
Aira terbangun saat perawat akan melepaskan infusan Meylani, hari ini Meylani diijinkan pulang karena kondisinya sudah stabil. Aira segera menghampiri Meylani dan Perawat yang sedang berbincang tentang kepulangan Meylani.
"Saya sudah bisa pulang sus?" Tanya Meylani senang.
"Iya sudah boleh, tapi harus tetap jaga kesehatan dan jangan dibiarkan sendirian ya," Ucap Perawat itu sambil menoleh kepada Aira seolah meminta Aira untuk selalu menjaga Meylani.
"Tenang saja Sus, saya yang akan menjaga Meylani." Kata Aira ceria, dia sangat bahagia akhirnya Meylani sudah pulih dan diijinkan untuk pulang. Meylani dan Aira berpelukan beberapa saat sambil tertawa bersama, Ergy yang masih tertidur pun terbangun karena suara bising yang disebabkan oleh teriakan Meylani dan Aira.
Perawat itu undur diri, dan meminta Aira untuk mengikutinya ke bagian administrasi. Saat Aira akan keluar, Meylani mencegahnya dengan memegang tangan Aira.
"Kenapa Mey?" Tanya Aira heran
"Biaya rumah sakitnya pasti mahal ya? nanti aku akan kerja part-time untuk nyicil ganti biayanya ke kamu ya," Kata Meylani lirih, dia merasa bersalah karena sudah merepotkan Aira. Bukannya menjawab Aira tersenyum dan memeluk Meylani lagi.
"Tenang saja, jangan dipikirkan dulu. Nanti kita bicarakan ini saat semuanya sudah lebih baik." Aira mengatakannya dengan lembut, lalu melepaskan pelukannya dan meninggalkan ruangan rawat itu menuju ke bagian administrasi.
Ergy yang melihat semua yang terjadi tertegun beberapa saat. Apa Aira memang selalu sebaik itu? pikirnya dalam hati. Lalu dia menghampiri Meylani yang duduk diatas tempat tidurnya sambil mengusap pergelangan tangannya yang masih dibalut perban.
"Kenapa? Apa lukanya terasa sakit?" Tanya Ergy memperhatikan Meylani yang mengusap pergelangan tangannya. Meylani tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa Aira baik sekali padamu? Apa dia memang selalu sebaik itu, atau hanya kepadamu?" Tanya Ergy pada Meylani dengan mata yang menatap pintu berharap Aira segera kembali.
"Aku tidak tau kenapa, tapi aku juga baru mengenalnya ketika pekan perkenalan kampus," Jawab Meylani yang juga heran dengan sikap baik Aira.
"Itu kan baru sebulan yang lalu, tapi sepertinya dia sudah mengenalmu bertahun tahun, ku kira kalian teman SMA," Ergy tertawa kecil bersama Meylani membicarakan Aira.
"Bukan, Dia itu anak orang kaya, Ayahnya pengusaha hotel yang terkenal itu, Pak Adji Wijaya." Ujar Meylani antusias menceritakan pertemuannya kemarin pada Ergy. Dia juga menceritakan bagaimana Orang Tua Aira datang begitu mendengar Aira menangis ditelepon. Ergy takjub dan tidak menyangka bahwa Aira ternyata seistimewa itu. Dalam hatinya dia semakin minder untuk bisa bersama dengan Aira. Aira terlalu tinggi untuk digapai oleh dia yang sangat membumi.
__ADS_1
Ergy tersenyum dan tertawa beberapa kali saat Meylani menceritakan kedekatannya dengan Aira, sampai saat Aira kembali kedalam ruangan melihat mereka berdua yang tengah asik bercerita.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru," Ucap Aira bergabung, namun justru Ergy pergi dan membangunkan kedua temannya yang masih tertidur.
"Bubar bubar, Kalau ada Aira gak seru," Kata Ergy menggoda Aira dan membuat Aira kesal, segera dia mengejar Ergy dan memukul pundaknya. Ergy hanya tertawa dan berusaha menghindari pukulan Aira dan membalasnya dengan mencubit hidung Aira.
Hingga Steve dan Niko terbangun karena kejar kejarannya Aira dan Ergy. Aira tanpa sadar menginjak kaki Steve yang tidur dilantai rumah sakit dialasi oleh tikar.
"Aaaaww," Pekik Steve membuat Aira terkejut dan dia menyadari bahwa dia menginjak sesuatu saat mengejar Ergy.
"Ahh maafkan aku steve," Aira segera berhenti dan mengusap usap kaki Steve yang diinjaknya.
"Ini semua gara gara kamu Ergy," Aira berbalik dan berteriak pada Ergy yang justru menjulurkan lidahnya menggoda Aira, membuat Aira semakin kesal.
"Sudah sudah, sekarang kita pulang yuk, aku bosan berhari hari dirumah sakit." Kata Meylani yang lelah tertawa melihat Ergy dan Aira yang seperti kucing dan anjing.
Mereka semua meninggalkan ruang rawat itu. Aira berharap semua Meylani bisa tegar menghadapi kenyataan dan segera bisa menerima takdir tentang Orang Tuanya.
Namun saat akan masuk lift untuk turun Meylani meminta berhenti.
"Stop, Aku ingin melihat kedua Orang Tuaku dulu," Lirih Meylani dengan suara yang gemetar, Aira terkejut dan menatap wajah Meylani. Matanya berkaca kaca menahan air yang membendung ingin segera mengalir.
Ergy dan Steve saling berpandangan, dan mereka terdiam beberapa saat.
"Kamu yakin?" Tanya Aira pada Meylani yang akhirnya mengangkat wajahnya yang tertunduk dan tersenyum.
"Iya, aku sangat merindukan mereka." Ucap Meylani.
__ADS_1
Aira segera menghubungi Bibi Meylani yang ternyata sudah ada di lobby rumah sakit untuk menjemput Meylani. Bibi dan Paman serta sepupu perempuan Meylani segera naik dan menemui Meylani.
Mereka berpelukan dan menangis bersama. Setelah beberapa saat akhirnya mereka bersama sama pergi ke kamar jenazah menemui dokter penjaga, dan meminta untuk diperlihatkan Jenazah kedua orang Tua Meylani.
Aira, Ergy, Steve dan Niko tidak ikut masuk, mereka menunggu diluar untuk menghormati moment Meylani.
"Aku gak sanggup kalau jadi Meylani, pasti aku juga ngelakuin hal yang sama," Ucap Aira dengan mata yang berlinang. Ergy menepuk nepuk pundaknya berusaha menangkan Aira.
"Jangan ikut sedih, kita harus bisa menghibur Meylani disaat seperti ini. Jangan sampai dia merasa sedih berkelanjutan." Ergy berkata dengan bijaksana, namun Aira justru tertawa mendengar ucapan Ergy.
"Haha aneh banget ngomong bijak kaya begitu tumben bijak," Ucap Aira menertawakan Ergy, Steve dan Niko pun ikut tertawa. Namun beberapa saat kemudian terdengar jeritan dan tangisan pecah didalam kamar jenazah.
Aira menyadari itu adalah suara Meylani yang meraung raung melihat Orang Tuanya. Hati Aira terasa iba, dia mengetahui pasti saat ini Meylani sedang berusaha menerima kenyataan tentang Orang Tuanya.
Mereka berempat gelisah, mondar mandir didepan kamar jenazah menunggu Meylani dan keluarganya keluar dari kamar jenazah. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detiknya terasa seperti 1 menit.
Setelah hampir puluhan menit, akhirnya Meylani dan keluarganya keluar dengan mata mereka yang masih sembab dan basah. Aira melihat meylani yang menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Bibi Meylani meminta Aira mengikutan dengan mengisyaratkan dengan lambaian tangannya. Aira mengekor mengikuti Bibi Meylani.
"Nak, Bibi titip Memey ya, dia tidak mau Bibi ajak pulang kerumah Bibi, Dia bersikukuh ingin pulang ke kosan saja. katanya dia ingin menenangkan diri sendirian. Bibi khawatir dia nekad lagi." Ucap Bibi Meylani cemas
"Bibi tenang saja, dikosan ada banyak teman teman yang pasti bersedia berjaga bergantian, Aira harap Bibi tidak cemas dan Bibi jadi sakit. Bila perlu Bibi bisa menengoknya beberapa hari sekali," Ucap Aira menenangkan Bibi.
Mereka akhirnya sepakat dan mengikuti yang lain yang sudah akan turun dan pulang. Ergy mendorong kursi roda Meylani, namun dia hanya terdiam tidak bertanya atau mengatakan apapun.
Saat tiba diparkiran, dering telepon Aira berbunyi. Telepon itu dari Aris.
__ADS_1