Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan

Aku (Bukan Lagi) Seorang Wanita Selingkuhan
EPS 47 - AMBRUK


__ADS_3

Beberapa hari berlalu seperti biasanya, sampai saatnya UAS dilaksanakan. Aira dan teman temannya mempersiapkannya dengan belajar bersama beberapa kali dalam seminggu. Meski kekurangan tidur karena harus ekstra membagi waktu, Aira tidak ingin mengecewakan orang tuanya.


Dia tekun belajar dan juga rajin bekerja. Sampai sampai waktu untuk tidur pun hanya 4-5 jam sehari. Dia benar benae memforsir kegiatannya agar mendapat pujian dari Papanya.


Namun ternyata tubuh Aira protes dan Aira jatuh sakit. Badannya demam dan perutnya perih, dia sering kali menunda makan dan terlalu fokus pada apa yang dia kerjakan sehingga melupakan dirinya sendiri.


Saat itu Aiea sedang mengikuti perkuliahan jam terakhir. Dia duduk disamping Meylani. Kepalanya terasa pusing dan tatapannya mulai kabur. Aira memegang kepalanya dan memijit keningnya perlahan.


Meylani memperhatikan keanehan soal tingkah Aira yang terlihat pucat. Meylani memegang dahi Aira dengan punggung tangannya.


"Aira badan kamu panas banget," Meylani terkejut dan berbisik karena Dosen masih memberikan mata kuliah.


"Aku baik baik saja kok," Ucap Aira lemas sambil memijit mijit dahinya.


"Ayo kita ke UKS dulu," Ajak Meylani.


"Tidak, aku mau selesaikan ini dulu sebentar lagi kan," Aira tersenyum tipis, Meylani tau Aira tidak baik baik saja.


Meylani mengedarkan pandangannya ke seisi kelas mencari Ergy atau Steve atau Niko. Pandangannya bertemu dengan Steve yang duduk bersampingan dengan kedua temannya itu.


"Aira, Aira, dia sakit," Meylani berbisik dan memberika isyarat dnegan telunjuknya dan ekspresi wajahnya.


"Apa?" Steve mengangkat kedua tangannya tidak mengerti dengan apa yang Meylani ucapkan.


Meylani segera mengambil ponselnya dan memberikan pesan singkat pada Steve.


"Aira sakit, badanya demam tinggi. Wajahnya juga pucat. Bagaimana ini?"


Isi pesan yang dikirimkan Meylani pada Steve, Dia menunjukkan pesan itu kepada Ergy dan Niko. Tiba tiba Ergy segera berdiri.


"Permisi Pak mohon izin," Ujar Ergy kantang memecah keheningan ditengah perkuliahan. Dia berjalan menuju kursi Aira.


"Ya ada apa?" Ucap Dosen yang sedang memberikan perkuliahan.


"Teman saya sakit demam, saya izin membawanya ke UKS," Ergy sudah berada disamping Aira dan memegang keningnya dengan punggung tangannya.


"Silahkan, dan jangan ribut," Ucap Dosen itu sambil kembali menjelaskan presentasinya.


"Hey aku baik baik saja," Ucap Aira yang menyandarkan tubuhnya yang lemas ke sandaran kunci. Ergy tidak menjawab dan segera menggendong Aira. Seisi kelas menjadi ribut karena Ergy menggendong Aira bak pangeran menggendong sang putri.

__ADS_1


"Tenang tenang, semuanya perhatikan ke depan," Teriak Dosen itu setelah Ergy keluar membawa Aira.


Aira memang lemas dan tidak mampu melawan kehendak Ergy untuk membawanya ke UKS, Aira menatap Ergy sesaat dan kemudian memejamkan matanya karena kepalanya benar benar pusing.


"Hey, ku bilang aku baik baik saja," Gumam Aira pelan.


"Aku tau kamu berbohong," Ucap Ergy dengan nada datar dan terlihat kesal. Sampai di UKS, Aira segera ditangani oleh dokter kampus dengan memberikan pertolongan pertama.


Aira diberikan obat penurun panas dan dikompres agar panasnya lebih cepat turun. Ergy memeras handuk dan meletakkannya dikening Aira.


"Ra, aku boleh ngomong sesuatu gak?" Tanya Ergy


"Ngomong aja pakek nanya segala," Jawab Aira dengan shara serak.


"Sebaiknya kamu berhenti kerja, fokus dulu aja sama kuliah. Kamu gak bisa hebat dalam segala hal secara bersamaan. Yang ada kamu hanya menyiksa dirimu sendiri." Ujar Ergy khawatir.


"Aku baik baik saja kok Gy. kamu gak usah khawatir ya." Ucap Aira lembut.


"Dan makasih udah membawaku kesini." Tambah Aira saat Ergy tampak murung karena sarannya tidak diterima. Namun Ergy tersenyum tulus mendengarnya serta mengelus kepala Aira.


Saat perkuliahan selesai, Meylani, Niko dam Steve menyusul mereka berdua ke UKS membawakan bubur untuk Aira.


"Wah kelihatan enak, makasih ya Mey," Ujar Eegy melihat bubur ayam yang masih panas itu.


"Hey itu untuk Aira!!" Teriak Meylani dan mencubit Ergy.


"Hahaha iya iya, biar aku suapin ya," Ucap Ergy.


"Biar kalau aku gamau, kamu yang makan ya hahaha" Ucap Aira menertawakan tingkah Ergy. Mereka tertawa bersama dan Aira menghabiskan bubur ayam yang dibawa Meylani dengan disuapi oleh Ergy.


Setelah merasa lebih baik mereka mengantar Aira dan Meylani kembali ke kosan dengan berjalan kaki bersama.


"Jam 5 sore aku harus ke hotel, aku harus segera bersiap." Gumam Aira.


"NO!!" Teriak Meylani dan Steve bersamaan.


"Ciyee kompak," Ergy menertawakan Steve dan Meylani, Aira dan Niko pun terkekeh.


"Tapi serius, sebaiknya kamu jangan bekerja dulu Ra," Ucap Ergy dengan nasa memohon. Aira menarik nafas panjang. Sebenarnya bukan hanya soal bekerja yang membuatnya semangat. Dia hanya ingin bertemu Aris setiap hari. Meski mereka bertemu hanya beberaoa saat saja, tapi Aira bahagia. Dia ingin melihat Aris setiap hari.

__ADS_1


"Aku gak apa apa ko kawan kawan," Ucap Aira menenangkan kawan kawannya itu. Karena keras kepala Aira tetap berangkat ke hotel dnegan menyetir mobilnya sendiri. Dia pergi tanpa sepengetahuan Meylani yang sedang mandi.


Sampai dihotel, Aira segera menuju ruangannya. Sebenarnya ruangan Aira melewati ruangan Aris, tapi di lorong itu ada CCTV dan dia tidak ingin menyebabkan keributan.


"Wah enaknya pengantin baru, kemana mana barengan, lengket banget," Ujar seorang pegawai wanita pada teman wanitanya. Mereka berdua menunggu lift bersamaan dengan Aira.


"Suamiku itu bucin banget, sampe tidur aja harus dikelonin," Ucap Wanita yang satu lagi.


"Awww emang dasar penganten baru, terus terus gimana itu? sakit gak?" Tanya teman wanitanya itu.


"Sakit awalnya, tapi kata suamiku itu hanya belum terbiasa dan aku terlalu tegang, kalau rileks pasti akan lebih enak, jadi kami melakukannya terus dan memang enak banget, sampe ketagihan loh," Wanita itu malu malu menutupi wajahnya setelah mengatakan itu. Mereka cekikikan tidak sadar bahwa Aira mendengarkan mereka sedari tadi dibelakang.


"Harus rileks ya"


Pikir Aira, dia memang baru melakukan itu dengan Aris dan merasa tidak nyaman, bahkan setelahnya terasa panas dan pedih, berbeda dengan Aris yang sepertinya merasa nyaman.


Aira berjalan menuju ruangannya dan melewati ruangan Aris. Dia melihat Jessica ada didalam lagi.


"Laporannya setiap hari ya," Gumam Aira sambil berlalu menuju ruangannya. Dia tidak punya tenaga untuk sekedar memperhatikan mereka berdua yang sedang melihat sebuah laporan diatas meja.


Namun ternyata setelah Aira masuk ke ruangannya, Aris mengunci ruangannya dan menutup tirai. Kau tau kan mereka akan berbuat apa?


Aira sampai diruangannya dan segera memeriksa file file yang harus dia evaluasi, namun kepalanya terasa semakin pusing. Aira mengambil ponselnya dan menelpon Aris. Namun tidak ada jawaban.


"Bukannya tadi Mas Aris masih diruangannya ya?" Gumam Aira


Dia ingin memanggil Aris kembali namun ternyata dia justru menelpon Ergy.


"Halo, Ada apa Ra?" Tanya Ergy


"Ah maaf aku salah menelpon," Ucap Aira lemas.


"Kenapa? Kamu dimana?" Tanya Ergy khawatir.


"Aku dihotel, kepalaku pusing. Aku ingin pulang tapi sepertinya aku tidak bisa menyetir sendiri." Ucap Aira serak dan menyandarkan kepalanya ke meja.


"Tunggu disana jangan kemana mana, 15 menit aku sampai." Ujar Ergy.


"Eh tidak usah, Aku- " Tututut. Telepon itu diakhir oleh Ergy.

__ADS_1


"Hmmm dasar anak itu, keras kepala!!" Gumam Aira. dia sangat pusing hingga tanpa sadar dia terjatuh pingsan.


__ADS_2