
"Apa mungkin jika aku menikah dengan Aira, aku akan mewarisi semua hotel hotel milik Bos Adji ini? Atau dia akan memberiku salah satunya? Lagi pula, dihotel ini tidak ada yang tau aku sudah menikah."
Aris berpikir keras setelah apa yang Jessica ucapkan. Dia baru meyadari bahwa gadis yang mengejar ngejarnya itu pewaris tunggal seluruh kekayaan Bos Adji.
Aris menyandarkan punggungnya dan berkhayal.
"Bos Aris,"
Dia bergumam sambil tersenyum senyum sendiri. Dia mulai menyusun rencana untuk mendapatkan keinginannya. Dia akan benar benar memperhatikan Aira dan membuatnya semakin tergila gila dengan dirinya. Dia menyeringai seolah sudah bisa melihat masa depan dimana dia akan menggantikan posisi Bos Adji.
Sore harinya, Aris pulang dari hotel dan sesampainya di rumah, dia melihat Ressa sedang memasak, Ressa menyadari kepulangan suaminnya dan tersenyum.
"Mas sudah pulang? Kita makan bersama yuk" Ucap Ressa pada istrinya itu.
"Boleh, tapi Mas mau mandi dulu." Ujar Aris seraya menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi, Aris menatap dirinya sendiri dicermin, dia memperhatikan setiap detail tubuhnya. Dia bergaya sedemikian rupa, dan tanpa sadar Ressa memperhatikannya dari pintu kamar.
"Mas sedang apa?" Tanya Ressa terkikih geli melihat tingkah Aris.
"Apa aku sudah terlihat tua?" Tanya Aris tidak melepaskan pandangannya dari cermin.
"Tidak, Mas terlihat sangat muda, bahkan tidak terlihat sudah menikah." Gumam Ressa pelan, Ressa keluar menuju ruang makan dan duduk disana. Dia termenung. Beberapa saat dia berpikir.
"Perutku sudah mulai membuncit, Aku bahagia karena akan punya seorang bayi, tapi tubuhku akan rusak, akan banyak strechmark dimana mana, apa Mas Aris tidak akan berselingkuh lagi? Bukankan dia akan punya alasan lebih banyak untuk berselingkuh setelah aku melahirkan?"
Ressa memandangi perutnya yang mulai membesar, kakinya juga mulai membengkak seiring bertambahnya usia kandungan. Badannya juga bertambah gemuk. Ressa menghela nafas panjang.
Kalian tau bagaimana rasanya? Rasa sakit setelah dikhianati, melihat pasangan berselingkuh didepan mata, namun tidak ingin berpisah. Meski mudah memaafkan, tapi, kejadian itu sulit dilupakan. Bahkan sering kali terbayang. Ditambah lagi kehadiran buah hati. Bukan tidak mungkin untuk berpisah, tapi seorang ibu tidak akan tega membiarkan anaknya tumbuh tanpa Ayah.
Jika harus memilih, Ressa tidak tau harus memilih apa, Dia sangat mencintai Aris. Tapi dia juga tidak bisa melupakan perbuatan Aris denga Indah.
Aris menghampirinya dan memijit pundak Ressa pelan pelan.
__ADS_1
"Mas kan sudah bilang, kamu jangan capek capek, Biar saja rumah Mas yang bereskan pulang kerja, dan makanan Mas bisa beli diluar nanti." Ucap Aris lembut.
"Jadi Mas tidak mau makan masakanku?" Tanya Ressa cemberut.
"Bukan begitu sayang," Kecup Aris dipipi Ressa.
"Hmmm? Lalu bagaimana?" Tanya Ressa begitu Aris duduk dikursi disampingnya.
"Mas tidak ingin kamu sakit, dan lagi bayi kita juga harus banyak istirahat. Dia pasti sedih Mamanya sakit. Iya kan debay sayang?" Aris mengelus perut Ressa dan menciumnya. Ressa tersenyum dan berusaha meyakinkan dirinya kalau Aris pasti tidak akan berselingkuh lagi.
Mereka pun makan bersama dan berbincang ringan tentang hari yang mereka lalui ditempat yang berbeda.
Seminggu berlalu dan Aira sudah bisa pulang. Namun orang tua Aira menginginkan Aira tinggal bersama mereka beberapa hari di griya tawang. Setelah sampai di griya tawang, Mama Aira merawat Aira dengan telaten.
"Ma, apa Mama tidak lelah? Sepertinya Mama kurang tidur." Ucap Aira pada Mamanya yang setiao hari menemani dan merawatnya dengan sepenuh hati.
"Kata siapa? Mama tidur jika kamu tidur sayang," Ucap Mama Aira.
"Kenapa Mas Aris tidak menengokku sekalipun?"
Pikir Aira, Dia merasa kecewa karena Aris tidak menunjukkan batang hidungnyabbarang sekalipun, bahkan sekedar telepon atau pesan singkatpun tidak ada. Aira menghela nafas panjang sambil menatap keluar jendela.
"Ada apa sayang? Apa ada yang terasa sakit?" Tanya Mama Aira melihat putrinya seperti cemas.
"Tidak apa apa kok Ma," Aira tersenyum dan nerbaring dipangkuan Mamanya. Dia memejamkan matanya saat Mamanya memembelai rambutnya lembut.
Tanpa sadar Aira tertidur dipangkuan Mamanya.
Selama Aira dirumah sakit, banyak hal yang berubah dihotel, peraturan semakin ketat karena diawasi langsung oleh Bos Adji. Setiap pagi dan sore diadakan evaluasi kerja.
Bos Adji benar benae memanfaatkan waktunya disana dengan semaksimal mungkin. Dia sengaja tinggal dilantai paling atas hotelnya agar bisa memantai langsung oara karyawannya.
Dia memastikan semua sempurna dan stabil. Bos Adji sangat teliti dalam mengurus bisnisnya, dia tidak mau ada satu hal pun yang terlewat dari pengawasannya.
__ADS_1
"Semenjak ada Bos Adji disini, bernafaspun rasanya sulit," Gumam karyawan wanita yang merupakan petugas housekeeper.
"Betul, tapi aku suka Bos Adji, dia tampan dan berkharisma. Dan lagi, meskipun tidak ada Bos Adji, pekerjaan kita memang menggunung tau," Jawab kawan wanitanya yang saat itu bertugas membersihkan kamar bersama.
Bos Adji memang sedang menjadi gosip terhangat, selain memiliki paras yang tampan dan atletis, istrinya yang merupakan Mama Aira juga sangat cantik dan terawat.
Meski usia mereka sudah tidak muda lagi, kecantikan dan ketampanan itu masih melekat jelas pada diri mereka.
Aris dipanggil ke ruangan Bos Adji, Tidak lama berselang Aris tiba dan segera masuk ke dalam ruangan Bos Adji.
"Siang Bos," Aris menyapa dengan membungkukkan tubuhnya.
"Silahkan duduk dulu Pak Aris" Ucap Papa Aira yang sedang memeriksa file diemailnya.
"Bos panggil saya, apakah ada masalah dengan pekerjaan saya?" Tanya Aris memulai percakapan.
"Bukan, saya hanya ingin melanjutkan pembicaraan kita tempo hari di Samarinda. Bagaimana? apakah sudah dapat tallent untuk promo hotel kita yang baru?" Tanya Bos Adji.
"Sudah Bos, saya ada profilnya. Sengaja saya siapkan beberapa untuk casting langsung dengan Bos. Kapan kira kira waktu yang bisa Bos luangkan?" Tanya Aris sopan sambil memberikan berkas profil tallent kepada Bos Adji.
Bos Adji memeriksa berkas itu dan melihatnya dengan seksama satu persatu. Dia menimbang nimbang dan memilih tallent yang cocok untuk promosinya. Dahinya berkerut serius dan matanya tak lepas dari berkas itu.
Setelah beberapa saat, Bos Adji menutup berkas itu.
"Nanti malam kita adakan meeting dengan semua calon tallent. Bagaimana?" Tanya Bos Adji dengan nada datar.
"Baik Bos, akan saya kondisikan dan hubungi terlebih dahulu para tallent ini," Ucap Aris.
"Baik, kamu boleh pergi." Ucap Bos Adji.
Aris keluar dari ruangan Bos Adji dan segera bergegas menuju ruangannya. Dia akan segera menghubungi para tallent.
"Aku harus membuat Bos Adji terpukau dengan kinerjaku,"
__ADS_1