
POV ARIS
4 tahun lalu, Seorang gadis lugu yang bahkan belum terlalu ku kenal tiba tiba muncul dihidupku. Dia cantik seperti peri, senyumnya lembut dan kulitnya yang mulus.
Sebagai seorang lelaki dewasa, tentu saja aku tertarik padanya pada pandangan pertama saat aku melihatnya dilobby hotel, apalagi kejadian di kamar hotel setelah bersepeda waktu itu membuatku semakin terngiang akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Namanya Aira, dia murah senyum dan sangat ramah pada siapapun. Meskipun anak orang kaya, tapi dia memiliki karakter rendah hati, tidak memandang remeh pada orang lain yang notabene merupakan pegawai Ayahnya.
Dan beruntungnya Aku, gadis itu menyukaiku. Bahkan dengan senang hati Dia memberikan tubuhnya padaku. Bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali kali kami berhubungan, dan jujur saja itu merupakan candu.
Aku bukan lelaki hyperseks, meskipun selain berhubungan intim dengan istri, aku juga sering berhubungan dengan wanita lain seperti gadis toko bunga dan beberapa staff hotel, tapi bagiku Aira yang paling berkesan. Selain dia masih perawan, dia juga sangat polos dan menjadikan Aku pria yang mendominasi. Aku sangat senang jika wanita tunduk pada keinginanku di ranjang.
__ADS_1
Meskipun umur kami terpaut cukup jauh, tapi itu tidak membuat Aira canggung, dia mencintaiku apa adanya. Hingga akhirnya dia hamil dan mengetahui kalau aku sudah beristri.
Aku menceritakan semua kisah cinta pendekku pada Satrio, tapi tentu saja aku tidak menceritakan bagaimana Bos Adjie yang merupakan Ayah Aira menghajarku ketika tahu aku menghamili putri semata wayangnya. Bahkan dia sampai membuatku benar benar hancur dan bangkrut. Sulit mendapatkan pekerjaan karena dihotel manapun dikota ini aku ditolak.
"Wah, kalau begitu besar kemungkinan Aira masih mencintai Pak Aris, lihat saja sampai saat ini dia belum menikah lagi." Tutur Satrio setelah mendengarkan apa yang aku ceritakan. Aku tersenyum simpul membayangnya andai saja memang Aira masih mencintaiku seperti dulu.
"Aku tidak yakin mengenai perasaannya padaku saat ini." Jawabku ragu ragu.
Aku dan satrio saling menatap penuh arti, kami merencanakan bagaimana bisa merayu kembali Aira agar bisa menjadi istriku. Soal Ressa, aku akan menceraikannya segera. Lagi pula wanita itu sudah tidak berguna.
*********
__ADS_1
2 minggu kemudian
Aku sudah mengawasi Aira kemana dia biasa pergi bersama anak kami, dan saat ini aku sudah tau kalau Aira sering pergi ke taman permainan anak pada sore hari minggu. Aku sudah menunggu disana dengan Satrio.
Setelah menunggu beberapa saat, benar saja Aira dan Elisa tiba di ikuti oleh dua orang ajudan. Namun kedua ajudan tidak masuk serta ke dalam area permainan, mereka hanya menunggu diluar sambil duduk dan memesan kopi.
Ini adalah kesempatan emas bagiku, karena area bermain cukup ramai hari minggu. Aku melihat Elisa putriku yang sangat cantik, dia lucu dan menggemaskan. Dia sangat mirip Aira, namun hidungnya mirip denganku. Ciptaan Tuhan yang sangat indah dipandang.
Elisa bermain dengan riang diarea mandi bola. Aira mengawasinya dari pinggir sambil duduk tersenyum melihat putrinya yang riang gembira. Ini saatnya aku menghampiri Aira, dan duduk disampingnya.
"Ka.. Kamu Mas?" Aira tergagap saat menyadari kedatanganku. Aku tersenyum berusaha sebaik mungkin agar dia tidak kabur atau memanggil ajudannya.
__ADS_1