi. Ucapan Ressa membuat Aris sakit hati, dia merasa direndahkan karena disebut brengsek.
"Lalu mau kamu apa?" Teriak Aris dan menatap Ressa tajam.
"Mas bentak aku?" Ressa semakin menjadi, tangisannya semakin menjadi. Aris menghela nafas panjang. Dia kesal karena Ressa terus berbicara dengan nada tinggi kepadanya.
Mereka bertengkar sepanjang jalan hingga sampai dirumah Ibu Aris. Mata Ressa sembab dan masih berkaca kaca. Aris tak ingin membuat Ibunya khawatir dengan pertengkaran mereka berdua.
"Aku akan kembali kerumah kita dan kamu menginap disini beberapa hari. Aku akan cari tahu siapa yang mengirimkan surat ini ke rumah kita. Tapi ingat, jangan bicarakan apapun tentang pertengkaran kita. Kalau Ibu nanya kenapa kamu menangis, jawab saja kamu hanya stress, Mengerti?" Aris berkata dengan tegas sambil menatap dalam mata Ressa yang berkaca kaca. Ressa memang takut dengan ancaman itu, tapi dia lebih takut melihat mata Aris saat ini.
"Kenapa kamu jadi begini Mas? Apa memang aku hanya baru sadar sifat aslimu?" Pikir Ressa dalam benaknya.
Dia mengingat 5 tahun pernikahannya, Aris tak pernah membentak maupun kasar kepadanya. Aris selalu menuruti dan memahami Ressa. Bahkan Aris tetap romantis dan lemah lembut pada Ressa. Namu belakangan ini, dia sangat berubah, hingga selingkuh dan kasar padanya.
Ressa terisak lagi mengingat itu semua. Dia berpikir mungkin itu salahnya karena kurang memperhatikan Aris sebelumnya, atau mungkin karena terlalu sibuk masing masing. Ressa tak bisa berhenti berpikir apa penyebab dari semua kekacauan ini adalah dirinya sendiri.
Aris merangkulnya dan masuk kerumah Mertuanya Ressa. Disana sang Ibu yang tinggal sendirian tentu saja menyambut menantunya.
"Bu, Aris titip Ressa beberapa hari ya, Aris akan keluar negri beberapa hari tugas dari hotel, Ressa kan sedang hamil jadi Aris khawatir jika meninggalkannya sendirian." Ujar Aris menjelaskan alasan yang sebenarnya kebohongan itu pada Ibunya.
"Iya Nak, kamu tenang saja, Ibu akan menjaga Ressa." Ucap Ibunya ramah dan lembut. Wajah teduh itu menatap Ressa dengan penuh kasih sayang. Setelah meminum teh hangat yang disajikan oleh Ibunya, Aris pamit dan segera kembali kerumahnya. Sementara Ressa disuruh istirahat oleh ibu mertuanya itu.
Malam itu Aris menghubungi bagian keamanan komplek untuk memeriksa rekaman cctv sekitar rumahnya, dia sangat marah dengan perbuatan orang yang meneror keluarganya.
Keesokan harinya Papa Aira membangunkan putrinya yang masih tertidur lelap.
"Sayang, ayo sarapan," Bos Adji mengguncangkan tubuh Aira pelan pelan. Aira membuka matanya dan memeluk Papanya itu.
__ADS_1
Mereka ke meja makan yang sudah ditata rapi, lalu makan bersama. Suasana hening, namun Bos Adji menatap putrinya dengan tajam.
"Aira, Papa ingin tanya." Bos Adji menyimpan sendok dan garfunya, dia berhenti makan.
"Tanya apa Pa?" Jawab Aira dengan mulut penuh makanan.
"Apa kamu punya pacar?" Tanya Bos Adji singkat.
"Uhuk uhuk uhuk," Aira tersedak mendengar pertanyaan Papanya.
"Darimana Papa tau? Apa Papa mengikutiku semalam?" Pikir Aira dalam benaknya.
"Pa, nanya nya nanti saja setelah makan, kasian kan Aira jadi tersedak," Ucap Mamanya memberikan segelas air pada putrinya itu.
Mereka melanjutkan sarapan tanpa membahas kembali apa yang ditanyakan oleh Papanya Aira itu. Setelah makan, Bos Adji akan segera turun dan membereskan rapat terakhirnya sebelum berangkat kembali ke Samarinda.
"Pa, Aira mau jawab pertanyaan Papa," Ucap Aira.
Papanya menengok dan menatap Aira sambil tersenyum.
"Aira punya pacar, dan Aira mencintainya. Kalau Papa tau orangnya, Papa juga akan setuju," Ucap Aira girang dengan tersenyum lebar.
"Siapa dia?" Jawab Bos Adji dingin, terlihat dia tidak menyukai apa yang Aira ucapkan.
"Oke, ajak dia bertemu di bandara nanti siang." Ucap Bos Adji dingin sambil keluar menuju lift. Aira heran dengan sikap Papanya. kenapa sepertinya Papanya tidak suka kalau Aira punya pacar. Tapi Aira meyakinin kalau Papanya Akan menyukainya jika mengetahui bahwa pacarnya adalah orang kepercayaan Papanya dihotel.
Aira kembali ke kamarnya dan membereskan pakaiannya untuk kembali ke kosan. Dia melihat ponselnya yang berbunyi sedari tadi.
"Pasti Mas Aris, kemarin itu menyenangkan, meski lemas tapi rasanya aku mulai ketagihan, kalau tau punya pacar seseru ini, harusnya dari dulu aku pacaran saja," Ucap Aira senyum senyum sambil membuka ponselnya. Namun ternyata pesan itu dari Ergy di grup chat.
Ergy : "Oiy, Aira balik ke kosan hari ini, makan makan diloteng yuk,"
Steve : "Okay, aku bawa dagingnya"
Mey : "Hebat juragan daging, Aku suka idemu Gy ♡"
Ergy : "Beras aku yang bawa, makan makan gak kenyang kalau gak makan nasi wkwkwk"
Niko : "Berisik, makanan aja diduluin,"
Mey : "Tidur mulu kebo, bangun udah petang ini!!!"
__ADS_1
Aira tersenyum melihat chat grup bersama kawan kawan kampusnya itu. dia juga mengetik dengan jemari lentiknya untuk ikutan berbicang di grup chat itu.
Aira : "Gak usah bawa apa apa, kita belanja bareng, bebas beli apapun yang kalian mau, aku yang traktir"
Mey : "Wagilaseh anak sultan emang beda, capcus beli stok makanan sebulan, hahaha"
Steve : "Pokonya aku mau daging"
Ergy : "Emqng si Steve kekurangan daging, makanan kurus kering kerontang wkwkwk"
Aira tertawa membaca pesan yang dikirim kawan kawannya itu. Lalu dia teringat permintaan Papanya untuk mengundang pacarnya ke bandara. Dia segera menelpon Aris.
"Halo Mas, sedang apa?" Tanya Aira begitu Aris menerima panggilannya.
"Mas baru sampe hotel, tapi sudah sangat rindu kamu," Ucap Aris merayu Aira.
"Ih Mas pagi pagi udah gombal deh." Aira tertawa geli.
"Serius, Mas semalemam mikirin kamu, kebayang kamu terus. Kebayang suara kamu kemarin hahaha" Ucap Aris
"Mas apa sih, Ira kan malu," Aira tersipu malu karena memang kemarin dia lepas kontrol.
"Tapi mau lagi gak?" Goda Aris lagi.
"Ihh udah Mas stop jangan bahas itu dulu, Mas nanti bisa ikut ke bandara? Aku mau kenalkan Mas pada Papa," Ucap Aira.
"A-Apa? Dikenalkan? Kamu bicara sama Papamu kalau kita pacaran?" Ucap Aris kaget.
"Iya, tapi Aku belum bilang pria itu Mas Aris, orang yang juga Papa kenal hehe" Aira tersenyum sambil berguling ditempat tidurnya.
"Untunglah," Aris menghela nafas lega.
"Apa Mas?" Tanya Aira
"Ngga, Bukan apa apa, Tapi Mas belum siap dikenalkan dengan Papamu sebagai Pacar saat ini, Mas belum pantas." Ucap Aris sambil berjalan menuju ruangannya.
"Belum pantas? Maksud Mas?" Tanya Aira heran.
"Nanti saja, jika Mas sudah naik jabatan, Mas akan menemui Papamu dengan bangga." Ucap Aris berusaha mengelak.
"Oh itu gampang, nanti Ira yang bicara sama Papa biar Mas dinaikin jabatannya." Jawab Aira enteng
__ADS_1
"Jangan, Mas ingin naik jabatan karena usaha Mas sendiri." Tegas Aris.
"Yasudah," Aira kesal dan menutup teleponnya sebelum mendengar penjelasan Aris lagi.