Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 5 - KESALAHAN 18+


__ADS_3

Aris memapah Aira masuk kedalam kamar hotelnya, mereka berjalan perlahan menuju ke tempat tidur. Aris menopang tubuh Aira agar dapat duduk. Suasana tiba tiba terasa canggung. Mereka saling diam sambil bertatapan sesekali.


"Maaf pak, bisa tolong ambilkan obat saya di tas?" Pinta Aira memulai percakapan yang akhirnya memecah keheningan diantara mereka.


"Ah ya, tasnya dimana?" Aris menoleh sekitar kamar berusaha mencari tas yang Aira maksud. Aira menunjukan ke sebuah tas diatas kulkas kecil. Didalam tas tersebut ada beberapa barang Aira dan obat yang Aira maksud.


"Ini kan obatnya?" Aris menemukan obat tersebut. Aira mengangguk dan Aris menghampiri Aira dan berlutut didepannya. lalu mulai membuka sepatu dan kaos kaki Aira. mendapat perlakuan itu, aira hanya terdiam. dua tersipu dan terpesona dengan apa yang dilakukan oleh manager hotel itu. Aira mandangi dia yang mulai membuka botol obat oles untuk memar dan memijat pergelangan kaki Aira. Walaupun terasa sakit, tapi Aira sangat senang bisa berdua dengan manager hotel yang sangat tampan itu.


sadar diperhatikan, Aris menoleh dan Aira segela mengalihkan pandangannya sambil tersipu.


"Udah dong liatinnya, nanti saya salah faham," gumam Aris sambil menggoda Aira


"Siapa yang liatin bapak," Aira mengelak


"Lucu banget sih pake ngelak segala," Aris terkekeh tertawa kecil


Aira semakin tersipu dan pipinya memerah. mereka tertawa dan saling menggoda satu sama lain sambil Aris memijat pergelangan kaki Aira.


"Kriiing"


Dering telephon Aris berbunyi, diapun mengeluarkan ponselnya dan ternyata asistennya menelpon


"Pak, tamu sudah selesai makan, dan akan segera pulang."


"Baik, saya kesana," Jawab Aris


Dia segera beranjak dan berjalan menuju kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel. kemudian keluar dari kamar mandi dan berpamitan kepada Aira.


"Saya pamit dulu ya. Semoga cepat sembuh kakinya." Ucap aris sambil mengelus kepala Aira.


"Pak boleh saya minta tolong lagi?"


"Apa itu?"


"Saya lapar, bisa bapak ambilkan saya makanan, tapi saya ingin bapak yang mengantarkan." Aira tersipu malu mengatakan keinginannya, namun dia juga tak mengangka akan mengatakan permintaan konyol seperti itu.


"Baiklah." jawab Aris dan segera keluar dari kamar Aira


Aira tak sempat melihat ekspresi wajah Aris saat itu karena dia terlalu malu.


"Duh, apa dia mau ya, lagian kenapa ngomong gitu sih."

__ADS_1


Aira menggulingkan badannya ke tempat tidur. Dia memandang langit langit kamar dan mulai menyesali perkataannya. dia merasa sangat malu untuk bertemu lagi dengan Aris.


"Mandi ajalah ya." Gumam Aira dalam hati.


Dia segera membuka semua pakaiannya yang telah digunakan untuk bersepeda. dia berjalan tanpa busana menuju kamar mandi dan menyalakan shower dan mengatur suhu air.


Air mulai membasahi rambutnya lalu mengaliri tubuhnya. memberikan kesegaran dan mengurangi penat. setelah merasa nyaman, Aira mulai bersenandung bernyanyi didalam kamar mandi.


"Rasanya ingin malam ini memelukmu hingga terlelap...," Terdengar keras suara nyanyian Aira, hingga suara pintu kamar terbuka Aira tak mendengarnya.


Aris mengantarkan makanan yang Aira inginkan. ketika masuk ke kamar Aris terkejut melihat pakaian Aira yang berserakan dilantai. Aris menaruh nampan berisi makan di buffet kecil samping tempat tidur. Lalu membuka kulkas sambil mendengar Aira bernyanyi.


sementara Aira yang asyik mandi tak mendengar ada orang lain dikamarnya. Aira selesai mandi dan berniat mengambil tas skincarenya diatas tempat tidur, Aira keluar sambil bersenandung dan terkejut melihat Aris duduk diatas tempat tidurnya.


"Waaaaa" Aira berteriak dan Aris segera buang muka. Aira tak memakai handuknya. itu kebiasaanya dirumah.


"Bapak liat ya," Ucap Aira menahan malu


"Gak, saya gak liat apa apa," jawab Aris membelakangi Aira


"Bohong," Ucap Aira hampir menangis


"Saya minta maaf," Jawab Aris merasa bersalah.


Aris mengambil selimut badcover dan menutup wajahnya dengan selimut sambil berjalan meraba menuju Aira. Aris segera menutup tubuh Aira dengan selimut.


Aira masih terisak dan aris berusaha menenangkannya. Aris menggendong Aira yg dibalut selimut dan mendudukannya diatas tempat tidur.


Aris memandang Aira yang masih basah kuyup, dia segera mengambil handuk dan mengelap rambut Aira. hening dan hanya suara tangisan Aira yang terdengar perlahan mulai berhenti.


Aira memandang Aris yang mengeringkan rambutnya dengan handuk. mereka bertatapan. Aira beranjak dari tempat tidur namun Entah kenapa Aris menahan tangannya hingga balutan selimut itu melonggar dan membuat bagian atas Aira sedikit terlihat.


"Saya malu," Ucap Aira pelan lalu menunduk


Aris menatap Aira dan pandangannya mulai tak fokus pada tubuh bagian atas Aira yang sedikit terbuka. jiwanya bergejolak dan jantungnya mulai berdegup kencang.


"Kenapa? kamu cantik kok," Jawab Aris sambil mengelus rambut Aira.


Aira mengangkat wajahnya dan menatap Aris. Aris mengelus pipinya dan menghapus air matanya sambil tersenyum.


"Jangan nangis ya, tapi walaupun nangis, cantiknya tetep awet ya hehe," Goda Aris sambil tertawa kecil. Aira tersipu dan mencubit Aris membuat balutan selimutnya semakin longgar. Dia tak sadar jikalau tubuhnya terlihat indah dan wangi harum sabun tercium dari tubuhnya.

__ADS_1


Aris menyentuh bahu aira yang terlihat karena balutan selimut mulai merosot. namun Aira yang terkejut segera menepisnya.


"Ah maaf, Mas cuma mau benerin selimutnya aja. Karena bahu kamu aja keliatan cantik banget." Ucap Aris dengan nada merajuk


"Mas?" Gumam Aira pelan. dalam hati dia merasa senang karena mulai akrab dengan laki laki yang dia incar. dan dia juga tersipu karena Aris menyebutnya cantik.


"Gak apa apa kok," Ucap Aira sambil menatap Aris, mereka yang awalnya duduk berhadapan, Aris mulai bergeser mundur dan beralih ke sampingnya menjauh.


"Maaf ya, Mas cuma kagum aja melihat kecantikan kamu, andai aja bisa lebih lama mandang kamu." Ucap Aris memalingkan wajah dan membelakangi Aira dengan nada kecewa


merasa bersalah karena menepis tangan Aris sebelumnya, Aira memberanikan diri memegang tangan Aris. Namun Aris tak menoleh bahkan beranjak dari tempat tidur.


"M..Mas boleh kok lihat kecantikan aku." Aira malu dan ragu, namun dia tak ingin membuat orang yang dia sukai kecewa. berharap Aris menoleh dan melihatnya lagi. Namun Aris tetap diam dan berjalan menuju pintu.


Aira segera bangun dan menarik lengan Aris agar Aris menoleh dan melihat padanya.


"Gak apa-apa, Mas gak ingin kamu nangis lagi ya," Aris menghindar dan berjalan lagi, Aira yang putus asa menghadangnya dan membuka balutan selimutnya perlahan bagian atas sehingga memperlihatkan leher dan pundaknya.


Aris tersenyum dan berusaha menutup tubuh Aira dengan selimut.


"Jangan pergi dulu." Ucap Aira memohon


Aris mengangguk dan kembali duduk diatas tempat tidur bersama Aira. mereka terdiam dan hanya terdengar nafas mereka.


"Emang menurut Mas, aku cantik?," Tanya Aira memecah keheningan


"Tentu saja," Aris tersenyum


Aira tersipu malu, dia tak menyangka akan secepat ini bisa dekat dengan Aris.


"Memangnya tak pernah ada lakilaki yang bilang kamu cantik?," tanya Aris sambil menatap Aira. mata mereka bertatapan cukup lama. Seolah terhipnotis, Aira menggelengkan kepala dan tak merasa canggung lagi dengan Aris.


"Kamu itu cantik, rambutmu, wajahmu, hidungmu, lehermu, bahumu dan bagian lain juga cantik." Aris mengelus rambut Aira yang sekarang sudah setengah kering.


Merasa sangat senang dipuji-puji seperti itu Aira tampak mulai merasa kepanasan berasa didalam balutan selimut. Melihat Aira yang terlihat tak nyaman Aris menarik selimut yang Aira kenakan perlahan.


"Buka saja kalau gerah. Gak apa-apa kok," Ujar Aris


"Tapi aku malu." Kata Aira.


"Kenapa malu, kamu kan cantik." Jawab Aris sambil tersenyum pada Aira, membuat jantung Aira semakin berdetak kencang. Aris benar-benar terlihat tampan. Aira tak ingin membuat suasana kembali canggung dengan menolak Aris.

__ADS_1


Aira melonggarkan sedikit balutan selimutnya dengan perasaan ragu.


__ADS_2