Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 74


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Aris mengantar Ressa pulang kerumah dan segera berangkat ke hotel. Masa cuti Aris sudah habis, dan lagi Bos Adjie sudah mentransfer bayaran yang dia janjikan.


Aris bekerja seperti biasanya, banyak klien yang harus dia temu8 karena sudah cuti begitu lama. Selama beberapa hari Aris sibuk dan tidak menghubungi Aira, karena memang Aira juga selalu mengabaikannya.


Sementara itu, Aira juga sudah kembali berkuliah, namun dia mengalami sedikit masalah, yaitu morning sick yang biasa dialami oleh wanita hamil pada umumnya. Aira merasa mual dan pusing.


"Kayaknya aku harus kerumah sakit deh," Batin Aira


Ponsel Aira berdering, itu adalah panggilan dari Mamanya. Aira segera mengangkatnya dan dengan polosnya dia bercerita tentang apa yang dia alami.


"Mama..."


"Kenapa sayang? kamu sakit?"


"Iya Ma, Mual mual sama pusing banget,"


"Sudah ke dokter? minta antar saja sama Pak Aris."


"Gak mau ah Ma, Aku bisa sendiri kok, Oh ya, Mama ada apa telepon?"


"Kejutaaaann!! Mama dan Papa sudah sampai bandara, sekarang kita mau ke apartement kamu sayang."


"Mama serius??"


"Tentu saja, 15 menit lagi kita sampai sayang,"


"Aira tunggu ya Ma,"


Aira sangat senang karena kedua orang tuanya datang memberi kejutan, dia segera berganti pakaian dan turun menuju Lobby untuk menyambut orang tuanya itu.


Tidak lama, 3 mobil tiba dan itu adalah Papa dan Mama Aira beserta para ajudannya. Aira yang kegirangan segera berlarian menyambut kedua Orang Tuanya. Namun tiba tiba Aira jatuh pingsan. Sontak saja, Mama Aira berteriak. Aira segera dibawa kerumah sakit.


__________________________________________


Setelah siuman, Aira tersadar sudah berada dalam ruang perawatan, dia melihat kedua orang tuanya tengah berdebat.


"Jangan Pa, itu bahaya buat Aira!"


"Mama mau nanggung malu?! Apa kata rekan bisnis kita nanti?"


"Itu gak penting, yang penting adalah anak kita, Pa,"

__ADS_1


Aira tidak mengerti mengapa Mama dan Papanya berdebat seperti itu. Apa yang mereka bicarakan?


"Maa... Paa.."


Bos Adjie memilih menghempaskan tubuhnya ke sofa dan duduk disana dengan wajah yang sangat kesal. Sementara Mamanya menghampiri Aira dan membelai rambut Aira.


"Kamu sudah sadar sayang? Bagaimana perasaanmu?"


"Papa dan Mama berantem kenapa?"


"Tidak, Papa dan Ma..."


"Siapa yang hamilin kamu?"


Belum sempat Mama Aira menyelesaikan kalimatnya, Papa Aira menyela dan langsung menanyakan siapa yang sudah menghamili Aira.


Sebelumnya, Aira dibawa kerumah sakit dan menuju ke Unit Gawat Darurat. Setelah diperiksa oleh Dokter, Orang tua Aira diberitahukan bahwa Aira pingsan karena sedang hamil muda. Tentu saja, Mama Aira terkejut, namun Papa Aira sudah memperkirakan hal itu.


Papa Aira sangat marah dan sebenarnya sudah mengetahui siapa laki laki yang berani kurang ajar pada anaknya itu. Tapi dia tidak menyangka, ini akan terjadi. Bagi Bos Adjie, hamil adalah kemungkinan terburuk yang tidak mungkin terjadi. Namun justru itu yang terjadi.


"Bawa bajingan itu kesini sekarang,"


Bos Adjie menelpon seseorang dan meminta orang itu membawa Aris ke rumah sakit. Sampai saatnya Aira tersadar, Aris sudah berada didepan kamar VVIP itu.


"Mas Aris, Pa,"


Aira menjawab dengan gemetar, dia pernah melihat Papanya sangat marah, namun tidak pernah marah padanya. Tapi saat ini, dia melihat Papanya sangat marah padanya.


"Masuk!"


Teriak Bos Adjie, Dua orang ajudan membawa Aris masuk ke dalam kamar rawat Aira dan membuatnya berlutut dihadapan Bos Adjie. Aira segera bangun melihat Aris.


Bos Adjie menatap Aris tajam, lalu menamparnya. Nafasnya memburu karena sangat marah. Istrinya berusaha menghentikannya dengan memeluknya.


"Sudah Pa, Aira melihat."


"Lihat! Papa sangat benci pada laki laki bajingan!"


Aira bangkit dan memeluk Aris yang tersungkur karena ditampar oleh Papanya. Aira melotot ke arah Papanya dan berusaha melindungi Aris dari amarah Papanya.


"Jangan siksa Mas Aris, Pa, Aira mohon,"

__ADS_1


Aira menangis, Tapi Bos Adjie justru makin kesal dan menarik tangan putrinya itu.


"Hajar dia,"


Dua kata dari Bos Adjie itu membuat Aris berada diujung antara hidup dan mati, dua orang ajudan menghajarnya habis habisan. Aira berteriak histeris agar ajudan Papanya berhenti memukuli Aris yang meringkuk menahan pukulan pukulan bertubi tubi.


Aira ingin menghentikan ajudan Papanya, tapi Bos Adjie memegang tangannya erat hingga Aira tidak dapat melepaskan genggaman tangan Papanya.


"Pa, Aira mohon hentikan, Pa, Aira mohon,"


"Dia itu bajingan yang sudah merusak kamu, kamu yang sangat berharga buat Papa dan Mama,"


Bos Adjie menatap putrinya dengan mata yang berkaca kaca, Aira melihat sorot mata yang sedih bercampur amarah dalam tatapan Papanya itu. Tapi Aira juga tidak tega melihat Aris yang dipukuli habis habisan itu.


"Cukup,"


Ajudan menghentikan aksinya sesuai perintah Bos Adjie. Hidung Aris mimisan dan tubuhnya penuh lebam. Aris meringis kesakitan. Bos Adjie menghampirinya dan menatapnya tajam.


"Kamu sudah merusak apa yang paling berharga bagi saya, jadi kamu harus menerima hukuman. Ini bahkan tidak berarti apa apa dibanding kelakuan kamu yang bejat itu."


Bos Adjie berkata penuh amarah, Aris ketakutan. Dia ingin bicara tapi mulutnya penuh darah. Tubuhnya gemetar karena dia sangat takut. Sebelumnya dia berfikir mungkin ini akhir hidupnya.


Aris kembali dibawa oleh ajudan, mereka membawa Aris ke ruang perawatan untuk mendapat pengobatan dari Dokter, karena lukanya yang cukup parah.


"Papa keterlaluan, kenapa Papa harus pukulin Mas Aris sampai hampir mati begitu?"


"Sekarang kamu istirahat, Nanti malam kita berangkat ke luar negeri."


"Luar negeri? Tapi kenapa?"


Bos adjie tidak menjawab, dia pergi meninggalkan Aira yang menangis dipelukan Mamanya dan menuju keluar kamar. Bos Adjie menelpon Ergy dan memintanya datang bersama teman teman Aira, agar Aira merasa sedikit terhibur.


Bos Adjie benar benar sedih dan marah dengan apa yang Aris perbuat, bagaimana pun Bos Adjie merasa gagal menjaga putri kesayangannya. Putri kecil yang sejak lahir menjadi mutiara yang selalu dia cintai dan sayangi sepenuh hatinya.


Bagi Bos Adjie, Aira adalah sungai yang mengalirkan banyak rezeki padanya. Dia mulai sukses setelah Aira lahir, bisnis hotelnya menjamur dan bahkan menjadi salah satu pengusaha hotel yang sukses. Tapi rasanya semua jerih payahnya hancur ketika mengetahui putri tersayangnya itu hamil.


Sementara itu, Aira yang menangis tersedu sedu dipelukan Mamanya, merasa bersalah sudah membuat Aris babak belur. Bayangan Aris yang memohon ampun saat dipukuli habis habisan oleh ajudan Papanya membuat Aira gemetar, apalagi jika Papanya mengetahui kalau Aris sudah beristri, bisa bisa, Aris dibunuh oleh Papanya.


"Ma, maafin Ira, Jangan sakiti Mas Aris,"


"Sudah sayang, Papa mu cuma butuh waktu sebentar, dia tidak akan marah lagi kok,"

__ADS_1


Mama Aira memeluk Aira dan berusaha menenangkannya. Patrick meminta seorang Office Boy untuk membersihkan bekas darah Aris dilantai.


__ADS_2